
...Aku hanya perlu belajar...
...ya, hanya itu...
...Semudah itu?...
...ya, semudah itu...
******
Sinar matahari belum menghangat ketika aku tiba di lobby hotel Citra Nusa. Jam di dinding lobby menunjukkan pukul 07:05, Tidak membutuhkan waktu lama. Seorang wanita paruh baya dalam balutan blazer putih menghampiri.
Beliau berkulit cerah dan mulus, Senyumnya merekah menyambut di lobby. Tante Melinda, Mencerminkan sekali penampilan seorang dokter kulit dari klinik kecantikan.
"Pantasan saja, Anaknya bawel dengan penampilan kulit ku," kata hati berbisik melihat penampilan wanita yang melahirkan seorang Kenzo.
"Tante senang Anggrek bisa menyempatkan diri datang. Kata Ken, Anggrek sibuk sekali akhir-akhir ini," ucap mama Ken setelah memeluk dan merangkul ku. Sambutan ramah yang membuat beberapa orang di lobby menatap kami penuh minat.
"Iya tante, Ada yang harus Anggrek kerjakan," jawab ku walau sebenarnya di sisi lain ada tanya di hati, Karena Ken menceritakan kesibukan ku kepada mamanya.
"Oh ya? ayo kita breakfast dulu. Seminar akan dimulai pukul 09:00," mama Ken menepuk lembut pundak.
Untung aku menggunakan sepatu high heel karena mama Ken menggunakannya. Setidaknya tinggi kami tidak berbeda jauh. Berada dekat wanita cantik, Berapa pun usianya terkadang menyentuh rasa percaya diriku.
Netra ku melirik banner di lobby. Pemberitahuan seminar di ruang pertemuan hotel, Nara sumber ternyata mama Ken.
Setelah mengambil sarapan, Tante Melinda mengarahkan untuk duduk tidak jauh dari taman. Pemandangan rumput hijau menghampar dengan tanaman bunga yang terawat rapi. Memang menyegarkan dan cocok untuk berbincang.
Tante Melinda berbasa-basi sebentar lalu dia mulai membahas poin utama perbicaraan kami.
"Anggrek, Ken sudah mengutarakan ke papanya perihal lamaran kalian. Papa Ken tentu saja menyetujui keputusan Ken, Apalagi sekarang kondisi beliau semakin membaik,"
"Iya, Tante kemarin Ken sudah memberitahukan ke Anggrek mengenai kondisi papanya,"
"Tante sudah menduga dia pasti tidak sabar memberitahu mu. Anggrek, Berapa lama kalian saling mengenal secara intens?" tanya tante Melinda sambil mengambil potongan alpukat di piring. Dia sarapan roti gandum dengan keju slice dan telur setengah matang, Potongan alpukat serta irisan tomat.
"Kami sudah lama mengenal dari kuliah dulu. Hanya saja mengenal dekat satu sama lain, Belum sampai setahun ini, Tante," jawab ku sambil menghirup kuah sop buntut.
Menu yang berbeda dengan tante Melinda, Salah pihak hotel juga sih, Mengapa menu sarapannya ada sop buntut. Tahu kan aromanya gimana? Menggelitik indra penciuman dan perasa.
Aku mencoba membesarkan hati karena merasa menu sarapan pilihan ini terasa berat dibandingkan punya mama Ken.
"Kalau tante boleh menilai. Kamu belum mengenal kepribadian Ken seutuhnya. Apakah menurut mu tante salah jika berpendapat demikian?" tanya tante Melinda.
"Tidak sepenuhnya salah juga tidak sepenuhnya benar. Ada beberapa hal yang mulai sedikit banyak mencerminkan kepribadian Ken," aku berkata lugas karena tante Melinda memulai pembicaraan dengan intonasi suara yang baik tanpa bermaksud menyudutkan.
"50:50, Namanya baru memulai komitmen pacaran ya, Nggrek. Sedikit banyak pasti kita mulai mempelajari karakter pasangan kita,"
__ADS_1
"Benar sekali tante, Dalam komunikasi dan frekuensi pertemuan. Ada beberapa hal yang mengungkap sisi kepribadian orang terdekat kita," terang ku.
Aku bisa berbicara lugas dengan mama Ken karena dia tampak 'welcome'. Berbeda dengan pertemuan pertama dengan mama Bian, Jantung ku seperti rollercoaster di ulahnya.
"Seperti apa menurut mu seorang Kenzo Arta Saputra?" tanya tante Melinda sambil menatap ku dengan rasa ingin tahu.
"Tante, Anggrek pernah mendengar istilah obsessive compulsive personality disorder atau OCPD. Dimana orang dengan kondisi tersebut memiliki kepribadian yang sangat perfeksionis dan terobsesi dengan kesempurnaan dalam semua aspek hidupnya. Dia merasa bahwa caranya melakukan sesuatu adalah yang paling benar dan bertentangan dengan orang lain yang memiliki cara berbeda,"
Aku berhenti sesaat lalu menambahkan "Anggrek mengerti harus melalui diagnosa psikiater untuk menentukannya. Hanya disini Anggrek merasa Ken memiliki gambaran ciri tersebut,"
Hening hanya terdengar denting suara sendok, pisau, garpu beradu dengan piring. Tante Melinda tidak menampilkan ekspresi apapun dengan penjelasan panjang ku, Selain menikmati sarapannya.
..._______-------_______------______...
Kami menyelesaikan sarapan dan petugas restoran sudah merapikan meja. Sekarang tinggal segelas coklat dan kopi yang mulai mendingin.
"Ya, Kamu benar memang Kenzo seorang perfeksionis. Untuk perihal OCPD, Tante belum bisa memberikan kepastian karena memang harus melewati pemeriksaan dulu untuk mendapatkan informasi validnya. Apakah, Anggrek merasa terganggu dengan sifat Ken ini?"
"Anggrek belajar beradaptasi tepatnya," jawab ku yang disambut tawa kecil tante Melinda.
"Kamu tahu? bahkan tante juga terkadang pusing oleh perfeksionis, Ken." Tante Melinda mengatakan dengan tawa renyahnya. Tak urung aku pun ikutan tertawa.
"Iya, Tante apalagi kemarin ketika sedang lelah karena baru dari luar kota. Ken mencecar ku dengan banyak pertanyaan. Kepala rasanya mau meledak mendengarnya," tante Melinda meresponnya dengan tawanya kembali. Dia kelihatan merasa lucu mendengar cerita ku.
Ah lancar sekali aku mengatakan itu. "Kepala rasanya mau meledak, Bukankah kamu membungkam dia dengan ciuman untuk menghentikan ocehannya. Tindakan agresif bagi seorang gadis," batin ku mengingatkan kejadian kemarin.
"Iya, Anggrek ternyata kamu bisa menangkap salah satu karakter utama Kenzo. Sesuatu yang menjadi kelebihan sekaligus kelemahan dalam dirinya," jelas tante Melinda.
"Itulah yang ingin tante bicarakan. Ada pengaruh tante dan om sebagai orangtua Ken untuk sifat itu. Ketika Ken berusia setahun, Tante sedang mengambil spesialis. Sedangkan papa Ken baru memulai kariernya. Dia belum terjun ke politik saat itu. Kami berdua sama-sama sibuk," kedua netra tante Melinda menerawang jauh ke depan.
Ken kecil biasanya sering dititipkan ke kakek dan neneknya. Ada baby sitter yang membantu pengawasan Ken di rumah kakek dan neneknya.
Saat itu tante Melinda masih sibuk kuliah untuk mengambil spesialis, Sedangkan papa Ken belum terjun ke politik. Beliau baru membangun usaha jual beli mobilnya, Dia belum memiliki showroom besar seperti saat ini.
Sebagai seorang Ibu, Ada naluri dalam diri tante Melinda agar anaknya tumbuh kembang seperti anak lainnya, Walau kedua ortunya sibuk bekerja.
Naluri baik yang kemudian di selimuti ego agar selain tumbuh kembang dengan baik. Di iringi oleh prestasi yang melampaui dari anak lain. Tante Melinda mendisiplinkan Ken lebih dari apa yang sebaiknya dilakukan untuk anak balita.
Ken kecil dituntut untuk selalu bisa dan cepat dari anak lain. Lebih cepat membaca, menulis memiliki kemampuan memainkan instrumen musik. Banyak hal yang bahkan tante Melinda baru menyadari sekarang. Semua berlebihan untuk anak yang belum genap lima tahun.
Pujian akan kesigapan dia sebagai ibu yang tetap memiliki karier dan prestasi akademik baik. Membuat tante Melinda terlena, Ambisi untuk menjadikan Ken kecil sempurna. Adalah ambisi dirinya bukan keinginan Ken.
Terkadang tante Melinda merasa bersalah karena kurang memberikan perhatian. Untuk menunjukkan rasa sayang, Dia menghujani Ken dengan banyak hadiah.
Di sisi lain tanpa sadar hukuman ketika Ken tidak berhasil sesuai keinginannya, Menciptakan rasa takut Ken pada dirinya.
Tante Melinda semakin menuntut Ken bersikap lebih dari usianya, Ketika Ken berumur 6 tahun. Riska lahir lalu dua tahun kemudian, Raisa lahir. Ken memiliki dua adik ketika berusia 8 tahun.
__ADS_1
Ken tak boleh manja, Minta perhatian, Harus mengalah untuk kedua adiknya. Dia harus berprestasi dan juara kelas agar menjadi panutan Raisa dan Riska. Ken juga mesti selalu tampil rapi dan ganteng, Mencerminkan siapa orangtuanya.
Kenzo Arta Saputra dituntut sempurna dalam segala hal. Dia harus selalu berpenampilan rapi, Bersih, Prestasi sekolah cemerlang, Semua hal tentangnya di tuntut untuk tanpa celah.
Semua untuk memenuhi keinginan tante Melinda. Ambisi dirinya pribadi agar anaknya tumbuh sempurna. Tante Melinda baru menyadari ketika Kenzo mulai remaja.
Kenzo menjadi remaja yang selalu takut tampil salah, Celah. Hal kecil yang tidak sesuai keinginan mudah membuat dia stress. Saat ini menjadi titik balik tante Melinda.
Tante Melinda mulai melonggarkan banyak hal pada Kenzo dan papanya merangkul Ken. Mereka menyadari apa yang dianggap bagus ternyata tidak selalu berdampak baik.
Perlahan kecemasan berlebihan Kenzo berkurang. Di usia Kenzo dewasa ini, Tante Melinda melihat dia sulit mengekspresikan dan mengungkap rasanya. Ketika menyukai seseorang, Sama seperti tante Melinda lakukan dulu. Menghujani dengan hadiah.
Saat bersama Cahya adalah kecemasan bagi tante Melinda dan suami. Mereka tahu Cahya sangat paham memanfaatkan kelemahan Ken, Dia menikmati hadiah Kenzo. Meminta lebih dan lebih lagi, Sampai ketika Kenzo memulai usaha. Dia sadar ada yang salah.
Putusnya hubungan Kenzo dan Cahya adalah kelegaan bagi orangtua Kenzo. Sejak itu Kenzo hanya sebatas dekat dengan perempuan. Sampai berapa bulan terakhir dia membawa seorang gadis kepada keluarganya.
"Tante harap kamu memahami dan mengerti Ken seutuhnya, Ketika melihat Anggrek makan siang di rumah. Tante tahu pakaian yang digunakan adalah pilihan Kenzo, Gaya berpakaian Anggrek lebih santai. Selama konsultasi belum pernah tante melihat mu menggunakan pakaian girly," pungkas tante Melinda menyudahi cerita tentang Kenzo.
"Sebenarnya Anggrek juga sesekali tampil girly tapi memang pada momen tertentu. Rasanya ribet untuk pekerjaan Anggrek yang menuntut banyak gerak," jelas ku yang di sambut anggukan setuju tante Melinda.
"Iya kita sama, Menyukai sesuatu yang praktis. Semoga apa yang tante lakukan dulu menjadi pembelajaran. Terkadang ambisi bisa menjadi positif tapi bisa berbalik arah menjadi negatif. Gunakan pada porsi yang tepat," ujar tante Melinda.
"Baik tante, Terimakasih sudah berkenan berbagi," Aku berkata tulus.
"Iya, Kenzo sangat menyukai mu. Tante tahu itu, Oh..., Anggrek sudah hampir setengah sembilan. Tante harus ke panitia di ruang pertemuan dulu. Persiapan acara akan segera dimulai. Moga dalam waktu dekat kita bisa bertemu kembali ya," beliau melihat arloji lalu menghabiskan minuman coklatnya yang mendingin.
"Baik tante semoga acara lancar,"
"Sama-sama Anggrek, Tante senang berbincang dengan mu. Biasanya kita bertemu dalam ruang untuk konsultasi. Siapa sangka kamu akan menjadi menantu tante,"
Aku tersenyum menanggapinya. Iya sama sekali diluar dugaan. Kami berpisah ketika keluar dari pintu restoran.
Jika bersama Bian, Aku harus mencari tahu latar keluarga dari balik layar. Bersama Kenzo semua mudah didapatkan, Lebih mudah bersikap dan mengatasi masalah ketika tahu medannya bukan?
Aku jadi tahu kenapa dia tidak mengatakan cinta dan sayang, Karena baginya satu tindakan serius untuk komitmen sudah mewakili sejuta kata.
Aku jadi tahu kenapa dia menghujani ku dengan hadiah. Suatu kebiasaan masa kecilnya ketika rasa sayang di wujudkan dengan banyak hadiah.
Aku jadi tahu mengapa dia menuntut penampilan ku sempurna, Karena itulah yang dia lakukan sedari kecil.
Aku hanya perlu beradaptasi dengan semua yang Kenzo lakukan karena dia bukan Adiwarna yang membebaskan ku tapi memanfaatkan rasa cinta yang ada.
Dia pun bukan Bian yang mencintai ku dengan segala perasaan dan kata. Rintangan dan keluarga Bian bukanlah hal yang mudah ku jangkau, Terlalu jauh jenjang sosial diantara kami.
Kali ini aku memainkan logika, Mengajak perasaan hadir. Aku hanya perlu belajar mencintai Kenzo Arta Saputra. Melawan kata hati untuk bersama Bian Prasetya.
Bukan kah lebih mudah berada dalam lingkungan yang menerima kita dengan tangan terbuka? daripada lingkungan yang penuh syarat untuk menerima kita.
__ADS_1
Karena cinta bukan antara aku dan kamu, ketika kehidupan berjalan. Ada keluarga yang akan hadir dalam jalinan hidup kita bersama.
***************