Viral

Viral
54. Masalah atau tantangan?


__ADS_3

...Orangtua mu tidak menyiapkan...


...masa depan untukmu...


...tapi menyiapkan kamu...


...untuk siap menghadapi masa depan...


Nasehat mama setelah pulang dari seminar parenting di sekolah Dewo. Ketika Anggrek masih kuliah dan belum memahami sepenuhnya nasihat mama.


********


Aku terlahir dari keluarga menengah pada umumnya. Mama mengatakan pada ku dan Dewo bahwa beliau dan papa tidak mewariskan harta berlimpah kepada kami.


Mereka mendidik kami agar siap merajut masa depan sendiri. Dulu aku hanya menganggap sebagai nasihat sekarang aku memahami ketika usia dewasa.


Aku tidak terlahir dengan sendok perak di mulut sebuah peribahasa merujuk pada mereka yang terlahir dari keluarga kaya raya.


Aku dibekali pendidikan sampai bangku kuliah. Disiapkan mental sedari kecil untuk mandiri. Mengerjakan life skill sendiri yang nyatanya berguna ketika dewasa ini. Kali ini aku pun diuji mencari solusi atas masalah dalam usaha ku.


Aku meminta Bian menunggu di ruang tamu. Dewo menghampiri Bian sedangkan papa rupanya masih belum pulang kerja.


"Kamu nggak menghubungi mama dulu kalau malam ini Bian jadi makan disini. Setidaknya kita memasak lebih banyak dari biasanya.


Aku dan Mama akhirnya berkutat di dapur.


Menyiapkan makan malam mendadak karena terlalu dipusingkan memikirkan ruko baru aku sampai lupa mengabarkan Mama.


"Maaf, Ma karena Anggrek mendapatkan kabar kurang baik jadi lupa memberitahu mama. Sewa ruko Miepa tidak bisa diperpanjang jadi ditunda dulu memindahkan aktivitas dapur ke rumah baru"


"Lho kok bisa"


"Entah lah, Putusan sepihak dari pemilik ruko"


"Nggrek, Mama jadi ingat sama langganan beli sarapan untuk kalian. Si mbak jualan nasi uduk, soto semacam itulah. Awalnya sepi lambat laun ramai karena enak. Nah baru berapa bulan lalu rasanya kok berubah. Rupanya dia sudah pindah, Digantikan pemilik ruko yang membuka usaha yang sama"


"Benarkah ma? Memangnya dia gak pasang plang nama saat berubah kan bisa ketahuan orang berbeda dari nama usahanya"


"Iya benar, Mama juga awalnya heran namanya berubah terus keseluruhan pegawai berbeda. Usut punya usut rupanya udah beda orang"


"Curang ya, Ma. Membangun usaha dan mencari pelanggan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Giliran sudah ramai langsung main ambil saja"


Aku memotong ikan penuh nafsu saking kesalnya. Ikan malang itu pun terpotong dengan bentuk tidak karuan.


"Sabar, Nggrek nanti cari informasi ruko baru dulu ya. Kamu buat sambal aja gih" Mama mengambil alih pisau ditangan ku sepertinya dia jadi ngeri aku emosi. Akhirnya makan malam pun siap. Aku segera membersihkan diri sebelum makan malam.


Semua sudah duduk di meja makan termasuk Bian dan papa. Aku terakhir yang duduk di meja makan, Setelah berdoa semua melanjutkan makan malam. Bian tampak grogi, Dia tidak seluwes Doni ketika bertemu orang lebih tua.


"Nak Bian sekarang aktivitasnya apa?" Papa memulai pembicaraan.


"Saya ada usaha kecil-kecilan om. Selain itu bersama teman kerjasama di studio foto"


"Sama dengan Dewo, Dia suka fotografi juga walau kadang banyak narsisnya. Kemarin Dewo minta dibelikan kamera. Itu harga kamera yang terjangkau buat pemula di range berapa ya?"


Tanggapan papa jelas disambut dengan semangat oleh Dewo. Padahal dia baru saja beli kamera plus aksesorisnya pula. Saat itu memang Dewo menggunakan tabungannya.


Memang walau belum banyak tapi Dewo sudah memiliki penghasilan sendiri dari content youtube dan sosial medianya.


"Kamera kamu yang sebelumnya mana Dewo?"


"Disenggol mama, Kak sampai jatuh jadi banyak kerusakannya"


"Dia meletakkan sembarangan makanya mama gak sengaja menjatuhkannya" Mama berkata santai, Semangat beberes rumah mama memang di acung jempol tapi terkadang membuat beliau lengah.


"Kan Dewo letakkan di meja, Ma"


"Sudah yang berlalu biarlah berlalu tidak bisa diulang lagi. Sebaiknya kita tanyakan sama nak Bian yang terjangkau"


Aku tahu papa memilih mencari solusi dari kelalaian anak dan istrinya. Daripada mereka meributkan siapa yang benar lebih baik mencari jalan menenangkan keduanya.


Selanjutnya percakapan papa, Bian dan Dewo berlanjut sampai makan malam selesai. Aku membantu mama membereskan meja makan.


Ketika selesai membantu mama dan menghampiri mereka di teras yang tinggal hanya Bian dan Dewo. Papa kembali mengurusi aquascape miliknya. Papa memang telaten bahkan berkat hobi aquaspace, Beliau bisa menjualnya ke orang lain.


"Dewo kamu gak belajar" Aku mengusir Dewo secara halus. Adikku tahu kodenya, Dia pun beringsut dari kursinya masuk ke dalam rumah.


"Keluargamu menyenangkan Nggrek sedikit berbeda dengan keluargaku"


Jelas beda keluargamu keluar kota menaiki tiket bisnis dan pesawat pribadi. Keluarga ku mencari tiket diskon terus di compare paling murah antar maskapai.


Kalau perlu yang bisa memberikan cashback dari travelnya. Aku bergumam dalam hati menanggapi Bian.


"Keluargamu juga menyenangkan, Mama kamu pun baik kepadaku" Aku menutupi awal perkenalan dengan Danar dan Diandra. Kata pedas dari mereka sebaiknya ku lupakan. Seperti kata papa "yang berlalu biarlah berlalu"


"Iya, Nggrek aku mau menanyakan masalah yang kamu pikirkan di mobil tadi atau kalau kamu belum memberitahu ku juga. Aku akan...."


"Jangan!! Papa ada di ruang serbaguna sama aquascape koleksinya. Jadi begini masalahnya tadi siang aku mendapat kabar kalo sewa ruko Miepa utama tidak bisa diperpanjang"


"Alasannya apa?"


"Hanya pemilik dan Tuhan lah yang tahu alasannya apa" Aku membanting diri di kursi, Rasa kesal kepada Bu Lisa masih belum bisa ku hilangkan.


"Masih berapa lama sewanya?"

__ADS_1


"Dua bulan lagi"


"Kalau di ruko ku gimana, Nggrek? Nanti aku periksa dulu penyewa yang masa kontraknya sudah mau habis"


"Sebaiknya kamu pastikan penyewanya mau melakukan perpanjangan atau tidak. Kalau diputuskan sepihak seperti ini rasanya nyesek banget"


"Iya aku tahu nanti akan ku tanyakan apakah mereka mau tetap memperpanjang masa sewa atau tidak"


"Sebenarnya paling strategis ruko Miepa karena tersentra untuk menjadi tempat kuliner. Sebagian besar penyewa membuka usaha tempat makan. Sehingga orang yang mau membeli makanan bisa menuju ke jalan daerah Miepa utama"


"Iya daerah ruko milikku kebanyakan untuk bisnis. Ruko ku saja digunakan sebagian penyewa untuk usaha dan kantor"


"Makanya kalo daerah Miepa kan tersentra untuk kuliner"


"Sabar ya sayang nanti kita cari solusinya"


Bian merupakan orang ketiga yang menyuruh ku bersabar hari ini karena memang cuma itulah yang bisa dilakukan. Tidak mungkin juga aku mengamuk kepada Bu Lisa karena memang awalnya aku sendiri menyewa untuk setahun.


"Eh kamu ambil foto aku ya?" Aku baru tersadar ketika melihat Bian mengarahkan handphonenya.


"Iya kamu menggemaskan kalau sedang kesal rupanya. Ini kali pertama aku melihatmu dalam keadaan kesal"


"Iihhh gak mau ah. Lihat dulu hasilnya"


"Jangan tidak boleh nanti kamu hapuskan fotonya, Sayang"


"Aku mau lihat dulu lah. Jangan candid ah"


Aku berdiri dari kursi bermaksud merebut handphone dari Bian. Hari ini entah kenapa dia senang mengusili ku.


Ketika tangan ku mengarah ke arah tangannya tanpa sengaja aku kehilangan keseimbangan dan terjerambab menimpa Bian di kursi. Bian sigap menangkap ku.


"Kita bisa dinikahin papamu kalau ketahuan dalam posisi ini" Dia berkata sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya yang semakin dalam.


Secepat kilat aku beranjak dari posisi kami dengan wajah merah antara kesal dan malu. Hari ini aku baru tahu sisi lain Bian, Dia ternyata bisa usil juga.


Satu hari kembali terlewati dengan melihat sisi lain Bian dan satu masalah kembali datang untukku.


******


Pagi ini aku mengabari ke team Miepa mengenai kemungkinan besar kami akan pindah ruko. Aku harus menginformasikan dari awal jadi semua sudah siap jika harus pindah.


Dengan berjalan kaki aku bersama Rika segera menuju ke tempat ruko lain sepanjang jalan Miepa utama. Mencari informasi ruko kosong untuk disewa.


Target ku mencari ruko yang tidak berada jauh dengan Miepa. Kami baru berhasil menemui dua pemilik ruko dan keduanya mengatakan tahun ini tidak ada penyewa yang habis masa kontraknya.


"Tenang Kak Anggrek masih banyak yang belum kita kunjungi" Rika memberikan ku semangat padahal dirinya pun sudah bercucuran peluh.


"Kita cari nomor telpon pemiliknya saja. Capek juga panas gini"


"Moga ke depannya Kak Anggrek bisa membeli ruko sendiri ya"


"Aamiin"


Kami lalu mampir di ruko yang menjual es campur mencari informasi siapa pemiliknya. Aku mendapatkan nomor telponnya tapi ketika dihubungi tidak diangkat.


Akhirnya aku mengirimkan pesan sambil berharap mendapatkan kabar baik. Aku dan Rika menghabiskan es campur tanpa suara. Rasa lelah, panas dan haus membuat kerongkongan berasa nikmat.


"Kak kalau sudah mendapatkan ruko apa sebaiknya plang Miepa di desain ulang?"


"Di desain ulang seperti apa?"


Di ruko Miepa sudah ada mural wajah ku ide dari Andi. Sekarang Rika pula memberi ide.


"Plang yang menggunakan lampu warna warni terus foto kak Anggrek terpasang di plang dengan tulisan Miepa"


Astaga membayangkan pun aku sudah merasa geli. Foto Ku terpampang besar dengan lampu warna-warni disekitar foto. Dulunya memang pernah di billboard iklan ketika video viral ku beredar dan aku diminta jadi bintang iklan mie.


Hanya ini kan berbeda tapi untuk menghargai ide Rika aku hanya mengatakan akan memikirkan kembali dan fokus untuk mencari ruko dulu.


"Iya nanti kita masukkan sebagai ide kedepannya. Untuk sekarang kita fokus cari ruko dan pulang ke Miepa dulu"


"Baik Kak Anggrek"


Aku kembali ke ruangan pribadi ku di Miepa. Pendingin udara berhasil membuat ku adem setelah berpanas bersama Rika. Jemari ku menekan menu kontak mencari nomor Bu Indah.


"Halo"


"Halo Bu Indah, Maaf menganggu. Apakah Bu Indah sedang sibuk? saya mau menanyakan sesuatu"


"Iya, Anggrek. Mengenai apa"


"Bu Indah apakah memiliki ruko di sekitaran jalan Thamrin atau ada kenalan yang memiliki ruko di daerah sekitar sini?"


"Saya tidak memiliki ruko di jalan Thamrin tapi nanti saya tanyakan ke rekan atau teman yang mempunyai ruko di sekitar Thamrin ya"


"Baik nanti kalau ada informasi tolong kabarin saya ya, Bu. Terimakasih sebelumnya, Bu"


"Iya Anggrek, Sama-sama"


Aku menutup telpon dari Bu Indah. Setidaknya walau belum membuahkan hasil. Kami sudah berusaha hari ini. Layar handphone ku berkedip, Aku berharap dari pemilik ruko di es campur. Ketika aku membuka handphone rupanya pesan hijau dari Doni.


"Siang, Anggrek Sedang sibuk kah?"

__ADS_1


"Siang juga Doni. Ada apa?"


"Hari sabtu jam delapan pagi nanti aku akan melakukan syukuran rumah. Kamu bisa datang?"


"Sepertinya bisa pasti aku usahakan untuk datang"


"Terimakasih Anggrek"


"Sama-sama, Sebelumnya aku ucapkan selamat atas rumah dan usaha barunya nanti. Moga sukses ya, Don"


"Makasih ya, Nggrek. Sukses juga untuk mu"


"Thanks Don"


"Sampai ketemu, Nggrek"


"Iya Don"


Doni sedang bergembira dengan rumah dan tempat usaha barunya sedangkan aku masih berurusan dengan masalah di usaha ku. Berselang kemudian ada telpon dari Bian.


"Sayang sudah ketemu rukonya"


"Belum, Kak Bian"


"Aku sudah cari informasi tinggal tunggu kabar saja"


"Iya makasih maaf sudah merepotkan"


"Berbagi lah masalah dengan ku agar lebih ringan"


"Iya sayang"


"Nggrek sabtu pagi nanti aku mau melakukan foto maternity Natasha dan Gege. Kamu mau ikut?"


"Maaf Kak Bian tapi ada undangan syukuran rumah Doni. Dia kan saat aku syukuran rumah datang"


"Aku ikut"


"Lho katanya mau melakukan pemotretan maternity Natasha dan Gege"


"Di undur minggu pagi nanti aku bicarakan ke Gege dan Rian pasti mereka mengerti"


"Tapi.."


"Sudah dulu ya sayang, Jangan lupa makan ya sama minum vitamin"


"Iya Kak Bian"


Suatu kebetulan sekali aku harus berurusan dengan Bian dan Doni siang ini. Di kala pikiran ku masih menyusun plan lain mengurusi tempat baru Miepa.


Tidak lama kemudian ada telepon dari Natasha. Aku sudah menebak apa yang akan dikatakannya.


"Anggrek kalian mau kemana sabtu ini?"


"Emang kenapa?"


"Pacarmu tiba-tiba memundurkan pemotretan. Memang awalnya Gege minta minggu tapi kata Bian bisanya sabtu karena minggu libur. Eh tahunya berubah jadi minggu. Gege sih setuju karena memang dari awal minta minggu"


"Mau ke acara syukuran Doni. Dia mau ikut"


"Hahaaa dia pasti cemburu tapi Rian terpaksa mengikuti Bian"


"Ya itulah ceritanya"


"Okelah Anggrek, Bye"


"Bye Natasha"


Kembali orang terdekat ku menghubungi siang ini sebuah kebetulan sekali tapi aku masih harus mengerjakan yang lain.


Sembari mencari sewa ruko aku harus mencari penghasilan lain untuk antisipasi uang sewa ruko yang mungkin bisa lebih mahal dari sewa ruko yang sekarang.


Jemari ku menekan nomor Kira, Admin sosial media ku yang merupakan tetangga Rio. Dia merupakan mahasiswi lulusan public relation yang baru lulus.


"Halo Kira"


"Iya kak Anggrek"


"Bisa dikirimkan ke email kakak laporan pendapatan dan penawaran endorse bulan ini?"


"Sudah Kira kirimkan kak kemarin. Sekalian kira buatkan draft untuk melakukan jadwal foto dan video endorse nanti Kak Anggrek sesuaikan jadwalnya dengan waktu Kak Anggrek ya"


Di telinga ku suara Kira terdengar merdu dan profesional. Otak ku langsung mengkalkulasi pendapatan.


"Oh iya kah makasih ya"


"Sama-sama Kak"


Kira ke depannya memiliki rencana membuat managemen endorse selebgram. Sebuah pekerjaan yang baru ku dengar dari Kira.


Dia memang baru mempelajarinya sistem managemen yang masih awam bagi ku. Aku pun baru paham sedikit mengenai ini tapi aku terbantu dengan keberadaan Kira. Paling penting bagi ku, Kira selalu jujur melaporkan semuanya.


Perkembangan jaman memang meniadakan beberapa pekerjaan lain tapi membuka cabang untuk pekerjaan baru yang sesuai jaman sekarang. Kreatifitas memang dituntut untuk jaman serba digital.

__ADS_1


Jadi anggaplah masalah sebagai tantangan walau jujur saja kemarin aku menangis juga ketika masalah datang tapi bagaimana pun aku akhirnya berdiri untuk menghadapi kembali.


*********


__ADS_2