
...Aku jatuh cinta lagi...
...pada orang yang sama...
Caption Anggrek hari ini yang mendapatkan komen dari followers di sosial medianya.
Nikah aja kak, Jatuh cinta mulu.
****
Pagi hari seperti biasa di kediaman kami, Di awali dengan sarapan. Aku menata kata-kata, Dewo sudah mendapatkan penjelasan kalau abang kesayangannya akan melamar.
Kali ini aku benar-benar khawatir menjelaskan dengan papa dan mama, Selisih 3 bulan dengan rencana Kenzo.
"Papa dan mama, Anggrek mau bicara," ujar ku memulai pembicaraan.
"Bicara saja, Nggrek. Memangnya ada yang melarang," jawab mama sambil mengambil gelas untuk minum.
"Bian mau melamar Anggrek, Ma,"
"Uhukkkk... uhukkkk," mama tersedak dan terbatuk. Papa mengelus pundak mama.
"Kamu serius, Anggrek. Kenapa harus Bian?" tanya papa.
"Anggrek kembali bersama Bian, Papa dan mama. Kali ini percaya lah pada pilihan, Anggrek,"
"Mama nyaris tidak percaya dengan hubungan kamu, Anggrek. Bukan kah dulu katamu papa Bian tidak setuju,"
"Sekarang sudah di restui, Ma," jawab ku.
"Tidak disetujui? bagaimana maksudnya?"
"Dulunya Bian sudah dijodohkan lalu dia menolak. Perjodohan batal dan kami kembali bersama," jelas ku pada papa.
"Jangan-jangan kamu yang sengaja memutuskan Kenzo lalu balikan sama Bian," tuduh mama, Beliau belum begitu menerima hubungan ku yang kandas dengan Ken. Mama sudah terpikat dengan kesantunan Kenzo.
"Tidak, Ma. Untuk mama dan papa ketahui, Selama ini usaha Anggrek dibantu oleh Bian. Dia selalu mendukung apa yang Anggrek kerjakan. Bian selalu ada buat Anggrek,"
"Dan kak Anggrek cinta mati sama Bian," celetuk Dewo yang ku sikut cepat.
"Anggrek, Bian katamu tinggal di Jakarta. Siapa orangtuanya?" tanya papa. Sebuah pertanyaan yang membuat ku menjelaskan siapa Bian dan keluarganya.
Orangtua ku tampak terkejut dengan penjelasan mengenai latar belakang keluarga Bian. Siapa menyangka, Bian disini dengan mobil antiknya. Bekerja bersama Rian di studio foto dari keluarga kaya.
"Ma, malam ini Bian akan ke rumah untuk menjelaskan hubungan kami, Kemudian memastikan waktu untuk lamaran dilakukan,"
Aku melihat kedua orangtua ku saling tatap, Di ruangan makan ini hanya denting suara piring dan sendok Dewo terdengar. Dia tetap asyik makan.
__ADS_1
......___-----____---_____......
Malam ini Bian duduk berhadapan dengan orangtua ku. Ya... butuh ekstra penjelasan untuk mama dan papa. Terlebih memberi pengertian kepada mama.
Hubungan kami bagi orang lain terkesan terburu-buru. Padahal begitu panjang perjuangan sampai ke titik ini.
"Maaf, Om dan tante jika berkenan. Orangtua saya akan menelpon malam ini. Untuk memberitahu kedatangan keluarga kami dalam rangka melamar, Putri om dan tante," gugup suara Bian.
Berbeda dengan Kenzo yang merupakan pimpinan organisasi dan sering terlibat sebagai ketua di berbagai acara. Ken memiliki kemampuan public speaking di atas Bian.
Biasa Bian juga percaya diri tapi mungkin karena tatapan mama, Dia jadi grogi. Tidak lama kemudian Bian menelpon orangtunya.
Awalnya aku berpikir tante Lusi yang akan berbicara dengan papa, Ternyata Setya. Mereka saling diskusi waktu pertemuan. Akhirnya diputuskan dua minggu lagi lamaran dilakukan.
"Anggrek dan Bian... Kami sebagai orangtua, Memberikan dukungan untuk tujuan baik kalian tapi om di sini, Meminta tolong pegang kepercayaan kami dengan baik. Sebagai pihak keluarga Anggrek, Kami akan menyiapkan acara untuk menyambut keluarga kalian," papa mengakhiri pembicaraan malam ini.
"Berarti kita menggunakan persiapan lamaran Kenzo untuk keluarga Bian, Keluarga besar kita pasti kaget calon suami berbeda lagi," kata mama.
"Sudah ma, Jangan mendengarkan pendapat orang lain. Kita pun tak menyangka perjalanan hidup membawa kemana," tegas papa.
...-_------_-----__---...
Hari berikutnya mama bersama tante Ima adiknya, Mulai melakukan persiapan lamaran. Mereka memesan paket lamaran di hotel Citra Nusa.
Aku baru tahu dari tante Lusi ketika ia menelpon. Ternyata Setya dan Diandra mendapatkan teguran dari kakek Danny dan Denny. Kedua generasi Anugrah mengingatkan 'akar' papa Setya yang awal masuk keluarga mereka, Berasal dari keluarga biasa.
Tentu saja karena Tasya sudah memutuskan perjodohan. Keluarga Anugrah membebaskan Bian menentukan pilihannya.
"Anggrek jadi kita mengenakan kebaya yang seharusnya untuk lamaran Kenzo?"
"Iya, Ma bukan kah memang untuk disiapkan sebagai kebaya lamaran, Hanya jodoh Anggrek justru Bian bukan Ken. Oh ya... Ma, Kain yang Anggrek pesan sama bu Tari untuk seragam lalu sudah diberikan ke keluarga?"
"Sudah Anggrek, Mereka sudah menjahitkan kebayanya. Mereka sempat kaget ketika kalian batal menikah, Sekarang kaget lagi karena kamu lamaran dengan orang lain,"
"Iya, Ma,"
Aku dan Bian pun mulai menyiapkan semua keperluan lamaran. Kami mengunjungi sahabat terdekat karena hubungan ku dengan Nadia, Tania dan Natasha sudah seperti saudara. Aku ingin mereka hadir saat lamaran.
Nadia yang baru melahirkan dua bulan lalu tidak bisa hadir. Tania dan Natasha beserta suami yang dipastikan akan datang.
Laura yang ku minta sebagai MUA tidak banyak bertanya. Dia tahu calon mempelai prianya bukan Kenzo, Setidaknya dia bersikap profesional tidak menyinggung urusan pribadi klien-nya.
...______------_____-----____...
"Anggrek, Aku merasa seperti mimpi bisa berada di titik ini," kata Bian di pagi hari ketika kami duduk berdua di pinggir pantai. Tiga hari lagi lamaran akan dilangsungkan.
"Aku juga kak Bian, Kamu masih ingat di pantai ini kali pertama kita bertemu. Aku dan Nadia dengan senang hati menemani Natasha dan Gege foto prewedding, Karena fotografernya ganteng,"
__ADS_1
"Iya Aku ingat... Kamu yang baru patah hati ya, Saat itu aku melihat kamu melamun memandang laut lepas. Lalu kemudian tertawa kembali bersama Natasha dan Nadia. Kamu selalu menyembunyikan isi hati dan menunjukkan kepada dunia bahwa baik-baik saja,"
Aku menghela napas, "Terkadang tak ada gunanya menunjukkan kesedihan di depan orang lain. Tidak semua akan mendukung, Ada kala justru mencemooh. Menambah beban pikiran,"
"Tapi jangan terlalu di simpan, Berbagi lah dengan ku... Kakak mu ini sekarang akan menjadi penjaga dan pendamping hidup mu," jawab Bian sambil tersenyum ke arah ku.
"Iya, Kakak ku yang ganteng dan baik hati. Dulunya selalu dingin dan acuh, Selanjutnya mengikuti ku kemana pun aku berada," aku menggoda Bian.
"Aku tidak mudah dekat dengan orang lain. Berada 'keterasingan' dari kecil sedikit menganggu interaksi sosial ku. Kamu memiliki daya pikat yang membuat tidak bisa menjauh, Apalagi betapa kerasnya kamu menolak ku ketika itu. Aku hampir hancur,"
"Semua sudah berlalu. Sekarang kita akan bersama untuk memulai kehidupan baru. Keluarga mu tiba hari apa, Kak?"
"Keluarga ku malam kamis dan kakek beserta keluarga Tasya di jumat pagi, Jadi jumat malam kita akan bertemu dalam lamaran di hotel Citra Nusa, Sayang,"
"Mereka naik pesawat apa?"
"Private jet," jawab Bian mengusik keingintahuan ku.
"Pesawatnya itu punya keluarga kalian?"
"Kenapa memangnya? pemilik perusahaan penyewa pesawat jet itu keluarga suami kak Diandra," Bian menjawab sambil mencubit hidungku.
"Kalian sekeluarga crazy rich ya?"
"Mereka, tapi calon suami mu belum segitunya,"
"Calon suami ku juga kaya, Dia memiliki hati yang kaya dengan cinta kepada ku," rayu ku membuat Bian tampak gemas.
"Hei, Kamu pandai merayu sekarang. Siapa yang mengajarkan mu, Sayang?" tanya Bian dengan mata beningnya memandang ku.
"Karena dekat dengan mu membuat hati sulit berpaling, Aku akan menjadi pengagum mu seumur hidup. Kakak Bian ku yang ganteng,"
Bian kembali kaget, Entah kenapa karena aku begitu senang terasa kata-kata itu meluncur lepas. Aku memercikkan sedikit air ke wajah Bian dari botol yang di pegang. Berlari menjauh kearah parkiran ketika dia mulai gemas dengan pola ku.
"Tunggu, Anggrek! kamu jahil banget!"
"Haha, Antar aku pulang sekarang, Kak. Mama melarang bertemu sampai hari lamaran nanti, Istirahat dari kerjaan juga," kata ku sambil masuk mobil antik Bian.
"Baiklah, Bu Bian Prasetya,"
"Belum ya,"
"Lagi proses ke sana kan?"
"Iya, Sampai ketemu tiga hari lagi ya, Kak!"
"Tunggu aku ya, Sayang,"
__ADS_1
"Selalu, Kak Bian,"
*****