Viral

Viral
55. Mereka bertemu lagi


__ADS_3

...Apapun masalah anda...


...hadapilah, Selesaikan...


...jangan pernah lari dari masalah...


...karena percuma...


...dengan berlari tidak menyelesaikan...


...hanya menunda masalah...


Caption Absurd Anggrek hari ini dalam foto hitam putih dengan cangkir kopi ditangan serta mie ayam di sebelah kopi. Sebuah foto yang mengandung promo di dalamnya.


**********


Tidak ada kabar dari pemilik ruko yang kami hubungin. Aku harus bersabar kembali jika memang dalam dua bulan belum ketemu juga. Dengan terpaksa berarti cabang kedua dialihkan sebagai cabang utama.


Ide ini juga kecil kemungkinan dilaksanakan karena pegawai Miepa bisa berdesakan. Dua cabang dijadikan satu.


Sambil memoles makeup dan berganti pakaian untuk ke acara syukuran rumah Doni. Pikiran ku mengembara menyusun rencana demi rencana.


Sabtu pagi ini aku mampir sebentar ke Miepa lalu kembali ke rumah untuk menjemput mama ke acara syukuran Doni.


Doni memang mengundang kami sekeluarga tapi tidak semua bisa ikut. Papa ada jadwal vaksin covid-19 dari kantor sedangkan Dewo sudah janji dengan Rio membuat content video.


Toookkk.. Tokkkk.. Tokkk


Pintu kamar ku diketuk dari luar, Tidak lama kemudian mama masuk ke kamar.


"Anggrek kamu serius mengajak Bian ke syukuran rumah Doni?"


"Iya, Ma. Tidak apa-apa kan?"


"Mama sih tidak masalah hanya saja sepertinya Bian tidak menyukai Doni"


"Perasaan mama saja"


Aku tidak mengatakan kalau Bian yang inisiatif ikut. Dia sepertinya khawatir kalau aku bertemu Doni. Padahal sejak menerima Bian, Aku menganggap Doni sebatas teman.


"Perasaan mama kadang benar lho. Tuh si Bian sudah datang menjemput kita"


"Iya Ma, Yuk kita menemui Bian"


Kami lalu menuju rumah Doni mengendarai mobil Bian. Mama tidak hentinya bercerita mobil Bian ini mengingat beliau di masa mudanya.


Selera mobil Bian memang beda kadang aku berpikir karena itulah dia memilih ku sebagai pasangan.


Antimainstream, Sebutan yang sering melekat pada orang yang mengambil jalan berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya.


"Bian sudah tahu rumah Doni?" Mama menanyakan kepada Bian. Mama kelihatan heran darimana Bian tahu rumah Doni sedangkan aku sama sekali tidak memberi arah jalan.


"Sudah tahu tante, Rumah Doni yang dibeli dari Anggrek"


"Oh jadi kamu sudah tahu rumah Anggrek yang dibeli Doni dan sudah pernah ke sana?"


"Iya tante"


"Bian berteman dengan Doni juga ya?"

__ADS_1


"Tidak tante tapi Bian mengenal Doni dari Anggrek"


Aku bisa melihat telinga Bian memerah mendengar pertanyaan mama.


"Oh tante pikir selama ini kalian berteman. Bian sendiri tinggal dimana?"


Ternyata mama berpikir Bian dan Doni berteman karena sama-sama mengenal ku. Pantesan mama pernah menyuruh Bian mengantar Doni.


"Perumahan Bukit Hijau Asri, Tante"


"Wah di sana mahal ya, Don. Teman tante pernah berencana membeli perumahan di sana. Padahal tipe paling kecil tapi harganya sudah tinggi"


"Iya Tante"


Aku tersenyum geli andai mama tahu perumahan yang disebutkan itu milik keluarga Bian. Nanti aku akan menceritakan pada mama. Mama juga harus tahu tentang keluarga Bian.


Mobil Bian sudah tiba di rumah Doni. Tampak tamu sudah datang. Sama dengan syukuran rumah ku, Tidak terlalu ramai.


Doni menyambut kedatangan kami. Ekspresinya untuk sesaat tampak kaget ketika melihat Bian tapi selanjutnya dia tetap menyalami Bian.


Bian bergabung dengan undangan laki-laki sedangkan aku dan mama bergabung dengan undangan perempuan. Ada mama Doni yang menyambut mama.


Seorang anak laki-laki tiba-tiba menarik tangan ku. Aku mengenalinya dari foto yang pernah Doni tunjukkan, Dia putra Doni.


"Tante, Jeno mau kue" Dia menunjuk ke arah meja prasmanan.


"Iya tante akan ambilkan ya" Aku menggamit tangannya. Dia tampak lucu dengan pipi gembulnya, Tidak terlalu mirip Doni. Katanya sih anak laki-laki memang banyak mirip ibunya.


Aku mengambil beberapa kue dan meletakkan di piring kertas untuk Jeno. Rupanya dia masih mengikuti ku sampai ke kursi. Jeno duduk di sebelah ku sambil makan kue.


"Jeno dari tadi papa mencarimu rupanya disini"


"Papa, Jeno lapal jadi makan"


Doni duduk di sebelah Jeno, Kami dipisahkan satu kursi dengan Jeno yang duduk di atasnya.


"Mama Jeno penggemar Lee Jeno jadi dinamakan Jeno"


"Untung pilihan namanya 'Jeno' masih bisa diterima dengan lidah lokal"


"Neneknya akan protes duluan kalau namanya susah dilafalkan"


"Kapan Jeno tiba di sini, Don?"


"Berapa hari lalu tidak lama ketika mamanya menikah"


Aku membelai kepala Jeno, Ada rasa sedih di dalam hati karena suami baru mamanya menolak menerima Jeno jadi harus mengikuti Doni.


Seharusnya ayah tiri Jeno selain menerima istrinya harus juga menerima anaknya. Aku yakin karena dibawah umur hak asuh pasti jatuh pada istrinya tapi seperti Doni bilang mereka memilih damai. Secara kekeluargaan di putuskan mengikuti Doni.


"Oh ya Don kamu ada kenalan teman yang mempunyai ruko di jalan Thamrin?" Sekali lagi aku mencari peluang untuk mendapatkan informasi pemilik ruko.


"Enggak ada, Memangnya kenapa?"


"Ruko ku tidak bisa diperpanjang sewanya jadi harus cari tempat baru"


"Kenapa?"


"Aku kurang paham lah, Pemilik rukonya tidak menjelaskan alasannya. Kalau tempat gym mu lebih baik jauh hari sebelum jatuh tempo langsung kamu perpanjang saja masa sewanya"

__ADS_1


"Itu ruko milik ku, Nggrek. Saat papa mendapatkan warisan hasil penjualan tanah milik kakek. Papa membeli satu ruko untuk investasi lalu ketika aku cerai. Diberikan sebagai tempat ku usaha"


"Oh gitu bearti kamu sudah lama buka tempat gym di sana?"


"Awalnya kepunyaan pemilik ruko tapi ketika dia menjualnya sekalian sama peralatan gym. Dia males mengurusnya sejak pademi"


Aku mengangguk pantesan sempat lama vakum rupanya sudah lama tidak diurus. Aku terkejut ketika Jeno meminta duduk di pangkuan ku tapi ku turutin. Dia berceloteh lucu membuat ku tertawa.


"Anggrek, Aku cukup kaget kamu mengajak Bian tapi bagaimana pun aku sadar bersama ku memang berat untuk seorang gadis"


Doni melihat interaksi antara aku dan Jeno. Sepertinya pikiran Doni sama dengan ku, Jeno merindukan sosok ibu.


"Suatu saat kamu pasti menemukan ibu yang tepat buat Jeno"


"Iya Anggrek mengikuti arus saja kemana. Memang masalah bagi ku bukan sekedar mencari istri tapi seorang wanita yang mau menjadi ibu dari anak ku"


Aku mengangguk sambil berkata dalam hati. Sebenarnya semua orang ada masalah Don tapi tergantung bagaimana mereka menyimpannya.


Ada yang mengumbar di sosial media seakan semua orang harus tahu dia mempunyai masalah tapi ada juga yang menyimpan rapat berharap tidak ada yang tahu.


Bahkan aku masih menyimpan rapat masalah hubungan ku dengan Bian. Berharap bisa kami selesaikan sendiri dan ketika waktunya tinggal memberitahu kepada keluarga ku.


"Bodyguard mu datang, Nggrek" Aku mengikuti arah pandang Doni. Bian sedang berjalan ke arah kami dengan wajah datarnya. Tanpa basa-basi dia duduk diantara aku dan Doni. Di kursi yang sebelumnya di duduki Jeno.


"Sudah makan?" Doni bertanya basa-basi kepada Bian.


"Iya karena antri makanlah jadi tadi lama keluarnya"


"Kamu sudah makan, Nggrek?" Doni bertanya pada ku.


"Belum nanti sama mama saja" Jeno masih duduk di pangkuan ku melihat gelagat Bian yang tidak ramah. Doni berinisiatif menggendong putranya dari pangkuan ku.


"Doni sudah lama tante tidak bertemu. Ini Istrimu?". Tiba-tiba Seorang ibu menepuk pundak Doni sambil menunjuk ku. Entah berapa lama dia tidak bertemu Doni sampai tidak tahu kalau Doni sudah cerai.


"Bukan tante Santi ini teman Doni. Sekarang Doni sudah cerai jadi anak kami ikut Doni"


"Oh maaf" Ibu itu tampak canggung lalu berlalu dari kami. Doni pun sama dia berpamitan dengan ku dan Bian sambil menggendong Jeno.


Aku pura-pura tidak melihat Bian karena wajahnya tampak dingin lebih dari biasanya.


"Aku sudah katakan dia mendekati keluarga mu sekarang dia mendekati anaknya dengan mu. Doni rupanya duda ya? Dia mencari seorang ibu"


"Ceritanya bukan begitu nanti aku ceritakan sekarang mau makan dulu yuk"


"Aku udah makan"


"Temani aku yuk, Kak Bian"


"Sendirian saja lah"


"Nanti ada yang menemani ku lhoo" Aku menggoda Bian. Dengan cepat Bian berangkat dari kursinya untuk menemani ku. Dia membuat ku tertawa geli. Bian cemburuan juga rupanya.


Kami meninggalkan rumah Doni menjelang siang. Mama membawa berapa bungkusan yang diberikan oleh mama Doni.


Aku melihat Doni dan Jeno yang sedang digendong. Hati ku mendoakan agar Jeno bisa mempunyai ibu yang baik dan menyayanginya.


Semua manusia memang memiliki masalah dalam hidup hanya yang membedakan. Ada yang masalahnya tampak dipermukaan tapi ada yang tidak kelihatan.


********

__ADS_1


__ADS_2