
"Kenapa Aku tidak marah atas perlakuan mereka apakah level sakit ini sudah berada dalam level tertinggi kemarahan karena terkadang level tinggi kemarahan adalah pengabaian. Aku tidak perduli lagi apa yang akan mereka lakukan tapi yang Aku perduli kan adalah diriku".
Mama sudah tahu apa yang terjadi kami mulai dari level bawah lagi. Berkali-kali mencari pegawai baru dan akhirnya hari ini mendapatkan calon pegawai yang ganteng. Namanya Nando Usianya baru 20an awal. Dia bekerja sambil kuliah,Jam kerjanya sampai pukul 17.00 lewat dari jam itu Nando tidak bisa karena jadwal dia kuliah malam hari.
Aku tidak keberatan karena Ina yang biasa bertugas mengolah bumbu bisa bekerja pukul lima sore untuk melanjutkan Nando menjaga booth. Biasanya juga penjualan pentol unyu sudah habis sebelum pukul lima sore tapi Aku mengantisipasi agar ketika Ina dibutuhkan dia sudah tahu tugas tambahannya.
Untuk memasak bumbu, Mama sudah mendapatkan gantinya. Indah namanya dia seorang janda yang bekerja sebagai pelayan dirumah makan. Jam kerjanya pukul sembilan pagi jadi sebelum jam sembilan dia memiliki waktu kosong.
Hari sabtu siang ketika libur kerja Aku sering mampir di pentol unyu. Bersama Nando, Kami sering iseng membuat content di tiktok. Aku juga menambahkan varian bakso aci titipan Natasha dan brownies lumer dari Bu Nindi. Natasha juga sering mempromosikan pentol unyu ke sosial media ataupun ke teman-temannya. Suatu hubungan timbal balik yang menguntungkan.
Clothing line saat ini belum kami jalankan karena sepi order mungkin masa Pademi pembelian pakaian ditunda dulu tapi endorse sekarang lebih banyak masuk. Aku bisa membeli mobil baru untuk menggantikan mobil lama. Saat ini Aku sedang giat menabung untuk mengumpulkan sewa ruko ditempat strategis. Rencananya Aku akan membuka butik dan tempat makan.
"Nggrek". Suara familiar yang sudah sangat Ku hapal tanpa melihat suaranya Aku sudah tahu siapa yang menyapa.
"Eh Adiwarna, Kamu mau beli apa? ". Adiwarna tampak salah tingkah.
"Mas mau pesan apa?". Nando menyapa dengan ramah. Tentu saja dia belum tahu Adiwarna walau dia mengenal Ku lewat video viral tapi sebenarnya dia belum pernah berjumpa langsung dengan Adiwarna.
"Apa saja".
"Apa saja maksudnya pentol, bakso aci atau brownies? ". Nando tampak bingung.
" Semua masing-masing satu bungkus".
"Rasa apa pentolnya pedas, original, pedas manis dengan toping mozarella atau tanpa toping". Aku bisa melihat Adiwarna tampak kesal dengan kecerewatan Nando tapi Ku biarkan saja namanya juga melayani pembeli.
"Buatkan saja pedas manis pake mozarella". Aku mewakili Adiwarna rasanya tidak baik juga jika dia berlama-lama disini. Booth pentol unyu berada di tepi jalan kehadiran Adiwarna bisa menimbulkan pemikiran yang tidak baik jika ada orang yang melihat dan mengetahui hubungan kami di masa lalu.
__ADS_1
Adiwarna duduk dihadapan Ku dengan canggung. Aku membiarkan saja tanpa tertarik memulai percakapan.
"Nggrek, Aku kesini ada keperluan".
"Oh ya?. keperluan apa?".
"Aku ingin menawarkan Kamu menjadi manager yang memegang tiga cafe Ku? ".
"Apa, manager?" . Aku tercengang mendengar penawaran dari Adiwarna. Setelah dia mencampakkan Ku, merebut pegawai dan membuka usaha sama persis dengan Ku sekarang dia menawarkan pekerjaan sebagai manager. Ini adalah sebuah bentuk kegilaan dan rasa tidak tahu malu.
"Iya, Nggrek. Kamu kan kreatif Nggrek bisa mempromosikan cafe, mendesain content untuk memperkenalkan menu, membantu management kafe".
Aku menertawakan tawaran Adiwarna. Astaga dimana rasa malu Adiwarna, Dia sudah mencampakkan Aku. Menyalip ide booth Ku, sekarang dia meminta Ku menjadi manager di kafenya. Nama Ku saat ini sudah lumayan di kenal orang. Rugi banget kalo Aku kerja dengan dia, Itu sama saja mempromosikan gratis kafe Adiwarna. Oh tidak ternyata dia menganggap Ku begitu tolol kah.
"Tidak bisa, Adiwarna, Kamu kan tahu Aku masih kerja kantoran sekarang juga Aku sedang sibuk mengurusi booth ini".
Sedikit lagi Aku berteriak dan Kamu mesti tahu Aku ini selebgram, influencer dengan 1M follower saat ini tarif endorse Ku ud bla.. blaa walau sebagian isinya haters yang gak sudi melihat Aku tenar dengan tampang minimalis setidaknya mereka tetap follow dan penasaran dengan apa yang Aku lakukan tapi tentu saja itu hanya di ujung lidah karena Aku geli sendiri mendengarnya.
"Tadi Aku sudah beritahu alasannya, Adi. Lagipula si Cahya kan ada. Kenapa gak Cahya saja yang pegang".
"Dia sedang hamil". Adiwarna menjawab standar, Aku tersenyum sinis mendengar jawaban Adiwarna. Cahya pasti gak mau ribet dengan usaha Adiwarna yang dia inginkan cuma hasil dari usaha bukan menjalankan proses membangunnya.
" Cari yang lain sajalah. Aku sudah jelas kan alasannya".
"Mas sudah jadi". Nando menyerahkan pesanan Adiwarna dengan ekspresi tidak seramah tadi.
" Sudah gak usah bayar".
__ADS_1
"Aku tetap bayar". Adiwarna meletakkan uang dia atas meja tanpa menoleh dia bergegas meninggalkan kami.
"Itu ya mbak si Adiwarna yang legendaris itu".
"Hadeeh, Dia bukan Rangga gak usah ditambahin legendaris. Kebagusan".
"Tidak tahu malu". Aku ngikik mendengar dengusan Nando.
"Dia tidak mengenali apa rasa malu".
********************************************
"Eh, Anggrek tahu nggak kafe mantan kamu yang di pengkolan tidak jauh dari butik ini sudah tutup lho?".
"Hah, serius?".Aku kaget mendengarnya karena kafe itu adalah usaha pertama Adiwarna. Aku terlibat dalam penentuan menu, membantu promosi ke kantor, membuat buklet makan siang dengan harga bersahabat ke kantor dan akhirnya dikenal banyak orang.
"Iya lah.. ntar kita lewat deh sapa tau Aku salah tapi berapa hari ni emang tutup. Pademi gini sepi kali ya".
Aku tersenyum tipis seharusnya pada saat Pademi ada perubahan penjualan bukan hanya berharap pada pembeli yang datang tapi pada perubahan penjualan dan menu yang ditawarkan. Beberapa usaha kafe rekan Ku tetap berjalan dengan menawarkan menu makan siang harga ekonomis dan rutin membuat story pembuatan makan dan penyajian dengan menerapkan protokol kesehatan.
Pantesan saja Adiwarna meminta Ku menjadi manager memang selama ini Aku banyak menyumbangkan ide untuk usahanya dan bersama kami akan menjalankan ide tersebut. Ya, Anggrek yang mencintai Adiwarna tanpa pamrih dan akhirnya terlupakan begitu saja.
Aku tersenyum geli membayangkan penolakan Ku kemarin. Pasti Adiwarna kaget karena Anggrek yang dia kenal tidak pernah menolak apapun yang dia inginkan. Apa yang dipikirkan Adiwarna apakah dia berpikir Aku masih mencintainya. Lucu sekali Aku memang pernah mencintai dia tapi itu dulu sewaktu dia masih lajang dan bukan suami orang. Adi masih terpaku pada diriku yang lalu ketika Aku begitu bodoh dan terbuai cinta yang dia tawarkan
Ini Anggrek Maharani yang baru bukan Anggrek Maharani yang lama. Kehidupan Ku sudah berubah justru banyak hal yang terabaikan ketika menjadi kekasih Adiwarna. Kebersamaan dengan teman-teman, keluarga, produktivitas Ku untuk diri sendiri yang tidak mengalami perkembangan. Justru Aku membangun usaha Adiwarna tanpa menyisakan ruang untuk diriku.
Semua adalah masa lalu sekarang Aku menapak untuk hidup yang baru. Meraih masa depan bersama orang-orang yang tulus mencintai ku. Hidup adalah anugrah terlalu merugi jika hanya meratap orang yang tidak menginginkan kita.
__ADS_1
"Nah kan tutup". Suara Natasha membuyarkan lamunan Ku. Natasha sengaja mengurangi kecepatan laju motornya. Kami memang naik motor saat ini sehingga dengan jelas Aku bisa melihat tulisan 'tutup' pada kafe Adiwarna.
Kafe yang dimasa dulu menyumbang penghasilan terbesar dibanding kafe lainnya sekarang sudah tutup. Apakah bersifat sementara atau tidak rasanya Aku enggan untuk mencari tahu dan memperdulikannya. Dulu saja Aku tidak menikmati hasilnya. Apalagi sekarang.