
...Gugus bintang pernah mengeluarkan pesona indahnya di malam hari. Merajai gelap pekat langit malam, Membuat pesona mata memandang....
...Sekarang tanpa tanya cahaya buatan mengalihkan keindahan. Menggantikan cahaya di langit turun ke bumi....
...Keduanya memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak ada yang salah dengannya....
Anggrek memandang sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, Kalimat demi kalimat melintas begitu saja dalam pikirannya.
*********
Malam ini Kenzo mengajak ku pergi ke salah satu restoran miliknya. Semua pegawai Kenzo mengangguk hormat ke arah ku, Sedikit jengah ketika mereka mulai memperhatikan dari atas kebawah. Seakan menilai kelayakan untuk bersanding dengan Kenzo.
Aku memperhatikan keseluruhan restoran milik Kenzo. Ada sisi dirinya di dalam restoran ini. Tercermin keteraturan, Tenang dan tampak sempurna. Semua yang tersusun memiliki kaitan masing-masing.
Sky resto milik Kenzo merupakan restoran roof top di atas pusat perbelanjaan di kota kami. Mengusung tema natural, Interior yang ada di roof top ini di dominasi warna hijau dan coklat kayu. Tanaman yang diletakkan mendukung tampilan asri dan sejuk.
Kenzo menggunakan furniture bergaya vintage, Sebagian tampak terbuat dari barang bekas yang di poles kembali membuat kesan edgy.
"Duduk disini saja, Nggrek. Kita bisa melihat pemandangan kota malam hari,"
Aku mengangguk dan duduk di sudut rooftoop. Dari atas gedung memandang kelip lampu kendaraan yang berpijar bergerak tanpa henti, Langit malam ini dihiasi bulan purnama. Netra ku cukup lama memandang bulan dari roof top ini seakan bulan bisa ku gapai.
Kembali mata ku beralih ke gedung dengan lampu terang, Ditambah lampu penerangan jalan yang bersinar dari bawah.
Teringat kembali dengan penuturan kakek. Dulu saat penerangan listrik terbatas gugus bintang sangat cerah dan indah ketika malam hari. Sekarang sinar bintang dikalahkan oleh cahaya buatan. Itulah pilihan, Kemudahan teknologi mengorbankan keindahan alami lainnya.
Netra ku lalu beralih dengan pemandangan tepat di hadapan diri. Wajah Kenzo dengan dibingkai kacamata menyembunyikan manik coklat gelapnya. Kumis samar kehitaman kontras dengan kulit putih terawatnya, alis tebal berbaris rapi. Rahang Kenzo menyempurnakan penampilan dirinya, Dia tampan.
Aku teringat ucapan Tania, Mantan Anggrek tampan semua. Apakah aku termasuk beruntung selalu berdekatan dengan pria tampan? beruntung atau kurang beruntung sebenarnya.
Dua kali cinta ku kandas, Satu meninggalkan ku untuk menikah dengan wanita rupawan. Satu lagi bertunangan karena dijodohkan dengan gadis yang tergila olehnya. Pria tampan memang butuh penjagaan terlalu banyak wanita yang berminat.
"Sudah?"
"Apanya, Ken?"
"Melihat wajah ku? apakah ada yang aneh?"
"Ah tidak, Aku hanya mengagumi lokasi restoran mu. Entah kapan aku bisa memiliki restoran yang sama" aku menyembunyikan kenyataan bahwa yang dilihat adalah wajah Kenzo.
"Kamu pasti bisa Anggrek, Aku yakin,"
"Aku tersanjung kamu begitu yakin dengan kemampuan ku,"
"Tentu saja seperti aku yakin memilih kamu menjadi pasangan hidup ku."
Kenzo mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Dia mengambil cincin dengan hiasan berlian mungil. Sinar berlian berkelip ketika terkena cahaya lampu.
"Menikahlah dengan ku, Anggrek Maharani."
Semua berlangsung cepat membuat otak dan hati ku tak sempat berpikir dan merespon.
Kenzo memasang kan di jari manis ku, Dia mengecup lembut punggung jari lalu mengenggam jemari ku.
Aku memandang genggaman tangan Kenzo. Dibalik genggaman itu, Ada cincin melingkar pengingat diri bahwa ada yang mengikat ku.
"Terimakasih karena kamu memilih ku, Ken" hanya kalimat itu yang melintas untuk sebuah reaksi dari keterkejutan malam ini.
"Karena memang kamu pantas di pilih, Sayang"
Dia memanggil ku 'Sayang', Tidak mungkin aku memanggil Kenzo dengan sebutan kakak Ken. Kami sebaya, Bearti aku harus memanggil dia sayang juga. Aku bergumam dalam hati.
"Iya, Sayang."
Kenzo tertawa kecil lalu dia meremas lembut jari ku.Terasa gesekan di jari manis untuk cincin yang terpasang.
Lantunan 'Marry Me' dari 'Train' terdengar di rooftop. Bulan purnama yang indah di langit menyempurnakan lamaran secara personal yang dilakukan Kenzo.
"Kamu meminta lagu ini?"
"Iya,"
__ADS_1
"Kalau begitu semua pegawai di roof top ini tahu Ken kalau kamu akan melamar ku, Pantasan saja ketika aku datang semua memperhatikan dengan minat,"
"Iya mereka sudah lebih tahu dari kamu, Nggrek. Malam ini aku sengaja mengosongkan restoran khusus untuk kita,"
Aku melihat sekeliling restoran, Sepi hanya kami berdua. Kenzo sudah menyiapkan semuanya dengan baik.
"Aku merasa tersanjung, Ken."
"Kamu pantas mendapatnya, Sayang."
Dia tenang, Teratur dan perfeksionis. Bahkan aku percaya Kenzo memperhitungkan waktu dengan baik. Menunggu bulan purnama yang tampak indah dari roof top agar menyempurnakan lamaran yang dia lakukan.
...Marry me...
...Today and every day...
...Marry me...
...If I ever get the nerve to say Hello in this cafe...
Bait demi bait 'Marry Me' dari Train mengiringi kami berdua di restoran rooftop dibawah cahaya lembut purnama. Semua kelembutan, ketenangan dan romantisme yang alami hadir malam ini.
Semua sudah terencana dan Kenzo sudah yakin akan berhasil hanya satu yang dia lupakan. Dia tidak menanyakan apakah aku bersedia atau tidak.
**********
Kami sudah di dalam mobil menuju rumah ku. Mobil kembali membelah jalanan berbaur dengan kendaraan lainnya.
"Anggrek,"
"Ya Ken,"
"Sayang, Mungkin kita mulai bisa menyusun rencana selagi menunggu pemulihan papa ku,"
"Memang kenapa papa mu, Ken?"
"Baru menjalani operasi by pass jantung masih membutuhkan waktu balik kembali kesini, Mama juga menemani papa,"
"Iya, Makasih sayang karena untuk lamaran dari keluarga ku akan dilakukan setelah papa benar-benar pulih,"
"Sama-sama, sayang. Semoga papa mu lekas sembuh ya."
"Iya, Sayang,"
"Pantesan Riska dan Raisa tinggal di rumah kamu ya, Ken. Orangtua mu sedang melakukan pengobatan,"
"Iya benar sekali karena mereka butuh pengawasan,"
"Bukankah mereka sudah cukup mandiri? terlebih di rumah orangtua mu ada asisten rumah tangga,"
"Iya sudah mandiri tapi terkadang masih muda untuk memilah yang mana benar dan salah. Seperti seseorang yang ku kenal di masa lalu. Sampai dimanfaatkan bertahun lamanya,"
"Kenzo!!" aku cemberut karena dia senang menggoda masa lalu ku. Kenzo tertawa lalu dia mencubit gemas pipi ku.
"Maaf"
Kenzo anak laki-laki pertama dalam keluarganya. Dia mengambil alih tugas orangtuanya ketika mereka sedang berhalangan seperti saat ini.
Kenzo hampir sama dengan ku. Salah satu motivasi aku bekerja keras. Suatu hari biaya kuliah Dewo pun akan menjadi tanggung jawab ku, Papa menjelang pensiun saat ini.
Kenzo mengantar ku pulang setelah berpamitan dengan papa. Dia segera menuju mobilnya sebelum memasuki mobil. Kenzo mengelus lembut kepalaku
dan mendaratkan ciuman di kening.
"Aku pulang dulu ya, Honey,"
"Iya hati-hati ya, Ken,"
"Jangan begadang,"
"Baiklah, Bapak Kenzo," Aku meniru gaya pegawai restoran Kenzo menyapa ken. Dia tertawa kecil, Ah dia begitu tampan.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan mencuci muka, Aku membantingkan diri di ranjang. Memeluk bantal pisang ku.
Aku mengangkat jari ku yang terpasang cincin pemberian Kenzo. Cincin yang indah, Untung mama menginap di rumah kakek kalau tidak rentetan pertanyaan akan diajukan.
Untuk sementara aku akan menutup kisah bersama Kenzo dari keluarga ku. Menunggu sampai ada kepastian mengenai kesehatan papa Kenzo.
Terlebih dengan Dewo karena dia bisa mengadu kepada Bian. Ah kenapa aku harus memikirkan satu nama dari masa lalu.
Malam semakin merambat naik, Detak jam mulai terdengar lebih jelas, Seiring kesenyapan malam yang setia menemani tubuh lelah setelah beraktivitas.
*********
Pagi yang mendung seakan tinggal menunggu waktu awan hitam keabuan menumpahkan beban dirinya ke bumi.
Aku sudah tiba di Miepa, Biasanya setiap hujan pengunjung jauh berkurang. Pegawai ku bisa istirahat ketika hujan turun.
Aku tahu mata Rika berapa kali melihat cincin di jari ku. Entah apa yang dipikirkan, Rika memang sedikit banyak tahu tentang kehidupan ku.
Dia tahu bahwa aku dan Bian pernah menjadi kekasih. Rika juga tahu siapa yang mengirim buket bunga di Miepa. Kemudian dia mengetahui kedekatan akhir-akhir ini dengan Kenzo. Dia sungkan saja untuk bertanya.
Berbeda dengan Rika ketika bertemu Cleo dia menanyakan langsung.
"Anggrek kamu tunangan?"
"Tidak,"
"Tapi cincin mu? seperti sebuah cincin tunangan. Kamu tidak mau bercerita dengan ku?"
Aku sedikit ragu awalnya tapi akhirnya aku memutuskan untuk mengakui karena selama ini Cleo yang banyak membantu usaha ku berkembang.
"Kenzo melamar ku," dia memekik mendengarkan cerita ku.
"Selamat ya, Nggrek, Kapan resminya nanti?"
"Belum tahu pastinya,"
"Oh, Kenapa?"
"Papa Kenzo baru selesai operasi jadi masih dalam masa pemulihan.
"Iya harus menunggu pemulihan dulu agar fit kembali ya?"
"Iya tapi jangan cerita pada siapapun ya!" Cleo tersenyum mendengar permintaan itu. Dia lalu menepuk pundak ku.
"Jari mu kelihatan mencolok, Anggrek,"
"Iya juga sih mungkin jika ku pindah ke jari telunjuk tidak terlalu tampak ya?"
Cleo tertawa kecil melihat cincin itu berpindah ke jari telunjuk. Terkesan begitu memaksa.
"Bisa jatuh nanti cincinnya. Aku pamit dulu ya ada kerjaan,"
"Iya hati-hati, Cleo"
Sebenarnya aku ingin membuka cincin ini tapi khawatir Kenzo mengajak ku makan bersama, Nanti aku lupa menggunakan kembali. Cleo benar mencolok sekali kalau aku sekarang telah memiliki ikatan
Kenzo tidak pernah mengatakan ia mencintai ku tapi semua orang terdekatnya tahu aku mempunyai tempat istimewa dihati Kenzo. Dia juga memutuskan untuk langsung melamar ku.
Mengapa harus ada kata-kata. Sikap Kenzo sudah menunjukkan dia mencintai ku karena telah memilih sebagai istrinya.
Bagi Kenzo untuk apa sejuta kata. Jika satu langkah bisa meyakinkan keseriusannya.
Sudah seharusnya aku tersanjung, Disisi hati ku sebenarnya merasa ada yang kurang tapi aku tidak tahu apa itu..
********
Maaf ya kemarin otor gak sempet balas komen, Kehidupan dunia nyata memanggil minta dikerjakan 😂😂
Pas senggang nulis chapter lanjutan tapi otor baca semua komen kalian semua..Makasih ya 😘😘
Satu lagi jangan lupa like, komen dan vote ya 😘😘
__ADS_1