
Ketika kita bicara tentang rumah tangga
ternyata bukan sekedar cinta
ada piring dan tumpukan baju kotor di dalamnya
Haha... Aku hanya bercanda
Lupakan...
Maksud ku adalah rumah tangga
selain cinta adalah hak dan kewajiban
menikahlah saat mental dan jiwa mu sudah siap
Anggrek menghapus caption itu di instagram. Terlalu absurd.
******
Kening Bian berkerut ketika aku datang dengan segelas kopi, Duduk santai di sebelahnya yang sedang melihat ikan koi di belakang rumah.
Aku menyeruput nikmat membuat kedua alis indah itu menyatu.
"Ada apa sayang? tanya ku heran.
"Kamu gak merasa aneh?"
Aku melihat diriku dari atas sampai bawah lalu menggeleng. "Tidak ada yang aneh,"
"Hmm...," Bian berdehem lalu mengambil kopi di tangan ku dan menyeruputnya.
"Kak Bian, Punya mu sudah aku buatkan di meja makan!" protes ku.
"Ya... Kamu bisa bawakan sekalian buat suami mu sayang, Kamu lupa ya sekarang bukan sendiri lagi,"
Aku diam "Begitu ya, Eh begitu ya....,"
Di lain hari, Aku baru tiba di rumah ketika mendapatkan Bian mengernyitkan kening. Keadaan rumah berantakan, Aroma pengap karena seharian, Jendela tidak di buka.
Pagi tadi ketika Bian pergi ke studio Rian, Aku sengaja tidak membuka jendela karena di rumah tidak ada siapa pun.
Aku pun belum menyapu dan mengepel. Bukan tidak pernah melakukan tapi rumah kami tidak sebesar ini, dan aku berbagi tugas dengan mama.
Sedangkan setiap pagi aku harus menyiapkan keperluan Bian, sarapan lalu kebutuhan ku. Bian juga memiliki pekerjaan di Jakarta. Dalam seminggu dia akan tinggal di Jakarta berapa hari.
Aku bekerja, Waktu di rumah tidak banyak. Sedangkan pekerjaan rumah ternyata tidak semudah yang ku bayangkan.
Urusan baju saja seperti lingkaran, Tiada henti. Bian sama sekali tidak bisa mengerjakan apa pun dengan benar untuk urusan rumah. Ya, Konyol sih aku mengharapkan itu.
Dia 'Born With a Silver Spoon', Idiom yang merujuk pada suami ku.Terlahir dari keluarga kaya apapun ceritanya, Terlepas dia hanya kerabat Anugrah. Bukan cucu kandung kakek Danny, Pada intinya Bian tetap terlahir dengan kekayaan dan keberuntungan.
Assisten di rumah papa Setya dan mama Lusi sepertinya berjumlah belasan orang. Aku bahkan tak hapal wajah mereka. Apalagi rumah Tasya, iring-iringan.
Aku pun baru tahu dia memiliki perut sensitif, Salah makan saja bisa membuatnya diare.
"Hufftt... Mata ku melirik putus asa ke tumpukan piring pagi tadi,"
Jarum jam menunjukkan pukul 19.05 Aku baru saja mengantarkan Bian kembali ke Jakarta. Untuk sementara kami harus menjalani Long Distance Married.
Ternyata dari aku menjalani hubungan dengan Kenzo. Dia sudah sering melakukan ini, Saat weekend dan liburan saja pulang ke kota ku.
Sebuah kebiasaan yang baru aku ketahui setelah menikah, Tangan ku meraih handphone. Saatnya mengibarkan bendera putih, Menyerah. "Aku membutuhkan assisten rumah tangga,"
Jemari ku mengetikkan beberapa pesan untuk Natasha. Menceritakan tentang tumpukan piring, rumput di conblock, pakaian di laundry yang belum di ambil, rumah debu, pesan Bian agar ikan koi jangan lupa di berikan makan.
Sambil membalas pesan dari Natasha, Mata ku melihat ke arah teras belakang. Pada pot dengan tanaman terkulai layu, Kasihan. Mama pasti mengomel jika tahu pemberian meranggas merana.
"Haha...,"
"Ih, Tertawalah di atas derita ku..."
__ADS_1
"Oke, Maaf hihii... Kamu mau menggunakan assisten dari yayasan atau non yayasan. Kalau mau cepat ya menggunakan yayasan tapi kalau mau sabar, Non yayasan yang kita tahu di mana domisili dan keluarganya."
"Memangnya ada kenalan?"
"Entar aku tanya sama mbak di rumah, Dia berasal dari sini juga. Jadi sebulan sekali pulang ke kampungnya."
"Oke, Jangan yang cantik, centil, seksi, montok, bahenol. Ibu-ibu aja deh kalau bisa,"
"Walaaahh, hahaaaa... Bian itu cuma cinta sama kamu aja kali, Nggrek. Kalau mau main gila pas dia di Jakarta,"
"Eh benar saja, Dia sering di Jakarta,"
"Anggrek, Jangan kepikiran aneh-aneh. Maaf... aku hanya bercanda, Anggap angin lalu saja ya. Tunggu saja kabar dari ku untuk asisten ya. Kalau dari yayasan ntar aku kirimkan nama yayasan yang memiliki track record baik ke kamu."
"Oke, Nat, makasih ya,"
Aku segera mengabarkan Bian mengenai keputusan untuk mengambil art.
"Iya sayang dari kemarin sudah mau kasih tahu ke kamu,"
"Sayang, Art yang di Jakarta dari yayasan mana? ada gak ya yang mau ke sini?"
"Kamu hubungi Cleo saja sayang, Biar dia aja yang urus,"
"Makasih sayang, Nanti aku segera menghubungi Cleo,"
"Iya, Kamu sedang apa sayang?"
"Mikirin kamu yang di Jakarta, Di Jakarta kamu gak macem-macem kan sayang, Gak genit kan?"
"Apa!"
"Awas kalau macem-macem dan genit,"
"Ya ampun Anggrek Maharani, Aku mau genit kalau dekat nyonya Bian saja,"
"Janji ya,"
"Iya sayang, nanti ya,"
"Iya istirahat saja nyonya Bian. I love you,"
"I love you, too,"
Malam ini aku segera menghubungi Cleo untuk assisten rumah tangga. Ternyata pekerjaan domestik tidak semudah yang di bayangkan. Aku menghela napas, Pantasan saja Kenzo sudah mengatur mengenai ini sebelum menikah.
......___-----____------____......
Tanpa harus menunggu kabar dari Natasha, Sekarang semua sudah selesai. Cleo mengirimkan tiga asisten rumah tangga sesuai kriteria yang ku minta. "Beres, Aku bisa bernapas lega,"
Sore ini aku pulang dari Miepa lebih awal karena akan menjemput Bian dari Jakarta. Kami telah tiba di rumah dan aku segera menyiapkan keperluan suami ku. Dia sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Kamu tidak meminta dicarikan sopir, Sayang sama Cleo?" kata Bian ketika keluar dari kamar mandi.
"Tidak, Jarak tempuh disini dekat. Aku belum memerlukannya,"
"Iya sayang, Kalau kamu sudah membutuhkan sampaikan saja ya,"
"Siap tuan Bian,"
Bian menarik tubuh ku mendekat, "kangen kamu, Nggrek,"
Aku mendengus mencium aroma yang terasa menusuk, "Kamu menggunakan parfum apa?"
"Belum hanya sabun mandi dan sampo," jawabnya bingung.
Tubuh ku segera menjauh dari Bian, Kepala terasa pusing mencium aroma tubuh Bian. Aroma ini tidak ku sukai.
Dan ini bukan pertama, Aku tidak menyukai aroma bawang pada masakan mbak di rumah. Lidah ku terasa pahit, Paginya pun aku terasa mual.
"Sayang, Kamu kapan terakhir haid?" tanya Bian hati-hati ketika pagi ini aku merasa mual mencium parfum ku sendiri.
__ADS_1
"Eh iya kah?"
"Tidak tahu tapi biasa orang hamil kan suka mual saat pagi, morning sickness. Apakah ada pewaris ku di dalam ini?" Bian merengkuh ku dalam pelukannya.
"Kita langung ke dokter SPOG saja, Sayang," pungkas ku," Iya sibuk bekerja dan menjadi seorang istri mengurus rumah tangga. Membuat ku tak sadar memang sudah telat haid,"
"Baik sayang, Aku tak sabar menunggu kabar baik," dia mengecup ku.
"Kamu ganti parfum ya sayang? kamu bau!"
Bian memandang ku terperangah lalu dia mencubit hidung ku gemas, "ketusnya... sayang ku,"
...___---____---____...
Aku memandang terharu pada selembar foto hasil USG di tangan. Kami baru keluar dari ruangan pemeriksaan. Ya, Aku mengandung 6 minggu. Di dalam ku sudah ada kehidupan baru yang di 'titipkan' ke kami.
Bian mengenggam tangan, "Kita harus mengabarkan ke semua keluarga ya sayang,"
"Baik, Sayang,"
Kami menuju ke rumah mama dan papa serta Dewo. Aku memasuki rumah dengan hati senang, Tak sabar memberi kabar pada mama dan papa.
Mama memeluk erat dan mengambil hasil USG di tangan ku, Memberikan pada papa. Mereka berdua tampak bahagia. Terdengar perlahan ucapan syukur dari keduanya. Ini adalah cucu pertama bagi papa dan mama.
"Anggrek, mulai sekarang kurangin kegiatan mu ya. Jangan kerjakan yang berat," Nasihat mama sambil membolak-balik hasil USG. Sejujurnya aku tidak paham kenapa mama mesti membolak-balik hasilnya.
"Mamamu waktu hamil kamu, Nggrek. Kalah di tiga bulan pertama, Selepas trisemester. Lebih kuat sampai melahirkan kamu," kata papa.
"Pantasan Anggrek tangguh banget ya, Pa," puji suamiku membuat hidung jadi kembang kempis.
"Keponakan ku nanti ganteng kayak om ya," seloroh Dewo.
Aku menjentik telinganya. "Belum tahu Dewo, Cowok atau cewek," Asal aja nih bocah.
Selanjutnya kami mengabarkan kepada mama Lusy dan Om Setya. Mama Lusy antusias sekali, Semua nama rumah sakit di sebutkan untuk memberi tempat pemeriksaan dan lahiran.
"Iya, Ma tapi kehamilan Anggrek masih muda. Pemeriksaan disini juga sudah cukup baik untuk sementara,"
"Tapi kamu harus pikirkan tempat melahirkan ya, Kalau bisa di sini...,"
Aku bisa mendengar papa Setya meminta waktu untuk bicara karena dari tadi mama Lusi mendominasi.
Kami saling berpandangan mendengar papa Setya dan mama Lusy bicara bersamaan di telpon. Begitu bahagianya. Terlebih mama Lusy, Bian adalah putra kandungnya.
...___---____----____...
Sekuat apa pun mental mu, Ternyata tak bisa melawan kodrat. Tubuh lemas, lidah pahit, mual tanpa henti dan hidung ku menjadi sensitif.
Berada di team Miepa yang kuat setidaknya membuat aku bisa mengurangi pekerjaan. Aku lebih memusatkan konsentrasi pada laporan team daripada terjun ke lapangan langsung.
Ngidam? sama sekali tidak ada di kamus karena yang kami pikirkan. Jenis makanan yang bisa aku makan. Sedikit bau saja membuat selera makan ku hilang. Aku akan mencoba berbagai makanan yang dibawa Bian.
Bian? dia sepertinya masih kebingungan mengenai panggilan dirinya. Hari ini ia berkata sambil mengelus perut ku, "Nak, daddy kerja dulu ya," besok berubah jadi papi, lalu pipi, ayah. kembali lagi ke daddy.
Sebagai suami, Bian telaten dia tak sungkan membuat susu dan menyuapkan aku makan. Selepas trisemester, Tubuh ku menguat. Semua makanan lahap ku makan. Berat badan ku naik, Pipi membulat kembali.
"Sayang, Menurut mu kita perlu menambahkan asisten?"
"Belum sayang,"
Aku memang tidak mengadaptasi kehidupan keluarga Bian. Kami baru memulai hari, Aku tahu secara finansial Bian mampu membiayai lebih. Hanya aku lebih suka menginvestasikan keuangan kami dalam bentuk properti dan tanah.
Aku baru mengetahui Bian bersama Arga pendiri e-commerce terbesar tanah air, Selain itu juga dia juga mempunyai studio profesional di Jakarta. Bian memang tidak mewarisi dari keluarga Anugrah tetapi memulai sendiri usaha sesuai passionnya.
Target ku ke depan membangun pabrik yang memproduksi semua mesin produksi nugget dan mie, lalu memproduksi peralatan makan ramah lingkungan yang mendukung usaha kami.
Bian menoleh ke arah ku ketika mendengar apa yang di sampaikan, "Sayang... satu bulan lagi kamu melahirkan, Sabar ya untuk cita-citamu...,"
"Iya, Daddy papa papi ayah," jawab ku sambil menyenderkan kepala di lengan Bian. Saat ini kami berdiri di depan kamar calon baby boy kami.
Semua perlengkapan telah siap tinggal menunggu kelahiran putra kami. Ah, Akhirnya kami berada dalam fase ini. Menjadi calon orangtua.
__ADS_1