Viral

Viral
68. Hari itu segera tiba


__ADS_3

The course of true love never did run smooth.


-William Shakespeare-


Anggrek teringat salah satu kutipan William Shakespeare. Dia bertanya lirih, Kenapa cinta teman-teman ku berjalan mulus. Justru dia yang terpilih dari milyaran orang di dunia dengan cinta yang berliku-liku.


Tahukah ada kala jiwa mulai melemah ketika di sisi lain ada yang mengulur tangan untuk sebuah hubungan menenangkan. Jiwa ini mulai goyah.


Sebuah jiwa yang berada dalam kegamangan dan mulai bosan tetapi ketika hendak pergi justru kembali terjerat dengan rasa dari orang yang sama dengan segala gejolak rintangan yang dia tawarkan.


*****************


Kami masih berdiam dalam ruangan yang sama, Detak jam yang berjalan memecah keheningan yang tercipta sedangkan pikiran kami mengembara entah dimana. Dering telpon Bian membuat kami serentak menoleh, Benda itu menampilkan nama Tasya di layar.


Sebuah nama yang berhasil menancapkan rasa sakit di dada ku. Bian tampak ragu tapi aku memberi kode agar dia mengangkatnya.


"Halo," Bian melirik ku, Aku menarik jemari ku yang masih dalam genggaman Bian tapi dia menahannya.


"Bi, Aku sedang fitting kebaya untuk acara. Kapan kamu ke sini, Bi?" Aku menyesal harus mendengar percakapan ini.


"Nanti aku kabari ya, Tasya."


"Iya Bi, Miss you."


Bian menutup telpon dan memalingkan wajah kearah ku yang memucat. Aku memundurkan tubuh memberi respon untuk menolak dia mendekati.


"Maafkan aku sayang" Aku mendengus. Maaf untuk apa?


"Aku merasa sebagai antagonis disini. Ini tidak benar," Aku merasa aneh berada dalam hubungan yang belum tuntas.


"Kamu bukan antagonis di sini. Tasya tidak mau mengerti aku sudah pernah memberi pengertian. Akhirnya aku memilih melarikan diri," Suara Bian semakin berat dan aku bisa melihat matanya memerah.


Rasanya aku ingin berteriak. Kamu sudah dewasa, Bian kenapa keluarga mu tidak bisa memberikan pilihan. Apa gunanya melarikan diri? sesaat kemudian aku sadar, Bagaimana pun dia seorang anak yang tidak berdaya melawan orangtuanya.


Semua dalam dirinya mengalir darah kedua orangtuanya. Sedangkan Bian baru mengenal ku hitungan bulan. Dia harus memilih berada dalam dilema.


Tasya apakah selemah itu? Rasa sayang keluarganya akan kelemahan perasaan yang dimiliki gadis itu harus mengorbankan perasaan orang lain. Mengapa dia harus frustasi pada cinta pertama yang gagal dan mencoba bunuh diri?


Sehingga ketika dia jatuh cinta kembali pada 'Bian' penolong yang mencegah tindakannya. Satu keluarga harus mencampuri. Apakah aku harus memiliki empati terhadap gadis seperti ini?


"Kak Bian," Aku menoleh ke arah Bian.


"Iya, Sayang,"


"Siapakah aktor yang merupakan mantan Tasya?"

__ADS_1


"Arga Danumarya,"


"Hah, Arga? serius Arga Danurmaya. Dia, Aduh parah gantengnya. Keren banget lho sayang kalo Arga, Pokoknya ganteng.. gan.. Enggak koq sayang gantengan kamu,"


Aku menghentikan kalimat pujaan terhadap Arga ketika Bian menatap ku dengan pandangan menyipit, Bibirnya mengatup rapat. Bian menampilkan ekspresi tidak senang yang kentara jelas.


Arga Danumarya adalah aktor yang merupakan brand ambassador deodoran dimana Dion menjadi figurannya. Film yang dibintangi Arga selalu menjadi film terlaris di negeri ini juga sering memenangkan penghargaan internasional.


Lagu Arga juga selalu menjadi lagu hits. Aku mengidolakan Arga Danumarya selain tampan dan berprestasi. Tidak ada berita negatif mengenainya. Arga menutup kehidupan pribadinya dari publik. Tidak pernah ada media yang membahas latar belakang keluarga dan siapa kekasihnya.


Sosial media Arga hanya menampilkan kegiatan dia di dunia entertainment dan foto-foto liburannya. Arga Danumarya memiliki magnet yang membuat wanita negeri ini memasukkan dia dalam daftar pesohor favorit.


Aku menopang dagu dengan sebelah tangan ku yang masih bebas dari genggaman Bian. Ternyata Arga mantan kekasih Tasya. Arga limited edition, Dia juga pebisnis hebat, Aku melenguh dalam hati. Pantasan Tasya frustasi.


Apakah aku harus memahami perasaan Tasya sekarang? tapi menukarnya dengan Bian? Bukankah Bian tidak mempunyai apa yang dimiliki Arga.


Ah Tasya, Betapa menyenangkan terlahir cantik dan kaya raya. Memiliki circle friend yang di impikan wanita di negeri ini. Bisa memiliki kehidupan yang hanya ada dalam imaginasi masyarakat.


"Tasya patah hati dengan Arga yang menyebabkan dia frustasi dan mau bunuh diri?" Aku memastikan kembali kepada Bian.


"Iya sayang, Dia frustasi karena Arga meninggalkan dirinya. Saat itu Arga masih menyelesaikan studinya sambil menyelesaikan syuting film dan Tasya selalu ingin Arga bersamanya. Dia selalu mengikuti Arga kemana pun, Melarang, Mengatur Arga. Tasya menjadi posesif. Membuat ruang gerak dia terbatas yang menyebabkan Arga memutuskan hubungan,"


"Sayang, Kamu tahu sekali alasan mereka putus. Apakah Tasya menceritakan semuanya?"


"Bukan Tasya yang menceritakan tetapi Arga sendiri. Dia merupakan teman baik ku dan aku sendiri yang mengenal Arga dengan Tasya,"


Aku spontan menjerit mendengar idola ku merupakan teman baik Bian. Sekarang aku mempercayai peribahasa dunia ini begitu kecil.


Selanjutnya aku rasa ingin menghilang seketika dari bumi melihat tatapan Bian.


"Kamu memuji pria lain dihadapan ku, Anggrek."


"Maafkan aku, Sayang."


Pembicaraan kami terhenti ketika langkah kaki terburu- buru mencuri atensi kami. Rupanya Rian.


"Bian! Tolong handle customer di depan. Aku kebelet," Rian masuk dengan tergesa-gesa. Aku bisa melihat Bian melirik malas pada Rian. Setidaknya aku bisa bernapas lega.


Kecanggungan karena perjodohan Tasya dan Bian yang tinggal menghitung hari mencair karena pembicaraan tentang Arga Danurmaya.


Bian meninggalkan ku di ruangan untuk menghampiri customer mereka. Di saat bersamaan aku menerima pesan dari Tania yang sedang berada di butik.


Aku bergegas pulang dari studio Rian meninggalkan kekasih ku yang menatap tak rela. Dia tak bisa mengejar karena masih melayani customer yang datang. Pesan dari Tania mengejutkan ku.


Sekali lagi aku menoleh ke studio Rian, Melihat Bian yang masih memandang ku dari balik jendela studio. Kegamangan kembali melanda.

__ADS_1


*********************


Aku menyetir mobil dengan gusar. Prediksi lahir Natasha lebih awal dari perkiraan. Dia masih datang di butik ketika tiba-tiba kontraksi datang. Pemilik ruko sebelah akhirnya melarikan Natasha ke rumah sakit.


Di rumah sakit kami tidak bisa membesuk karena kondisi pademi, Semua pengunjung dibatasi bahkan untuk keluarga pasien.


"Aku sudah memberitahu Natasha menjelang HPL sebaiknya beristirahat tapi dia gak bisa diem di rumah," Gege tampak khawatir ketika menemui kami.


"Tapi dia baik-baik saja kan?"


"Syukurnya iya sudah pembukaan ke-5, Kalian boleh pulang dulu. Nanti aku kabari ya."


"Baik Ge, Sampaikan salam kami pada Natasha ya,"


"Iya."


Aku dan Tania beranjak pulang, Kesibukan ku semakin bertambah.


Hari-hari ku semakin padat. Semua pekerjaan terbantu dengan Rika, Mila dan Tania. Hari berganti hari tanpa terasa.


Sesekali aku masih bertemu dengan Bian sampai komunikasi kami perlahan berkurang.


*****


Satu minggu lagi pertunangan Bian akan dilangsungkan. Kami berada di pantai yang sama, Tempat dimana cerita kehidupan Bian dimulai.


"Anggrek maafkan aku, Pertunangan ini tidak bisa dibatalkan. Semua keluarga kami hadir, Aku akan ke Jakarta besok,"


"Aku tahu,"


"Masih ada waktu Nggrek sebelum pernikahan dilangsungkan,"


Aku menatap Bian, Pria yang pernah membuat ku bahagia sekarang menorehkan rasa kecewa tetapi bukankah kesalahan ku sendiri ketika tidak mendengarkan perkataan Danar dan Diandra.


"Tidak ada waktu lagi, Bian. Aku tidak mau menjadi seperti Cahya dalam hubungan kalian. Aku tidak akan merusak hubungan yang terjalin,"


Bian terus berbicara, Aku nyaris tidak mendengar semua perkataannya. Semua kata-kata Bian menghilang dibawa angin, Aku tidak ingin mendengar karena sekarang dia milik wanita lain.


Hatiku sudah membeku, Kembali ke dua kali aku merasakan kegagalan hubungan.


Aku tidak akan menyesali keputusan untuk menjalin kasih dengan Bian tetapi rasa kecewa itu terus memeluk erat diri. Menggoreskan rasa sakit yang dalam.


Kami pulang bersama dalam diam. Aku tahu dia terluka begitupula aku. Tidak banyak yang kami lakukan, Semua sudah terjadi.


Hanya sampai sini aku sanggup bertahan setelah mencoba untuk tetap saling menguatkan.

__ADS_1


Hari ini aku menyerah, Setya dan keluarga Danny Anugrah bukan lawan ku. Puzzle kehidupan mereka telah usai bagi ku.


__ADS_2