Viral

Viral
106. Jakarta Hari ke-3 (Kediaman Setya Prasetya)


__ADS_3

.


.


.


.


**********


Pagi yang mulai menghangat, Kami bertiga duduk kembali di gazebo. Tasya bercanda dengan kakaknya. Dia mengalami down sindrome, Masih bisa beraktivitas normal secara terbatas. Hanya kemampuan intelektual-nya saja yang dibawah rata-rata.


"Kita nanti pergi bersama kakek ke tempat keluarga Bian ya, Anggrek."


"Iya, Tasya. Oh ya, Terimakasih sekali lagi ya untuk pakaian yang kamu siapkan jadi menambah kerjaan kamu saja, Bian memang merepotkan!"


"Tidak apa-apa, Oh ya pakaian dalam juga sudah aku belikan. Sudah tahu ya?" tanya Tasya. Aku mengangguk kali ini sama sekali tidak berani bertanya Tasya tahu darimana ukurannya. Untuk dress pilihannya aku masih paham, Tasya memilih all size tapi untuk pakaian dalamnya, Entahlah... Ah aku benci pikiran ini.


"Anggrek nanti kalau kalian menikah rencananya dimana? Apakah akan dilangsungkan di dua tempat berbeda, Kota mu dan di Jakarta?"


"Aku belum tahu, Tasya,"

__ADS_1


24 jam yang benar-benar membolak-balikan hati ku. Tidak mungkin aku mengatakan kalau tidak memiliki hubungan, Semua keluarga Bian berpikir aku adalah kekasih Bian. Jika ku katakan tidak ada hubungan akan ada kemungkinan konflik di keluarga ini. Setelah Bian menyiapkan semuanya, Aku justru mengatakan kami tidak memiliki hubungan.


"Kalau resepsi di adakan di Jakarta, Nanti kamu bisa melibatkan aku ya, Anggrek. Aku bisa membantu menyiapkan acara ini. Kita bisa menggunakan desainer Zannah Jovanka, Desain kebaya cantik banget, Aku sering memesan pada Zannah, Kamu tahu kan dengan Zannah?" saran Tasya yang sukses membuat jantung berdebar.


"Tahu dari pemberitaan saja, Tasya," jawab ku jujur karena secara personal aku tidak mengenalnya. Zannah, Desainer terkenal tanah air. Karyanya langganan pesohor negeri dan sosialita. Karya Zannah bahkan sering digunakan oleh artis internasional. Bian harus menguras kantong dalam jika dia mengikuti saran Tasya.


"Duh, Aku jadi enggak sabar. Nanti saat lamaran aku akan datang. Sudah lama tidak ke kotanya tante Lusi. Aku rindu pada pantainya, Aku senang banget akhirnya bisa ketemu kamu, Anggrek. Maaf ya aku sempat mengacaukan kalian," ucap Tasya sambil memeluk ku. Ya, ampun dia manis sekali.


"Iya, Tidak apa-apa Tasya. Sudah berlalu,"


"Oh, Iya nomor telpon mu berapa ya Anggrek?"


Aku memberikan nomor telpon pada Tasya. Dia mengeluarkan android lipat dan mencatat nomornya, Atensi kami teralihkan ketika kakak Tasya hendak keluar dari gazebo.


"Iya, Tasya. Oh iya apakah kamu bisa menemui ku di kamar? karena aku masih belum hapal ruangan rumah ini,"


"Hihi, Sekarang aku antarkan juga ya. Kamu ternyata pelupa juga, Anggrek,"


"Siapa yang pelupa, Tasya? rumah kalian gedenya sudah kayak mall mini, Rumah ku antar kamar cuma lima langkah. Kucing saja bisa nyasar di rumah kalian" batin ku.


"Sampai ketemu makan siang ya, Anggrek,"

__ADS_1


"Iya, Tasya,"


Aku memasuki kamar dan menyalakan pendingin udara, mendinginkan hati dan pikiran dengan kejadian di luar dugaan. Jakarta memberikan kejadian luar biasa, Mengapa harus mengalami di kota ini bukan di kota ku, Bahkan Kenzo memilih mengakhiri hubungan di Jakarta.


Dia memulai dengan malam yang indah di rooftop lalu mengakhiri pada pagi yang cerah di rooftop juga. Dia memulai dengan suasana indah mengakhiri dengan keindahan sama hanya berbeda waktu. Kenzo mengapa semua tampak sempurna tapi harus berakhir seperti ini.


kehidupan cinta ku tidak semulus karier, Semua memang tidak bisa berjalan sesuai kehendak. Pikiran dan hati ku masih kacau tapi harus siap kembali untuk bertemu dengan keluarga Setya. Aku memijit kening, Arloji menunjukkan pukul 10:50 wib, Aku lebih baik mandi dan bersiap kembali.


Aku mengambil pakaian yang disiapkan Tasya, Maxi dress warna mustard semata kaki dengan lengan sampai siku. Belt pinggang dengan bahan sama mempermanis dress. Aku melihat sepatu kets yang dibawa, Memangnya akan cocok dengan maxi dress?


Ketika bertemu Tasya, Dia sedikit panik ketika melihat sepatu ku "Aduh Anggrek walau ukuran tinggi kita berbeda untung saja size kita sama,Kamu tunggu disini ya nanti aku carikan dulu sepatu ku,"


Tasya muncul dengan membawa tiga sepatu yang masih memiliki label harga, "Kamu gunakan ini saja, Nggrek. Heels tidak terlalu tinggi,"


"Iya, Tasya," jawab ku. Tasya lalu merapikan rambut ku. Setelah drama sepatu akhirnya kami menemui kakek Danny dan Denny. Mereka sudah di dalam mobil menunggu untuk ke kediaman Bian. Rasanya aku harus membuat perhitungan dengan Bian. Dia sama sekali tidak memberikan kabar mengenai keberadaannya.


..._____-----_____-----_______...


Kami memasuki kediaman keluarga Prasetya, Tidak semegah rumah keluarga Tasya tapi masih menampilkan aura mewah.


Marmer gelap, dinding batu alam dengan furniture didominasi warna coklat, keemasan dan putih. Pencahayaan dari jendela besar dan tinggi ditambah lampu downlight dan gantung. Menyeimbangkan nuansa gelap dan terang menciptakan atmosfer rumah yang stylish.

__ADS_1


Dua pria menggunakan kemeja berwarna hitam menyambut kami, Siapa lagi kalau bukan Danar dan Bian.


__ADS_2