Viral

Viral
86. Semua di luar kendali ku


__ADS_3

...Ada masa semua diluar kendali mu...


...keadaan yang tak pernah ada dalam prediksi...


...atau mimpi sekali pun...


******


Aku melihat ke luar jendela, Sinar matahari menerobos dari celah vertikal blind. Membiaskan cahaya keemasan di karpet. Posisi kami masih sama, Saling berhadapan. Diam dalam pikiran masing-masing.


"Aku risih melihat cincin ini dijari mu, Bisakah kamu singkirkan?" aku melihat tangan ku dalam genggaman Bian. Untuk kedua kalinya dia meminta hal yang sama.


Segera ku tarik tangan dari genggaman Bian tapi dia justru menahannya.


"Bukan kamu yang membuat risih tapi cincin ini. Mengingatkan aku kalau ada yang lain,"


"Iya, Itulah yang terjadi,"


"Kamu mengatakan itu seakan tanpa beban,"


"Aku mengatakan yang sebenarnya terjadi, Kak Bian. Bukankah kebenaran seperti itu, Kamu datang tiba-tiba, Kak. Berikan aku waktu untuk berpikir dan mencerna semuanya dulu,"


"Jangan katakan kamu memikirkan untuk menerima lamaran Kenzo. Dari pertama bertemu dia, Aku melihat sesuatu yang lain dari diri Kenzo,"


"Kapan kamu bertemu Kenzo?"


"Saat di bandara dulu ketika dia menghampiri kita dan mengatakan kamu berbeda dibandingkan saat dulu. Dia memuji kamu di depan ku,"


"Mungkin hanya reaksi spontan saja, Kak,"


Aku baru tersadar sesuatu, Dibalik ketenangan dan keteraturan Kenzo. Dia memiliki sifat spontan yang baru aku sadari. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan ketenangan diri yang ditampilkan.


"Kamu memikirkan apa?"


"Bukan apa-apa, Kak Bian. Aku pulang dulu ya,"


"Jangan!"


Aku sedikit kaget mendengar respon Bian. Tidak biasanya intonasi suaranya meninggi.


"Kamu tidak merindukan aku, Nggrek? setelah sekian lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu, sayang. Tetap lah disini bersama ku."


Sejujurnya aku ingin bersama Bian lebih lama lagi. Cinta ini masih ada untuk dirinya. Pertemuan ini semakin memperkuat rasa yang ada.


"Maaf Bian, Kenzo memilih ku dan aku telah menerimanya. Kami masih terikat komitmen, Aku tidak akan mengkhianati komitmen yang masih ada,"


"Komitmen?! setelah semua yang aku lakukan hanya ini yang aku terima dari mu? kamu akan memilih dia? kamu sengaja menyiksa ku, Anggrek Maharani!" aku bisa melihat rahang Bian mengeras. Menandakan emosi yang sedang ditahannya.


Aku memegang lembut wajah Bian, Meredam emosi yang muncul.


"Aku pernah dikhianati rasanya sangat sakit. Mengapa aku mundur ketika pertunangan kamu dan Tasya ditentukan, Melawan segala keinginan untuk memilik mu. Itu karena aku tidak mau jadi orang ketiga,"


Bian mengatupkan mulutnya, Ekspresinya kembali mengeras.


"Apakah kamu melupakan perkataan ku dulu? aku akan hancur jika tidak bersama kamu, Sayang ku."


"Iya aku masih mengingatnya tapi kamu datang tiba-tiba. Aku harus menuntaskan semuanya, Kak Bian."


"Kamu akan menyingkirkan Kenzo, Bukan?"


"Aku menghargai Kenzo saat ini. Ini prinsip yang ku pegang, Berikan aku kesempatan untuk menyelesaikannya. Aku tidak akan mencurangi Kenzo atau berselingkuh di belakangnya. Apapun alasannya aku tidak akan mengkhianati orang yang menaruh kepercayaan pada ku,"


Bian meraih tangan ku dari wajahnya lalu mengenggam erat. Ketenangan mulai menyelimutinya. Perlahan aku menarik tangan ku dari genggaman Bian.

__ADS_1


Aku menatap Bian, Dia tampak terluka. Kenyataan aku masih milik Kenzo, Membuat ku meneguhkan diri untuk tidak menenangkan Bian. Kenzo memperlakukan ku dengan baik begitu pula keluarga dan temannya. Aku menghargai komitmen bersama Kenzo.


"Anggrek, Boleh aku bertanya tapi kamu berjanji akan menjawab dengan jujur ya?"


"Iya... Aku berjanji, Kak,"


"Apakah kamu masih mencintai ku, Aku mohon jawab dengan jujur," Bian berkata lembut membuat wajah ku memerah mendengar pertanyaan Bian. Aku tidak bisa berbohong karena Bian menatap mata ku lekat.


"Iya, Kak Bian kamu benar. Aku masih mencintai mu."


"Benarkah apa yang kamu katakan? apakah aku bisa mempercayainya?'


"Aku mengatakan apa yang ku rasakan di hati ini, Kak Bian."


Bian memajukan tubuhnya, Mendekat wajah kearah ku. Kedua tangannya memegang tangan kursi, Roda pada kursi berputar. Mengantarkan ku semakin dekat dengan Bian. Suaranya berubah menjadi tegas dan kuat, Dia menatap ku lekat.


"Aku tidak akan pernah salah memilih seorang Anggrek Maharani. Aku memperjuangkan mu, Mengirim orang untuk menjaga selagi aku tidak ada di sampingmu. Jika kamu tidak memilih ku maka aku yang akan menyelesaikannya dengan Kenzo."


Aku memundurkan tubuh merapat pada sandaran kursi. Kali ini Bian menampakkan diri sebagai keturunan Setya Prasetya sejati. Bian menunjukkan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Dia akan melakukan apapun untuk meraih apa yang seharus menjadi miliknya.


Bahkan caranya berbicara saat ini persis yang dilakukan tante Lusy, Saat aku pertama kali bertemu dengan mama Bian. Memainkan intonasi untuk memancing respon lawan bicara .


"Aku mencintaimu begitu pula kamu, Semua rintangan dalam hubungan kita sudah ku singkirkan. Cuma satu rintangan yang belum ku singkirkan, Aku membutuhkan bantuan mu kali ini. Singkirkan dia, Kenzo Arta Saputra dalam hidupmu,"


Netra ku membulat ketika Bian melafalkan nama lengkap Kenzo. Dia sudah mencari tahu siapa Kenzo. Aku memalingkan wajah ke meja, Mencari segelas kopi sebelum kesadaran ku hilang dengan keadaan ini.


"Kopi mu sudah tandas dari tadi, Akan aku buatkan secangkir lagi."


Bian berdiri dari hadapan ku. Aku tidak sedang bercanda kali ini jika mengatakan aku kehabisan napas. Sekuat tenaga aku menarik napas dan menghembus berkali-kali. Kendali sedang tidak ditangan ku.


...__________-----__________...


Langkah kaki Bian menghentikan ku dari gerakan menarik dan menghembus napas. Aku berusaha tampak normal, Mencoba merilekskan tubuh yang tegang dari tadi.


"Ah, Tidak," Bian meletakkan kopi yang masih mengepul menguarkan aroma kopi yang berhasil membuat ku tenang. Entah lah aku kecanduan kopi sepertinya, Setiap pikiran tidak tenang. Segelas kopi berhasil memulihkan.


"Maaf ya, Anggrek. Aku terbawa emosi tadi,"


"Iya tidak apa-apa,"


"Aku sudah mulai melakukan renovasi properti yang kamu sewa. Aku berjanji tidak akan memakan waktu lama sehingga bisa kamu gunakan secepatnya,"


Bian kembali duduk dibelakang meja. Mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Terimakasih ya Kak Bian atas bantuannya. Harga sewa properti ini jauh dibawah harga pasaran dan kamu juga berkenan untuk memperbaikinya,"


"Kamu tahu itu harga khusus, Anggrek."


"Iya, Kak Bian. Sekali lagi makasih."


Trrtttttt.. Trrtttttt


Dering handphone menghentikan pembicaraan kami. Aku meraih tas dan mengambil handphone, Nama Kenzo tertera di layar.


Aku tidak nyaman berbicara berhadapan dengan Bian. Awalnya aku kembalikan lagi ke dalam tas tapi Kenzo menelpon lagi. Ku putuskan mengangkat telpon dan menuju ke sofa.


"Halo, Ken"


"Halo... Sayang,"


"Ya,"


"Kamu dimana, yang,"

__ADS_1


"Aku sedang keluar bersama Dewo, Ken,"


"Di Black and White kan?"


"Eh, Iya... Kamu tahu dari mana aku disini?"


"Gak sengaja lihat mobil mu jadi aku menyusul ke sini,"


"Ya udah, Kamu dimana sekarang? aku sedang di belakang. Tidak jauh dari toilet nanti aku samperin sama Dewo ya,"


"Aku di pintu masuk depan, Iya aku tunggu."


Aku segera mengambil tas di kursi depan Bian. Jantung berdetak cepat ketika melihat Bian duduk santai sambil memperhatikan tablet di meja. Tablet itu sedikit mengarahkan ke arah ku. Menampilkan tampilan tangkapan CCTV di kafe.


"Aku membantu Kak Danar mengawasi keadaan kafe, Kebetulan dia memberikan password aplikasi CCTV yang tersambung di tablet ku. Kebetulan sekali ya, Anggrek,"


Bian menjelaskan tanpa ku tanya. Dia ternyata mendengarkan pembicaraan aku dan Ken. Di luar dugaan ku, Bian mengawasi Kenzo dari CCTV.


"Kamu sengaja ya, Kak?"


"Iya tebakan mu benar. Aku memang sengaja melihat Ken-zo. Kopi mu dihabiskan ya. Aku khusus membuatkan untukmu. Dia tidak kemana-mana, Masih di pintu masuk,"


"Kamu seharusnya tidak melakukan ini, Kak,"


"Hmm... Kamu melindungi dia, Aku justru semakin tertarik."


Bian menaikkan alisnya, Bibirnya membentuk senyuman tipis. Kembali dia menatap ke arah tablet. Membuat ku segera menandaskan kopi buatan Bian. Astaga, Kopinya masih panas.


"Sisakan setengahnya buat aku ya, Sayang. Pergi lah selagi aku masih bisa melepaskan mu saat ini."


Tadi kamu menyuruh habiskan, Sekarang meminta disisakan setengah. Mau mu apa sih? sebuah omelan yang hanya mampu keluar dari dalam hati ku.


"Baiklah, Aku permisi dulu."


"Nggrek, Tunggu,"


"Iya, Ada apa kak Bian?"


"Jangan lupa untuk membuka semua yang kamu blokir dari ku,"


"Baik, Kak Bian."


Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut tangguh,


Kemarin aku masih menelaah kalimat yang sering ku baca di artikel motivasi.


Sekarang aku memahami, konflik dalam keluarga Bian yang sudah terjadi sebelum kami berkenalan. Ditambah hubungan kami yang turun naik lalu berakhir kandas kemarin.


Telah menempah Bian menjadi lebih tangguh dan berpendirian kuat. Dia bukan lagi Bian yang melarikan diri dari masalah. Bian berbeda sekarang, Dia akan segera menuntaskan semua masalah.


Ah, Aku lupa jika umurku bertambah setahun. Bian pun demikian. Banyak hal terjadi dalam perpisahan kami kemarin.


Hidup ku selalu di uji dengan pilihan, Aku harus menguatkan diri kembali. Tidak ada pilihan selain menghadapi.


Terlepas dari itu semua kali ini Dewo dan Danar tidak akan lolos karena mereka berdua lah yang membuat ku disini.


Aku mendengus kesal, Laki-laki di sekeliling ku memang merepotkan..


******


Happy Reading, Dear


😘😘❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2