Viral

Viral
58. Diakah orangnya?


__ADS_3

...Kenapa di katakan jatuh cinta...


...Nyatanya aku bukan terjatuh dalam cintamu...


...Aku melambung tinggi dalam cinta...


...bersamamu...


Jangan terlalu tinggi jika terjatuh sakitnya bisa berkali lipat. Mematahkan semua yang ada dalam diri bahkan apakah kamu yakin bisa berdiri kembali.?


tapi Jika kamu jatuh cinta ketika tidak sesuai kenyataan walau sakit kamu masih bisa berangkat berdiri kembali.


Komen netizen +62 menanggapi caption Anggrek yang sedang bahagia dengan cintanya.


*********


Hari ini pernikahan Nadia dan Rian dilangsungkan di ballroom hotel dengan dekorasi nuansa peach blossom. Bian dan team studio Rian bertugas untuk dokumentasi. Sedangkan aku bersama Natasha dan Tania kebagian sebagai bridesmaid.


"Kamu jangan ambil foto Anggrek saja ya, Bian!"


Nadia pura-pura mengancam membuat Bian tersenyum tipis. Wajahnya tampak merona merah.


"Kalian foto berdua dulu gih sebelum acara dimulai" Natasha mendorong ku berdekatan dengan Bian. Kali ini high heel menyelamatkan kesenjangan tinggi antara aku dan Bian.


"Aduh satgas Covid pasti memahami kalau foto berdua ma pasangan gak harus 'social distancing' gini, Sudah kayak Tom dan Jerry, Musuhan bukan mesra" Tania mendorong tubuhku semakin merapat pada Bian.


"Nah gini kan enak. Kamu tuh Bian mengarahkan kita aja bisanya biar dapat momen foto mesra. Giliran kamu malah kaku kering kayak kanebo belum di basahin"


Natasha protes yang langsung diiyakan Nadia. Klien yang memang menggunakan jasa Bian. Entah bagaimana rupa ku saat ini. Aliran panas terasa dari leher sampai wajah.


"Sepertinya MUA ku kebanyakan memulas blush on pada Anggrek sampai mukanya merah padam kayak mr crab"


Mereka terus menggoda membuat kami berdiri kaku dengan background dekorasi bunga yang indah.


Hasil fotonya ternyata menarik, Aku yang berdiri sambil melirik malu-malu dengan buket bunga milik Nadia. Bian yang berdiri di samping tersenyum menatap penuh kasih. Foto kami berlatarkan dekorasi bunga menawan.


Foto tersebut ku posting di sosial media dan disematkan caption mewakili hati yang sedang begitu bahagia.


...Kenapa di katakan jatuh cinta...


...Nyatanya aku bukan terjatuh dalam cintamu...


...Aku melambung tinggi dalam cinta...


...bersamamu...


Acara pernikahan Nadia dan Rian berlangsung khidmat. Aku meneteskan air mata turut merasakan kebahagiaan Nadia dan Rian.


Mereka telah sah menjadi suami istri. Dua insan manusia merajut kasih dalam ikatan suci pernikahan. Seorang imam akan menuntun Nadia menjalankan kehidupan bersama.


Perjalanan cinta Nadia lurus tanpa kelok. Takdir menentukan dirinya menikah dengan Rian, Restu orangtua dan cinta suami pada dirinya berakhir dengan pernikahan.


Aku memberikan Nadia kalung emas dengan liontin insial dia dan Rian. Sebuah simbol akan kebersamaan mereka. Dalam hati kecil ku, Momen ini pun sangat di nanti dalam hidupku.


Kami melewati acara demi acara. Sesekali aku mencuri pandang pada Bian dengan kamera ditangan. Siang telah terlewati acara pun selesai, Bian menghampiri ku.


"Pulangnya barengan ya, Sayang"


"Aku bawa mobil sendiri"


"Nebeng boleh, Nona. Tadi aku dijemput teman?"


"Boleh saja, Tuan"

__ADS_1


Aku merespon candaan Bian, Hari ini aku mulai bersiap jika dia menjahiliku. Kami pulang lebih lama dari yang lain. Aku masih menunggu Bian menyelesaikan pekerjaannya.


Saat ini aku sudah mengganti dress seragam bridesmaid ke pakaian biasa. Kami pun sudah berada di dalam mobil ku.


"Lho kok kesini?" Aku bertanya heran pada Bian karena mobil memasuki pelataran mall.


"Meringankan pikiran mu, Sayang. Berapa hari ini sibuk dengan mencarikan ruko baru"


"Iya aku juga mendapatkan kabar yang membuat semakin bingung"


"Kabar apa?"


"Kemarin bertemu dengan Adiwarna di cabang kedua yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya..."


"Terus dia mau ngapain?"


"Sebenarnya Adi hanya mau makan saja tapi aku sempat punya prasangka tidak baik dengan dia, Jadi aku menghampiri Adiwarna?"


"Buat apa?" Intonasi Bian sedikit meninggi ketika menanyakannya.


"Aku teringat dengan Bang Ipul yang pernah mengatakan Adi berbahaya. Hal ini mengingatkan kembali akan usaha pertama booth pentol ku. Adi menarik pegawai booth ku dan membuka usaha yang sama. Aku berpikir dia ada dibalik masalah sewa ruko ini"


"Lalu" Nada Bian kembali biasa, Dia tampak fokus sedang mencari parkiran kosong.


"Adi mengatakan istrinya mendapatkan tawaran menjalankan usaha di blok ruko yang sama dengan ku. Mereka tidak mengenal orangnya karena menghubungi mereka lewat telpon. Jadi aku menghubungi Bu Lisa"


Aku menarik napas lalu melanjutkan "Bu Lisa mengatakan blok ku memang sudah di jualnya kepada orang lain tapi dia tidak mengatakan siapa orangnya"


"Kamu bisa meminta nomor orang yang menghubungi istri Adi?" Aku menatap Bian.


"Untuk apa? Kamu mau menghubungi orang itu?"


"Mencari tahu saja" Bian berkata dingin, Kerutan alis tebalnya menandakan dia berpikir.


"Tunggu ya" Aku menelpon Adiwarna tetapi tidak ada jawaban. Lalu ku putuskan mengirimkan pesan hijau.


Sekian menit tidak ada jawaban dari Adi akhirnya kami memutuskan keluar dari mobil menuju dalam mall.


"Anggrek disini ada wahana bermain indoor. Aku sudah lihat iklan mereka bahwa sudah dibuka untuk umum dengan batasan waktu bermain selama dua jam."


"Kita tidak terlalu tua kah bermain wahana ini?"


"Tidak ada kata tua untuk menikmati permainan yang ada di wahana"


Bian menarik tangan ku mendekat kearahnya. Kami berjalan bersisian menimbulkan desiran yang membuat ku bahagia. Untunglah tadi aku sempat menggantikan high heel dengan sepatu kets.


Setelah mengisi kartu permainan. Bian mengandeng ku menuju wahana roller coaster.


"Aku tidak mau sayang, Aku takut."


"Aku disini bersamamu, Jangan takut. Aku yakin kamu pasti menikmatinya sayang"


Aku mencubit pinggangnya karena tidak biasanya Bian memaksa tapi dia segera menangkap tangan ku lalu melingkari tangannya di pinggang ku.


"Ayo kita coba dulu."


"Jangan.. jangan aku gak mau" Mataku tanpa sengaja melihat penjaga di pintu masuk wahana. Dia sepertinya eneg melihat sikap ku yang seperti bocah kecil.


"Ini rollercoaster indoor sayang, Pendek kok jalurnya. Tuh anak-anak pada berani" Bian menunjuk ke arah anak SD dan SMP yang tertawa-tawa di barisan depan kami.


"Baiklah" Dengan terpaksa aku mengikuti Bian terlebih melihat tatapan mata penjaga yang tampak mulai bosan menunggu kami berdebat di pintu masuk.


Aku sudah duduk sambil berpegangan tangan kuat. Wahana permainan seperti rollercoaster bukan favorit ku. Perasaan ketakutan akan jatuh dari ketinggian membuat jantung berasa mau lepas.

__ADS_1


"Kamu dingin sekali dan pucat. Tersenyumlah sayang" Bian menepuk dan mengenggam tangan ku.


Aku menoleh ke arah Bian ternyata dia mengambil foto selfie kami berdua. Wajah ku tampak pucat dan melongo.


Rollercoaster mulai berjalan perlahan dengan tenang, Semakin naik kemudian menurun dengan sangat cepat, Naik kembali meliuk berbelok sambil menurun. Seakan membuat ku akan jatuh. Aku tidak berani membuka mata dengan mata terpejam sambil menjerit. Akhirnya kami telah tiba di perhentian.


"Asyik kan?" Bian berbisik di telinga sambil merapikan rambut ku yang berantakan. Kakiku berasa gemetar dengan rute pendek untuk rollercoaster indoor saja sudah membuat ku berasa melayang.


"Aduh hampir copot jantung ku"


"Ku berikan jantung ku nanti"


"Gombal, Kamu bisa mati kalau tidak memiliki jantung"


Bian tersenyum dengan lesung pipit dalamnya. Kami duduk di kursi tidak jauh dari wahana rollercoaster untuk menenangkan ku tapi kemudian aku merasa harus ke toilet karena kebelet.


"Sayang, Aku permisi ke toilet bentar ya"


"Mau ditemani"


"Tidak perlu. Aku bisa sendirian" Aku juga hendak merapikan kembali makeup dan rambut yang acak-acakan.


"Iya, Aku tunggu di gerai es krim di sana ya"


"Iya, Kak Bian"


Aku berjalan cepat ke arah toilet. Di masa pademi ini karena pengunjung dibatasin. Tidak banyak pengunjung menggunakan toilet membuat ku leluasa untuk memoles kembali makeup dan merapikan rambut.


Layar handphone ku menampilkan panggilan nomor tak dikenal. Awalnya aku berpikir tawaran ruko karena nomor yang ku gunakan untuk mencari informasi memang nomor khusus untuk usaha.


"Halo"


"Dengan Anggrek"


"Iya benar sekali"


Suara di seberang telpon kedengaran seperti pria separuh baya.


"Saya Setya"


"Iya, Bapak Setya"


Keringat dingin keluar dari telapak tangan ku. Setya itu kah?


"Saya orangtua Bian"


"Oh Iya, Om.. Pak. Ada perlu apa?"


Aku tidak tahu harus menyapa dengan panggilan apa. Suara berat yang tidak ramah membuat kegugupan begitu melanda.


"Saya sudah memperingatkan anda untuk menjauhi putra saya tetapi anda mengindahkan."


"Maaf, Pak bahkan saya baru berbicara kali ini dengan anda."


"Danar dan Diandra sudah memperingatkan anda waktu lalu. Saya pun sudah memberi peringatan sekali lagi kepada anda. Sekarang menjauhi lah dari Bian Prasetya. Anda tidak pantas mendampingi putra saya."


Telpon dari seberang terputus. Singkat saja tapi membuat aku membeku lalu menarik napas kuat-kuat. Aku baru tersadar dari tadi aku menahan napas karena berbicara dengan orangtua Bian.


Pikiran ku mengembara mencoba menganalisa tentang peringatan yang disampaikan Setya.


Saya pun sudah memberi peringatan sekali lagi kepada anda.


Kapan peringatan yang disampaikan oleh Setya. Aku tahu peringatan dari Danar dan Diandra tapi Setya?

__ADS_1


Kembali pikiran ku mencoba menjalin kejadian berapa hari lalu dan hari ini. Apakah dia orangnya?


************


__ADS_2