
Jika memang dia tidak ditakdirkan untukmu
lepaskan saja
usah kau sesali
Sakit? Ya memang rasa itu ada
karena hati masih berada dalam raga
berdamai lah dengan rasa sakit
sampai rasa itu pun menjadi tawar
Caption Anggrek hari ini
********
Aku dan Natasha memasuki mobil dengan belanjaan yang banyak. Aku jenuh hari ini dan mencoba memberi reward untuk diri sendiri. Sebagian belanjaan juga untuk orangtua ku dan Dewo. Ada juga juga jam meja mungil untuk Bian.
"Anggrek nanti mampir dulu ke rumah ku, ya?".
"Rumah mu atau rumah Gege?"
"Rumah kami, Makanya kamu sibuk cari duit terus jadi belum pernah ke rumah kami kan?"
"Belum pernah tapi kan aku pernah menemani mu mencari rumah. Oh ya, Nat. Bian tinggal di perumahan Bukit Asri Hijau yang dulunya kamu pernah survey ke sana."
"Iya kah, Aku batal beli di sana karena bergaya minimalis. Gege menyukai konsep rumah dengan gaya industrial."
Natasha mengarahkan jalan menuju rumahnya. Mereka tidak membeli di daerah perumahan tetapi membangun sendiri. Rumah Natasha dan Gege bergaya industrial, Persis yang dikatakan Natasha.
"Rumahmu 'laki" banget, Nat." Aku memperhatikan interior industrial khas dengan warna tegas abu-abu, hitam dengan beberapa furniture vintage.
"Iya ini selera Gege kecuali kamar anak kami. Aku memaksa keluar dari konsep, Hahaa. Tanah ini milik orangtua Gege yang diberikan sebagai hadiah pernikahan.
Dua asisten rumah tangga Natasha membantu memasukkan barang ke dalam rumah. Nat mengarahkan mereka untuk meletakkan barang belanjaan tadi.
Aku terdiam sendirian di ruangan belakang selagi Natasha bersama dua asistennya memindahkan barang.
__ADS_1
Begini kah kehidupan rumah tangga. Besar atau kecil rumah bisa disesuaikan dengan kemampuan. Hidup terpisah dari orangtua memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami istri dan suatu saat akan menjadi orangtua.
Membuka lembaran baru sebagai dua orang dalam satu atap ketika aku dan kamu menjadi satu kata 'kita.' Dua pikiran menjadi satu untuk mendayung kehidupan bersama.
Pikiran ku mengembara liar membayangkan bersama Bian membina rumah tangga. Aku yang sedang memasak pentol dan tiba-tiba Bian memeluk dari belakang. Aiih..
"Hei.. Kamu kok senyum-senyum sendiri, Nggrek." Aku kaget ketika Natasha sudah berdiri di depan ku sambil membawa softdrink. Dia tampak heran melihat ke arah ku.
"Eh kebetulan haus." Aku mengelak menjawab pertanyaan Natasha.
"Kamu senyum-senyum teringat omongan Kenzo tadi ya?"
"Bukan lah." Aku menggeleng cepat karena memang bukan masa lalu yang ku ingat tapi membayangkan masa depan bersama Bian. Hubungan seumur jagung yang ku harapkan akan merubah status ku. Dari gadis menjadi seorang istri lalu seorang ibu.
"Ternyata begitulah hubungan mereka. Terjalin rapi di belakang mu seharusnya menurut ku beberapa pegawai Adi tahu."
"Mungkin juga tapi saat bersama Adiwarna. Aku cukup keras kepala. Berapa kali mama menasehati untuk tidak terlalu mengorbankan kehidupan pribadi demi Adiwarna."
"Iya terkadang ketika kita berada dalam usia yang lebih muda memiliki ego terlalu tinggi untuk mendengarkan pendapat orang lain."
"Iya kamu benar, Natasha. Sekarang aku berada pada titik untuk menjadikan kesalahan yang lalu sebagai pelajaran. Sekarang memperbaiki apa yang telah menjadi kesalahan dulu."
"Belum aku masih malu." Aku tergelak ketika Natasha menggelitik pinggang karena gemas dengan jawaban ku. Kami berhenti bercanda ketika ada notifikasi pesan hijau dari Doni.
"Sore, Nggrek. Maaf menganggu kemarin ada pesan darimu aku baru baca mengenai tawaran rumah."
"Iya, Doni aku merencanakan membeli rumah baru dalam minggu-minggu ini."
"Baik, Nggrek. Nanti besok ketemu dimana untuk membicarakannya."
"Di rumah ku saja ya?"
"Oke, Anggrek kalau bisa pagi ya karena siang mau ke peternakan ayam."
"Oke, Doni."
Aku menutup telpon dengan pandangan mengandung tanya dari Natasha.
"Doni, Nat. Aku berencana menjual rumah ku yang belum selesai kepada Doni. Nanti aku akan membeli rumah lain."
__ADS_1
"Dia sepertinya pria baik ya, Nggrek"
"Memang iya entah kenapa mereka berpisah terlebih suatu saat nanti putra Doni akan mengikuti Doni. Aku tidak bisa membayangkan anak sekecil itu harus berpisah dengan ibunya. Apalagi beda pulau seperti ini."
"Iya, Doni membutuhkan figur ibu yang kuat untuk anaknya nanti agar tidak ada kekosongan sosok ibu."
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Natasha. Menjelang sore aku pulang dari rumah Natasha dengan pikiran lebih ringan dan riang.
Memang terkadang ketika rasa jenuh menghampiri. Menyisihkan waktu untuk refreshing atau berkumpul bersama teman berbagi cerita cukup untuk menyenangkan diri sendiri.
*******
Mobil ku masih melaju di jalanan ketika ada panggilan telpon dari Bian.
"Sore, Sayang. Aku sudah di pesawat bentar lagi mau take off.
"Kamu tidak memberitahu bakal pulang hari ini?"
"Lho ini apa? Kan aku memberitahu kalau sudah mau pulang, Hehe."
"Iya deh iya"
"Kamu dimana?"
"Di dalam perjalanan dari rumah Natasha."
"Oh iya sampai ketemu besok ya, Sayang.. Hari ini belum bisa bertemu karena aku baru pulang dari bandara"
"Iya, Sayang".
"Hati-hati nyetir ya sayang. Ada cerita yang akan ku sampaikan untuk besok, Miss you."
"Miss you too. Take care, Sayang."
Aku menutup telpon dari Bian. Jantung ku berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya. Apa yang akan di sampaikan Bian semoga merupakan hal baik.
*****
Salam untuk readers. Love dari author, Boleh like dan komen ya ❤❤😘 . Hari ini author up dua episode deh 😂
__ADS_1