AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Jeng Jeng Jeng......


__ADS_3

Catatan ; Mohon dukungannya dengan vote, like tiap episode, jantung, rate 5, folow dan koment. Terimakasih sudah mendukung dan tetap setia menunggu up nya yang memang agak telat. Maaf akan kinerja buruk ku........ Dukung terus ya guys


Angga mendekatkan duduknya agar lebih dekat lagi dengan Saga yang akan memulai bercerita tentang apa yang tidak dia tahu.


Saga terdiam sejenak mengingat dirinya dan kejahilan yang dia lakukan kepada Juni.


"Tak,, tak,,tak,,tak" bunyi detik jam dinding yang berbunyi keras, karena dua orang yang ada didalam ruangan itu terdiam. Angga terdiam karena menunggu Saga bercerita dan Saga sendiri terdiam karena masih berpikir harus mulai dari mana dirinya bercerita.


Sesuatu yang simple terasa sangat rumit jika harus dibahas, sama seperti masalah Saga yang lain.


Tidak ada satupun rahasia yang Saga sembunyikan jika dengan Angga.


Dan kali ini dia juga akan bercerita kepada sahabatnya tentang rahasia rumah tangganya.


"Saga" teriak Angga sambil menepukkan tangannya tepat diwajah Saga yang terdiam.


"Apa? " kata Saga kaget


"Aku diam karena mau dengerin kamu ngomong, malah kamu yang ikutan diam ngelamun depan aku" kata Angga


"Maaf brow, aku bingung harus mulai darimana" kata Saga


"Mulai dari kenapa si Juni jadi nurut dan lengket sama kamu, itu aja repot" kata Angga.


"Ok,, Ok,, Ok" kata Saga.


"Gini.... sumpah niat aku sebenarnya cuman mau jahilin dia. Tapi aku gak tahu malah dia percaya gitu aja sama aku" kata lanjut Saga mulai berbicara.


"Apa itu? kalau cerita yang agak jelas sag,, Aku penasaran sebenarnya ada paa dengan kalian" tanya Angga.


"Aku ngajak dia buat makan malam dipantai terus malam itu dia mabuk dan tak bisa mengingat apa-apa" kata Saga


"Terus" kata Angga.


"Aku pingin ngerjain dia dengan cara bikin seolah- olah aku dan dia udah tidur bersama sebagai suami dan istri " kata Saga


"Lalu" kata Angga


"Aku bikin seolah-olah malam itu aku dipaksa untuk tidur sama dia, karena Juni yang mabuk dan terus memaksa hingga dia mukul aku dipipi padahal pukulan itu sebenarnya suatu ketidaksengajaan juga dari dirinya" kata Saga sambil tertawa mengenang kejadian yang membuat dirinya dan Juni makin dekat seperti sekarang.


"Terus gimana? " tanya Angga penasaran akan kelanjutan cerita dari Saga.

__ADS_1


"Ya sebenarnya aku juga bakalan jujur pagi itu karena aku juga gak tega kalau liat dia nangis seperti itu" kata Saga.


"Dia sampai nangis?" tanya Angga.


"Iya dia nangis terus, lucunya dia minta tanggung jawab sama aku. Lucu gak? suami dimintain tanggung jawab sama istrinya karena sesuatu yang belum suaminya lakukan" kata Saga.


"Wahhhh parah luuu" kata Angga.


"Kalau nanti dia ingat gimana? " imbuh lanjut Angga bertanya.


"Tenang,,, dia gak bakalan ingat" kata Saga.


"Kenapa kamu terlalu percaya diri? bisa saja itu terjadi " tanya Angga.


"Aku juga sebenarnya takut kalau dia ingat, tapi dia bilang sendiri kalau dia mabuk dia gak bakalan ingat akan sesuatu yang pernah terjadi dengan dirinya. Makanya aku berharap sampai sekarang kalau dia gak bakalan ingat akan kejadian yang sebenarnya" kata Saga.


"Kalau nanti dia tahu gimana Saga, kamu cari masalah sama istri sendiri" kata Angga.


"Gak mungkin lah ngga, yang tahu kejadian itu cuman aku, kamu dan Ayah Bram" kata Saga. Saat Saga menyebut nama Ayah Bram suara guntur terdengar dari atas langit sehingga Angga tak mendengar nama Ayah Bram juga ternyata tahu masalah yang terjadi dipernikahan Saga dan Juni.


"Selalu ada ketidak mungkin itu terjadi dan kamu harus siap-siap Saga" kata Angga memperingatkan Saga akan kelakuannya.


"Iya kejadian,, tapi itu kalau kamu bocori semua yang aku ceritakan sama Juni" kata Saga masih tertawa lepas.


"Iya makanya bantu aku tutupin semua. Aku seperti ini karena aku beneran cinta sama dia" kata Saga


"Iya tapi..... " kata Angga terputus.


"Percaya sama aku, semua akan baik baik saja. Suatu saat aku pasti bakalan jujur sama Juni sendiri" kata Saga.


"Ya udahlah, aku cuman berharap semua yang terbaik buat kamu dan Juni" kata Angga.


Saga tertawa sambil terus menceritakan kisah pernikahannya setelah kejahilannya itu tak terbongkar hingga sampai sekarang.


Angga hanya mendengarkan dan sesekali memberikan nasehat jika yang Saga ceritakan menurutnya salah dalam logikanya.


Saga yang sudah tak tahu harus berbuat apa gara-gara mencintai Juni memikirkan jalan satu satunya adalah berbuat seperti itu agar Juni mau membuka hatinya dan terbukti sekarang mereka hidup sudah seperti suami dan istri walaupun belum seutuhnya.


Saga dan Angga tidak tahu kalau semua pembicaraan mereka terdengar oleh Juni sendiri.


"⚡⚡⚡⚡Duaaaarrrr⚡⚡⚡" suara petir dibarengi dengan kilatan sinar petir yang sangat terang dilangit yang gelap. Hujan turun dengan begitu derasnya hingga membentuk kabut dari uap air hujan yang turun.

__ADS_1


Juni yang sudah berada didepan pintu kantor Saga terdiam saat semua pembicaraan suaminya menyangkut dirinya membuka lebar matanya kalau penilaian awalnya tentang Saga selama ini benar adanya.


Saga yang adalah suaminya sekarang ternyata seorang yang sangat licik dan lihai dalam memainkan perasaan wanita.


Terbukti dengan satu kebohongan Saga yang baru dia tahu membuat perasaannya remuk redam.


Juni melotot menatap pintu ruangan Saga yang masih tertutup. Juni mendengar pembicaraan mereka dari jendela yang terbuka sehingga siapapun itu bisa saja mendengar pembicaraan Saga dan Angga didalam ruangan kantor Saga.


Kepala Juni terasa berat dan merasa akan meledak. Matanya tak berkedip. Tubuhnya kaku. Juni seperti seorang wanita yang diinjak-injak dengan kebohongan Saga. Juni berpikir kehangatan yang Saga berikan hanyalah kepura-puraanya. Saga tak tulus pada dirinya.


Tangan yang menenteng tas yang berisikan rantang makanan terasa lemah dan Juni menjatuhkan tas dengan rantang nasi yang sudah berserakan dilantai.


Entah dari mana air mata milik Juni serasa jatuh ke pipinya. Juni menangis tanpa suara. Matanya memerah. Bibirnya bergetar menahan amarah. Tangannya mengepal dengan sesekali jari jemarinya memainkan kukunya. Baru saja Juni mulai percaya dan berusaha menyayangi Saga malah mendapati kebohongan yang seperti ini.


"Kenapa?"


"Kenapa"


"Kenapa?"


Pertanyaan yang ingin sekali Juni tanyakan kepada Saga yang sudah membohonginya. Juni marah. Juni kecewa. Kekecewaan yang dia rasakan sangat besar pada Saga. Marah mungkin bisa diredam dengan seiring berjalannya waktu namun jika marah didampingi rasa kecewa sudah pasti akan membuat luka yang sangat dalam dihati Juni.


Rasa sayang yang mulai tumbuh dihati Juni seakan hilang tak berbekas.


Kakinya melangkah pelan ingin langsung menemui Saga dan bertanya langsung padanya namun kakinya seakan berat melangkah. Juni berbalik arah dan berlari keluar dari ruangan kantor admin. Salah satu karyawan admin Saga memperhatiakan Juni yang berlari dan meninggalkan tas tergeletak dilantai.


"Mbak, mbak" panggil salah satu karyawan admin Saga. Juni tak mempedulikan panggilan itu, dia hanya berlari sekencang mungkin dan meninggalkan sesuatu yang menyakiti dirinya yaitu Saga dan perkataanya.


"Mbak itu tasnya jatuhhhhh" karyawan admin Saga beteriak dari keras hingga bersuara rendah agar Juni mendengarnya namun Juni malah lebih dulu berlari menghilang ketimbang terlebih dahulu mendengarkan teriakan karyawan admin Saga.


Juni terus saja berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang memandang aneh kearahnya karena melihatnya terus menundukan wajahnya. Walaupun Juni menundukan wajahnya namun karena suara tangisnya pecah dan keras akhirnya semua orang tahu kalau Juni sedang menangis. Juni masuk kedalam pintu tempat tangga darurat.


Dia sengaja tak memasuki lift karena keadaannya yang kacau seperti itu.


Juni menangis sejadi-jadinya meluapkan semua kesedihan, amarah dan rasa kekecewaannya.


Rasa yang bercampur aduk dibenaknya terasa lebih menyakitkan karena Juni sangat merasa dirinya lah yang sangat bodoh bisa dikelabui oleh suaminya dengan mudah.


Juni memukul-mukul kepalanya sambil terus menangis dan berkata "Bodoh, bodoh, bodoh"


"Aku bodoh bisa di bohongi telak oleh Om" kata Juni yang terus menangis.

__ADS_1


"Apa salah aku Om? " kata Juni lagi.


"Tega Om kayak gini sama aku" lanjut Juni berbicara dengan bayangannya sendiri di tangga darurat.


__ADS_2