AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Tangga Darurat


__ADS_3

Juni yang duduk di tangga menangis sesegukkan, terlalu lama pikirannya kacau. Dia tak tahu harus bercerita dengan siapa akan masalahnya ini. Trala yang biasanya menjadi teman curhatan Juni tak mungkin Juni beritahu masalah yang


menimpanya sekarang, karena itu akan langsung menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Dia merasakan kesendirian tanpa ada siapapun disisinya dengan cerita hidup yang entah akan dia bagi dengan siapa.


Tak mungkin juga baginya menceritakan pada kedua orang tuanya, Juni tak mau memberatkan beban pikiran Mami Sintia dan Ayah Bram.


Juni yang terus menangis malah merasakan lelah dan ngantuk, dia malah tertidur ditangga darurat dengan posisi kepala bersender ditiang tangga.


z


z


z


z


Saga yang masih berbincang dengan Angga, menjadi tambah gelisah karena tak kunjung wajah Juni dan Mang Ujang datang ke kantornya.


Saga berdiri dari kursinya dan mendekati jendela depan ruangannya. Dia mengintip barang kali Juni dan Mang Ujang yang sudah lama sekali dia tunggu datang, namun tak ada satupun batang hidung dari Juni ataupun Mang Ujang yang terlihat. Yang Saga lihat hanyalah para karyawan yang memang sedang asik berkerja didepan komputer kantor.


Angga sangat kenal sahabatnya, dia merasakan Saga sangat gelisah, jauh lebih gelisah dari sebelumnya.


"Kenapa sag,,,? " tanya Angga


"Duh ngga,,, sumpah perasaanku kok gak enak" kata Saga kepada Angga sambil terus melihat arah luar ruangan kantornya melalui jendela.


"Kenapa emangnya?" tanya Angga yang sebenarnya tahu Saga sedang mengkhawatirkan apa.


"Mereka kok lama banget datangnya" kata Saga.


"Siapa?" Angga bertanya seperti orang bodoh.


"Siapa lagi kalau bukan istriku" kata Saga


"Oohhh aku kira nungguin Mang Ujang" kata Angga yang mengajak Saga bercanda agar tak terlalu tegang.


"Jiahhh,,,, Mang Ujang gak ditungguin ntar juga datang sendiri" kata Saga


"Aku juga mikirnya gitu, kok lama sekali mereka datang" kata Angga yang kali ini setuju dengan kegelisahan Saga.

__ADS_1


"Kalaupun berpikir mereka kena macet dijalan gak mungkin selama ini. Ini sudah hampir 3 jam an tapi mereka belum juga datang" lanjut kata Angga yang juga merasakan hal yang aneh.


"Iyakan, perasaanku juga gak enak banget" kata Saga.


"Kalaupun kena macet, semacet-macetnya kota XXX paling lama sejam aja udah nyampe disini" imbuh kata Saga


"Coba hubungi Bik Tika, siapa tahu karena hujan mereka gak jalan-jalan. Masih dirumah" suruh Angga.


"Oooh iya lupa, aku malah gak kepikiran sampai sana" kata Saga. Saga berjalan kembali lagi ke mejanya dan mengambil ponselnya yang memang tergeletak dimeja.


Saga segera membuka kunci ponselnya dan mencari kontak Bik Tika diponselnya.


Setelah menemukan nama Bik Tika tanpa ragu Saga menekan tombol panggil.


Tangan kanan Saga mendekatkan ponselnya ditelinga. Tangan kiri Saga, ia angkat untuk melihat jam dijam tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 17.00.


"Halo den" jawab Bik Tika dipanggilan seberang.


"Ohhh Bik, Juni sama Mang Ujang belum jalan ke kantor ya bawain aku makanan. Dari aku laper sampai gak terasa lagi laper diperut aku gak ada nongol mereka Bik" kata Saga.


"Lah den mereka udah jalan 3 jam an yang lalu, mungkin kena macet den. Kan diluar hujan lebat" kata Bik Tika.


"Iya Bik karena diluar hujan besar aku takutnya terjadi apa-apa dijalan Bik" kata saga.


"Coba tunggu beberapa menit lagi den" imbuh lagi Bik Tika.


"Iya Bik,,, coba aku tunggu aja semoga mereka memang lagi neduh dijalan dan baik-baik saja" kata Saga


"Nanti Bibik juga akan hubungi Mang Ujang den" kata Bik Tika yang juga berusaha membuat Saga tenang.


"Iya Bik, nanti kalau ada kabar hubungi aku ya" Saga meminta agar Bibinya memberikannya kabar terbaru tentang Juni.


"Siap den" kata Bik Tika.


Saga yang sudah berbicara dengan Bik Tika disambungan telepon merasa dirinya memang harus meluangkan beberapa waktu lagi untuk menunggu kedatangan Juni dan Mang Ujang.


"Gimana Sag, apa kata Bibi" tanya Angga


"Katanya udah jalan dari 3 jam yang lalu" kata saga.


"Ya udahlah jangan terlalu cemas mungkin kita juga butuh waktu buat nungguin kedatangan mereka, tahu sendirikan diluar hujan deras jadi kalau dalam keadaan seperti itu masih melanjutkan perjalanan bakalan bahaya. Mungkin Mang Ujang lagi berhenti dipinggir jalan" kata Angga

__ADS_1


"Kan kamu tahu sendiri, Mang ujang lebih mementingkan keselamatan daripada kecepatan".imbuh Angga menenangkan sahabatnya yang merasa gelisah.


Saga mengingat lagi bagaimana Mang Ujang tak mematuhi perintahnya waktu Saga menyuruhnya mengebut dalam kondiri hujan lebat tahun kemarin. Mang Ujang malah nyantai melajukan mobilnya dengan pelan sambil menasehati Saga dengan berkata "Den, buat apa kita sampai dengan cepat kalau malah ketempat tujuan lain seperti rumah sakit, mening kita pelan jalan yang penting selamat dan Den Saga bisa saya bawa ketempat tujuan awal walaupun agak lama"


"Iya Angga, semoga semua baik-baik saja " kata Saga menjawab perkataan Angga yang ada benarnya juga dan tersenyum kala mengingat perkataan Mang Ujang yang menolak perintahnya demi keselamatan penumpangnya.


Hanya Mang Ujang supir yang berani menolak perintah Saga, dan itu juga yang membuat Saga betah menjadikan Mang Ujang supir pribadinya yang sebenarnya lebih banyak menganggur karena kalau Saga kemana-mana dia jauh lebih suka pergi sendiri. Loyalitas Mang Ujang juga berhasil membuat Saga tidak mau mengganti supir pribadinya.


"Iya sich kamu bener juga,,, Mang Ujang memang selalu begitu" kata saga.


"Tunggu lagi bentar ajalah, atau kamu jangan jangan laper banget?" tanya Angga.


"Tadinya laper tapi sekarang malah berasa kenyang makan pikiran cemas tentang Juni" kata Saga.


"Aku pesenin makanan dibawah gimana?" tanya Angga.


"Gak usahlah ngga,,, kita lanjut ke kerjaan aja" kata Saga


"Terus gimana masalah pembukaan cabang yang diluar negeri?" lanjut tanya Saga yang mengalihakan pembicaraannya kembali kepada kerjaannya.


"Ohhhh itu sudah diatur sama bagian yang tahu cara-caranya menyelesaikan pembelian tanah disana" kata Angga


Mereka kembali lagi kepokok pembahasaan membicarakan masalah kerjaan. Walaupun raut wajah Saga sangat terlihat masih khawatir akan istrinya dia berusaha untuk tetap sementara tenang sebelum tahu keadaan Juni.


z


z


z


z


z


Sekitar 1 jam an Juni tertidur dan akhirnya bangun dengan sendirinya dari tidurnnya. Juni menyadari kalau dirinya tidak harus selemah ini menghadapi seorang Saga. Dia mulai sadar kalau kesedihannya tak akan membuat Saga bisa sadar akan kesalahannya.


"Aku benci kamu Om"


"Benci" teriak Juni.


"Sangat, aku benci kamu sangat Om" kata Juni lagi.

__ADS_1


Juni mengusap air matanya, dia tak mau terlihat lemah. Dia ingin tetap kembali tegar walaupun Saga sudah berhasil membuat hatinya sakit. Sakit yang hanya akan dia rasakan dan kenang setiap melihat suaminya.


__ADS_2