
"Anehh kamu Juni, itukan teman mami kamu jadi jelas sudah pernah lihatlah. Lagian gak mungkin kamu baru lihat Om itu langsung mau dianter ke sekolah. Apalagi aku liat kamu tadi sudah kayak akrab banget. Kadang suka ngaco becandanya!" kata Trala sambil terus menahan tawanya, Trala menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terlalu terdengar keras tawa yang keluar dari mulutnya.
Juni mengerutkan bibirnya merasa kalau dirinya sudah keceplosan berbicara yang mengatakan kalau dirinya pernah melihat Om Saga.
Untung saja Trala tidak sadar maksud dari ucapan dan hanya menganggap dirinya bercanda karena Juni tak siap kalau harus menjelaskan siapa sebenarnya Saga dengan sahabatnya itu.
Sudah pasti Trala akan marah besar mendengar kenyataan yang terjadi yang tidak dirinya tahu.
"Itu apa Juni?" tanya Trala melihat tas coklat yang dipengang Juni.
"Ohhh ini makanan, kamu mau?" kata Juni sambil menggangkat tas coklat yang dirinya bawa.
"Maulah kalau dikasih, rejeki masak ditolak," sahut Trala
"Ini ambil!" Juni menyerahkan tas coklat yang diberikan Saga kepada Trala.
Dirinya melihat masih ada cincin pernikahannya yang belum dia lepas dijari tangan kanan manisnya.
Dengan cepat dia melepaskan tas coklat yang sudah diambil Trala.
Tangan kanannya dia sembunyikan dibalik punggungnya. Untung mata Trala tidak terlalu jeli jadi dia sama sekali tidak memperhatikan tingkah Juni yang berusaha menyembunyikan cincin pernikahannya.
"Kamu yakin mau ngasi aku ini Juni? " tanya Trala
"Kamu gak mau makan bareng aku?" lanjut tanya Trala
"Gak ahhhh! ambil sajalah buat kamu semua" ucap Juni dengan berusaha melepaskan tanda pernikahan dirinya dengan Saga dibalik punggungnya.
Pikir Juni kalau dirinya terus menggunakan cincin itu didepan trala lambat laun semuanya akan terbongkar. Juni menyembunyikan cincin kawinnya didalam tas.
Daripada juni melihat wajah menyeramkan Trala yang kalau tahu semuanya lebih baik dia memasang cincin kawinnya hanya didepan Saga dan kedua orang tuanya.
Itu akan membuat semua cerita hidupnya yang baru terjadi akan terkubur rapi.
Trala yang merasa sangat senang dengan pemberian Juni meloncat-loncat kegirangan.
Dia memeluk Juni dengan sangat erat.
Mereka berjalan penuh dengan keceriaan dihari itu, langkah mereka terus berjalan menuju ruang kelas yang sebentar lagi akan memulai pelajaran.
Juni memperhatikan suasana sekolahnya yang terlihat sangat berbeda, karena dia sudah tidak masuk sekolah beberapa hari jadi sekolah yang dia lihat tidak seperti hari sebelumnya.
__ADS_1
Banyak guru dan pegawai sekolah terlihat sangat sibuk lalu lalang didepan ruangan aula sekolah.
"Trala, itu pada ngapain disana?" tanya penasaran Juni sambil menepuk pundak Trala dan menghentikan langkah temannya.
Trala menoleh kearah tangan Juni yang menunjuk area ruangan aula sekolahnya.
"Oooo itu, kamu sich sakitnya menahun jadi gak tahu kabar tentang sekolah kita. Itu ada acara penyerahan bantuan beasiswa dari pihak perusahaan besar kemurid-murid yang berperestasi Juni " jelaskan trala dengan tingkah imutnya.
"Beberapa hari saja Trala bukan menahun, kamu lebay dech! Oooo gitu" kata junj yang juga membuat kalimat penyangkalan dari perkataan Trala.
"Iya makanya hari ini kita palingan belajarnya setengah hari. Kita semua murid diwajibkan untuk menyambut dan menghadiri acara ini" ucap Trala
"Kamu mau ikut menghadiri acara sekolah ini atau kita bolos aja?" lanjut tanya Trala disertai dengan ajakan untuk dirinya bolos bersama.
"Jangan bolos deh! aku udah gak sekolah beberapa hari gara-gara sakit masak dihari pertama aku sekolah harus bolos juga" jawaban Juni yang membuat Trala menunduk sedih.
"Tapi....." lanjut Juni yang ternyata belum tuntas dengan perkataannya
"Tapi apa Juni?" tanya penasaran Trala dengan perkataan Juni
"Tapi kalau membosankan, kita bolos ajalah" kata juni.
"Weihhhhh itu baru sohib aku, kapan lagi kita bisa main petak umpet sama guru kalau gak dimasa sekolah ini" Trala mengangkat telapak tangannya seakan ingin dibalas tepukan dari telapak tangan Juni. Juni mengikuti kode yang Trala berikan
Merekapun berjalan menuju ruangan kelas mereka dengan Trala menggandeng tangan Juni sambil terus tertawa.
Saga sudah melihat mobil anhga yang parkir diparkiran khusus gedung Mentari Departemen Store.
Saga segera memarkirkan mobilnya bersanding dengan mobil Angga.
Langkah kakinya yang jenjang berjalan memasuki kantor yang berada paling atas lantai gedung Mentari.
Dari sejak Saga masuk gedung miliknya hingga menuju ruangan kantornya saaga selalu disambut baik oleh karyawan yang ada disana.
Para karyawan yang bekerja dengan Saga merasa memiliki atasan yang sangat baik bisa menjamin kemakmuran bagi karyawan yang bernaung dibawah kepemimpinan Saga.
Perusahaan Saga tidak banyak menerapkan peraturan bagi para karyawannya cukup hanya dengan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Dan satu lagi peraturan yang harus ditahu oleh para karyawan Saga yaitu tidak diperkenankan untuk mendekati Saga secara bersama- sama.
Seolah- olah saga tidak mendapatkan ruang gerak sedikitpun kalau tidak mau Saga mengalami gejalan yang sama seperti saat dia pingsan di lift.
__ADS_1
Semua karyawan yang ada disana sudah tahu peraturan itu sejak awal mereka mulai berkerja.Mereka sudah diberikan himbauan untuk tidak menggunakan fasilitas pribadi milik Pak Saga.
Seperti contoh lift yang sering digunakan Saga turun naik lantai gedung tidak boleh digunakan karyawan lain kecuali Saga sedang tidak meggunakannya dan situasinya sangat mendesak. gedung Mentari Departemen Store juga baru-baru ini membangun klinik kesehatan khusus karyawan. Saga tidak mau lagi ada kejadian yang tak terduga.
Angga yang berada diruangan kantor Saga keluar dari ruangan. Dia mendapati Saga sudah ada didepan pintu ruangan kantor Saga, yang ingin masuk ke ruangannya.
"Saggg, tumben telat banget datengnya. Lembur tadi malam jinakkin istri tercinta" Angga yang tadinya ingin keluar dari ruangan Saga mengurungkan dirinya dan masuk lagi melihat Saga yang terlihat sangat lelah.
Saga tak menjawab perkataan Angga, puggungnya lemas, bahunya terlihat turun, jalan saaga terasa berat.
Saga melepaskan jaketnya dan menggantungnya dikursi. Saga duduk sambil menengadah keatas melihat langit kantornya.
Hela nafas panjang Saga sambil memegang
keningnya berkata "Aku merasa frustasi ngga."
Angga yang mendengar perkataan sagaa hanya bisa tersenyum ingin rasanya dia memberikan dukungan semangat kepada Saga.
Angga hanya berkata "Saggg usaha tak akan menghianati hasil. Ketulusan itu hanya dirasakan dengan tindakan bukan perkataan. Semakin kamu berbuat tulus mata istrimu suatu saat akan terbuka"
"Sialan kamu! sejak kapan kamu jadi roman picisan begitu" Saga melemparkan kertas yang ada dimeja kerjanya.
Angga juga merasa heran dengan dirinya yang terdengar puitis. Angga masih penasaran dengan apa yang menyebabkan saga terlihat tidak seperti biasanya "Apa yang terjadi saag?"
Saga terdiam sejenak sebelum dirinya menjelaskan semua yang terjadi.
Saga akhirnya menceritakan kepada Angga apa yang sebenarnya terjadi dengannya dari awal sampai akhirnya dirinya menginap di apartemen Juni.
Mendengar cerita saga tentang Juni, Angga tertawa sepingkal-pingkalnya.
Dia merasa Saga tak sehebat yang dia kira selama ini.
Kalau masalah pekerjaan Saga memang boleh menjadi nomer satu dan tak dirinya ragukan namun berbeda kalau sudah menyakut cintanya dengan Juni.
Angga menyadari kalau temannya itu tidak punya pengalaman sedikitpun tentang wanita.
"Sialan kamu pakai ketawa lagi, harusnya dukung dong!" Saga melempar lagi barang yang ada dimejanya kali ini bolpoint yang menjadi alat lempar Saga kepada Angga.
"Maaf sag, habisan kamu lucu " Angga menahan tawanya agar tak terlihat kalau dirinya menganggap kalau Saga itu benaran patut untuk ditertawai.
"Perempuan itu memang selalu seperti itu sagg, kamu tenang saja lambat laun dia yang bakalan ngejer kamu. Yang penting kamu terus bersikap manis. Ibaratkan perempuan seperti kucing liar segarang-garangnya kucing kalau sudah sering dibelai, dikasih makan, disayang lambat laun pasti bakalan ngikut" lanjut Angga panjang lebar.
__ADS_1
"Kayak kamu pengalaman banget masalah perempuan ngga" kata Saga
"Setahu aku kamu selalu ditolak sama perempuan yang kamu deketin" lanjut Saga mengingatkan.