
Saga terlentang disamping Juni, dia tak tega jika harus berbuat tidak senono dengan posisi Juni yang hilang kesadaran. Dia juga tak percaya dengan perkatan Dokter yang menyuruhnya untuk melakukan hubungan suami istri jika ingin membuat Juni sadar.
Saga terdiam sejenak melihat atap langit- langit dan memegang tangan Juni. Masih tak ada perubahan dengan kondisi Juni. Juni masih membeku.
"Pak Saga,,, ingat sekarang atau tidak akan melihat istri anda sadar" teriak Dokter Mila dari arah balik pintu ruangan kamar Saga dan Juni.
Dokter Mila dan Angga ternyata masih ada diluar kamar pasien sedang menguping apa yang terjadi didalam ruangan kamar Juni. Karena tidak ada suara aneh yang terdengar oleh Dokter Mila dan Angga mereka menyimpulkan kalau Saga tak melakukan apa yang Dokter suruh.
"Kok mereka tahu aku gak ngapa-ngapain" kata Saga.
"Lanjutkan Sag,,, semangat" kata Angga yang juga berteriak dari arah luar pintu.
"Dasar mereka cabul" kata Saga dalam hati.
Saga melihat lagi tubuh Juni dibalik selimutnya yang tebal, dia mengintip sejenak dan kembali lagi menutup tubuh Juni. Bibir bawah Saga dia gigit -gigit seolah memang sebenarnya juga mau menginginkan apa yang Dokter suruh dengan senang hati.
Saga yang awalnya akan mengurungkan niatnya menyentuh tubuh Juni akhirnya kembali lagi melancarkan aksinya karena dia hanya ingin membuat Juni sadar dari tidurnya yang beku.
Saga memasukkan tangannya kedalam selimut Juni dan memegang perut Juni.
Saga memainkan tangannya diarea sekitar perut Juni.
Tangan Saga terus bermain disekitar perut Juni dan sesekali meraba lagi naik kearah atas tubuh Juni dan memainkan gundukan sintal disana.
Saga memberikan elusan tangan yang membuat bulu romanya sendiri berdiri.
Saga membuka selimut Juni dan melihat tubuh Juni tanpa busana.
Saga menelan ludahnya sendiri setelah melihat kembali tubuh mungil Juni tepat dihadapannya.
Tubuh yang Saga belum pernah rasakan. Tubuh putih pucat dan sangat dingin yang dia rasakan.
__ADS_1
Tidak ada suami yang saat melihat istrinya seperti itu akan tetap teguh pada kesopanannya.
Saga adalah pria yang normal, saat melihat istrinya tanpa menggunakan busana seperti itu jiwa kelelakiannya mulai muncul.
Saga membuka celana bawahnya, merekapun berdua tak berbusana.
Saga kembali naik ketubuh Juni dan sekarang berada diatas Juni dengan masih Juni tak bergerak sama sekali.
Saga yang sudah merasa panas akan aliran darahnya dengan tanpa pikir panjang lagi dan tanpa aksi- aksi lain lagi segera membuka lebar kedua paha Juni.
"Maaf yank" kata Saga.
"Aku disuruh Dokter, kalau nanti kamu bangun dan marah, marah sama Dokter jangan sama aku" kata Saga merasa sedikit takut tapi dia juga sudah tak tahan ingin melahap Juni yang terlihat menggiurkan.
Kali ini Saga langsung berusaha membobol gawang milik Juni, tanpa alat kontrasepsi. Saga merasa kesusahan menerobos gawang Juni yang masih sempit. Setelah lama berusaha akhirnya sesuatu berbunyi
"Kreakkkk" bunyi milik Juni yang terdengar sobek. Darah meluap dari milik Juni dan membasahi seprai putih yang menjadi alas mereka berdua. Keringat sudah mulai membasahi wajah Saga.
Saga semakin panas dibuatnya, walaupun disaat itu dirinya hanya bergerak sendiri. Saga terus menggoyangkan pinggang maju dan mundur dan akhirnya gawang milik Juni bobol juga. Semua hubungan suami istri itu hanya dilakukan oleh Saga seorang diri karena Juni masih saja diam membeku tanpa suara rintihan dan gerakkan sama sekali.
Saga merasa sudah berada dipuncaknya saat itu, dia membuang hasil pergulatan dirinya sendiri dengan tubuh Juni yang masih membeku ke milik Juni.
"Ahhhhhhhhhh" teriak Saga yang sudah membuang sesuatu di milik Juni. Saga terkapar diatas tubuh istrinya. Dengan keringat yang sudah mengucur dan jatuh ketubuh Juni.
"I love You" kata Saga sambil mencium kening Juni yang masih ada dibawah tubuhnya. Saga membangunkan tubuhnya dan terbaring disamping tubuh Juni.
"Makasi yank" kata Saga sambil mengecup bibir Juni sekejap.
Dalam kesedihan Saga yang melihat Juni tak bereaksi atas apa yang dia perbuat, dalam hatinya Saga merasa sangat bahagia. Karena sudah memiliki Juni seutuhnya sebagai seorang istri.
"Bagus" teriak Dokter Mila diluar kamar Juni dan Saga sambil melompat kegirangan.
__ADS_1
"Aku bangga sama kamu Saga, akhirnya kamu melepas semua perjaka yang sudah bertahun tahun melekat ditubuhmu" teriak Angga. Saat Angga berkata seperti itu, otomatis Dokter Mila mendengar semua perkataan Angga dan akhirnya mengetahui kalau hari itu adalah malam pertama bagi kedua pasangan yang ada didalam kamar.
"Aahhhhhhhhh kalian" kata Saga yang ikutan juga berteriak. Saga mengetahui kalau perbuatannya sudah didengar oleh Dokter Mila yang cabul dan Angga.
"Ayo Dokter kita pergi sudah saatnya kita pergi dari sini biarkan mereka berdua disini" kata Angga mengajak Dokter yang berumur 40 tahunan itu untuk meninggalkan temannya dan istrinya didalam kamar.
"Ayo ini juga udah malam, aku juga harus pulang menemui suamiku dirumah" kata Dokter Mila.
"Terus keadaan Juni bagaimana? apakah bisa ditinggal seperti itu?" tanya Angga.
"Tenang semakin Pak Saga berbuat macam -macam lagi, dijamin istrinya akan bangun besok pagi" kata Dokter Mila.
"Kamu juga harus pulang biarkan mereka menginap sehari di sini" suruh Dokter Mila kepada Angga.
"Siap Buk Dokter,,, ngapain juga aku jagain pasangan suami istri lagi bercumbu" kata Angga.
"Mari Buk Dokter, aku antar pulang" kata Angga
"Ayo dengan senang hati" kata Dokter Mila.
Sebelum berbalik arah meninggalkan pintu kamar Saga dan Juni, Dokter Mila berteriak sambil berkata "Jika Pak Saga ingin benar-benar melihat istrinya sadar,,, lakukan lagi" pesan Dokter Mila sebelum benar-benar pergi dari balik pintu.
Merekapun akhirnya benar- benar meninggalkan Saga dan Juni didalam kamar hanya berduaan.
Saga mendengar perkataan Dokter Mila, menatap arah langit-langit dan masih merasakan sensasi yang baru saja dia dapati. Saga kembali menoleh arah sampingnya dan melihat Juni, Saga kaget karena wajah Juni dan tubuh Juni sudah mulai bercucuran dengan keringat.
"Haaa,,, keringat" kata Saga. Saga mengambil dan mengelap keringat Juni dengan telapak tangannya.
Saga mengelap kening Juni dengan telapak tangannya dan merasakan tidak ada lagi rasa dingin ditubuh Juni. Hawa panas mulai dia rasakan tak kala menyentuh lagi pipi Juni.
Betapa sangat senang perasaan Saga karena Dokter Mila sama sekali tak bohong dengan dirinya.
__ADS_1
Setelah melakukan hubungan suami istri Juni tak menggigil kedinginan lagi. Keringatnya mulai muncul. Detak Jantungnya sudah stabil. Hembusan nafasnya sudah bisa Saga rasakan hanya dengan sentuhan dua jarinya dilubang hidung Juni.
"Makasi Tuhan,,, Engkau kirim lagi dia disisi hamba" kata Saga tak henti- henti bersyukur atas kembalinya Juni walaupun Juni tak begitu sadar. Dia masih pingsan tapi setidaknya dia tak membeku kedinginan.