AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Dingin


__ADS_3

"Kak Lisa" teriak Juni sambil memukul-mukul pintu dari dalam ruangan. Lisa menjawab panggilan Juni hanya dengan tertawa keras sambil masih memegang gagang pintu.


"Kak jangan becanda, disini dingin" kata Juni lagi.


"Makanya jangan pernah ambil apa yang aku punya, jadi kayak gini jadinya kan" kata Lisa.


"Kak,,, please buka,,,, Aku takut disini gelap dan dingin" ucap Juni sambil tangannya terus memukul-mukul pintu ruangan dan sesekali menendang pintu dengan kakinya.


"Aku harus kasih kamu pelajaran biar kamu gak ngambil punya orang lagi" kata Lisa sambil tersenyum jahat.


"Ngambil kayak gimana maksud kakak?" tanya Juni.


"Udah luu gak usah munafik. Asal luu tau, gue bisa berbuat apa saja sama luu sekarang dan luu gak bakalan bisa berbuat apa-apa" kata Lisa.


"Sumpah kak, kita bisa bicarain semua baik-baik. Ini itu gak lucu" kata Juni.


"Buka kak.... buka" lanjut imbuh Juni.


"Haaaaa,,,, luu pikir gue lagi ngelucu, sekarang luu nikmati ruangan pendingin yang memang cocok buat luu" kata Lisa.


"Kak buka" juni berteriak memanggil nama Lisa dengan kerasa dan tentunya dengan air mata yang turun kepipinya. Baru tadi dia merasakan sakit hati yang teramat dalam karena kebohongan suaminya dan sekarang dia malah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari seorang Lisa, kakaknya sendiri.


"Kak,,,, buka" kata kata yang terus terucap dari bibir Juni yang sudah merasa ketakutan karena ulah kakaknya.


"Dooor,, dooorrr" suara pintu yang dipukul balik oleh Lisa dari arah luar.


"Diam,,, Luu bakalan gue bukain pintu ini asalkan luu mundur kebelakang empat langkah" kata Lisa.


"Mundur? buat apa" tanya Juni.


"Banyak nanyak luu, kalau gak mau ya udah gue tinggal luu disini sendiri" kata Lisa.


"Ok kak, aku mundur" sahut Juni sambil melangkahkan kakinya mundur sejumlah empat langkah sesuai yang diperintahkan Lisa.


"Udah kak, ini aku mundur" kata Juni. Lisa yang masih memegang gagang pintu ruangan segera melepas pegangannya dan berlari mengambil kayu yang ada didekatnya. Lisa mengambil balok kayu dan bukannya untuk membuka pintu, balok kayu itu dia gunakan untuk mengganjal pintu agar Juni tak bisa keluar dari ruangan pendingin.


"Oke, gue bakalan buka pintu ini dan luu siap-siap buat keluar tapiiiiiiiiiiiiiiii" kata Lisa terhenti sejenak dan kembali melanjutkan perkataannya pada Juni "Tapiiii bohong" ucap Lisa sambil membersihkan telapak tangannya yang kotor karena memegang gagang pintu ruangan pendingin yang sudah karatan.


Mendengar perkataan Lisa, Juni kembali mendekati pintu ruangan dan terus mencoba membuka pintu dengan mendobrak pintu dari dalam menggunakan badannya sambil terus berkata "Buka kak"

__ADS_1


Lisa yang terus tertawa keras mendengar Juni sekuat tenaga mendobrak pintu dari dalam merasa puas bisa menyakiti adiknya sendiri.


"Luu gak bakalan keluar dari dalam ruangan ini kalau gak ada yang buka pintu dari luar. Sayangnya disini gak ada siapa-siapa yang bakalan dengerin luu teriak" kata Lisa.


"Harusnya luu pake jaket tebal tadi, malah pakai baju kodok pendek hanya buat goda Mas Saga" kata Lisa lagi.


"Kak,,, buka. Jangan kayak gini gak lucu" kata Juni.


"Mening luu gak usah buang-buang tenaga buat dobrak ini pintu, percuma kata Lisa berbalik arah dan akan meninggalkan Juni tetap didalam ruangan pendingin.


"Ooopppss,,, satu lagi hampir lupa kalau umur luu panjang kita bakalan ketemu lagi dan selamat kedinginan adik haram gue " imbuh Lisa sambil kembali menolehkan kepalanya kearah pintu untuk terakhir kalinya.


Lisa tanpa merasa bersalah akan perbuatannya kembali tertawa keras merasa puas bisa menyakiti Juni adalah hal paling membanggakan baginya.


Langkah kaki Lisa tak terdengar lagi oleh telinga Juni karena memang Lisa sudah pergi meninggalkannya sendirian didalam ruangan pendingin yang gelap dan tentunya sangat dingin.


Juni mengambil ponselnya dari kantong depan rok kodoknya, dan dia menyalakan lampu ponsel agar ruangan itu terlihat oleh matanya.


Juni mengarahkan lampu ponselnya disetiap penjuru ruangan untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan agar tubuhnya tak kedinginan.


Namun tak ada satu barangpun yang bisa dia gunakan melindungi tubuhnya karena semua barang yang ada disana sudah pasti sangat dingin.


Juni berusaha sekuat tenaga membuka pintu sambil terus mengucurkan air mata yang tak henti menetes deras dipipinya.


"Tuhan,,, cobaan apalagi ini?" kata Juni.


"Belum selesai masalah satu sekarang aku malah diberikan cobaan lagi" ucap Juni lagi sambil terus menggedor-gedor pintu dengan tetap berteriak meminta tolong bagi siapa saja yang bisa mendengarnya dari arah luar.


Namun mungkin kata Lisa ada benarnya juga, kalau percuma dirinya berteriak keras karena tidak akan ada yang bisa mendengarnya.


Juni sudah merasa teriakan dan pukulan tangannya ke pintu terasa percuma, akhirnya Juni memutuskan untuk menjauh dari pintu dan lebih baik tetap berdoa.


Juni mengingat kalau masih ada ponselnya, jadi dia akan mencoba menghubungi seseorang untuk menolongnya.


Juni mengambil lagi ponselnya dan mencoba menghubungi orang yang dia kenal tapi dia juga merasa bingung ingin menghubungi siapa kala itu. Kedua orang tuanya tidak mungkin dia hubungi karena sudah pasti mereka akan panik jika tahu Juni terkunci diruangan pendingin dan itu semua ulah kakaknya. Dalam keadaan seperti itu, Juni masih sempat memikirkan perasaan orang tuanya.


Juni kembali memikirkan nama Saga, dia mengurungkan pikirannya untuk menghubungi suaminya karena sampai matipun dirinya disana tak akan mau menghubungi Saga yang berengsek telah melukai perasaannya. Akhirnya Juni mengingat kartu nama yang Mang Ujang berikan, Juni segera mengambil kartu nama Mang Ujang dan mencoba mengetik nomernya dan akan menelponnya tapi saat kakinya dia langkahkan mencari pojok ruangan dengan tatapan mata tetap berada diponselnya, tanpa sadar dia menendang balok kayu yang terhubung dengan ember cat kecil yang ada diatas kepala Juni. Alhasil langkahnya menendang balok kayu itu membuat ember cat yang ada diatas kepala Juni terjatuh dan menimpa tepat mengenai kepalanya.


"Ahhhhhhhh" juni kesakitan dan tak lama setelah dia berteriak tak ada lagi suaranya terdengar karena saat teriakan terakhir dari Juni, dia jatuh pingsan. Walaupun kepalanya tidak terluka sama sekali tapi kejatuhan ember membuat dia pingsan tergeletak diruangan pendingin dengan masih memegang ponsel ditangan kanannya. Kartu nama Mang Ujang yang dia pegang terjatuh dilantai.

__ADS_1


Lisa dengan perasaan senang, melangkah meninggalkan Juni sendirian.


Dia tak menyadari bahaya apa yang akan menimpa adiknya jika dia berbuat seperti itu.


Lisa adalah Lisa, dia seakan tidak punya perasaan dan sedikit berpikir masalah apa yang akan dia hadapi jika sesuatu yang buruk menimpa Juni.


Tidak hanya Saga yang akan marah tapi kedua orang tuanya juga akan murka kalau tahu perbuatan Lisa


z


z


z


z


z


z


"⚡⚡⚡⚡Duaaaarrrrrr⚡⚡⚡⚡" suara petir kembali lagi terdengar sangat keras. Hujan bukannya tambah reda malah tambah turun dengan sangat deras. Ruangan kantor Saga terasa sangat dingin.


Saga yang masih berbincang dengan Angga diruangan kantornya kembali merasakan perasaan yang tidak enak. Kali ini perasaan yang Saga rasakan jauh lebih tidak terasa nyaman. Jantungnya terus berdebar kencang.


Saga tiba-tiba sontak kembali berdiri dari duduknya membuat Angga juga sontak kaget.


"Kenapa Sag? " tanya Angga yang merasakan hawa udara didalam ruangan Saga memang sangat dingin. Angga mengambil remote Ac dan mematikan suhu Ac didalam ruangan Saga kemudian dia letakkan kembali dimejanya.


"Gak tahu aku, perasaanku malah kok kayak ada yang terasa janggal" jawab Saga yang sudah berdiri dan berjalan kembali kejendela depan sambil terus mengintip seseorang yang mungkin saja dia lihat di luar ruangannya.


"Masalah Juni yang belum datang" kata Angga.


"Iya, sebelum aku lihat dia aku bakalan tetap gak tenang" kata Saga.


Angga menyarankan Saga untuk kembali menelepon Bik Tika yang ada dirumah. Saga yang kembali berjalan mengambil ponselnya yang ada dimeja kemudian melihat ponsel yang dia akan ambil berdering dan bergetar. Saga melangkah cepat mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mencoba menghubunginya. Layar ponselnya tertera nama Bio Tika yang sedang menghubunginya melalui panggilan telepon.


"Oooppps. Bik Tika" kata Saga sambil menoleh kearah Angga yang sedang melihatnya.


"Cepet angkat" suruh Angga dan tangan Saga dengan cepat menggeser tombol terima agar bisa berbicara via telepon dengan bibiknya yang juga kebetulan akan dia hubungin tapi malah Bik Tika yang menghubungi Saga terlebih dahulu sebelum dirinya.

__ADS_1


__ADS_2