AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Ternyata Dia Baik.....


__ADS_3

"Pokoknya om harus tanggung jawab" kata Juni.


"Oke, aku mau tanggung jawab tapi..." kata saga


"Tapi apa om?" tanya Juni.


"Aku ada satu syarat" ucap Saga.


"Apa? " kembali Juni bertanya.


"Tapi aku yakin kamu gak bakalan mau nurut" kata Saga.


"Kata- kata om yang tadi malam, yang bilang kalau om cinta sama aku ternyata bohong" kata Juni.


"Gak, aku tulus kok bilang gitu. Aku beneran cinta sama kamu" ucap Saga meyakinkan Juni lagi.


"Terus kenapa setelah tidurin aku, om malah minta syarat buat tanggung jawab" kata Juni.


"Iya karena terdengar aneh, aku ini suami kamu.Kalau kita melakukan sesuatu haruskah seorang istri minta tanggung jawab suami. Lagian kamu kan gak mau ngasi sedikit perasaan kamu ke aku makanya aku cuman mau kamu jadi istri yang baik dan nurut sama aku cuman itu syaratnya buat aku mau tanggung jawab" kata Saga panjang lebar.


"Om, kita beneran udah....... " Juni memutus perkatannya dan kembali menangis selayaknya seorang anak kecil yang terlihat dan terdengar sangat polos.


Saga yang sebenarnya tak tahan mendengarkan tangisan Juni lagi, tidak langsung berbicara apa yang terjadi semalam, karena pikir Saga niat awalnya hanya untuk mengerjai Juni tapi dia tak menyangka kalau Juni malah meminta tanggung jawab darinya dan itu bisa Saga gunakan untuk menjinakkan Juni sebagai istrinya. Saga malah berdoa agar Juni tetap tak ingat apa-apa kalau sampai dia ingat akan berbeda reaksi yang Juni keluarkan untuk menghadapi Saga.


Saga terus menggelangkan kepalanya agar sesuatu yang baru saja terlintas dibenaknya tak terjadi, Saga malah berharap ingatan Juni saat mabuk tak terlintas diingatan istrinya agar semua akan baik-baik saja kalau dirinya tetap diam dan membisu.


Juni memukul- mukul kepalanya dengan tangannya sendiri sambil berkata "Kenapa aku harus mabuk?" Saga yang melihat Juni mencoba menyakiti dirinya segera memegang kedua tangan Juni sambil berkata "Kenapa yank? jangan kayak gini"


"Harusnya aku gak mabuk om, mabuk itu membuat semua ingatanku hilang dan aku tak bakalan bisa mengingat apapun yang terjadi" kata Juni sambil terus menangis. Saga yang mendengar perkataan Juni yang menceritakan dirinya tidak bisa mabuk dan tak akan mengingat kejadian saat dirinya mabuk malah tersenyum sambil berkata "Sukurlah"


"Apa om?" tanya Juni yang samar-.samar mendengar perkataan Saga.


"Oooh maksud aku, sukurlah kamu berhenti menyakiti diri sendiri dan jangan pernah lagi melakukan itu, aku sudah pasti merasakan sakit jika kamu sakit" kata Saga yang terus berakting.


"Aku bakalan tanggung jawab tanpa syarat" imbuh Saga lagi meyakinkan Juni.

__ADS_1


Juni hanya terdiam dengan masih sesekali sesegukan dan menunduk.


"Udah diam yank, aku bakalan tanggung jawab" kata Saga. Tangan Saga sudah mengusap-usap kepala Juni. Juni tak menjawab apa yang sudah dia dengar dari bibir Saga. Juni hanya menghadap arah wajah Saga dan menatap Saga dengan tatapan yang hari itu berbeda dengan tatapan sebelumnya.


"Ternyata dia baik" kata Juni dalam hati merasa sedikit bersalah karena sudah berbuat jahat selama ini.


Saga memegang tangan Juni dan menggenggamnya sangat erat sambil berkata "Udah kamu jangan nangis lagi, aku akan selalu ada disamping kamu"


Kepala Juni, Saga arahkan untuk bersender didada bidang milik dirinya. Saat itu tak ada perlawanan dari diri Juni seakan Juni menyambut dada bidang milik suaminya. Juni yang masih sesegukan bersender terus didada Saga dan Saga yang berhasil dengan rencananya menjulurkan lidah dibelakang Juni pertanda kalau rencananya yang tidak terduga hasilnya, membuat Juni tak membantahnya lagi


Saga mengingatkan Juni untuk hari itu pergi kesekolah. Juni yang merasa masih tak enak badan dan kepalanya terasa berat ingin sekali untuk tidak sekolah. Namun pikir Juni lagi bahwa dirinya sudah terlaku sering tidak masuk sekolah jadi Juni memutuskan untuk bergegas ke kamar mandi membersihkan badannya pagi itu. Juni keluar dari kamar mandinya dengan sudah menggunakan seragam sekolah. Ia sengaja memakai seragam dikamar mandi karena sudah yakin kalau suaminya masih ada dikamarnya. Dan benar saja Juni mendapati Saga sudah duduk disofa kamarnya dengan memegang sebuah koran.


"Sudah yank... " kata Saga sambil menoleh ke arah Juni.


"Kaca mata itu" Juni terbelalak melihat sosok Saga yang menatap kearahnnya dengan menggunakan kaca mata, tatapan Saga terlihat sangat mempesona dimata Juni yang baru kali ini melihat Saga menggunakan kaca mata.


"Sudah om, aku mau langsung berangkat ke sekolah" ucap Juni dengan segera mengambil tas gendongnya yang sudah berada diatas ranjangnya. Ia melangkah cepat keluar dari kamarnya.


"Stop yank" cegah Saga.


"Ooo iya, aku lupa" kata Juni sambil cengengesan. Juni melangkah lagi keruang lemari sepatunya dan memilih sepatu putih yang menjadi warna favoritnya untuk dia kenakan hari ini. Juni berdiri lagi dan merapaikan seragamnya dengan menggunakan tangannya serta melihat apa lagi yang kurang dari dirinya agar tidak merasa malu kalau diingatkan Saga. Juni merasa semua yang dia kenakan sudah tidak ada kurangnya.


Juni keluar dari ruangan lemarinya dan berjalan melangkah kembali lagi menemui Saga yang masih ada dikamarnya.


"Ok aku berangkat" kata Juni yang untuk pertama kali berpamitan kepada suaminya.


"Bentar yank... " cegah lagi Saga.


"Kenapa om" tanya Juni


Saga melipat lagi korannya dan berdiri berjalan mendekati Juni. Saga berhenti tepat dibelakang Juni dan mendorong pundak Juni untuk mengikuti gerakan tuntunan tangan Saga.


"Kenapa om? " tanya Juni yang mengikuti arahan Saga. Saga mendudukan Juni didepan meja riasnya.


"Diam sebentar aja yank" ucap Saga sambil mengambil sebuah karet rambut dan sisir. Saga merapikan rambut Juni dan mengikatkan rambut Juni agar tak terurai. Dengan cepat rambut Juni yang panjangpun terlihat sudah diikat sendiri dengan kedua tangan Saga.

__ADS_1


"Rambut aku om apakan ini? " kata Juni


"Aku mau rambut kamu lebih baik diikat kayak gini " kata Saga.


"Aku gak mau banyak lelaki diluar sana terpesona dengan rambut panjang istriku yang terurai" kata Saga


Juni hanya diam tak menjawab perkataan Saga, walaupun pipi Juni tak memerah mendengar perkataan Saga namun setidaknya dia tak menjawab serta membantah ucapan Saga.


"Udah" kata Saga sembari menatap dicermin melihat betapa cantiknya istrinya yang sudah sedikit dia dandani. Bukan membuat pesona Juni tertutup malah Saga membuat Juni terlihat lebih mempesona dengan mengikat rambut Juni seperti itu.


"Salah perkiraan aku" gumam Saga


"Kenapa om? " tanya Juni


"Gak ada yank. Aku anter kamu kesekolah" kata Saga


"Tapi om belum mandi, masak aku harus nungguin om selesai mandi dulu" ucap Juni.


"Aku gak mandi yank,,, lagiankan cuman anter kamu kesekolah aja" ucap lagi Saga.


"Handphone kamu mana? " imbuh lanjut Saga dengan menggerakakn telapak tangannya.


"Buat apa Om? " Juni masih tak memberikan ponselnya langsung saat Saga memintanya.


"Udah sini aja" kata Saga


Juni memberikan ponselnya kepada Saga, Saga segera mengetik nomer handphonenya dan menyimpannya di kontak ponsel Juni. Tak lupa Saga juga meminta agar juni menyebutkan nomer ponselnya untuk disimpan juga di ponsel Saga. Walau mereka sudah menjadi suami dan istri, Saga masih tak tahu nomer ponsel Juni jadi dia meminta langsung kepada Juni agar mudah untuk menghubungi istrinya nanti.


Saga memberitahukan kepada Juni kalau jika nanti ada sesuatu yang mendesak agar Juni bisa menghubunginya langsung dan Juni sama sekali tak menolak permintaan Saga seperti yang sudah-sudah terjadi. Kejadian Saga yang mengerjai Juni membuat Juni sedikit tidak lagi berbuat kasar kepada suaminya. Juni hanya mengiyakan kepada Saga apa yang sudah dia katakan.


"Om, ayo aku udah hampir telat ke sekolah" ajak Juni


"Iya tunggu bentar, aku ambil kunci mobil" kata Saga yang bergegas mengambil kunci mobilnya. Kali ini Saga ingin menggunakan mobil merahnya karena sudah lama tak menggunakannya mobil kesayangannya.


Merekapun berjalan keluar kamar dan bergegas menuju garasi mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2