
Saga berusaha dengan cepat menghabiskan makanan yang di hidangkan oleh pelayan restauran, berharap kalau makan malam itu segera berakhir. Pikirannya sudah tidak tertuju pada Lisa yang ada dihadapannya tapi tertuju pada gadis yang berada jauh dimatanya.
Lisa yang masih ingin terus berbincang dengan Saga, sengaja melambat-lambatkan dirinya menyantap makanan yang ada dimeja makan.
Setelah sekian lama mendengar Lisa berbicara tanpa berusaha untuk merespon perkataan yang keluar dari mulut Lisa, Saga sudah merasa tidak menyukai gadis yang ada dihadapannya apalagi gadis itu sudah menjelek-jelekkan Juni dengan ceritanya.
"Aku sudah selesai, cepetan makan. Ini sudah malam sudah waktunya kita pulang" kata Saga memutus perkataan yang tidak henti terucap dari mulut Lisa.
"Nanti dulu mas, aku pingin berbincang lebih lama lagi dengan kamu." sahut Lisa yang berusaha memajukan arah dadanya yang terbuka berusaha untuk menggoda Saga yang ada didepannya.
Saga melihat kelakuan Lisa menjadi lebih yakin kalau perempuan yang akan menjadi tunangannya itu adalah perempuan yang tidak benar namun dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mungkin juga dia memutuskan sesuatu yang sudah dia rencanakan dan bicarakan dengan Pak Bram. Dan pikirnya belum ada alasan yang masuk akal juga untuk itu.
"Aku besok mau kerja, aku bukan pengangguran yang bisa enak-enak dirumah" jawaban dari Saga membuat Lisa langsung terdiam. Cara yang dia gunakan untuk membuat Saga nyaman dengannya tidak sama sekali berhasil.
Biasannya cara dirinya menggoda lelaki seperti itu selalu berhasil tapi untuk pertama kalinya tidak berhasil dengan sosok Saga. Itu membuat Lisa semakin tertarik dengan Saga.
Lisa yang tadinya tidak suka menjadi sangat suka dengan sosok Saga sebaliknya Saga yang sebelum dirinya mengetahui kalau Lisa yang dikirannya itu adalah Juni berbalik tidak menyukai Lisa sedikitpun. Apalagi dari cara Lisa berbicara sama seperti perkiraannya waktu Saga mencoba mengirimi Lisa banyak pesan sebelum Saga mengetahui yang sebenarnnya terlihat sombong dan angkuh.
"Ya udah dech mas, apa sich yang gak aku turuti dari pacar aku" sahut Lisa yang melepas sendok dan garpu menyilang diatas piring putih yang masih berisikan setengah makanannya.
"Pacar! " Saga terperangah dengan perkataan Lisa yang menyebutnya pacar.
"Iya aku bakalan jadi tunangan kamu jadi mulai sekarang aku adalah pacar mas" Lisa menggapai tangan Saga yang berada diatas meja dan mengelusnya dengan kedua tanganya.
"Wah gak bener ini cewek" dalam hati Saga berkata seperti itu sambil melepaskan tangannya yang dielus oleh Lisa dengan wajah penuh dengan senyum. Lisa merasa saat itu Saga adalah lelaki yang susah untuk dirinya takhlukan. Tidak ada lelaki yang tidak bisa Lisa jinakkan namun kali ini dia menemukan mangsa yang sangat berat.
__ADS_1
Saga yang sudah bosan dengan melihat kelakuan dari anak Bramanto itu langsung pergi tanpa mempedulikan Lisa yang masih duduk dengan mengulurkan tangannya berusaha untuk Saga bantu berdiri dalam duduknya saat itu.
Lisa merasa sangat kecewa namun karena dirinya tidak mempunyai rasa malu, Lisa berdiri dan
melangkah mengejar langkah sagaa yang sudah duluan berjalan meniggalkannya. Lisa yang sudah berhasil mengejar Saga segera menggandeng lengan Saga saat keluar dari dalam restauran. Saga merasa sangat risih dengan perlakuan Lisa padanya.
"Aduh" Saga mengecilkan matanya sembari melihat lengannya yang digandeng oleh Lisa.
"Kenapa mas Saga?" tanya Lisa mendengar kalau saga mengaduh.
Bukannya malah sedikit berbohong kepada Lisa, Saga menjadi sangat terus terang kepada Lisa saat itu dengan menjawab pertanyan Lisa "Aku gak nyaman sama gandengan tangan kamu kayak gini" Saga melepaskan lengannya yang digandeng oleh Lisa. Saga benar-benar merasa tidak nyaman, dirinya sejenak berpikir kenapa Pak Bramanto yang sangat baik hati bisa mempunyai anak yang seperti Lisa sangat berbeda dari gadis yang menolongnya di lift waktu itu yaitu Juni.
Dalam perjalanan Saga menghubungi Angga bertanya dimana keberadan Angga lewat sebuah pesan singkat. Angga ternyata balik lagi ke restauran menjemput Saga, itu adalah kabar dari Angga yang dikirimi pesan oleh Saga. Saga menyuruh kalau Angga tetap berada diparkiran saat itu, padahal saat itu Angga sudah melambaikan tangannya kepada Saga diparkiran berharap Saga melihat dirinya. Angga terdiam sejenak melihat kalau gadis yang ada disamping Saga tidak sama sekali dirinya kenal. Angga berusaha akan menghubungi Saga, tapi dirinya terlebih dahulu menemukan pesan yang dikirim oleh Saga yang berisikan kalau dirinya disuruh menunggu diparkiran. Angga kembali duduk didalam mobilnya.
"Aku bawa mobil kok! aku anter mas Saga pulang aja yuk" ajak Lisa yang ternyata membawa mobil saat itu. Saga yang tadinya ingin jauh dari Lisa dibuatnya pusing karena kejebak dalam perkataannya sendiri.
"Aku aku lagi ada urusan didepan hotel itu. Ada klien penting yang harus aku temui" Saga menemukan ide untuk menghindari pulang bersama Lisa malam itu.
"Ya kamu mening langsung pulang saja" lanjut Saga mendorong tubuh Lisa agar bergerak menuju mobilnya dan meninggalkan dirinya sendirian.
"Yakin mas Saga" tanya Lisa lagi
"Sejuta yakin" sahut Saga dengan senyum lebar.
Lisa melangkah berjalan menuruni tangga, saat dirinya menuruni anak tangga yang pertama Lisa berbalik lagi kearah Saga dan mendekat untuk mencium pipi dari Saga namun Saga dengan cepat menghindar dan berkata "No, gak pakai beginian"
__ADS_1
Lisa merasa kesal dan agak jengkel, namun dirinya tetap menyukai Saga karena satu hal yaitu Saga pria yang tidak gampang ditakhlukkan.
Lisa berbalik arah lagi menuju mobilnya yang berada diparkiran. Saga segera melangkah menuju mobil Angga setelah melihat mobil dari Lisa menghilang dari pandangannya. Saga yang sudah berada dimobil Angga berusaha menenangkan dirinya.
"Itu siapa Sag?" tanya Angga yang penasaran kepada temannya bukannya ketemuan sama gadis pujaannya malah bertemu sama wanita lain yang tidak Angga kenal.
"Ya udah jalan aja dulu, nanti dijalan aku ceritain" pinta Saga agar temannya menggerakkan mobilnya agar segera pergi dari kawasan restauran malam itu.
Angga menghidupkan mesin mobil dan menggerakkan mobilnya sesuai permintaan Saga yang terlihat kebingungan.
"Aku bingung" Saga memulai pembicaraan didalam mobil dengan Angga yang sudah dari tadi berharap kalau temannya itu bercerita dengannya.
"Kenapa? dan gadis itu siapa? " tanya Angga sambil melihat Saga dispion depan mobilnya.
Saga menceritakan kejadian dari awal sampai akhir yang dia alami malam itu kepada Angga. Angga yang mendengar cerita dari Saga bukannya merasa kasihan malah tertawa tanpa bisa mengontrol rasa ingin tertawanya.
Saga menendang belakang kursi mobil yang sedang diduduki angga "Ngapain lu ketawa? dipikir lucu apa!"
"Ya habisan lu, aku udah bilangin untuk cari informasi yang lebih dulu tentang silsilah keluarga Bramanto malah bilang gak usah" kata Angga masih sambil tertawa dan mengingatkan Saga tentang suruhan Angga waktu itu.
"Sekarang udah kayak gini baru mikir" imbuh Angga yang juga merasa kalau sagaa itu teman sekaligus bos yang sedikit agak tulalit.
"Aku kira semua yang aku denger dari Pak Wijaya dan yang aku denger dari cerita kamu itu sudah benar" kata Saga terdengar penuh penyesalan akan kepercayaan yang tidak sebelumnya menyelidiki terlebih dahulu.
"Sejak kapan kamu gak percaya yang namanya data. Dari dulu kamu selalu selidiki terlebih dahulu atau minimal cari info dulu" Angga mempertanyakan kemana Saga yang dulu dia kenal yang semuanya selalu diselidiki terlebih dahulu.
__ADS_1