AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Pertolongan


__ADS_3

Saga yang sudah berhasil berjalan dengan susah payah ke sebelah kiri gedung membuka matanya karena sudah tak ada orang yang ada diarea sana. Saga segera berlari sambil terus memanggil nama istrinya agar mendapatkan jawaban dari Juni.


"Juni,,, " teriak Saga panik.


"Juni" panggil Saga lagi dengan matanya terus menoleh kiri dan kanan. Saga sampai disebuah lorong yang memang jarang dikunjungi orang, yang datang kesana mungkin hanya beberapa dari karyawan supermarket. Saga berjalan cepat.


Saga menyusuri lorong dengan tetap khawatir akan keadaan Juni. Saga sampai pada sebuah ruangan pendingin yang tertutup, pintu ruangan tertutup hanya dengan sebuah balok kayu yang mengganjal gagang pintu. Saga menggedor- gedor pintu sambil terus berteriak menyebut nama Juni berharap ada sahutan dari dalam ruang pendingin yang Saga sangat yakini kalau Juni ada didalam sana.


Saga mengambil balok kayu yang menjadi ganjalan pintu, lalu segera balok kayu itu dia lempar kesembarang tempat. Dia segera membuka pintu dan sangat kagetnya dia menemukan sosok orang yang dia cintai sedang tergeletak dilantai dengan dipenuhi bunga es disekujur tubuhnya.


"Juni" teriak Saga sambil berlari mendekat kearah Juni. Saga menghampiri tubuh Juni dan segera membersihkan bunga es yang memenuhi tubuh Juni. Saga memegang tangannya, tangan Juni terasa sangat begitu dingin hingga tak terasa seperti tangan manusia biasa. Tangan Juni sudah seperti tangan manusia es. Juni sudah tak sadar saat Saga memegang tubuhnya. Tubuhnya dingin, membeku. Bibirnya biru. sudah tampak seperti tidak ada tanda kehidupan di diri Juni.


Saga menggerakan tangannya dan menyentuh area leher Juni untuk mengetahui denyut jantungnya apakah masih ada atau tidak. Namun tak dia rasakan denyut jantung Juni disana. Saga kembali mengerakkan tangannya dan menyentuh hidung Juni namun lagi -lagi hembusan nafas dari Juni tak terasa oleh tangannya.


Ketakutan akan kehilangan Juni sudah Saga rasakan dan terasa sangat menakutkan. Saga segera memberikan CPR dan sesekali menekan-nekan dada Juni beberapa kali namun tak ada respon detak jantung yang berdetak dan tak ada hembusan nafas yang Saga rasakan.


"Tidak,, tidak,,tidak" kata Saga berteriak.


"Bangun yank" kata Saga lagi dengan terus melakukan CPR pada tubuh Juni.


"Bangun yank,,, kamu boleh benci sama aku, kamu boleh mukul aku karena udah bohongin kamu. Kamu boleh tampar aku, pukul aku sesuka kamu tapi aku mohon jangan tinggalin aku" kata Saga.


"Aku salah,,, aku ngaku salah tapi Tuhan jangan hukum aku dengan cara kehilangan dia" pinta Saga lagi.


Saga terus mengulangi hal itu hingga denyut jantung Juni mulai terlihat namun sangat lemah. Merasakan hal itu saga berhenti melakukan CPR.


"Juni bangun sekarang atau aku bakalan marah sama kamu" teriak lagi Saga, kali ini Saga berusaha menggoyang- goyangkan tubuh Juni agar Juni bangun dan mengusap-usap telapak tangan Juni agar hangat. Pikir Saga, Juni harus mendapatkan pertolongan medis saat itu. Saga ketakutan jika Juni tak segera dibawa ketempat yang jauh lebih baik, Juni tidak akan mungkin bisa tertolong.


Dengan cepat tangan Saga sudah mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Angga. Namun baru akan dia mau menghubungi Angga sinyal dalam ponselnya tak ada.


"Ahhh" Saga berteriak dan menaruh pinselnya di saku celananya. Saga akhirnya membopong tubuh Juni sendirian dan berniat akan membawa Juni keklinik. Tanpa pikir panjang Saga yang sudah berhasil membopong tubuh Juni berlari menuju klinik yang juga ada dilantai satu.

__ADS_1


"Tuhan aku mohon tolong dia," ucap Saga sambil terus berlari membopong Juni ditangannya. Saga berlari menerobos pengunjung yang penasaran dengan apa yang telah terjadi.


"Kenapa itu mas,,,. pingsan ya...?" tanya salah seorang pengunjung yang melihat Saga berlari sambil membopong Juni. Saga fokus membawa tubuh Juni ke klinik hingga tak merespon pertanyaan dari seorang pengunjung.


Semua pengunjung melihat Saga membawa wanita dengan sangat terlihat pucat, khawatir, sedih. Semua perasaan hati Saga bercampur jadi satu.


Saga berlari dan sampai diklinik yang belum resmi dibuka. Namun klinik yang baru dia bangun itu sudah beroperasi sejak seminggu yang lalu.


"Dokter" teriak Saga dengan masih membopong Juni. Dokter wanita yang saaga ajak bicara sedang berusaha menutup pintu klinik karena memang sudah waktunya menutup klinik. Dokter yang mengetahui kalau pemilik gedung dan tempat klinik yang memperkerjakannya datang ke klinik langsung kaget.


"Oohh... Pak Saga. Ada apa Pak?" tanya Dokter.


"Ini dokter,, dia terkurung diruang pendingin" ucap Saga. Dokter yang mendengar perkataan Saga segera membuka lagi pintu ruangan kliniknya dan segera berkata kepada Saga "Tolong bawa dia masuk Pak segera" kata Dokter.


Saga masuk kedalam ruangan dan masih merasa sangat khawatir tentang keadaan Juni yang masih saja sama seperti pertama dirinya menemukan Juni tergeletak dilantai.


"Tolong tidurkan dia diranjang Pak, agar bisa saya tanganin" pinta Dokter.


Saga segera membaringkan Juni diranjang agar Dokter yang bernama Mila segera memeriksa tubuh Juni.


"Aku gak tahu dokter, kejadiannya seperti apa aku gak tahu yang jelas aku menemukan tubuhnya di ruang pendingin yang sudah tertutup. Aku mohon dokter selamatkan dia. Dia itu segala- galanya bagiku" kata Saga yang melihat dokter Mila sudah memerikasa detak jantung Juni dan pupil mata Juni dengan alat medis.


"Ini siapa bapak? " tanya Dokter Mila.


"Istri aku Dokter" jawab cepat Saga kepada dokter Mila.


"Oooh,, sukurlah kalau begitu. Perawat disini sudah pulang Pak, jadi mohon bantu saya buka semua baju istri bapak" kata Dokter.


"Buka baju" kata Saga kaget.


"Iya buka baju istri bapak, bajunya sudah basah seperti ini. Saya akan ambil kan oksigen dan infus" kata Dokter.

__ADS_1


"Iya dok" jawab singkat Saga. Saga yang ditinggal oleh Dokter Mila untuk mengambil oksigen dan cairan infus segera membuka baju Juni. Saga mengganti langsung baju Juni yang basah dan membiarkannya begitu saja. Saga duduk sambil memegang tangan Juni. Tangan Juni, Saga gosok gosok dengan tangannya agar.Juni merasa hangat.


Dokter yang datang membawa peralatan untuk membantu Juni kaget dan langsung berkata kepada Saga "Pak,, kenapa dibiarkan seperti itu, selimuti dia agar tubuhnya bisa hangat"


Saga segera menyelimuti tubuh Juni dengan selimut yang berlapis- lapis. Dokter Mila juga menyuruh Saga untuk mematikan Ac ruangan kamar pasien. Saga hanya bisa mengikuti perintah Dokter Mila karena dia sama sekali tak tahu apa yang harus dia lakuakan, ini pertama kalinya dia melihat ada manusia yang terkurung didalam ruangan pendingin.


"Maaf Pak Saga,,, anda bisa mundur sekarang biar saya lakukan sesuatu untuk istri anda" kata Dokter Mila. Sagapun kembali mengikuti perintah Dokter Mila.


Dokter Mila memberikan oksigen yang sudah dihangatkan dengan memasang selang dan masker ke area hidung dan mulut Juni agar pernapasan Juni tetap hangat.


Dokter Mila juga tak lupa memberikan infus yang berisikan larutan salin yang sudah dokter Mila hangatkan. Itu Dokter Mila lakukan agar rongga pernapasan dan rongga perut Juni terasa hangat.


Saga hanya bisa melihat Juni dengan perasaan sangat sedih. Baru tadi pagi dia melihat Juni dengan kondisi demam, namun sekarang dia juga melihat Juni dengan kondisi hipotermia. Dokter Mila yang sudah selesai memberikan pertolongan kepada Juni berdiri disamping Saga.


"Pertolongan sudah saya berikan Pak, sekarang kita tinggal tunggu dia sadar" kata Dokter.


"Dok,,, apa perlu kita bawa dia kerumah sakit" kata Saga.


"Sangat perlu Pak, namun kondisi diluar gedung dengan hujan deras dan jalanan yang sudah pasti macet akan memperburuk keadaannya jika dipaksakan pergi kerumah sakit" kata Dokter.


Saga juga menyadari kalau cuaca diluar gedung yang hujan masih turun deras dan sudah pasti dingin akan membuat Juni semakin terpuruk. Saga memutuskan untuk tak membawa Juni kerumah sakit dan tetap diurus oleh Dokter Mila. Dokter Mila juga dokter yang terkenal sangat pintar dan sudah mendapatkan piagam oleh beberapa dinas kesehatan karena berhasil menyembuhkan pasien dengan cara yang tidak biasa.


"Aku percaya sama Dokter,, aku mohon sama Dokter untuk menyelamatkan dia" kata Saga.


"Jangan pernah percaya sama manusia, kita harus tetap berdoa kepada Tuhan" kata Dokter Mila.


"Sekarang kita hanya bisa menunggu tubuh istri Bapak, hanya istri Bapak yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri" kata Dokter lagi.


"Iya Dokter,,, semoga dia bisa melewati semua dengan baik dan kembali sehat seperti biasa" kata Saga.


"Kalau begitu saya tinggal sebentar pak saga" kata Dokter Mila.

__ADS_1


"Makasi Dokter" kata Saga.


"Iya Pak" jawab Dokter sambil melangkah meninggalkan ruangan pasien Vip meninggalkan Juni dan suaminya yang masih ada diruangan. Ruangan kamar pasien yang Juni tempati tidak seperti kamar pasien pada umumnya diklinik tapi ruangan itu memang dikhususkan untuk pasien seperti Saga yang mendadak terkena sindrom phobiannya. Kamar dengan ranjang yang mewah, kamar dihiasi dengan warna dinding cream. Kamar sudah didisaine seperti rumah dan kamar pribadi yang membuat nyaman semua orang.


__ADS_2