
"Lepasin Om" teriak kasar Juni pada Saga sambil menggoyangkan kakinya yang dipegang Saga erat berharap Saga melepaskan pegangannya di kaki Juni.
"Aku beneran sayang sama kamu jadi tolong maafkan aku" ucap Saga lagi.
"Gak bisa, Om kira maafin orang gampang setelah membuat hati aku sakit. Dibohongi itu sakit Om" ucap lagi Juni sambil terus mencoba melepaskan kakinya dari Saga.
Saga merasa kalau bersikap seperti itu tidak akan membuat Juni redam dari kemarahannya.
Saga melepaskan kaki Juni.
Juni tanpa kata, setelah tahu kakinya dilepaskan sendiri oleh Saga segera melangkah berjalan akan meninggalkan Saga yang masih terduduk dibawah.
"Yank,,," kata Saga dengan nada suara yang agak sangar.
"Stop" imbuh Saga lagi sedikit berteriak.
Juni kembali menghentikan langkah kakinya setelah mendengar teriakan dari Saga.
"Apa lagi? " ucap Juni.
Saga berdiri dari duduknya ditanah dan membersihkan diri dari debu tanah yang menempel pada celananya.
"Aku udah bener-benar sangat bersikap halus sama kamu tapi kamu malah kayak gitu sama aku" ucap Saga.
"Uuuhh takut" kata Juni yang mendengar intonasi dan nada suara Saga yang berubah tegas namun dengan raut wajah mengolok "Terus,,,.Om mau apa dari aku?" tanya Juni.
Saga melangkahkan kakinya mendekatkan diri kepada Juni dan mencari posisi berdiri untuk berhadapan dengan Juni langsung sambil berkata "Kamu mau tahu, aku mau apa? " tanya balik Saga pada istrinya.
"Apa?" tanya Juni pendek.
"Aku mau ini" Saga berbicara sambil menunjukan pada Juni apa yang dia inginkan. Saga menunduk dihadapan Juni bukan untuk memohon lagi tapi malah meraih tubuh istrinya dan mengangkatnya serta meletakkannya dipundaknya.
Saga menggangkat tubuh Juni secara paksa dan akan membawa tubuh istrinya kedalam mobil miliknya yang ada diparkiran gedung belakang.
Juni hanya bisa meronta dan meminta Saga untuk melepaskan dan menurunkannya.
"Turunin aku,, Om" teriak Juni sambil terus meronta.
"Kamu minta diperlakukan kayak ginikan, aku suami kamu. Aku udah berusaha bersikap halus namun tetap aja kamu malah kayak istri gak baik" ucap Saga.
"Itu semua karena Om" balas jawab Juni.
"Iya tapi kalau aku gak cinta sama kamu, gak mungkin aku kayak gitu dan itu semua karena kamu gak bisa dideketin" ucap Saga lagi membalas perkataan Juni.
"Dasar Om itu lelaki egois" ucap Juni sambil terus meronta.
__ADS_1
"Biarin" jawab Saga. Juni terus berteriak minta dirinya dilepaskan Saga namun Saga tetap diam dan hanya fokus berjalan untuk mencari area parkiran gedung tempat mobilnya berada.
Setelah beberapa lama berjalan sambil menggendong Juni dipundaknya, Saga akhirnya sampai diparkiran biasa tempat mobilnya berada. Saga tanpa banyak kata membuka pintu mobilnya dan memasukkan Juni dimobilnya.
"Auuu sakit" teriak Juni yang merasa kakinya terbentur sesuatu didalam mobil saat Saga memperlakukannya seolah dirinya barang bukan manusia.
Juni memukul kursi tempatnya duduk sambil berkata "Bisa gak pelan-pelan, dasar kasar"
Saga tak sama sekali merespons perkataan yang keluar dari mulut Juni, dia hanya diam dan ingin segera pergi dari tempat itu agar tidak ada orang ataupun karyawan yang melihatnya sedang berkelahi atau lebih tepatnya dimarahi oleh seorang wanita yaitu Juni.
Saat akan kembali ke pintu sebelah tempat kemudi mobil berada, Juni kembali membuka pintu mobil dan berusaha akan kabur.
Juni berlari keluar dari mobil Saga.
Saga yang masih belum masuk kepintu kemudi segera berucap "Ok Jun,,, kalau kamu mau kabur silahkan. Tapi ingat saat mata aku gak lihat kamu lagi dihadapan aku, kontrak aku dan Ayah Bramanto akan benar- benar berakhir" setelah Saga selesai mengancam Juni, dia langsung masuk kedalam mobilnya dan duduk didepan kemudi mobil.
Juni yang sudah berlari dan mendengar perkataan Saga yang terdengar sebuah ancaman, menghentikan langkah kakinya.
Hanya beberapa detik dia berpikir dan akhirnya langkahnya kembali berbalik arah menuju mobil Saga.
Juni seakan sudah merasa kalau ada sebuah rantai yang mengikat lehernya yang membuat dirinya tak bisa pergi jauh dari majikannya. Majikannya yang bernama Saga yang membawa ujung rantai yang mengikatnya dengan sebuah ancaman terhadap ayahnya.
Saga melihat kalau Juni sudah mendekat lagi kearah mobilnya.
Saga merasa sedikit senang karena ancamannya kepada istrinya yang hanya sebuah ancaman berhasil membuat Juni kembali kearahnya.
Ancaman itu hanya berlaku pada saat ingin menakuti Juni saja.
Juni yang sudah mendekat ke mobil Saga berusaha dengan keras membuka pintu mobil yang dikunci oleh Saga. Tapi usaha itu tak berhasil, Saga tak lantas membuka pintu mobil yang terkunci dari dalam oleh Saga sendiri.
"Tok,, tok,,, tok" suara pintu kaca yang diketok oleh Juni.
Saga menekan tombol agar pintu kaca mobil yang diketok Juni terbuka sedikit.
"Kenapa? mau apa? gak jadi kabur? kabur gich!" ucap Saga. Juni hanya terdiam tanpa kata, namun dalam hatinya sudah sangat jelas kalau dirinya sangat marah dengan tingkah suaminya itu.
"Buka" kata Juni.
"Apa? gak denger" jawab Saga.
"Buka Om" pinta Juni sedikit keras.
"Dimana-mana orang meminta itu dengan halus" ucap Saga.
"Aku minta tolong Om. Buka pintu mobilnya. Puas" ucap Juni.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Saga tertawa puas dan segera menekan tombol agar pintu mobilnya terbuka. Dengan cepat Juni masuk kedalam mobil dan duduk disamping Saga.
"Nah gitu kan manis sayang" ucap Saga mengolok Juni kembali. Juni tak melihat wajah Saga, dia malah membuang wajahnya kearah luar pintu mobil.
Di Dalam perjalan Saga yang akan membawa kembali Juni pulang, Saga melihat Juni yang masih terdiam tanpa menjawab perkataannya.
Mereka terdiam berdua didalam mobil, terasa sangat aneh buat Saga karena terakhir mereka didalam mobil adalah saat mereka sedang bermesraan.
Saga kembali memanggil Juni untuk bertanya tentang rasa penasarannya.
"Jun,,, tadi malam kenapa kamu bisa berada didalam ruang pendingin yang tertutup dari luar?" tanya Saga.
Juni masih tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan Saga padanya. Juni tetap diam tanpa ada suara.
"Jun,, kamu gak mau jawab" ucap Saga.
"Peduli apa Om tentang aku" kata Juni.
"Jelas pedulilah,,,. kamu itu istri aku dan siapapun yang nyakiti istri aku dengan sengaja sudah pasti akan berurusan dengan aku, suaminya" ungkap Saga.
"Hah" Juni kembali tersenyum sinis mendengar kalimat yang terucap dari Saga sembari memalingkan lagi wajahnya kearah luar pintu mobil.
"Belajar jujur aja dulu Om" imbuh lagi Juni.
"Ok. Kalau kamu gak jujur gak masalah bagi aku, tapi kamu harus tahu kalau aku udah mau tahu semua bisa aku lakukan" ucap Saga.
Mendengar perkataan Saga, Juni sedikit agak takut kalau nanti Saga tahu kejadian yang sebenarnya kenapa dirinya bisa berakhir didalam pendingin.
Juni seakan merasa sedang bimbang, disatu pihak dia harus bilang kalau Lisa yang menjadi dalang dirinya terkurung bagai es disana, tapi dipihak lain dia juga harus menjaga Lisa karena jika Saga sampai tahu entah apa yang akan Saga perbuat kepada Lisa yang tentu saja akan berimbas dengan kedua orang tuanya.
Juni bukan ingin melindungi Lisa tapi lebih kepada ingin melindungi perasaan kedua orang tuanya yang kembali lagi tak tahu menahu dengan perbuatan Lisa.
"Kok diem Jun? " tanya kembali lagi Saga.
"Kamu mau aku tahu sendiri atau kamu jujur sama aku sekarang, apa yang terjadi semalam?" Kali ini Saga berbicara agak tegas dengan menatap mata Juni langsung yang saat itu juga melihat Saga dengan perasaan ragu ingin menjawab apa dengan pertanyaan Saga.
"Ok,,, aku jawab" kata Juni
"Aku nyasar" imbuh Juni.
"Nyasar? kok bisa?" tanya lagi Saga.
"Bisalah,,, namanya juga nyasar" jawab Juni.
"Terus pintu bisa seolah dikunci dari luar, kenapa bisa begitu?" tanya lagi Saga.
__ADS_1
"Kalau itu semua gegara kebohongan Om, Om bohongin aku dan aku cuman nyari tempat sepi buat nangis alhasil aku malah terkunci disana. Makasi udah bohong dan aku juga gak bakalan maafin Om" ucap Juni yang membuat Saga merasa bersalah dan tak lagi menggubris rasa penasarannya pada kejadian yang menimpa Juni.