AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Taman Kecil


__ADS_3

Juni melangkah melewati taman kecil yang ada dibelakang rumah. Taman dengan sebuah pemandangan malam yang sangat indah.


"Kita udah nyampe Non, " kata bibik yang sudah mengantar Juni hingga sampai ditujuan yang sudah Saga intruksikan, sambil berbalik melihat arah Juni yang tepat ada dibelakangnya.


Juni sedari tadi melihat arah depannya, dia mendapati Saga sudah berdiri sambil menyambut dirinya dengan senyuman hangat. Saga berdiri didekat meja makan, meja makan yang sudah terlihat sudah dipersiapkan dengan warna putih yang mendominasi. Meja makan dengan semua terlihat sangat romantis. Kursinya, piring putih yang tertata rapi, lilin dua pasang yang menyala dengan hanya ada sebuah vas bunga yang dihiasi mawar merah.


Sebotol wine merah serta dua gelas yang masih kosong dimasing-masing tempat sebelah piring berada. Tidak jauh dari meja sudah ada seorang cheff yang menyibukkan diri memanggang stick daging malam itu. Ada sebuah piano yang juga sudah dimainkan oleh seseorang untuk menyempurnakan acara makan malam yang sudah Saga rencanakan. Seperti bayangan Juni itu adalah makan malam yang sudah pasti untuk mereka berdua.


Juni melangkah lagi, sesuatu yang sangat membuatnya tercengang ditengah pantai dengan kondisi ombak yang tenang ada beberapa lilin kecil yang dinyalakan dan dilepas ketengah pantai. Lilin yang membentuk simbol jantung walaupun tidak terlalu terlihat sekali gambar jantungnya, itu sudah pasti karena pergerakan air pantai juga yang membuat simbol itu tak terlihat jelas namun Juni masih bisa melihat simbol itu dengan matanya.


Semua hal yang malam itu Juni lihat adalah makan malam teromantis yang dipersiapkan untuknya. Sebetulnya dia juga tidak pernah makan malam dengan seorang pria. Saga berhasil membuat sesuatu yang paling romantis dihidup Juni. Pikir Juni hanya satu hal yang membuat kesempurnaan makan malam itu menjadi kurang yaitu ada Saga yang menjadi pasangan makan malamnya. Saga mendekat kearah Juni


Dia menoleh kepada bibik yang juga ikut mengantar Juni.


"Bik Tika, makasi sudah antar Juni kesini" hal pertama yang Saga katakan adalah ucapan terimakasinya kepada Bibik yang menuntun Juni. Saga memegang kedua tangan bibik itu, sontak disana Juni kaget melihat kedekatan seorang Saga dengan bibik yang Saga panggil Bik Tika.


Melihat Juni sedikit penasaran Bik Tika menjelaskan dirinya adalah pengasuh dari Saga kecil dipanti asuhan. Dirinya baru balik kerumah Saga setelah sudah hampir dua bualanan cuti.


"Maaf Non, Bik Tika harus berbohong tadi dengan berkata akan mendapatkan hukuman dari Saga. Kalau tidak berhasil membawa Non kesini" kata Bik Tika menjelaskan.


"Pantes saja deket begitu! pengasuh sama yang diasuh sama-sama licik" kata Juni dalam hati merasa dirinya dibohongi. Tapi karena Juni melihat umur Bibik Tika yang sudah terlihat seperti ibunya dia berpikir untuk membiarkan saja dirinya dibohongi.


"Ya udahlah Bik, lupakan saja. Lagian bibik bohong juga sudah pasti karena dia" menunjuk arah Saga yang terus tersenyum melihatnya.


"Bukan non, Den Saga gak tahu apa-apa. Diakan cinta sama Non jadi gak mungkin dia seperti itu" kata Bibik Tika menjelaskan kalau Saga tak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Belum tahu saja" dalam hati Juni berkata dengan sinis. Juni hanya mengangguk mendengar pembicaraan Bik Tika.


"Den,, bibik balik lagi ke rumah disini dingin" kata Bik Tika


"Iya bik" Saga mengiyakan.


Bik Tika mempererat jaket yang dia pakai saat itu dan melangkah meninggalkan Saga dan Juni setelah sebelumnya dirinya berpamitan kepada dua orang anak muda dengan maksud tidak mengganggu acara yang sudah Saga siapkan dari sore tadi.


Saga mendekati Juni lagi dan mengulurkan telapak tangannya yang sudah terbuka dengan niat agar Juni menggapai tangannya. Juni tak sama sekali mau menuruti apa yang Saga lakukan, walaupun dirinya sudah tahu maksud dari kode yang Saga berikan.


Karena tak kunjung tangannya digapai oleh Juni, Saga melirikkan mata kearah tangannya agar Juni menggapainya sambil memanggil nama Juni "Juni" dengan suara sangat pelan.


Juni melangkah melewati tangan yang sudah Saga sodorkan "Aku bisa jalan sendiri " kata Juni mengabaikan keinginan Saga lagi hanya untuk mau digenggam tangannya. Saga hanya bersabar lagi dalam hati, sangat tidak mudah untuk dirinya benar- benar ingin dekat dengan Juni. Juni yang sudah melangkah menuju meja makan yang sudah Saga persiapkan.


Saga berjalan menyusul Juni dan terlebih dahulu berusaha berjalan didepan Juni untuk menggeserkan kursi yang akan Juni tempati. Juni menghentikan langkahnya memperhatikan apa yang akan Saga lakukan lagi, ia melihat kursi yang akan dia tuju sudah digeserkan Saga agar dirinya duduk disana. Melihat itu, bukannya juni melangkah lagi meneruskan langkahnya menuju kursi yang sudah Saga geserkan untuknya Juni malah berbelok arah duduk di kursi yang berada di depan kursi yang sudah Saga geserkan.


Juni sudah sangat menginginkan hal romantis seperti itu namun tidak juga dengan pasangan yang ada didepannya.


"Gimana yank? kamu suka?" kata Saga bertanya.


"Biasa aja! " jawab Juni padahal dalam hatinya makan malam itu sudah termasuk hal teromantis. yang pernah dilakuakan seorang pria padanya.


"Aku harap kamu suka" jawab lagi Saga.


Saga berikan kode kepada cheeef untuk segera menghidangkan makanan malam. Selain Juni dan Saga hanya ada dua orang lagi yang ada disana. Seorang cheff yang merangkap sekaligus pelayan yang menghidangkan makanan dan seorang lagi yang sedang memainkan piano memainkan musik romantis yang sudah Saga pesankan.

__ADS_1


Cheff menuangkan anggur merah digelas Saga. Dan untuk Juni cheff hanya menuangkan minuman yang berwarna merah namun itu bukan anggur merah hanya minuman biasa. Cheff menghidangkan makanan pembuka dimasing-masing piring putih yang masih kosong.


"Juni" panggil Saga agar Juni menatap kearah depannya yang sudah ada Saga disana.


Lagi-lagi Juni tidak menjawab panggilan Saga, jangankan untuk melihat untuk menoleh sosok Saga saja tidak. Juni langsung saja menyantap makanan pembuka yang sudah disiapkan dipiring putihnya tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Juni, kamu suka?" taya lagi Saga yang terus saja berbicara walaupun tak direspon oleh Juni.


"Gini doang, aku mach udah biasa Om" kata Juni jutek tak memperlihatkan rasa terimakasinya karena sudah dipersiapkan acara romantis seperti ini. Dalam hati Juni, ini adalah hal yang sudah dia impikan tapi dirinya seakan tak mau menghargai siapa yang sudah mempersiapkan itu untuknya.


"Ini aku, siapkan semua untuk kamu Jun, " kata. Saga


"Aku gak minta Om" hanya kalimat itu yang terdengar dari mulut Juni.


Saga berdiri dan menghampiri Juni yang sedang duduk didepannya.


"Om mau apa?" tanya Juni yang melihat Saga mendekat kearahnya.


Saga duduk bersimpuh didepan kursi Juni,


"Eeeeeeh, Om mau apa?" dengan memundurkan badannya kearah belakang menjauh dari Saga sehingga kursi Juni bergerak kebelakang dan Juni saat itu akan terjatuh karena kursi yang tiba- tiba saja tak seimbang. Saga sontak memegang tangan Juni agar Juni tidak ikutan jatuh kebelakang.


"Opppss" kata Saga yang sudah berhasil memegang tangan Juni dan menariknya pelan agar dia tak jatuh berbarengan dengan kursinya.


"Om ini apaan sich megang-megang? lepas,, lepas" kata Juni yang malah marah melihat tangannya dipegang lagi oleh Saga tanpa mengucapkan terimakasi karena sudah menyelamatkannya jatuh dari duduknya.

__ADS_1


"Juni, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan tadi siang sama kamu digedung" kata Saga


"Aku gak ada maksud buat seperti itu sama kamu" lanjut imbuh Saga.


__ADS_2