
Juni menikmati malam itu sendiri, dengan angin pantai yang dingin menyapu seluruh badannya. Untuk menghangatkan tubuhnya, ia menenggak minuman dari gelasnya yang dia kira anggur merah.
"Burrrrrrrrrrr" bunyi semburan minuman biasa yang Juni kira wine merah.
"Cheef, apa ini?" tanya Juni
"Kok rasanya kayak gini" lanjut imbuh Juni
"Itu minuman biasa nyonyah, bukan minuman beralkohol" kata cheff
"Beda sama yang cheff tuangkan ke gelas Saga?" tanya Juni
"Beda nyonyah, Tuan saga memang mintanya begitu untuk anda. Hanya disuruh menuangkan minuman biasa saja" kata cheff
"Kurang ajar memang tu Om-om, enak aja dia mimum minuman mewah terus aku cuman disuguhin minuman biasa" kata Juni.
Juni merasa sangat kesal akan intruksi Saga kepada cheef malam itu.
"Mas, " Juni melambaikan tangan kepada pemain piano yang sedang asik memainkan lagu.
"Iya nyonyah " jawab pemain piano sambil menghentikan permaianannya dan menoleh kearah Juni.
"Main pianonya cukup segitu ajalah mas, mas boleh istirahat lagian si Saga udah gak disini." kata Juni menghentikan pemain piano.
Juni juga menoleh cheef malam itu dan sama seperti yang dia lakukan kepada pemain piano. Juni juga menyuruh cheef malam itu untuk tidak lagi melayaninya karena makan malam juga sudah selesai saat saga meninggalkannya disana sendirian.
"Cheef,, aku bisa ngambil sendiri makanannya nanti" kata Juni
"Kalian sudah bisa pergi istirahat kok,," lanjut imbuh Juni.
Kedua orang itu akhirnya menghentikan segala sesuatu yang mereka lakukan dan berpamitan kepada Juni untuk pergi meningglkan Juni sesuai perintah yang Juni inginkan.
Juni masih duduk dikursi dan menyantap hidangan yang masih ada dipiringnya.
"Si Om gak tahu orang butuh isttirahat, udah malam gini masih aja ngerepotin orang buat acara makan malam gak penting kayak gini" Juni terus saja menyantap makanan sambil sesekali mengguman.
__ADS_1
Dipantai hanya tinggal Juni seorang diri yang terus saja menikmati kesendiriannya ditengah malam. Dia merasa sangat senang dan bebas. Juni memang sangat suka dengan pantai, berada di dekat pantai membuat dirinya terasa sangat tenang apalagi jika dirinya benar-benar sendiri. Juni yang sudah menghabiskan hidangan dipiringnya mengambil botol wine merah dan berjalan membawa botol wine untuk duduk didepan pantai sambil memandangi nyala lilin ditengah pantai. Juni sesekali menenggak minumnya langsung dari botol tanpa menuangkannya digelas.
Hawa dingin malam itu tak lagi Juni rasakan ditubuhnya, tubuhnya terasa hangat setelah meminum botol yang berisikan minuman alkohol. Botol yang sudah Juni habiskan isi dalamnya dia buang sembarangan dengan cara dilempar begitu saja. Juni masih tak puas hanya meminum satu botol wine, dia mengambil lagi wine yang berada di box pendingin. Lagi- lagi Juni minum sampai dirinya benar-benar mabuk malam itu.
*
*
*
*
*
"Tok,,tok,, tok" suara pintu kamar Saga diketuk.
"Siapa?" tanya Saga yang sudah memilih untuk lebih baik berbaring diranjangnya.
"Ini Bik Tika den" kata Bik Tika dari arah luar kamar Saga.
"Oh iya bik, tunggu bentar" Saga bangun dari pembaringannya dan segera membukakan pintu untuk Bibik pengasuhnya. Saga menemukan wajah Bibik yang sudah mengasuhnya dari sejak kecil.
"Begini den, tadi cheff sama pemain piano berpamitan sama bibik, katanya mereka sudah disuruh pulang sama non Juni" kata Bik Tika.
"Terus Juninya mana sekarang? " tanya Saga
"Kata mereka masih ada dipantai den" kata Bik Tika.
"Ngapain dia disana sendirian? " tanya Saga
"Kurang tahu den, apa sebaiknya den Saga langsung cari non Juni saja kesana" kata Bik Tika memberikan arahan agar Saga menyusul istrinya yang sendirian dipantai.
"Gak usah lah bik, biarin ajalah" kata Saga
"Beneran den, dibiarkan saja atau perlu Bibik yang kesana menyusul non Juni" kata Bik Tika.
__ADS_1
"Gak perlu lah bik, nanti kalau dia terlalu lama dipantai aku pasti kesana nyusulin" kata Saga
"Bibik istrirahat aja, udah malam soalnya" lanjut imbuh Saga.
"Iya den" kata Bik Tika. Bik Tika akhirnya berbalik badan dan meninggalakan Saga untuk istrirahat ke kamarnya.
Saga menutup kembali pintu kamarnya dan segera duduk dikasurnya. Dia masih memikirkan perkatan Bik Tika yang menyebutkan kalau Juni sedang sendirian dipantai. Saga masih menimbang apakah dia akan menyusul Juni atau malah membiarkan Juni datang sendiri kekamarnya.
Lama saga memikirkannya dan akhirnya rasa khawatirnya lebih besar dari kekesalannya malam itu terhadap Juni. Saga akhirnya menyusul Juni yang masih dipantai. Saga tiba dipantai dan menghentikan langkahnya mendekati Juni yang masih duduk seakan menikmati pasir pantai malam itu.
Merasa kalau Juni baik-baik saja, Saga memilih untuk memperhatikan Juni hanya dari jauh. Setelah lama memperhatikan Juni dari jauh rasa khawatir Saga mulai muncul setelah melihat tingkah laku Juni dari kejauhan sudah terlihat aneh. Juni mulai berteriak menyebut namanya. dengan disertai makian yang sudah pasti Saga dengar sendiri. Juni mulai berdiri dan berteriak didepan pantai sambil meminum botol wine yang ada ditangannya. Melihat itu Kekawatiran Saga hanya takut kalau-kalau Juni mabuk dan tak sadar berjalan kearah pantai. Saga yang sudah melihat gelagat Juni yang mabuk langsung berlari menghentikan Juni yang akan melangkah kearah bibir pantai.
"Juni" Saga berlari mendekati Juni sambil berteriak memanggil nama istrinya. Juni tak mendengar teriakan Saga, caci makian dirinya untuk saga terus saja terlontar.
"Stop Juni, kamu mau apa kesana?" Saga memegang pundak Juni untuk menghentikan langkah Juni yang akan mendekati bibir pantai.
"Ooooo ini si om cabul" Juni sudah mulai berjalan sempoyongan didepan Saga.
"Ayo kita pulang kamu sudah mabuk" kata Saga
"Lepasin dasar om cabul" kata Juni
"Siapa yang mabuk" lanjut imbuh Juni sambil menepis tangan Saga agar tak memegang pundaknya lagi.
"Ya udah kamu gak mabuk, kita balik yuk kerumah" kata Saga memperhalus suaranya.
"Aku tuch gak suka om kalau lagi ngomong" kata Juni yang tiba-tiba melontarkan perkatan seperti itu kepada Saga.
"Aku gak suka om kalau lagi sok romantis"
"Aku gak suka om kalau bersikap hangat sama aku. Intinya aku gak suka semua yang ada disini" lanjut imbuh Juni sambil menunjuk dada Saga seakan menyatakan kalau Juni tak suka semua yang ada diisi hatinya Saga.
"Kamu mabuk Juni, sini aku antar kamu balik kerumah kita" kata Saga sambil memapah Juni agar melangkah kearah kediaman mereka bukan kearah sebaliknya saat Juni ingin melangkah menuju pantai.
"Aku gak mabuk" kata Juni sambil mendekatkan wajahnya kearah wajah Saga, dan itu sontak membuat Saga tak bisa bergerak karena kaget tiba-tiba Juni sudah mendekatkan wajahnya kearah wajah Saga "Om bisa cium, gak ada bau minuman?" kata Juni
__ADS_1
"Iya aku percaya, kamu gak mabuk kita pulang yuk! " ajak Saga pelan.
"Aku gak mau pulang, disini itu indah banget" Juni berteriak lagi kali ini diikuti dengan tarian khas orang mabuk didepan Saga. Juni menari sambil memutar-mutarkan badannya.