AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Mendadak


__ADS_3

Malam itu pembicaran antara kedua pasangan itu terus berlanjut. Terkadang Saga hanya bisa tersenyum mendengarkan Juni menceritakan dirinya disekolah. Saga hanya melihat, menatap, mendengarkan Juni dengan penuh senyuman merasa senang karena tidak percaya, dirinya dan Juni akan sedekat itu.


"Yank, kamu gak belajar katanya besok mau ulangan" tanya Saga.


"Gak Om,,, besok ulangannya gampang kok" kata Juni. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Saga kalau sebenarnya itu hanya alasan karena Juni sedikit takut kalau saat Saga pulang, malah diikuti dan digoda lagi oleh kakaknya. Dia masih percaya kalau suaminya tak akan segampang itu dirayu oleh seorang gadis tapi pikirnya lagi seteguh-teguhnya lelaki pasti akan rapuh juga kalau sering digoda wanita apalagi itu kakaknya yang cantik.


"Ooo,, terus tadi dirumah ayah kenapa pakai alasan besok ulangan buat gak nginep disana?" tanya Saga.


"Gak ada apa-apa kok Om. Udah lupain aja gak usah tanyak itu lagi" kata Juni sambil mengajak Saga untuk tak mau membahas itu.


"Ya udah kita tidur yuk" kata Saga.


"Om gak ganti baju dulu? " tanya Juni.


"Aku dah ngantuk berat yank" jawab Saga


"Kamu kalau mau ganti baju, ganti aja dulu, aku tunggu disini" lanjut imbuh Saga


"Gak usah jugalah Om, aku juga udah lelah banget" jawab Juni.


"Ya udah tidur yuk!" Saga mengeratkan pelukannya pada tubuh Juni malam itu


Mereka mengakhiri pembicaraan mereka diranjang dan segera bergegas untuk memejamkan matanya. Malam yang dingin membuat mereka cepat terpejam.


z


z


z


z


z


Keesokan harinya matahari yang mulai beranjak menggerakkan sinarnya untuk membangunkan Saga dari tidurnya yang terasa sangat nyaman. Berbeda dengan Saga, Juni masih tertidur. Saga melihat Juni tertidur dengan posisi selimut menutupi semua tubuhnya dan hanya menyisakan bagian wajah. Saga yang melihat itu merasa sedikit aneh.


"Yank,, " panggil Saga berusaha membangunkan Juni dengan mengguncang pelan pundak Juni.


"Hmmmmm" Juni menjawab panggilan Saga dengan hanya erangan dari mulutnya.


"Kamu gak mandi yank? udah siang nich" tanya Saga.


"Bentar lagi Om, Om aja yang duluan mandi. Biarin aku tidur lagi bentar aja" jawab Juni yang bersuara pelan dan lemah.


"Ya udah yank... aku mandi dulu ya" kata Saga masih tak menyadari sesuatu yang janggal dengan istrinya.


"Hmmmmmm" jawab lagi Juni.


Saga melihat lagi Juni yang masih ada disampingnya dan segera bergegas kekamar mandi untuk hari ini bekerja ke kantor. Sekitar 30 menitan Saga sudah kembali lagi mendekati istrinya yang masih terbaring dengan menutup semua tubuhnya dengan selimut. Saga yang sudah berpakaian lengkap dengan jasnya mendekat dan duduk lagi disamping Juni.


"Yank gak sekolah? " tanya Saga lagi. Pertanyaan Saga tak dijawab oleh Juni. Saga membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya dan mendapati tangan Juni sudah memeluk tubuhnya sendiri. Juni menggigil. Saga kaget merasakan ada sesuatu yang salah dengan istrinya.


"Yank" panggil Saga dan kali ini Juni menjawab panggilan Saga padanya dengan suara bergetar dan sedikit parau.


"Kamu kenapa?" tanya Saga.


"Dingin Om" jawab Juni.


Saga meraih kening Juni dan memeriksa kening Juni dengan menempelkan telapak tangannya didahi Juni dan begitu terkejutnya seorang Saga mendapati dahi Juni sangat panas, namun yang Juni rasakan malah kedinginan.


"Kamu kenapa gak bilang yank lagi sakit" kata Saga dengan langsung menyelumuti lagi istrinya dengan selimut

__ADS_1


Saga yang panik langsung keluar kamar dan memanggil Bik Tika dari atas kamarnya dengan berteriak.


Bik Tika yang kebetulan ada dilantai bawah sedang melihat pelayan menyiapkan makanan untuk sarapan Saga dan Juni langsung menoleh kearah dimana Saga berada.


"Iya Den, ada apa? " tanya Bik Tika yang juga menoleh keatas berbicara dengan Saga.


"Bik, aku minta tolong suruh pelayan ngambilin air hangat " kata Saga.


"Buat apa Den? " tanya Bik Tika.


"Buat kompres Bik, si Juni kayaknya lagi demam" jawab Saga.


"Iya Den, tunggu bibik siapkan" jawab Bik Tika yang segera berjalan menghilang dari pandangan Saga. Saga kembali lagi kedalam kamarnya menemui Juni yang masih tertidur.


Saga duduk tepat disamping Juni, pikirannya sedikit panik hingga lupa untuk menelepon dokter.


"Ooopps dokter" kata Saga mengingat harusnya dia menghubungi dokter terlebih dahulu.


Saga mengambil ponselnya dan baru saja akan mencari nomer ponsel dokter pribadinya, tiba-tiba tangannya sudah di hentikan oleh tangan Juni.


"Kenapa yank" tanya Saga.


"Gak usah manggil dokter Om, aku tidur aja udah bisa baikan" jata Juni.


"Tapi tetap aja harus periksa yank" kata Saga


"Gak usah Om, udah biasa kalau sakit memang harus dapet tidur, kalau udah tiduran ntar aja demamnya hilang" kata Juni.


"Om minta tolong ambilin ponsel aku dong" lanjut Juni. Saga mengingat kalau ponsel Juni ada ditasnya yang tadi malam satpam berikan kepada Bik Tika.


"Ntar dulu yank, aku ambil dibibik dulu" kata Saga yang beranjak dari duduknya.


Saat langkah kaki Saga akan menuju pintu, tiba-tiba pintu kamar sudah berbunyi ketokan tangan dari arah luar.


"Lah,, mau kemana Den Saga? " tanya Bik Tika kepada Saga. Bik Tika kemudian memberikan kode kedipan mata kepada pelayan perempuan agar menaruh baskom dimeja dalam kamar Saga.


"Mau nyari Biknya sebenarnya tapi karena udah kesini aku mau tanyak Bibik taruh mana tas yang tadi malam satpam kasih" kata Saga.


"Ohh tas itu, bibik taruh didalam kamar bibik" kata Bik Tika.


"Kenapa Den Saga nanyakin tas" lanjut berkata.


"Hmmm,, aku mau ambil ponselnya Juni,,, Juni minta ponselnya" jawab Saga.


"Ooh ya udah, nanti bibik ambilin, Den jaga istri aja disini" kata Bik Tika.


"Makasi bik" sahut Saga.


Bik Tika dan pelayan perempuan lalu meninggalkan kamar Saga dan Saga sendiri balik lagi kesamping Juni. Saga mengambil baskom kaca dan mengompres dahi Juni agar demamnya sedikit reda. Tangan saga sangat ulet mengompres dahi Juni. Sesekali Saga memijat tangan dan kaki Juni. Juni yang biasanya tinggal sendirian diapartemennya kalau merasa tidak enak badan akan lebih memilih untuk tidur, karena kalau dia sudah dapat tidur satu hari saja dia akan segera baikan tanpa harus perlu kedokter. Dan setelah menikah, di samping Saga dia sedikit merasa berbeda karena merasa sangat diperhatikan oleh sikap hangat Saga padanya.


Bik Tika kembali lagi kekamar Saga dan segera masuk kedalam kamar yang memang sengaja Saga tak tutup.


"Den saga" kata Bik Tika


"Ohh bibik,, tasnya mana bik? " tanya langsung Saga.


"Ini Den" Bik Tika mengulurkan tas yang Saga maksud. Saga segera membuka tas Juni dan mengambil ponsel Juni. Bik Tika kemudian memberitahukan kepada Saga kalau dilantai bawah sudah ditunggu sama Angga. Saga meminta tolong lagi kepada bik Tika agar nanti Angga disuruh masuk kelantai atas saja menemuinya. Saga juga tak lupa kalau-kalau ada apa-apa lagi yang ingin disampaikan Bik Tika agar lebih baik menyuruh orang lain untuk menyampaikan langsung pada dirinya yang berada dilantai atas. Pikir Saga dia merasa agak kasihan kepada bibiknya yng sudah tua jika harus turun naik tangga hanya untuk menyampaikan sesuatu yang bisa orang lain sampaikan kepadanya. Bik Tikapun mengiyakan perkataan Saga dan keluar dari kamar Saga setelah selesai dengan tugasnya.


"Yank ponsel kamu batrainya habis" kata Saga setelah berusaha menyalakan ponsel Juni.


"Hmmm" jawab Juni.

__ADS_1


"Yank, yakin kita gak panggil dokter buat periksa kamu " kata Saga lagi.


"Gak usah lah yank, aku cuman butuh isttirahat aja nanti pasti baikan." jawab Juni pelan dan lemah.


"Iya tapi nanti....... " belum habis perkataan Saga, Juni kembali meyakinkan Saga kalau dirinya hanya butuh istirahat saja


"Ya udahlah,, kalau kamu maunya kayak gini, aku temenin kamu deh dirumah" kata Saga.


"Om,, tambah ada Om disini malah bikin aku gak bisa istrirahat Om" kata Juni.


"Terus masak aku biarin kamu disini sendirian" kata Saga.


"Gak apa-apa, Om kerja aja" suruh Juni.


Dibelakang Saga sudah datang Angga, angga melihat Juni masih terbaring dengan kompres didahinya dan ditemani Saga yang masih duduk diranjang menemani Juni. Angga benar benar bangga pada sahabatnya karena bisa menjadi suami idaman buat Juni dan Angga masih sangat penasaran kenapa Juni bisa takluk dengan Saga. Apalagi melihat Juni menggenggam erat tangan Saga


"Juni sakit ya Sag,,,?" tanya Angga


"Iya ngga, " kata Saga.


"Udah panggil dokter? tanya Angga.


"Dia gak mau dipanggilin dokter, aku jadi bingung dibuatnya" kata Saga.


"Lah gimana sich! aku panggilin dokter Juni" kata Angga kepada Juni yang terbaring.


"Gak usah kak, aku cuman butuh isttirahat aja kok" jawab Juni.


"Mening kakak ajak Om berangkat kerja dan biarin aku istirahat dirumah" lanjut Juni berkata.


"Mana konsen suamimu kerja kalau istrinya sedang sakit dirumah " kata Angga menjawab Juni.


"Iya jun" sahut Saga.


"Pliseee Om, aku mau tidur. Kalau Om disini terus temenin aku.l, mana bisa aku tidur apalagi kalau di ajak ngobrol begini. kalau Om mau bantu mening bantu aku buat ngabarin pihak sekolah kalau aku gak masuk hari ini" kata Juni panjang lebar.


"Kalau cuman itu biar aku aja yang hubungi pihak sekolah," kata Angga.


Angga kemudian keluar kamar Saga dan segera menghubungi sekolah Juni untuk mengabari pihak sekolah kalau Juni tidak bisa sekolah hari ini karena dalam keadaan kurang sehat.


Saga yang masih berada didalam kamar akhirnya mengalah dengan kemauan Juni walapun Saga sangat berat harus meninggalkan Juni dalam keadaan sakit seperti ini.


"Ya udah yank,,, aku bakalan ikuti kemauan kamu tapi nanti aku bakalan suruh Bik Tika buat pantau perkembangan kamu. Aku juga bakalan terus cek keadaan kamu" kata Saga.


" Iya om,,, gich sana berangkat kerja kasihan kak Angga nungguin terus " kata Juni.


"Duh, kamu ini" sahut Saga.


"Ya udah aku berangkat kerja, nanti aku suruh pelayan buat siapin bubur buat kamu makan" lanjut Saga


"Ingat dimakan" imbuh Saga lagi


Saga keluar dari kamarnya setelah memberikan stempel cium dikening Juni dan sedikit mau ngelus pipi milik Juni yang terasa sangat panas. Dia tak tega harus meninggalkan Juni dalam keadaan itu namun karena Juni tetap bersikeras ingin seorang diri dan lebih baik kalau ditinggal agar bisa istirahat. Saga menemukan lagi point dalam diri Juni yang memang Juni adalah seorang


gadis mandiri yang apa-apa bisa mengurus diri sendiri tidak seperti para gadis yang lain yang kalau sakit sedikit saja merengek-rengek minta dimanja. Sangat berbanding terbalik dengan seorang Juni. Saga akhirnya keluar dari kamarnya meninggalkan Juni sendirian untuk beristirahat, dia menghampiri Angga yang juga sudah selesai menelepon.


"Sag, yakin bakalan ninggalin istrimu sendirian dalam keadaan seperti itu" kata Angga.


"Mau di apain lagi walaupun berat, yang sakit lebih memilih buat gak diganggu dulu" kata Saga.


"Gak apalah nanti aku suruh Bik Tika buat jagain dia" lanjut imbuh Saga.

__ADS_1


Mereka menuruni anak tangga secara bersama sama, dan Saga menyuruh agar Angga menunggunya dimobil sementara dirinya berjalan menuju dapur untuk menemui Bik Tika. Bik tika dimintai tolong oleh Saga untuk menjaga istrinya yang sedang sakit dan agar pelayan yang lain membuatkan Juni bubur untuk dua makan. Kali ini Saga menyerahkan Juni kepada bibinya yang sangat dia percayai untuk menjaganya. Setelah mengatakan hal yang ingin dikatakan Saga, diapun pergi menemui Angga yang sudah menunggunya dimobilnya.


__ADS_2