
Angga memeluk Saga karena baru menyadari kalau trauma yg selama ini diderita Saga dan penyakit yang membayangi Saga sedari kecil sudah hilang.
"Ahhhh kamu kamu kamu" suara Angga yang tak selesai dengan kalimatnya.
Saga melihat Angga yg masih tak percaya dengan apa yg dia lihat sembari melepaskan pelukan sahabatnya dari tubuhnya karena merasa sedikit risih ditatap banyak orang.
"Kenapa ngga? kayak lihat hantu aja" Saga bertanya seolah ingin menyadarkan Angga dari rasa kagetnya.
"Kapan kamu sembuh dan gak kumat lagi?"
"Aku juga gak tahu, tiba tiba aja semua begini"
"Wach.,,, kita harus rayakan, gak percuma kejadian kemarin terjadi."
"Maksudnya ngga,,, ? "
"Udah pasti ini berkat istrimu juga,,, harus berterimakasih juga sama Juni. Kalo bukan karena kejadian yg udah terjadi mungkin penyakit kamu gak ilang ilang sampai sekarang"
Saga yg mendengar perkataan Angga sejenak menghentikan langkahnya. Dia terdiam sejenak. Pikirannya lagi lagi tertuju pada sang istri yang masih merajuk pada dirinya. Angga yang berbicara tanpa melihat Saga didepannya sedang menghentikan langkahnya membentur punggung Saga.
"Ooopssss.... kok malah berenti Sag, kan nabrak jadinya?"
"Aku ingat Juni, dia lagi ngapain dirumah yach?"
"Telpon aja, tanyak dia lg ngapain dirumah"
__ADS_1
"Mana mau dia ngomong ma aku, tadi aja dia ngurung diri dikamar, gak ijinin aku masuk kamar"
"Truss gimana? "
"Ya udahlah,,,. mungkin aku harus tunggu amarahnya reda dulu kali baru nisa jelasin dan minta maaf"
Saga terdiam sesaat setelah berkata seperti itu, dia memang merasa sangat bersalah pada istrinya. Andai bisa waktu diulang, mungkin sebab Juni marah padanya tak akan dia lakukan. Saga kembali mengingat kesalahan yg dia pikir hanya candaan kepada Juni, tak dia sangka hal itu juga yg membuat Juni sekarang menjauh dan sangat marah pada dirinya.
Angga kembali menepuk pundak temannya yg sedang terdiam dalam lamunannya,
"hey,,, Saga semua butuh proses. Sebaiknya kamu biarkan dulu istrimu meluapkan kekesalannya padamu. Jika sudah agak tenang bisa dibicarakan baik-baik"
Saga hanya menghela napas panjang, Angga yg hanya mendengar helaan nafas sahabatnya memegang pundak sahabatnya dan menariknya pelan untuk mengikuti arah dirinya berjalan sambil berkata
Saga hanya mengikuti Angga saat itu, dia juga tak bisa berbuat banyak saat ini. Yg hanya dia bisa lakukan adalah mengisi perutnya agar bisa tetap kuat menjalani hidup. Dan tentunya untuk nanti berhadapan dengan Juni dirumah. Dalam perjalanan menuju tempat makan Saga menghubungi Bik Tika hanya untuk mengingatkan Bik Tika agar menyuruh Juni yg entah sedang apa dirumah agar tak telat makan. Saga juga mengingatkan Bik Tika agar selalu mengecek keadaan Juni.
***
Didalam kamar Juni masih menangis merasa dirinya sedang dipermainkan oleh takdir dan suaminya sendiri. Perasaan hatinya berbunga-bunga, yang baru saja tumbuh seakan terhianati setelah tahu kenyataan bahwa ternyata semua yg dia rasakan kepada Saga dalam beberapa hari ini hanyalah kebohongan semata. Dia marah, sedih, terluka semua jadi satu yg sekarang membuat air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
"Tok tok tok" bunyi ketukan pintu terdengar dibarengi dengan suara wanita paruh baya tak lain dan tak bukan adalah seorang Bik Tika
"Non,,, makan dulu non" kata bik Tika. Tak ada jawaban dari perkataan Bik Tika. Juni sama sekali tak menjawab dan tak pula membukakan pintu untuk Bik Tika.
Karena tak ada jawaban, Bik Tikapun berinisiatif memberitahukan Juni untuk mengambil makanan yang dia sengaja taruh didepan pintu kamar Juni. Pikiran Bik Tika mungkin saja Juni masih merasa marah walaupun sebenarnya Bik Tika gak tahu apa yg sedang terjadi. Yang jelas dari keadaan yang dia lihat kedua pasangan itu sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1
"Non, Bibik taruh makanan didepan pintu. Bibik tahu non belum makan sama sekali daripada non sakit nantinya mendingan non isi perutnya sedikit makanan" kata bik Tika. Bik Tika langsung tanpa basa basi menyuruh pelayan yg membawa nampan berisikan makanan didepan pintu kamar Juni dengan sudah menggeser sebuah meja kecil tepat didepan pintu.
"Non,,, bibik taruh didepan pintu makanannya. Ingat makan ya non kalau gak bibik nanti dimarah sama den Saga" ucap Bik Tika mengakhiri kalimatnya. Setelah sudah menaruh makanan Bik Tika mengajak pelayan yang membantunya untuk ikut dengannya meninggalkan kamar Juni.
Juni yang sudah tidak mendengar ada suara dari balik pintu bukannya membuka pintu dan mengambil makanan, dia malah tak peduli apakah hari itu perutnya sama sekali belum terisi karena hatinya sudah benar benar kenyang dengan hanya permasalahan hatinya saja
Sementara itu dilantai bawah masih ada seorang Bik Tika yg juga merasa khawatir dengan Juni mencoba memberitahukan kepada Saga kalau Juni hingga saat itu belum sama sekali keluar dari kamar dan sama sekali tak menyentuh makanan sedikitpun. Bik Tika mengirim pesan singkat memberitahukan keadaan dirumah. Pesan singkat yang Bik Tika kirim belum terbaca oleh Saga karena memang saat itu nada pesan dan mode getar dimatikan oleh Saga.
Saga hari itupun tak begitu fokus dengan apa yg dia lakukan. Kadang sesekali dia melamun, bahkan saat sedang makan dengan Anggapun terkadang Saga seolah olah sedang berada ditempat lain. Angga sangat tahu pikiran sahabatnya lagi berada dimana, tak lain dan tak bukan adalah pada sang istri. Angga sengaja mengajak Saga berbincang saat sedang makan agar Saga lupa sesaat tentang pikirannya yang sangay mengganggu. Angga mencari topik pembicaraan, tak jauh-jauh dari pekerjaan. Merekapun makan siang disebuah restauran yg ada didalam gedung Mentari Departemen Store sambil berbincang bincang hingga tak mereka sadari kalau waktu sudah berlalu sangat cepat. Pembicaraan mereka berdua benar benar membuat mereka lupa kalau siang sudah berganti menjadi sore. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Saga mengambil ponsel disaku dalam jasnya. Saga kembali mengingat harus menghubungi orang rumah agar dia tahu bagaimana keadaan sang istri. Jempolnya baru saja mengusap layar ponsel dan membuka sandi ponsel dengan jarinya, Saga sedikit kaget mendapati beberapa pesan dari Bik Tika yang tertuju kepadanya. Sebuah pesan text memberitahukan kalau Juni sama sekali belum menyentuh makanan apapun dan begitu terkejutnya Saga saat memperhatikan waktu pesan terkirim. Pesan yang sudah sadari siang baru dia baca dan sekarang waktu sudah berubah menjadi sore.
"Oppssss" Saga berdiri dari duduknya dan berhasil mengagetkan Angga yang tiba-tiba melihat respons Saga langsung berdiri dari duduknya.
"Kenapa Sag...? "
"Aku harus pulang segera" sambil merogoh kunci mobil dicelananya dan memasukkan kembali ponsel miliknya didalam jasnya.
"Iya kenapa harus cepat pulang? kita ada kerjaan lagi diatas"
Saga mendekat kearah Angga yang masih duduk dikursi dan menepuk pelan pundak Angga sambil berkata "Tolong, bantu aku buat urus itu. Aku harus cepat pulang"
Mendengar pinta Saga dengan wajah sangat memelas, Anggapun hanya bisa mengiyakan permintaan Saga. Saga kembali berkata "Nanti aku jelaskan semua. Ok" ucap Saga lagi.
Angga untuk kedua kalinya menganggukkan kepalanya tanpa banyak tanya lagi karena dari raut wajah Saga sudah jelas itu pasti tentang Juni. Hanya Juni yang bisa membuat Saga tak pernah fokus tentang pekerjaannya.
Saga berlari menjauhi Angga, dia meninggalkan Angga seorang diri di restauran. Saga bergegas mencari mobilnya, saat itu pikirannya ingin sekali segera sampai dirumah.
__ADS_1