AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Cakupan kedua tangan


__ADS_3

*


*


*


*


Waktu tak terasa berjalan dengan cepatnya, Cahaya langit yang terlihat terang meredup berubah warna menjadi gelap.


Angin malam tiba-tiba masuk kecelah jendela yang ada dikamar.


Dinginpun tak terbendung lagi, Juni terbangun karena udara malam yang memasuki kamar dan menyentuh kulitnya.


Mata juni tak langsung terbuka. Dia membuka pelan kelopak matanya. Dia bangun dan memperhatiakan sekeliling, tidak ada orang yang dia benci disana. Tangannya mengusap lagi matanya. Juni kaget melihat perban yang ada ditangannya. Dia tak merasa memasangkan sendiri perban itu, pikirnnya sudah pasti pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Om Saga.


Juni membalik perban putih yang melilit tangannya dan mendapati empat huruf yang tertulis disana dengan dibubuhi emoji tangan yang tercakup. Kata "Maaf" menghiasi perban putih yang melingkar dipergelangan tangan Juni.


Rupanya Saga sengaja mengambil spidol dari tas Juni hanya untuk menulis kata maaf diperban yang dia balut sendiri. Ingin rasanya Saat itu juga Juni membuka perban dengan paksa ditangannya, dia seakan tak sudi dengan perlakuan Saga yang membalut pergelangan tangannya dengan perban.


Ia tidak suka hanya dengan membalut perban ketangannya yang padahal pergelangan Juni seperti itu juga oleh karena dirinya.


Juni juga tidak suka hanya kata maaf bisa melupakan segalanya.


Juni juga melihat sesuatu yang mengkilat terlingkar dijarinya, cincin pernikahannya sudah kembali lagi dijari manisnya.


"Kapan, dia pasang?" tanya Juni. Juni ingin lagi melepas cincin dan melemparnya Saat cincin itu akan dilepas, Juni mengurungkan niatnya karena sedikit takut menghadapi reaksi Saga.


Alih-alih melepaskan cincin, Juni lebih memilih mengambil perban yang ada ditangannya, dan segera akan dia lepas tapi seseorang dari balik pintu datang ke kamarnya. Saga masuk tanpa permisi kekamarnya sendiri.


Mata saga mendapati tangan Juni sudah akan melepaskan dengan paksa perban yang sudah dia pasang dengan susah payah.


"Apa yang kamu lakuakan yank?" tanya Saga yang sudah dengan cepat menghampiri Juni.

__ADS_1


Juni terus saja diam tanpa kata dan berusaha dengan keras melepas perban. yang ada ditangannya.


"Yank, jangan!" katanya lagi sambil tangannya sudah menghentikan tangan Juni yang akan melepaskan perbannya dengan nada suara yang sangat halus. Saga tidak mau lagi bertengkar dengan Juni. Bukan malah membuat dirinya bisa dekat, kalau terlalu sering bertengkar Juni akan terus membencinya.


"Ini tanganku sendiri jadi bebas untuk aku apakan saja" kata Juni


"Iya,. itu tangan kamu tapi haruskah kamu meluapkan semua kekesalanmu sama aku lewat tangan itu? " kata Saga dengan memperhalus lagi suaranya.


"Ini semua gara-gara Om" kata Juni


"Apa Jun?" tanya Saga.


"Om, sudah..." kata Juni


"Sudah...." lanjut Juni terhenti dan tak mau melanjutkannya lagi kepada Saga yang terus saja memandanginya.


Tangan juni yang sudah dia tunjuk kearah Saga kembali dia hempaskan lagi.


"Sudahlah" imbuh Juni menyelesaikan kalimat yang tidak ingin dia keluarkan. Kalimat panjang yang kalau diteruskan sudah pasti akan mengingatkannya lagi kenangan dimana saat ciuman pertama miliknya dirampas paksa oleh Saga.


Saga mendekatkan lagi satu langkah kearah Juni, Juni yang mengetahui langkah Saga semakin dekat segera memundurkan langkah kakinya menjauh. Juni merasa agak takut kalau- kalau Saga kembali lagi dengan perbuatannya yang Juni rasa merugikan dirinya.


"Masalah tadi yang kita Ci...... " kata Saga.


"Stoooppp, aku gak mau dengar" kata Juni dengan menutup dua telinganya dengan kedua tangannya. Mata Juni terpejam. Saga memegang rambut poni Juni dan mengacaknya pelan, Saga tersenyum tepat didepan Juni. Juni membuka pejaman matanya dan melihat dengan sangat dekat bagaimana senyuman itu tertuju padanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat, namun juni tak ingin larut terlalu dalam dengan senyum yang dimiliki suaminya. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya melepaskan diri dari tangan Saga.


"Apaan sich Om!, jangan pegang gitu" kata Juni ketus sembari terus saja berusaha menjauhkan tangan Saga dari dirinya.


Saga melepaskan tangannya dari atas kepala Juni sambil dirinya berkata "Oke, oke"


Saga berkata kepada Juni "Jun, kamu ganti baju dulu!" memandang wajah Juni "Temui aku dibelakang taman" kata Saga


"Gak," kata Juni

__ADS_1


"Aku ngak mau ngikutin kata Om" lanjutnya lagi.


"Aku mohon dengan sangat, nanti ada orang didepan kamar yang bakalan nuntun kamu kesana" tangannya dia cakupkan untuk benar-benar memohon agar Juni mau pergi kebelakang rumah. Saga dari sejak merasa membuat kesalahan terhadap Juni, yang telah berbuat kasar pada gadis yang dia cintai berusaha berbicara secara halus dan sopan. Walaupun Juni ketus, jutek dan kasar pada dirinya. Saga keluar dari kamar setelah mengatakan yang harus dikatakan malam itu kepada Juni.


Juni bergerak dengan malas- malasan dia akhirnya mengganti seragamnya yang masih dia gunakan. Juni menggapai handphonenya dan sudah mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari Trala dan Tomi disertai dengan beberapa pesan yang terus dikirimkan untuk dirinya.


Juni membuka salah satu pesan Wa dari Trala yang memberitahukan Trala bahwa Trala dan Tomi akan menungguinya datang ke tempat tongkrongan malam mereka.


Juni hanya menghela nafas panjang dan menutup ponselnya serta meletakkannya diatas meja. Akan susah kali ini dia keluar dari rumah saga.


"Tok,,tok,,tok" suara ketokan pintu dari arah luar.


"Iya masuk" kata Juni


Seseorang pelayan wanita masuk kedalam kamar Juni dengan berkata "Non, ditunggu sama Den Saga"


Juni mengingat lagi pinta Saga yang akan menunggunya dibelakang rumah.


"Kemana bik? " tanya Juni


"Non ikut saja dengan saya nanti saya akan antar kesana" kata Bibik yang cukup tua.


"Gak usah lah bik, aku gak kesana aja" kata Juni


"Maaf non, mening non ikut bibik saja. Nanti kalau non gak ikut, bibik yang kena marah sama den Saga" kata bibik yang sengaja menggunakan alasan dimarah Saga agar Juni ikut dengannya.


Juni berpikir beberapa menit dan menimang kekasaran Saga pada dirinya, sudah pasti dia juga dengan mudah melakukan kekasaran kepada para pelayannya.


"Ya udahlah bik aku ikut" kata Juni merasa kasihan kepada bibik yang sedang ada didepannya. Pelayan itupun menuntun Juni kearah belakang rumah. Dibelakang rumah dengan sudah semua lampu dinyalakan terlihat pemandangan taman yang sangat indah. Juni hanya memandang kagum setiap langkah dia tuju dan Juni tak lupa melihat pemandangan malam dengan lampu diatas kepalanya.


"Waaah,, indah sekali" kata Juni dalam hati yang terus terkagum-kagum.


"Bik kita mau kemana?" tanya Juni kepada bibik pelayan yang ada didepannya.

__ADS_1


"Non ikut saja, nanti juga pasti nyampe" kata bibik yang menuntun Juni.


__ADS_2