
"Namanya masih dalam proses" kata Saga
"Kita lihat aja endingnya kayak gimana" lanjut imbuh Saga merasa bisa menaklukkan Juni kedepannya.
"Gak usah terlalu yakin, nanti jatuhnya sakit" kata Angga mengingatkan.
"Bukannya dukung malah bikin drop" kata Saga sambil merangkul pundak Angga dan memiting pelan Angga sambil Saga tertawa dalam candaannya.
"Ampun" kata Angga.
"Ampun Sag " kata Angga sambil ikutan tertawa.
Angga yang mengetahui kalau disekelilingnya sudah ada para karyawan yang sedang memperhatikannya segera melepaskan pitingan tangan Saga dari tubuhnya.
"Sag," kata Angga pelan seolah ingin memberitahukan kalau ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka bercanda. Angga yang sudah berdiri tegak merapikan lagi kemejanya.
Saga juga melihat sekelilingnya, banyak karyawannya yang memperhatikan tingakah kekanak- kanakannya.
Saga segera berjalan tegak dengan tangannya yang juga ikut merapikan bajunya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.
Dagu ia tinggikan Saga agar terlihat lebih berwibawa. Dadanyapun tak lupa untuk dibusungkan.
Arah pandangannya diluruskan namun Saga yang mengetahui kalau dirinya diperhatikan segera melemparkan senyumnya kepada para karyawannya yang memandang Saga.
Angga yang melihat Saga tersenyum berbisik ditelinga Saga sambil berkata "Gak nyocok". Angga merapatkan bibirnya yang sudah tak tahan untuk tertawa melihat Saga bertingkah seperti itu. Saga dibuatnya salah tingkah.
Para karyawan yang melihat bosnya berjalan memberi hormat kepada pimpinan mereka yang mereka sayangi dan memberikan ruang untuk Saga agar bisa bejalan.
Mereka seakan tahu kapan harus memberi bosnya ruang dan kapan harus mendekat. Itu sudah menjadi kebiasan kalau Saga berjalan, meminggirkan dirinya agak jauh dari Saga.
Cukup banayk karyawan dari saga mengagumi kepemimpinan Saga, terlebih lagi bagi para karyawan perempuan yang juga diam-diam menjadikan Saga sebagai pujaan hati mereka.
Ada sekumpulan karyawan wanita yang melihat Saga berjalan, mereka saling memberikan kode kepada teman wanitanya yang lain kalau Pak Saga sedang berjalan didampingi Angga.
Karyawan 1 : "Sssssssttttttt, ada Pak Saga lewat" memberitahukan kepada temannya yang lain.
__ADS_1
Karyawan 2 : "Ehhh, liat make up aku sudah benar gak?" sambil memperlihatkan wajahnya.
Karyawan 3 : "Udah kok! kalian kenapa? liat bos segitunya" memberitahukan teman-temannya.
Karyawan 2 : "Udah kamu diam aja!" pinta karyawan 2 kepada karyawan 3
Karyawan 1 : "Wah,, sumpah ganteng banget" melihat Saga dengan tak sadar sudah menggigit bolpoint yang sedang dia pegang.
Karyawan 3 : "Jangan ngayal tinggi, nanti kalau jatuh sudah pasti sakit" peringatkan teman- temannya.
Karyawan 1 : "Dia bakalan noleh gak ya?" tanyanya kepada siapa saja yang mendengar.
Karyawan 2 : "Liat lah" jawabnya
Karyawan 3 : "Gak mungkinlah, siapa kalian?" jawaban itu membuat kedua teman- temannya melihat dan menatapnya dengan tatapan marah.
Karyawan 1 dan 2 kembali lagi melihat Pak Saga, namun Saga tetap berjalan melewati mereka tanpa menoleh kearah mereka sedikitpun.
Kedua karyawan itu terluka merasa kecewa, hanya dilirik saja sudah merasa sangat membahagiakan. Karyawan 3 hanya bisa tertawa melihat dua temannya menelan rasa kecewa, padahal dua temannya itu sudah diberikan nasehat namun tak didengar jadi hanya tawa keras yang bisa dia berikan kepada temannya.
"Sag, mau pakai mobil yang mana?" tanya Angga
"Punya aku atau kamu" lanjut Angga memberikan pilihan kepada Saga yang masih menimbang- nimbang mobil yang mana yang akan dia pakai.
"Hmmm, mobil aku aja kita pakai" jawab Saga.
"Oke, kunci mana? " tanya Angga dengan pertanyaan lagi seolah ingin Saga memberikan kunci mobilnya agar dirinya yang mengemudikan mobil Saga. Tangan Angga sudah mengulur meminta Saga memberikan kunci mobilnya. Saga menepis telapak tangan Angga yang sudah terbuka mengadah keatas.
"Gak usahlah ngga, biar aku aja yang nyetir kali ini" kata Saga sembari menekan tombol membuka kunci pintu mobilnya.
Saga yang sedang berjalan menuju pintu kemudinya tiba-tiba dengan cepat Angga merebut kunci mobil Saga yang dia bawa. Setelah mendapatkan kunci mobil Saga ditangan Angga, ia berkata "Kamu istirahat saja, aku tahu kamu capek." Angga mendorong pelan punggung Saga agar Saga berjalan ke pintu sebelahnya disebelah pintu kemudi. Saga mengikuti saja arahan Angga, agar dirinya tidak mengemudi hari ini.
"Oke,oke" kata Saga mengikuti arahan Angga.
Saga akhirnya duduk dikursi sebelah Angga yang sedang mengemudi. Dalam perjalanan mereka didalam mobil Saga membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Angga, enaknya kita ke Toko Garden cabang mana? " tanya Saga.
"Gak tahu, kamukan biasanya pergi kecabang yang dideket rumah" jawab Angga.
"Iya tapikan sekolah Juni gak lewati jalur itu, tambah jauh lagi kalau kita balik muter ke cabang yang dideket rumah" kata Saga
"Trus? gimana? " tanya Angga
Saga merogoh saku celananya mencari ponselnya. Ponsel Saga dia buka untuk mencari-cari petunjuk di maps cabang Toko Garden yang dekat dengan sekolah Juni.
"Gimana Sag, ketemu?" tanya Angga setelah lama melirik Saga yang ada disampingnya membuka terus aplikasi maps guna mencari petunjuk arah cabang toko bunga yang Saga inginkan.
"Gak ada Angga" jawab Saga tak mendapatkan apa yang dia cari diponsel.
"Kita gak jadi kesana ajalah" lanjut imbuh Saga
"Terus kita kemana?" tanya Angga
"Hmmmmm" Saga mencari lagi toko bunga yang ada didekat sekolah Juni dengan panduan ponselnya.
"Ahhhh" Saga menemukan toko bunga yang dia cari.
"Sudah ketemu?" tanya Angga yang mendengar kalau Saga sepertinya sudah menemukan toko bunga, walaupun tidak ketempat yang dia sering datangi namun karena Saga tidak mau muter lagi kerumahnya yang jelas akan memakan waktu yang sangat lama untuk ia sampai lagi ke sekolah Juni hanya untuk membela-belain membeli bunga di toko bunga langganannya menurut Saga itu akan memakan waktu.
"Nanti didepan kamu belok kanan" kata Saga kepada Angga.
Mendengar perkataan Saga, Angga segera memutar kemudi mobil ke arah yang sudah ditunjukan Saga yaitu belok kesebelah kanan.
Dan benar saja, Saga dan Angga sudah bisa menemukan sebuah toko dengan nama The Rose. Didepan toko sudah dipajangi berbagai macam bunga. Toko bunga yang lumayan besar, sama besarnya dengan Toko Garden yang sering Saga kunjungi. Angga segera meminggirkan mobilnya tepat didepan toko.
"Kita sampai" kata Angga yang hanya dibalas senyum oleh Saga.
Saga yang terlebih dulu turun dari dalam mobil menunggu Angga untuk ikut turun juga dari mobil dan bersama-sama masuk kedalam toko bunga yang bernama Toko The Rose.
Saga dan Angga yang sudah masuk kedalam toko disambut hangat oleh seorang karyawan disana. Saga melihat papan nama kecil didada karyawan yang menyapanya. Seorang wanita yang bernama Rose, terlihat dari papan nama yang Saga baca.
__ADS_1