AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Agrophobia ll : Cinta Sekaligus Terapi


__ADS_3

*


*


*


Kakek Saga adalah seorang pengusaha yang dulunya sangat terkenal di dunia pembisnisan. Begitu juga Ayah Saga.


Mereka terlahir dari darah bisnis yang sangat kental.


Tidak ada yang tidak tahu nama belakang keluarga Wonowidjojo.


Nama itu sempat berkibar di dunia pembisnisan. Kakek Saga bernama Hartono Wonowidjojo. Ayah Saga bernama Glen Hartono Wonowidjojo dan saga sendiri memiliki nama Saga Hartono Wonowidjojo itu adalah nama pemberian kakeknya pada Saga.


Awal mula penyakit agrophobia Saga yang dia derita sampai sekarang adalah saat itu dia berada di pusat pembelanjaan yang kakeknya dirikan.


Kakek Saga mendapatkan kabar dari para anak buahnya kalau perusahannya akan mengalami kebangkrutan, itu terjadi karena saat itu negaranya sedang mengalami krisis keuangan yang berimbas dengan semua perusahaan yang besar termasuk perusahaan Kakek Saga .


Kakek Saga tidak sanggup mendengar pemberitaan yang mengatakan kalau perusahaan yang dia dirikan akan mengalami kebangkrutan mengalami serangan jantung.


Saga yang masih berada didekat kakeknya menagis selayaknya anak kecil yang melihat sosok orang yang dia cintai pingsan.


Karena semua orang yang menyaksikan hal tersebut ingin menolong, mereka berhamburan mengerumuni Saga dan Kakeknya.


Mereka juga tak sadar telah menghimpit anak yang baru berusia 10 tahun yang dengan mata kepalanya sendiri melihat kakeknya pingsan dan dinyatakan meninggal oleh para pengunjung yang ada disana.


Saat itu Saga sangat syock dan trauma, dari kejadian itulah awal trauma penyakit Saga yang tidak bisa dikerumuni oleh orang-orang.


Saga masih bisa berada di area umum tapi dia harus memastikan kalau tidak akan ada orang yang tiba-tiba mengerumuninya.

__ADS_1


Setelah kematian kakeknya, Saga hidup seorang diri dengan muncul penyakit agrophobia karena kehilangan kakek tercinta.


Perusahan kakek Saga terpaksa dijual untuk menggaji sisa gaji ribuan karyawannya.


Semua harta kekayaan kakeknya disita oleh Bank untuk membayar sisa hutang pinjaman.


Yang tersisa dari peningalan Kakek Saga untuk cucunya hanyalah sebuah panti asuhan dan sejumlah uang yang memang diperuntukkan untuk Saga. Uang itu berada di Bank luar negeri jadi tidak bisa dikotak-atik oleh siapapun.


Uang itu bisa dicairkan langsung oleh Saga sendiri setelah berusian 17 tahun.


Saga yang hidup sebatang kara di panti asuhan milik kakeknya berhasil survive hingga dirinya berusia 17 tahun dan memulai berbisnis dengan modal uang tabungannya yang kakeknya berikan. Dan sekarang Saga berhasil dengan mendirikan sebuah Departemen Store terbesar serta beberapa bisnis Saga yang lain yang sudah mempunyai cabang diseluruh negeri.


Dipanti asuhan itulah tempat dirinya dan Saga bertemu pertama kali dan menjadi sahabat hingga sekarang. Angga selalu membantu Saga dalam keadan apapun.


Kesuksesan Saga hari ini juga atas dukungan Angga yang juga sangat sering membantu Saga yang sudah tahu keadaan Saga dengan kelebihan dan tentunya kekurangan Saga.


Angga juga sangat berhutang budi dengan keluarga Wonowidjojo karena sudah menampung anak yang tidak tahu kedua orang tuanya di panti asuhan milik keluarga besar itu.


Angga mengkhawatirkan penyakit yang saga derita, setelah lama tidak mengalami gejala agrophobia karena angga sangat berusaha menjaga dimanapun Saga berada agar penyakit Saga tidak kambuh lagi. Tapi penyakit itu muncul lagi dan penyakit Saga terakhir muncul saat Saga berada dilift dan yang membantunya saat itu adalah Juni.


Saga yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Juni merasa kalau Juni bisa menenangkannya saat penyakitnya kambuh. Terbukti saat dia berada di lift hanya dengan tepukkan tangan Juni dan dekapan Juni.


Saga bisa bertahan beberapa waktu sampai pada akhirnya para pengunjung yang lain ribut mempertanyakan keadannya yang membuat fokusnya ke wajah juni hilang.


Selain karena Saga memang benar- benar mencintai Juni pada pandangan pertama, alasan Saga tidak mau kalau Lisa yang dia kira Juni dijodohkan adalah tidak mau kehilangan Juni yang Saga anggap cinta sekaligus terapinya.


"Angga" panggil Saga.


"Angga" panggil sekali lagi Saga.

__ADS_1


Angga tak mendengar saga memanggilnya, ia masih mengingat kenangan silsilah keluarga Saga, awal muncul trauma masa lalu serta perjumpaannya dengan Saga dipanti asuhan.


Saga melemparkan kertas yang dia remas kewajah Angga, Angga tersadar dari mengenang kisah Saga setelah remasan kertas yang Saga lempar mengenai wajahnya. Saga tertawa melihat angga yang terlihat sangat kaget.


"Apa sag? " tanya Angga lingkung sambil menyibukkan diri melihat buku agenda kerja Saga.


"Apa ada berkas yang perlu aku tanda tangani hari ini" Saga yang duduk gusar memanggil Angga yang masih berada satu ruangan dengannya. Ruang kerja Angga adalah ruang kerja Saga juga hanya saja mereka beda meja kerja saja. Itu Saga. sengaja lakukan agar lebih gampang bersama sahabatnya serta tidak merasa hidup seorang diri karena pada dasarnya Saga sudah lama merasakan kesepian sepeninggal kakeknya. Setidaknya ada temannya bisa mengobati sedikit rasa sepi dan apalagi sekarang ada Juni yang jelas tambah membuat hari-harinya berwarna. Angga yang sedang berpura-pura menyusun jadwal agenda Saga untuk seminggu kedepan menoleh temannya sambil berkata "Udahhh sabar sag, bentar lagi juga ketemu" Angga seolah tahu kenapa saga terlihat sangat gusar.


"Apain sich kamu, aku nanyak lain jawabnya lain" kata Saga


"Aku kenal kamu sudah lama sag, hanya satu hal yang berhasil bikin kamu tidak seperti Saga yang aku kenal yaitu istri kamu" kata Angga


Saga terdiam. Matanya menatap Angga. Duduk yang tegak kembali lagi bungkuk mendengar perkataan Angga karena itu memang ada benarnya juga. Walaupun saat itu dirinya berada dikantornya namun pikirannya hanya tertuju pada Juni. Waktupun tak bisa dihentikan, terus saja berlalu tanpa permisi.


Angga melihat jam tangannya karena hari sudah siang sudah waktunnya. mereka bergerak menuju sekolah SMA xxx, Angga berkata "Oke, ayo big bos kita berangkat"


"Gitu dong, aku dari tadi pingin langsung jalan" Saga sumringah. Energinya kembali pulih. Semangatnya menggebu-gebu. Saga lekas bangkit dari duduknya dan tak lupa memakai jaket kerjanya. Saga mengambil ponsel, dompet serta kunci mobil yang Saga taruh dimeja kerjanya. Saga memang sudah sangat tak sabaran bertemu dengan istrinya terlihat dari gerakan tubuhnya. Gerakan tubuh orang yang sedang jatuh cinta dengan orang yang biasa saja sangat berbeda. Itulah yang Angga lihat, pancaran cinta terlihat dari gerak gerik Saga.


Saga yang sudah berjalan berdampingan dengan Angga keluar dari ruangan kantornya ingin pergi


menuju parkiran yang ada dilantai paling bawah. Saga menepuk pundak sahabatnya dan berkata


"Angga, nanti kita mampir dulu ke toko Garden"


Angga menoleh ke samping dan melihat Saga "Pasti mau beli bunga" sahut Angga


"Betul sekali, buat pujaan hati yang sedang menanti disana" kata Saga


"Yakin dia menanti" kata Angga

__ADS_1


Saga kembali diam, sudah jelas dia tahu kalau Juni tak satu rasa dengannya. Mereka bagaikan tikus dan kucing. Yang satu mengejar, yang satu akan berusaha melarikan diri tidak mau ditangkap. Saga juga tahu tikus seperti Juni memang sangat susah ditangkap.


__ADS_2