
Angga yang mengetok pintu kamar Saga dan langsung membuka pintu kamar Saga tanpa harus menunggu dipersilahkan oleh Saga untuk masuk.
"Kok sendirian kamu Sag? yang lain kemana?" tanya Angga yang melihat Saga hanya duduk sendirian tanpa ada orang lain dikamar itu karena terakhir dia meninggalkan Saga saat itu Saga masih ditemani beberapa perias.
"Udah aku suruh pulang, kan sudah selesai juga aku diriasnya" kata Saga yang duduk diranjangnya.
"Gimana?" tanya Saga tentang tugas yang dia berikan untuk angga.
"Kamu bener sag, aku lihat cowoknya Lisa sudah mengintai rumah Bramanto" jelaskan Angga
"Trus gimana?" Saga penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Santai si Juni dan keluarga Bramanto yang lain sudah aku bawa kesini dan sekarang mereka sudah ada dibawah lagi nungguin kamu keluar" kata Angga
"Lagian kamu aneh yang ada itu pengantin wanita yang ditungguin keluar, ini malah kamu yang ditungguin" lanjut Angga kepada Saga yang masih duduk seolah dirinya merasa gerogi.
Saga mengetahui kalau Lisa ada dilantai bawah merasa sangat gugup, dirinya tidak pernah segugup ini.
Angga yang melihat sagaa gugup bertanya lagi kepada saga "Apa yang harus kita lakukan dengan cowok Lisa yang bernama bayu itu. Apakah aku harus beri dia pelajaran" kata Angga
"Sudahlah kali ini kita maafkan saja dan lupakan. Ini itu tanggal cantik buat aku. Hari ini tanggal 06 bulan september adalah hari lahirku dan semoga pernikahan ini menjadi hadiah kado yang paling istimewa" kata Saga penuh dengan pengharapan.
Angga hanya mngikuti semua kemauan yang diinginkan saga karena hari ini adalah hari ulang tahun Saga juga hari yang akan menjadi moment bersejarah dalam hidupnya karena dihari ini dia akan melangsungkan pernikahan dengan gadis yang sangat dia sukai pada pandangan pertama.
"Ayo turun kita mulai saja acaranya, pendeta sudah menunggu dan tinggal kamu saja yang pendeta tunggu" kata Angga kepada Saga.
"Kamu turun duluan saja, lagi bentar aku turun kok!" Saga yang masih gemetar karena sebentar lagi akan menikah menyuruh Angga turun duluan.
Angga hanya berkata "Cepetan, kalau gak cepet aku yang akan gantiin kamu" sambil membalik badan memunggungi Saga dan berjalan keluar ruangan kamar Saga
Saga hanya melemparkan bantal kearah Angga dan mengenai pintu yang sudah ditutup oleh Angga.
__ADS_1
Angga yang turun dari tangga mendatangi Bramanto yang sedang duduk bersama istri dan suaminya.
Pendeta sudah berjalan keatas altar pernikahan yang sudah dipersiapkan.
Pendeta memanggil Angga agar mempelai pria yang segera turun dan Angga hanya bisa berkata sebentar lagi saga akan turun.
Juni merasa pasrah melangkah keatas altar terlebih dahulu.
Pernikahannya ini sangat aneh menurutnya karena dimana-mana yang ditunggu itu harusnya mempelai wanita sedangkan hanya dirinya yang menungguin pengantin lelaki yang belum turun dari lantai atas.
Juni merasa sangat kesal dengan situasi yang sudah terjadi. Dirinya ingin marah namun tak bisa mengungkapkan rasa marah yang sudah terasa diujung kepala.
Beberapa menit setelah Juni berada diatas altar dengan pendeta, turunlan Saga dengan kemeja jas hitam dan dasi kupu-kupi dari lantai atas. Tatanan rambut klimisnya serta senyum sumpringah yang menghiasi wajahnya memancarkan rasa bahagia yang tak terhinga saat Saga menuruni anak tangga.
\=\=> CONTOH VISUAL SAGA YANG MENURUNI TANGGA
Juni tidak sama sekali melihat kedatangan saga dia berdiri menghadap pendeta yang akan memimpin acara pernikahn itu.
Saga yang sudah menuruni tangga langsung menuju altar mendekati calon pengantin yang tidak sama sekali melihat kedatangannya.
Angga yang berada diatas altar menyuruh pendeta agar segera memulai ritual pernikahan karena Saga sudah berada disampung Juni.
Pendeta yang berada didepan mempelai segera melakukan prosesi pemberkatan untuk pasangan Saga dan Juni saat itu.
Juni tetap tidak melihat wajah sang mempelai lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami baginya.
Keluarga dari Juni sudah duduk dibawah panggung tepat dimana prosesi pernikahan itu berlangsung. Saga terus saja menoleh dan menatap Juni, dia benar-benar terpesona karena saat itu Juni sangat cantik menggenakan gaun pengantin yang dia berikan.
Saga tak mendengarkan apa yang pendeta katakan karena teralihkan oleh Juni, berbeda dengan Saga jangankan untuk menatap Saga melirik saja Juni tak mau.
__ADS_1
Dia hanya berpikir agar segeralah acara yang hanya kontrak baginya ini berakhir.
Tiba saatnya saat pendeta kala itu menanyakan kepada dua mempelai. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudian untuk mengetahui kesungguhan mereka dalam memasuki bahtera pernikahan.
Saga dan Juni menjawab pertanyaan yang diajukan secara simbolis dan bergantian.
Usai Saga dan Juni menjawab pertanyaan peneguhan dari sang pendeta, kedua mempelai akhirnya bediri dari duduknya dan saling berhadapan satu dengan yang lainnya.
Dan saat mereka berhadapan disanalah Juni melihat sosok Saga yang tidak seperti dugaannya.
Saga ternyata adalah pria dewasa yang terlihat seumuran dengan kakaknya Lisa, Saga yang dia bayangkan tua seperti ayahnya ternyata salah besar.
Saga yang dia lihat selalu tersenyum yang memperlihatkan ketampannya.
Sorot matanya sangat tajam, juni berpikir dimanakah dirinya pernah bertemu wajah yang saat ini berhadapan dengannya dan sedang menatap dirinya.
Juni mengingat-ngingat lagi namun dirinya tak berhasil mengingat wajah yang begitu familiar dihadapannya itu.
Juni sama sekali tak ingat bahwa dia pernah bertemu beberapa kali dengan Saga bahkan Juni juga pernah menyelamatkan Saga saat Saga pingsang didalam lift.
Berbeda dengan Juni, Saga sangat ingat jelas awal bertemu dengan Juni dan saat dirinya merasa berhutang karena sempat ditolong Juni.
Merekapun tersadar dari lamunan mereka masing masing ketika pendeta bertanya lagi kepada kedua mempelai tentang janji pernikahan.
Saga dan Juni mengucapkan janji nikah secara bergantian dipandu oleh pendeta dan disaksikan oleh beberapa orang yang hadir diacara itu karena memang syarat dari permintaan Juni yang kebetulan juga disetujui Saga karena dirinya juga tidak nyaman kalau harus ada banyak orang diacara itu.
Pengucapan janji nikah ini merupakan moment yang menegangkan hanya bagi Saga, karena Juni tidak merasakan hal yang sama menurut Juni ini hanya mengucapkan kata-kata biasa saja.
Saga dan Juni akhirnya mengucapkan janji setia mereka sebagai pasangan suami istri.
Disana terlihat hanya sagalah yang berbicara lantang dan bersungguh sungguh namun tidak dengan Juni, Juni hanya menggerakkan bibirnya saja mengikuti apa yang harus dia katakan.
__ADS_1
Juni berharap agar prosesi pernikahan dengan Saga segera berakhir karena dia sudah merasa bosan.