AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Rutinitas semula


__ADS_3

Juni yang meninggalkan Saga memilih untuk tidur dikamar tamu. Dia yang melihat kamarnya berantakan, penyebabnya adalah dirinya sendiri. Juni juga tak mau satu ranjang dengan suaminya. Besok dia harus sekolah, jadi dia harus tidur cepat tanpa memikirkan Saga yang maaih ada dilantai atas.


Saga keluar kamar untuk memanggil pelayan rumah, bukan tanpa tujuan. Saga harus membersihkan kamarnya saat itu juga. Dengan masih berdarah, Saga memanggil seorang pelayan yang saat itu dia lihat dan meminta tolong untuk kamarnya agat dibersihkan. Sementara itu Saga kembali kekamar mandinya, dia membersihkan luka ditangannya sendiri. Saga duduk diranjang, dia mengambil kotak P3K. Saga mengobati lukanya sendiri tanpa bantuan seseorang.


Setelah pelayan membersihkan kamar Saga, Sagapun langsung berbaring diranjangnya. Dia tak mau untuk malam ini memaksakan diri untuk minta maaf kepada Juni. Pikir Saga ingin membiarkan Juni malam ini melakukan apa yang dia inginkan yaitu menjauh darinya walaupun kenyataannya Saga sangat kesepian dan terluka hati dan fisiknya.


Malam yang begitu panjang dengan Juni yang tertidur lelap tanpa beban, namun dilain kamar ada seorang lelaki yang tidak bisa tidur lelap. Pikirannya kacau. Saga sangat berusaha untuk bisa tidur malam itu. Matanya terjaga sampai jam 2 dini hari. Dengan bantuan obat tidur yang kembali dia minum setelah sekian lama tak mengonsumsinya, malam itu dia akhirnya bisa tidur pulas.



Pagi haripun tiba, Juni terbangun dari tidurnya yang lelap. Matanya masih terasa berat untuk terbuka. Juni menguap lagi, Perlahan kesua matanya terbuka dan itu butuh waktu yang cukup lama. Juni mengingat kalau dirinya harus sekolah. Dia tidak punya alasan bermalas malasan apalagi ujian nasional kelulusan tinggal sebulan lagi. Juni juga tidak mau kalau tetap berdiam diri dirumah, dan harus bertemu dengan wajah sang suami.


"Dihhhh,,, amit amit" ucap Juni sambil membayangkan sesuatu yang tidak dia ingin terjadi.


"Aku harus lebih pagi kesekolah, agar aku gak ketemu sama Om licik itu"


Dengan sangat cepat tubuh itu terbangun dari tempat tidurnya. Mungkin karena dorongan memang tidak mau bertemu dengan Saga membuat Juni bangun pagi pagi. Juni segera masuk kedalam kamar mandi, walaupun dia sangat benci air dingin tapi dia tetap mandi dengan air dingin dikamar itu. Kamar yang sedang ditempati Juni memang memiliki kamar mandi yang pemanas airnya sedang rusak.


Junibtak lama didalam kamar mandi, dia tak tahan airnya begitu dingin. Secepat kilat Juni mandi, bisa dibilang saat itu Juni menggunakan jurus mandi 3 centong air. Juni keluar dari kamar mandi dengan berbalut kain handuk. Juni lupa kalau seragam sekolahnya ada dikamar atas.


Matanya terbelalak melihat seragam sekolahnya tersusun rapi diatas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kok bisa disini? Siapa yang bawain kesini? " tanya heran Juni.


Dari balik pintu luar kamar, Saga membuka pintu membuat Juni kaget sambil berkata "Kalau udah pakai seragam, segera turun sarapan pagi. Aku tunggu dibawah"


Juni hanya diam tanpa mempedulikan ucapan suaminya.


"Yank,,,, denger aku gak? "


"Om kira aku budeg"


"Ooh ya udah, aku kira gak denger"


Saga masih melihat kearah Juni, ingin sekali Saga memeluk tubuh sang istri. Apalagi saat itu Juni hanya berlapis handuk putih. Juni masih memandang jutek Saga dan sontak menutup bagian atas tubuhnya dengan tangan menyilang.


"Om lihat apa? jangan macam macam ya"


"Gak ada kok" mata Saga menghindari pemandangan yang sudah dia lihat.


"Keluar sana, ganggu aja"


"Ya udah aku keluar, aku tunggu diruang makan" Saga kembali menutup pintu kamar dan meninggalkan Juni yang akan berganti seragam sekolah.

__ADS_1


Juni menatap seragam sekolah yang ada diatas ranjang, suaminyalah yang membawakannya seragam. Tanpa disuruh. Saga mempunyai inisiatif untuk selalu bersikap manis pada Juni setelah apa yang Juni sudah lakukan pada dirinya. Kekasaran tadi malam adalah puncak sikap kasar Juni, namun anehnya bukan marah atau kesal pada dirinya. Justru Saga tetap tak berubah selalu baik pada dirinya. Jika itu bukan Saga apakah masih ada lelaki yang walau sudah dikasari tetap baik pada perempuan.


"Pasti adalah, emang didunia cuman ada lelaki licik itu" Juni kembali berpikiran kalau Saga sedang bermain halus dan licik. Dalam pikiran Juni setelah Saga mendapatkan apa yang dia mau dari seorang wanita sudah pasti sikapnya akan berubah. Juni tersenyum sinis sambil berkata "Tak akan kubiarkan dia mendapatkan keinginannya" sembari tangannya kembali menyilang memeluk tubuhnya sendiri. Mendadak tiba tiba Juni ingin pipis. Juni berlari kedalam kamar mandi lagi. Beberapa menit Setelah itu Juni keluar dari kamar mandi, raut wajah Juni seakan merasakan perih. Perih dibagian miliknya. Ekspresi wajah yang tak bisa ditutupi.


"Kenapa perih ya? mungkin ini efek ****** ***** kesempitan" ucap Juni.


Juni melihat Jam dinding dan merasa kalau dirinya akan terlambat kalau masih saja menunda kegiatannya mempersiapkan diri kesekolah. Juni bergegas memakai dengan cepat seragamnya. Tanpa pikir panjang Juni langsung berjalan menuju ruang makan dengan sudah membawa tas digendongannya.


"Pagi yank.. " sapa Saga yang sudah duduk dimeja makan. Juni yang tadi memang sudah bertemu dengan Saga kembali penasaran. Kenapa Saga yang sepagi itu sudah berada diruang makan dengan hanya menggundakan baju kaos serta celana pendek. Biasanya Saga belum terbangun dari tidurnya.


Saga menggeserkan kursi untuk Juni tempati seperti yang selalu tiap pagi dia lakukan kepada Juni saat berada diruang makan.


Juni duduk tapi bukan ditempat Saga inginkan, dia sama sekali tak mempedulikan sapaan dan hal manis yang Saga lakukan pada dirinya pagi itu.


Saga juga tak terlalu mengambil hati atas sikap Juni, dia memaklumi bahwa Juni saat itu sedang marah.


"Yank mau apa? aku ambilin" ucap Saga


Juni diam saja sambil mengambil gelas. kosong. Saga yang tak mendengar respons Juni segera mengambil piring kosong dan mengambil nasi goreng. Dengan cepat piring yang diisikan nasi goreng Saga suguhkan didepan Juni. Juni melihat tangan Saga diperban, dan masih saja berusaha mendapatkan simpati dari dirinya.


Juni hanya menggeleng gelengkan kepalanya, Juni merasa sikap manis dari Saga tak akan segampang itu membuat dirinya luluh. Bukannya memakan nasi didepannya Juni mengambil piring kosong lagi dan mengisinya dengan sebuah roti. Juni mengolesi roti miliknya dengan saus kacang dan coklat. Dia memilih memakan roti ketimbang harus memakan makanan yang Saga suguhkan. Nasi goreng itu jangankan untuk dimakan, dilirikpun tidak sama sekali. Juni yang memakan rotipun tersedak, Saga segera menuangkan susu kedalam gelas kosong didepan Juni namun Juni lagi lagi memilih untuk mengambil air putih dan meminumnya langsung. Saga kembali terlihat bersedih, segitu bencinyakah seorang Juni pada dirinya hingga apapun yang dia ambil tidak pernah menjadi pilihan Juni.

__ADS_1


__ADS_2