
Sesampainya dirumah, Saga segera masuk kedalam rumahnya dan mencari sosok Juni dikamarnya. Saga yang sudah berdiri didepan kamarnya melihat nampan makanan masih utuh dan berada didepan pintu. Terlihat cukup jelas bahwa makanan itu belum disentuh sama sekali oleh Juni. Saga mengetuk ngetuk pintu kamarnya namun tak juga mendapatkan jawaban dari dalam kamar.
"Yank"
"Yank,, buka pintu aku mau masuk" ucap Saga lagi.
"Buka pintu Jun,,,, "
Saga mengela nafas panjang, seakan ingin menenangkan dirinya. Perasaannya campur aduk antara khawatir dan sedih. Saga kembali berbicara seorang diri didepan pintu kamar seakan dibalik pintu kamar ada seorang Juni.
"Yank, aku tahu aku salah, aku harusnya gak bercanda seperti itu dan pada akhirnya aku menyakiti hatimu tapi sumpah demi apapun itu karena aku cinta sama kamu. Hanya dengan cara itu sikap kamu jadi berubah sama aku. "
"Buka pintunya yank, kamu belum makankan dari tadi pagi?. Buka pintunya aku cuman mastiin kalau kamu makan aja"
Saga lagi lagi menghela nafas panjang, ingin rasanya dia memaksa pintu itu terbuka.
Bik Tika yang berada dilantai bawah berjalan menuju lantai atas karena mendengarkan suara Saga berbicara sangat keras.
"Den,,, kapan sampai?" ucap Bik Tika.
Saga berbalik arah menghadap Bik Tika dan begitu sangat terkejutnya Tika melihat wajah Saga bercucuran darah segar dan merah. Bik Tika mendekat dan bertanya
"Ini kenapa den? kenapa keningnnya berdarah seperti ini"
"Ohhhh ini" sambil mengusap kening dengan telapak tangan dan memang baru menyadari ada darah.
"Mungkin karena tadi sewaktu mau pulang kerumah, dijalan aku menghindari nabrak anak anjing jadi akhirnya nabrak pohon dipinggir jalan"
"Lahhh den,,, harus diobati den"
"Gak apa apa bik"
"Gak apa apa bagaimana? bibik bawain. obat"
"Udah gak apa apa bik, kalo bibik mau bantu aku mening bibik suruh pelayan buat ambilin aku kunci cadangan kamar ini"
"Ya udah nanti bibik suruh pelayan bawain kunci dan obat buat luka kening kamu"
"Ya bik,,,.makasii bik"
Bik Tika akhirnya pergi meninggalkan Saga yang masih berdiri didepan pintu kamarnya sendiri. Saga berdiri menunggu kunci cadangan yang akan dibawakan pelayan padanya. Pelayan yang disuruh bik Tika akhirnya datang juga membawakan kunci cadangan. Pelayan itu menyerahkan semua kunci rumah yang sudah jadi satu kepada Saga dan tak lupa memberikan juga obat kepada Saga. Pelayan itu langsung meninggalkan Saga setelah selesai dengan tugasnya. Saga kembali berbicara didepan kamarnya dengan tangan kanan memegang kunci dan tangan kirinya memegang obat.
__ADS_1
"Jun,,, kamu buka pintu sendiri atau aku bakalan buka dengan kunci cadangan" namun perkataan Saga malah tak mendapatkan jawaban dan alhasil Saga segera membuka pintu kamarnya karena sudah merasa khawatir kalau kalau terjadi sesuatu dengan istrinya. Saga membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Mata Saga mencari Juni kesegala arah karena tak menemukan Juni ditempat tidur. Saga berjalan dan mencari Juni dikamar mandi. Saat itu dikamar mandi ada suara air jadi pikir Saga mungkin Juni sedang ada disana.
"Yank,,,,, " kata Saga sambil mengetuk pintu kamar mandi dan lagi lagi tak ada jawaban.
"Kamu jawab atau aku masuk kekamar mandi? " ucap Saga lagi.
Setelah menunggu beberapa menit, berharap Juni keluar kamar mandi namun harapan itu hanyalah sebuah harapan. Saga menunggu lama namun tak kunjung Juni keluar kamar mandi. Saga akhirnya membuka kamar mandi dan tak ada Juni didalam kamar mandi itu. Saga mulai memikirkan sesuatu yang sudah biasa Juni lakukan yaitu pergi diam diam dari rumah. Saga keluar kamar mandi dan berlari menuju ruang ganti baju miliknya. Obat dan kunci yang ada ditangannya dia lempar begitu saja di atas kasur. Saga yang sudah berada diruang ganti miliknya menemukan jendela terbuka lebar dan benar saja Juni tak ada dikamar karena dia pergi diam diam melalui jendela.
"Kamu kemana lagi Jun" kata Saga bertanya pada dirinya sendiri.
Hal pertama yang Saga lakukan setelah mengetahui kalau tidak ada Juni dirumahnya adalah mencoba menghubungi keluraga Bramanto. Saga berpikiran kalau saat ini Juni mungkin saja berada dirumah ayah dan ibunya. Saga mengambil. ponselnya dan langsung mencari kontan ayah mertuanya. Walaupun saat itu dia masih ragu antara menanyakan langsung atau malah harus menunggu sampai Juni pulang.
"Tapi kalau dia gak pulang gimana? " ucap Saga.
"Ok,,, aku harus tenang dan coba menghubungi ayah"
Saga memberanikan diri untuk menekan tombol panggil setelah menemukan nomor ayah mertuanya.
Baru beberapa detik panggilan itu dilakukan, dia ragu lagi dan mencoba mematikan panggilan yang dia lakukan namun saat akan mematikan panggilannya dari pihak seberang sudah menerima panggilan telepon yang dilakukan oleh Saga.
"Haloo Sag,,,!"
"Opssss,,, e e e hallo yah" kata Saga terbata-bata.
"Hmmmm" Saga ragu lagi.
"Iya kenapa nak? Juni dimana nak? ayah pingin bicara. Ayah kangen sama anak ayah itu"
Mendengar perkataan ayah mertuanya, Saga baru menyadari kalau Juni tidak ada dirumah ayahnya. Dan itu tambah membuat Saga khawatir karena kalau tidak disana lalu Juni sekarang ada dimana dan bersama siapa. Apalagi sekarang ayahnya bertanya lalu apa yang akan Saga jawab.
"Hmmmmmm, Juni ada kok yah. Dia lagi didalam kamar mandi. Lagi mandi, dia merasa gerah"
"Oh begitu, ya sudahlah kalau seperti itu. Lalu nak Saga kenapa nelpon ayah. Apa ada sesuatu yang ingin nak Saga sampaikan?"
Saga bingung harus menjawab perkataan sang ayah mertua. Dia harus mencari alasan agar ayahnya tak tahu kalau sekarang Saga berbohong tentang keberadaan Juni dan agar keluarga mertuanya gak mencemaskan Juni.
"Aku cuman mau bilang terimakasih karena sudah menerima aku menjadi menantu ayah walaupun dengan cara yang kurang pantas. Aku bahagia bisa menjadi menantu ayah. Dan aku belum pernah. bilang terimakasih ke ayah"
"Astaga ayah kira kenapa? ayah yang beruntung punya menantu seperti Saga yang sudah mau mencintai anak ayah. Ayah cuman minta ke Saga tolong bahagiakan anak ayah"
Mendengar perkatan ayahnya, Saga merasa sedikit bersalah karena masih tidak bisa membahagiakan Juni.
__ADS_1
Saga yang tidak tahan mendengar perkataan Ayah mertuanya yang membuatnya sedikit bersalah segera mencari alasan untuk mengakhiri panggilan. Dia tidak mau kalau dirinya tiba tiba memberitahukan apa yang sedang terjadi karena itu pasti membuat keluarga Juni khawatir.
"Yah,,, Juni manggil aku. Minta diambilkan handuk"
"Oh ya udah nak,.kita bisa berbincang besok saja. Ayah akhiri dulu panggilan ini ya"
"Iya yah,,, "
Ayah Bram mematikan panggilan telepon dengan Saga. Dan Saga kembali lagi memikirkan keberadaan Juni. Saga mengingat ngingat lagi tempat yang akan Juni tuju kalau pergi dari rumah. Yang dia pikirkan hanya temannya Juni si Trala, apartemennya yang dulu dan Club. Hanya tiga hal itu yang bisa Saga pikirkan. Haripun cepat sekali berganti, tak terasa sudah malam dan Saga tambah khawatir dengan hal itu. Saga tak berpikir lama, dia langsung bertindak dengan cara akan mencari Juni ke tempat tempat yang dia pikirkan. Dia sama sekali tak peduli tentang darah yang mengering dikeningnya. Baru saja Saga akan keluar kamar untuk mencari istrinya tiba-tiba saja sosok Juni datang dari arah luar kamar. Saga kaget, matanya melotot, tapi dia sedikit lega karena orang yang dia rindukan dan kangenin sudah ada didepan matanya.
"Yank, kamu habis darimana?" tanya Saga
"Bukan urusan Om"
"Kamu masih istriku dan kamu adalah tanggung jawabku"
"Ishhhhhh" Juni hanya mendesis dengan tatapan mata tak ingin melihat Saga. Juni masuk kedalam kamar dan mengabaikan Saga.
Saga mendekat dan memeluk tubuh istrinya. Juni yang tak suka hal itu dengan cepat melayangkan sebuah tamparan keras dipipi Saga.
"Plaaaakkkk" suara tamparan keras melayang ke pipi Saga.
"Jangan sentuh aku, aku ingatkan agar Om ingat kita hanya menikah karena kontrak ayahku jadi jangan coba-coba jadi suami yang baik buat aku"
Saga memegang pipinya bekas tamparan dari Juni, dia tak marah. Dia merasa tamparan saja tidak cukup untuk menebus kesalahannya pada Juni. Harusnya dia mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar tamparan.
"Aku minta maaf yank, aku salah. Apapun kesalahan yang aku lakukan itu semua karena aku cinta sama kamu"
"Cinta? Cinta Om bilang"
"Iya aku cinta sama kamu"
"Tai kucing itu cinta, kalau Om beneran cinta. Om gak bakalan bohong. Om nyakiti aku. Tapi untung aja aku tahunya lebih cepat disaat aku gak ada rasa sama Om"
"Maksud kamu? "
"Iya,,, Aku gak cinta sama Om"
"Terus yang kemarin kemarin kamu rasain apa?,,, bukannya kamu juga cinta sama aku"
"Jangan mimpi Om dan jangan maksa aku buat suka sama Om karena itu gak mungkin"
__ADS_1
Saga yang tak percaya akan apa yang Juni katakan mendekatkan wajahnya dengan wajah Juni dan mencium bibir Juni dengan cepat hingga Juni tak bisa berkelit.