AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Lihai dan Licik


__ADS_3

"Oh iya kak aku baik" jawab Juni yang mengikuti saja alur yang Lisa inginkan. Lisa melihat Saga dan berdiri menghampiri Saga yang juga seakan kaget melihat sosok Lisa ada disana.


"Saga, adik iparku yang paling manis. Sini kakak peluk sebentar" kata Lisa.


Lisa segera memeluk tubuh kekar adik iparnya.


Juni hanya bisa melihat adegan pelukan yang dilayangkan Lisa pada suaminya.


Dua tangan Lisa sudah dibelakang punggung Saga, Saga tak bisa menolak pelukan Lisa didepan kedua mertuanya yang tak tahu kelicikan dan kelihaian Lisa.


Saga seakan sudah tahu apa yang Lisa pikirkan dari sikap manis Lisa yang sangat berbeda. Saat tak ada orang tuanya Lisa memperlakukan Juni 360 derajat berbeda dari sekarang.


Sudah pasti itu suatu keanehan yang patut dipertanyakan oleh siapa saja yang tahu watak asli Lisa.


Tangan Lisa yang berhasil memeluk Saga tak hanya diam di belakang puggung adik iparnya.


Salah satu tangan itu meraba leher belakang Saga dengan sangat sexy dan tangan yang satunya memegang dan berhasil mencubit b*kong Saga.


Saga sontak kaget dengan bagian belakangnya yang dicubit Lisa.


Saat tangan itu berhasil menggoda Saga wajah dan pandangan licik Lisa menghadap Juni.


Lisa seolah memperlihatkan cara dirinya yang menggoda suami Juni secara terang-terangan didepan dirinya.


Juni melihat semua yang Lisa lakukan pada suaminya tepat didepan matanya namun Juni tak bisa berbuat apa-apa.


Saga tak bisa berontak karena pandangan kedua mertunya terus saja melihat pemandangan yang menurut mereka indah dilihat.


"Nah,, gitu dong Lisa. Kamu harus akur dengan adik kamu dan juga adik ipar kamu" kata Mami Sintia penuh dengan senyum yang tersirat diwajah tuanya.


"Iya Lisa, kalau kayak gini terus ayah bakalan happy banget. Ayah harap kalian menjadi satu keluarga yang nantinya akan saling dukung" kata Ayah Bramanto.


"Iya dong yah,, Juni adalah satu-satunya keluarga aku dan Saga sudah menjadi suami Juni jadi dia juga sudah menjadi adik ipar aku. Mereka akan menjadi bagian penting dalam hidupku" jawab Lisa dramatis dengan mimik wajah sedihnya dan mata yang berbinar- binar saat berbicara.


"Ayo duduk" ajak Lisa yang hanya memegang tangan Saga tanpa mau melepaskannya untuk dia suruh duduk disampingnya.

__ADS_1


"Mas" panggil Juni. Saga bingung. Mata Juni menatap dirinya saat menyebut panggilan yang sangat asing padanya.


Biasanya Juni tak memanggilnya dengan sebutan itu namun pikir Saga lagi mungkin karena mereka sekarang berada didepan orang tuanya jadi Juni juga ikut memangilnya manis.


"Iya yank... " jawab Saga merasa senang dengan panggilan baru untuknya dari Juni.


Juni mengulurkan satu tangannya kepada Saga, Saga yang melihat tangan Juni berharap untuk digapai segera menepis tangannya yang digandeng Lisa dan melabuhkan tangannya ke telapak tangan Juni.


Juni menarik tangan Saga dan mengajak suaminya untuk duduk didepan Lisa alih-alih harus duduk disamping Lisa.


Lisa menatap dua pasangan yang berjalan memilih untuk duduk didepannya.


Lisa marah, kesal, jengkel tapi raut wajahnya tak berubah selalu tersenyum palsu didepan kedua orang tuanya.


Lisa tak mau kalah lagi dengan adiknya.


Dia juga harus bersikap baik dengan Juni yang dia benci dan Saga yang dia inginkan didepan kedua orang tuanya.


Kalau tak seperti itu sang ayah akan kembali tak memberikan uang jajan bulanan untuknya.


"Ayo kita mulai makan saja" kata Ayah Bramanto.


"Mami, duduk sini kita makan bersama" ajak Juni.


"Iya Jun, nanti saja" jawab Mami Sintia.


"Ayolah Mami,,, kita makan bersama" imbuh Ayah Bramanto juga menyuruh istrinya untuk duduk.


"Iya Nyah,,, nanti biar saya yang melayani. Nyonyah duduk saja" kata Bik Oyah.


Mami Sintia akhirnya duduk dan makan bersama malam itu. Mereka menyantap makanan yang Mami Sintia bikin langsung dengan bantuan suaminya dan juga asisten rumah tangannya. Disela-sela makan malam bersama sesekali mereka berbincang menceritakan bagaimana hubungan pasangan yang baru saja menikah.


Lisa yang tak tahan mendengar percakapan yang sama sekali tak dia sukai. Dia lebih memilih menatap Saga seakan ingin sekali dia makan. Pandangan penuh dengan gairah, darah Lisa terus saja berdesir setiap melihat dan mendengar suara Saga berbicara. Bibir Lisa digigit-gigitnya sendiri seolah menahan sesuatu.


Juni memperhatikan tatapan aneh dari seorang kakak kepada suaminya sendiri. Juni merasa agak malu dengan tingkah Lisa yang dia perhatikan. Namun dia tak bisa berbuat banyak karena apapun yang Lisa lakukan, dia masih menganggap Lisa adalah kakaknya.

__ADS_1


Lisa melepas sepatu hak tingginya dan kakinya yang susah gatel sedari tadi dia angkat. Kaki itu dia tujukan ke arah paha Saga yang sedang serius berbicara menceritakan tentang usahanya kepada ayah mertuanya. Topik saat itu berganti dari kehidupan pribadi Saga dan Juni menjadi tentang perusahaannya.


"Auuuuu" Saga teriak merasa ada sesuatu yang membelai pahanya.


"Kenapa nak? " tanya Ayah Bramanto.


"Gak ada yah, perut aku agak kenyang aja" jawab Saga yang harus berbohong.


"Oooh, coba kamu minum air dulu Nak" suruh Mami Sintia.


"Iya Mam,, " jawab Saga sambil mengambil gelas disampingnnya yang berisikan air putih.


Lisa tersenyum penuh arti.


Juni yang melihat kakaknya lagi-lagi aneh segera menoleh kebawah meja dan begitu terkejutnya dia melihat kaki kakaknya sudah ada dan bermain dipaha suaminya. Juni segera menatap Lisa, Lisa juga menatap tatapan mata Juni sambil tersenyum penuh kemenangan dengan kakinya yang sudah tak dipaha Saga.


Saga memundurkan kursi tempat dirinya duduk agar tak dijangkau oleh kaki Lisa lagi. Juni hanya bisa diam tanpa kata melihat kakaknya seperti itu.


"Nak kamu nginep juga disinikan? " tanya Ayah Bramanto kepada Saga.


"Gak yah,, aku kayaknya pulang. Mungkin cuman Juni yang nginep" jawab Saga. Juni menoleh kearah suaminya yang ternyata tak ikut nginep bersamanya.


"Yah,,, kayaknya aku juga gak bisa nginep disini" jawab Juni.


"Kenapa Nak? " tanya Mami Sintia.


"Besok aku sekolah. Ada ulangan juga, jadi aku habis ini juga bakalan pulang sama Mas Saga" kata Juni.


"Nanti kalau udah selesai ulangan, aku pastikan bakalan nginep disini" lanjut imbuh Juni.


"Padahal Mami sangat ingin tidur sama anak mami, tapi ya udah kalau memang besok ulangan. Ya udah lain kali aja" kata Mami Sintia yang terdengar kecewa. Saga sebenarnya tak menyangka kalau Juni memilih ikut pulang dengannya padahal Saga tahu Juni sangat rindu dengan kedua orang tuanya.


"Maaf Mami" kata Juni sambil berdiri mencium pipi maminya.


"Kan ada Kak Lisa disini. Mami bisa tidur sama kakak" lanjut imbuh Juni.

__ADS_1


"Maaf adikku yang manis, aku juga bakalan pulang. Aku ada janji sama temen" kata Lisa kembali memasang wajah termanis darinya.


"Untung aja aku ikutan pulang sama Om Saga. kalau gak udah pasti nanti kakak Lisa bakalan ikutin Om pulang" kata Juni yang ternyata hanya memiliki sedikit ketakutan terhadap kakaknya yang akan kembali menggoda Saga.


__ADS_2