AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Memastikan, dia yang dapati


__ADS_3

Saga sontak tak meyakini apa yang dia lihat dan yang dia rasakan.


"Ciuman pertama" sambil menatap dalam, arah Juni "Masak iya? " Saga sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri tanpa ada yang menyahuti.


Saga masih menatap arah punggung Juni yang berlari meninggalkan dirinya.


Kejadian yang baru terjadi adalah repleks dari gerakannya yang ingin menghentikan Juni dengan suara teriakan yang akan memanggil temannya.


Jauh dilubuk hati Saga yang terdalam, dirinya merasa sedikit bersalah atas perbuatannya sendiri seharusnnya dia tidak berbuat seperti itu kepada Juni.


Masih banyak cara dirinya untuk menghentikan Juni berteriak, tapi kenapa otaknya selalu terlintas pikiran aneh saat berada didekat Juni. Darahnya mendidih, debaran jantung Saga berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Hormon kelelakiannya seakan memenuhi isi kepalanya. Namun Saga tersenyum dalam diamnya, dia merasa senang mengingat lagi tak kala bisa mengetahui yang sebenarnya, memastikan kalau ciuman pertama Juni dia yang dapati.


Saga hanya bisa memegang bibirnya sambil tersenyum mengenang dan merasakan bibir Juni yang mungil dan lembut.


Sejenak Saga tetap melihat punggung Juni sampai punggung itu menghilang dari pandangannya


Punggung Juni yang mungilpun menghilang dari pandangan Saga, ia memutuskan untuk kembali lagi menuju aula sekolah dimana acara penyerahan simbul bea siswa sudah lama berlangsung tanpa kehadirannya.


*


*


*


*


Angga sudah menanti kehadiran Saga yang masih berpidato menggantikan Saga.


Saga masuk kedalam aula sekolah dengan mengendap-endap agar dirinya tidak terlalu menjadi pusat perhatian semua orang.


Akan tetapi sekeras apapun usaha Saga untuk tidak dilihat, mata semua orang yang ada disana memandang gerak- gerik Saga khususnya semua perempuan termasuk juga guru-guru yang hadir di Aula.


Mereka seolah terhipnotis dengan paras serta fisik Saga, apalagi Saga diketahui sangat dermawan yang membuat ia diam-diam sangat dikagumi.


Saga berhasil naik keatas panggung sambil matanya terus melihat dan mencari - cari sosok istrinya.


Semua penjuru Aula dia pandangi, namun tidak ada juni yang dia temukan.

__ADS_1


Tempat kursi Juni masih kosong hanya ditempati tas milik Juni.


Saga bertanya dalam hatinya apakah Juni sudah pulang atau Juni belum kembali.


"Kemana dia?" tanya Saga sambil megguman.


"Dimana kamu Jun,?" tanyanya lagi masih dengan hanya menggerakakan bibirnya.


Tidak susah melihat arah kursi yang masih kosong yang ditempati Juni sebelumnya, leher Saga yang jenjang dan disertai tinggi badan yang bagaikan model apalagi panggung yang sedang dia injaki lumayan cukup tinggi hingga bisa melihat setiap murid dengan jelas.


Saga duduk di kursi yang memang sudah disediakan untuk dirinya.


Angga yang melihat Saga baru saja datang berkata "Akhirnnya orang ini datang juga" dengan wajah yang penuh keringat. Melihat Saga sudah ada dipanggung Angga segera menutup pidatonya yang panjang hari ini.


Angga tipe sahabat yang terlalu setia terhadap Saga, Saga yang menyuruhnya untuk tak menghentikan pidatonya sampai dia kembali malah mengikuti perkataan Saga.


Walaupun dirinya tak tahu harus berbicara apa, ia tak mempersiapkan diri karena itu diluar dari konteks. Yang harusnya berpidato adalah Saga.


Diawal pidato Angga, dia berbicar sesuai dengan tema hari itu tentang bea siswa, namun saat bahan pidatonya yang ada dikepalanya habis dan Saga tak kunjung datang, akhirnya Angga berbicara apa saja yang bisa dirinya katakan hingga kadang dia berhasil membuat seisi Aula tertawa dan kadang juga membuat ngantuk para murid yang mendengar bualannya.


Angga menyadari kalau dia membuat para murid bosan tapi dia harus tetap berbicara hingga Saga datang. Angga segera duduk disamping kursi Saga setelah sudah menutup pidatonya yang panjang.


"Kamu kemana dari tadi" kata Angga yang sudah duduk disamping Saga dengan berbisik ditelinga temannya


Saga yang tetap tak menemukan sosok yang dicari menoleh kearah Angga. Saga kaget mendapati temannya sudah dipenuhi dengan keringat, terlihat seperti Angga terkena siraman air. Sangat basah.


"Kamu kenapa? basah gitu?" tanya Saga


"Menurut kamu, aku kenapa?" tanya Angga "Kamu kira gak gemeter pidato panjang depan orang banyak dengan sama sekali tidak mempersiapkan diri" lanjut imbuhnya lagi merasa kesal


"Ngapain pidato panjang, singkat ajalah. Repot amet!" kata Saga


"Jiah, kan kamu yang nyuruh aku pidato terus sampai kamu datang. Aku malu banget ngomong didepan sana dengan pembicaraan yang membosankan" kata Angga.


"Maaf, maaf. Aku lagi gak fokus tadi. Aku juga gak ngira kamu nurut gitu" kata Saga dengan memandang lagi arah bawah panggung.


"Sekarang juga kamu kayaknya masih gak gokus" jawab Angga.


"Iya sich" kata Saga, tak terlalu mendengar perkataan Angga.

__ADS_1


"Kok kamu tahu" lanjut imbuh Saga dengan wajah kaget karena temannya ternyata tahu dirinya lagi tidak fokus.


"Iyalah tahu, mata kamu udah kayak lagi nyari apa aja" jawab Angga.


"Oooppsss,, ketahuan deh?" sahut Saga, mendengar perkataan Angga. Saga kembali lagi memikirkan Juni yang berlari memunggunginya.


Saga berpikir antara Juni malu atau marah atas apa yang sudah terjadi.


Maklum saja Saga berpikiran kalau itu ciuman pertama bagi Juni jadi dia sudah pasti malu atau bisa juga marah memperlihatkan wajahnya.


"Juni, juni kamu dimana?" dalam hati Saga terus bertanya sambil terus saja mencari sosok orang yang dia ingin lihat.


*


*


*


Juni yang berlari meninggalkan Saga seorang diri digudang, menangis tak henti-hentinya menuju toilet perempuan.


Juni yang sudah ada ditoilet perempuan sengaja membuka satu persatu kamar mandi, memastikan tidak ada orang yang berada didalam kamar mandi hanya dirinya seorang.


Dia berdiri diwastafel kamar mandi dan melihat kembaran dirinya dicermin toilet perempuan, seakan-akan sedang memandangi diri yang penuh dengan kotoran.


Juni menyalakan keran air yang berwarna silver. Selain ada cermin besar diwastafel, disamping wastafel juga sudah disediakan tisu gulung oleh pihak sekolah.


Juni membasuh wajahnya diwastafel toilet terutama dibagian bibirnya.


Juni terus menggosok-gosok bibirnya sendiri hingga tak terasa bibir Juni berubah warna menjadi merah akibat terus saja digosok tangan Juni.


Juni menatap wajahnnya sendiri yang terlihat menyedihkan.


Air matanya tak henti terus saja mengalir tanpa dia sadari.


"Apakah ini karma?" tanya hati Juni kepada kembaranya dicermin.


"Apa hukumannya harus seperti ini?" Juni terus saja berbicara dalam hati seolah sedang bertanya pada orang yang sama dihadapannya.


"Haruskah aku memberikan ciuman pertamaku kepada satu-satunya orang yang aku benci" Juni menampar-nampar bibirnya sendiri karena sudah melakukan kesalahan hingga bibir itu dihukum. Hukuman yang diberikan Saga.

__ADS_1


Hukuman karena telah berkata kasar.


Hukuman karena telah menyakiti hati orang. Hukuman yang paling menyakitkan melebihi goresan luka ditangannya.


__ADS_2