AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Bukan Sosok Yang Ingin Aku Cintai


__ADS_3

"Om bilang gak ada maksud kayak gitu, terus apa maksud Om ngikutin aku ke sekolah" kata Juni berteriak.


"Aku gak ada maksud buat ngikutin kamu, aku memang ada jadwal buat acara beasiswa sekolah tapi aku juga gak tahu itu sekolah kamu sampai pada saat Angga memberitahu aku itu sekolah kamu jadi aku bersemangat bisa ketemu sama istri aku" jelaskan Saga kepada Juni.


"Om bohong,, aku tahu Om udah merencanakan semua jauh-jauh hari" kata Juni.


"Kamu ngak percaya, kamu bisa tanya Angga yang nulis semua jadwal acara aku" kata Saga.


"Aku beneran Juni, gak pernah punya niat buat ngikutin kamu ini semua kebetulan yang bikin aku senang" kata Saga.


"Om itu sahabat Angga jadi udah pasti bakalan ditutupi juga kebenaran apakah om benar atau tidaknya" kata Juni


"Apa kamu harus liat aku bersumpah baru kamu bisa percaya sama aku" kata Saga


"Aku tuch tulus cinta sama kamu terlepas cara aku nikahin kamu, tapi kamu gak pernah mau nerima dan selalu nolak aku" lanjut imbuh Saga.


"Itu karena aku tak cinta sama Om" kata Juni. Perkataan Juni bagaikan sebuah petir yang menyambar hati Saga. Saga yang sudah berbuat semaksimal itu kepada Juni malah tak ada artinya apa- apa dimata Juni. Juni sama sekali tak melihat Saga dengan ketulusannya.


Angin malam itu tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin menerpa tubuh saga.


"Jun, aku hanya butuh 0.1% cinta kamu. Apakah itu juga tak bisa kamu berikan?" tanya Saga.


"Gak bisa Om" jawab cepat Juni.


"Kenapa?" tanya Saga


"Om itu bukan sosok yang ingin aku cintai" kata Juni membuat telinga Saga benar- benar panas.

__ADS_1


"Om itu adalah....... " belum selesai kalimat Juni lontarkan, Saga segera berkata "Cukup Jun, sudah cukup semua" kata Saga yang membuat Juni terdiam melihat Saga berdiri dari simpuhnya. Saga yang awalnya ingin meminta maaf dan tak akan mengulangi semua kesalahan yang dia perbuat malah mendapatkan kata- kata yang sangat menusuk dihati.


Terlebih saat itu tidak hanya mereka berdua yang ada disana. Juni yang berbicara sangat keras membuat cheff dan pemain piano juga mendengar perkataan Juni yang dia lontarkan kepada Saga. Saga yakin kalau mereka juga ikut mendengar perkataan Juni, namun mereka bersikap seolah olah tidak mendengar apa-apa.


Saga berbalik dan melangkah berjalan meninggalkan Juni tanpa kata. Juni yang melihat Saga meninggalkannya sendiri menoleh kearah piring yang ada dimeja makan dan mengambil kembali sendok makannya serta berkata sambil tersenyum "Cheeefff, hidangin lagi makanan utama" menoleh kearah pemain piano yang sedang memainkan lagu romantis sambil berkata "Masss, tolong ganti lagu yang iramanya agak happy "


Juni tak mempedulikan kepergian Saga dia asik saja makan makanan yang sudah disediakan oleh cheff. Tanpa Saga, situasi malam itu begitu sangat indah baginya. Sesekali Juni melihat sekitarnya dan terus saja memandangi ombak yang dipenuhi dengan nyala lilin kecil yang sudah tak berbentuk simbol hati lagi.


Saga memilih kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk, malam itu dia terlihat sangat marah mendengar apa yang sudah dikatakan Juni pada dirinya. Dia sengaja pergi meninggalkan Juni sendirian karena tak mau lagi membuat kesalahan yang akan menyakiti Juni lagi. Saga yang berada dalam kamar langsung menghubungi ayah mertuanya. Niatnya ingin jujur dengan ayah mertuanya berharap kalau ada salah satu pihak dari kerabat Juni yang mendukungnya namun Saga juga merasa was-was setelah dirinya jujur nanti apakah Ayah Bram akan menerimanya dan memaafkannya atau malah sebaliknya. Saga memberanikan diri mengambil ponselnya malam itu.


Saga mencari kontak ponsel Ayah Bramanto, ia dengan perasaan agak sedikit takut untuk mulai menekan panggilan teleponnya. Sebelum Saga menekan tombol panggil di ponselnya, dia terlebih dahulu mengumpulkan semua keberanian dan rasa percaya dirinya.


"Lebih baik jujur sekarang atau tidak sama sekali" kata Saga yang masih duduk diranjangnya dengan menatap nomer kontak Ayah Bramanto. Jempolnya akhirnya bergerak menekan tombol panggil. Panggilannya tak dijawab oleh pihak seberang. Saga mencoba sekali lagi memanggil kontak ayah mertuanya.


"Yah,, angkat dong" kata Saga berharap walaupun tak dipungkiri rasa kecemasannya lebih besar. Ketakutan dan kecemasan Saga lebih kepada kalau dirinya tak di maafkan oleh Ayah Bramanto atas semua kebohongannya dan kesalah pahamannya selama ini yang mengawali dirinya berbuat curang untuk dapat menikahi Juni.


"Aku coba sekali lagi, kalau gak diangkat berarti niat jujurku gak direstui" kata Saga yang sudah mencoba menghubungi lagi mertuanya.


"Aku gak direstui untuk jujur" kata Saga yang akan mematikan panggilannya sendiri, namun belum sempat jempolnya mengakhiri panggilannya kepada ayah mertuanya tiba-tiba dari sambungan seberang ada jawaban "Hallooo nak! ada masalah nak?" kata Ayah Bramanto yang akhirnya menerima panggilan dari Saga.


"Ooh gak ada Ayah, aku cuman pingin ngajak Ayah main golf lagi" kata Saga mencari alasan untuk bisa berbicara serius dengan Ayah Bramanto.


"Kapan nak Saga bisanya?" tanya Ayah Bramanto.


"Nak Sagakan harus menyesuaikan jadwal agar tidak bentrok dengan perkerjaan" imbuh lagi Ayah Bramanto yang seakan sudah tahu sesibuk apa sebenarnya Saga mengurus semua bisnisnya sendiri hanya dengan bantuan seorang sekertarisnya yaitu Angga.


"Besok aku bisa kok yah " kata Saga

__ADS_1


"Ayah juga gak ada kerjaan besok," kata Ayah Bramanto.


"Ayah mau aku jemput?" tanya Saga


"Gak usahlah nak, kita ketemu ditempat biasa saja" jawab Ayah Bramanto.


"Juni mana nak? " tanya Ayah Bramanto.


"Ada yah lagi jalan- jalan dibelakang rumah" jawab bohong Saga yang tidak mau ayah mertuanya tahu kalau dirinya dan juni tak pernah akur karena Saga selalu mendapatkan penolakan dari Juni.


"Kamu mau ajak Juni?" tanya Bramanto.


"Juni besok sekolah yah, lagian aku mau ngomong sesutu dengan ayah besok" kata Saga.


"Okelah kalau begitu, besok ayah tunggu dilapangan biasa" kata Ayah Bramanto.


"Oke yah,, sampai ketemu besok disana. Maaf aku ganggu waktu istirahat ayah nelpon jam segini" kata Saga.


"Gak apa-apa nak, nak Saga udah ayah anggap anak sendiri jadi kapanpun Nak Saga butuh ayah tinggal telepon saja" kata ayah mertuanya.


"Iya yah,, makasi" kata Saga.


"Salam buat Juni nak, bilangin ayah dan mami sangat kangen dia" kata Ayah Bramanto.


"Iya yah,, pasti aku sampaikan" kata Saga


Mereka mengakhiri percakapan telepon dan akan berjanji bertemu dihari berikutnya. Saga menaruh ponselnya dan merentangkan badannya diranjangnya. Dia melihat sebelahnya ranjangnnya dan tidak ada Juni disampingnya. Saga merasa sangat kesal dengan perkataan Juni dipantai namun seketika dia melihat tidak ada seorangpun disampingnya, ia merasa sangat rindu dengan istri yang baru saja membuat harinya terluka dengan perkataan pedas Juni.

__ADS_1


"Kenapa aku kayak gini?" Saga bertanya dalam hati merasa dirinya aneh sekali tidak benar-benar merasa sakit hati malah merasakan rindu yang teramat dengan sang istri. Saga mengacak- acak rambutnya sendiri sambil berteriak dengan keanehan perasaannya malam itu.


__ADS_2