AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Pertolongan part ll Cara yang aneh


__ADS_3

z


z


z


Sekitar 30 menitan dari kepergian Dokter Mila, Saga masih berada disamping Juni dengan tetap memegang tangan Juni.


Saga merasakan kalau tidak ada perubahan dalam tubuh Juni.


Tubuhnya masih sama seperti saat pertama dia melihat Juni tergeletak dilantai ruang pendingin. Walaupun Dokter Mila sudah memeriksa dan memberikan pertolongan pada tubuh Juni.


Saga mulai dihampiri rasa khawatir dan takut.


Angga datang setelah mendapatkan kabar dari salah seorang karyawan Saga yang melihat Saga membopong seorang wanita dan membawanya ke klinik.


"Sag,,, gimana? " tanya Angga menepuk pundak Saga yang duduk disamping Juni.


"Masih gak sadar Angga" kata Saga sedih.


"Kamu nemuin dia dimana?" tanya Angga.


"Terkunci diruang pendingin belakang supermarket lantai bawah" jawab Saga.


"Kok bisa Juni disana terkunci? " tanya Angga.


"Kalau gak sengaja terkunci sudah pasti ini adalah kesengajaan. Nanti kalau Juni sadar aku akan langsung tanyakin siapa yang berbuat seperti ini jika itu memang disengaja" kata Saga


"Terus gimana keadaannya " tanya Angga.


"Masih sama tak ada perubahan padahal Dokter Mila sudah melakukan pertolongan sebisanya pada tubuh Juni" kata Saga.


"Terus kamu dibantu siapa bawa Juni kesini" tanya Angga


"Sendiri" kata Saga. Jawaban dari Saga membuat Angga sangat kaget.


"Yakin kamu sendirian bawa Juni kesini tanpa. bantuan?" tanya Angga.


"Iya benar" jawab Saga.


"Terus phobia kamu gimana?" tanya Angga. Angga yang bertanya seperti itu membuat Saga terdiam dan kembali mengingat kalau dirinya mempunyai phobia. Saat dia membawa Juni ke klinik Saga masih ingat bahwa diperjalanan menuju klinik banyak sekali pengunjung yang melihat Saga dan ada beberapa pengunjung yang merasa penasaran dengan Saga yang berlari membawa Juni menghimpit tubuhnya.


Ada juga yang sempat bertanya padanya apa yang telah terjadi walaupun Saga tak menjawab pertanyaan pengunjung karena saat itu Saga sangat panik akan keadaan Juni.


Saga tak melihat penyakitnya muncul, dia tak merasakan gejala yang bisa dia alami kalau dihimpit oleh orang banyak.


"Oooh iya" kata Saga dengan wajah dan mata bengong dia juga kaget akan kondisi tubuhnya.


"Phobia kamu sembuh sag,,, " kata Angga.


"Kok bisa" kata Angga heran.


"Kayaknya belum deh" kata Saga kembali mengingat phobianya, dia merasa tak percaya dengan penyakitnya yang tiba- tiba bisa tak kumat lagi setelah mengalami hal ini.


"Kamu harus cek lagi" kata Angga.


"Iya ngga,, tapi gak sekarang. Aku harus tetap fokus tentang keadaan Juni" kata Saga.

__ADS_1


"Iya sekarang memang lebih baik memperhatikan keadaan Juni" kata Angga.


"Angga bantu aku tolong jagain Juni disini, aku harus mencari Dokter Mila. Keadaan Juni tak berubah masih sama seperti awal aku melihatnya dilantai" kata Saga.


"Ya udah,,, atau apa lebih baik aku aja yang cari Dokter" kata Angga


"Kamu tetap disini" lanjut imbuh Angga lagi.


"Gak apa-apa. Aku sendiri bisa" kata Saga.


Saga segera melangkah meninggalkan ruangan dengan Angga dan Juni didalam ruangan. Baru saja Saga keluar dari pintu ruangan pasien tiba-tiba dia kembali lagi muncul dan kali ini dia bersama Dokter Mila.


"Dok,, keadaan istri aku sama sekali tak mengalami perubahan masih sama malah sekarang biru bibirnya terlihat sangat jelas dan lebih biru lagi" kata Saga.


"Dokter lihat sendirikan, semua sudah dilakukan. Selimutin tubuhnya sudah, cairan infus sudah, masker oksigen sudah, ruangan tanpa Ac sudah tapi tetap aja ini udah hampir 30 menitan Dokter" lanjut imbuh Saga.


"Iya ya... " kata Dokter Mila sambil membuka masker oksigen yang sudah Juni gunakan. Masker oksigen itu sudah Dokter Mila rasakan cukup untuk membantu pernapasan Juni.


"Terus gimana ini Dokter, aku gak mau dia kenapa- napa" kata Saga.


"Cara terakhir adalah menolong istri bapak sebagai seorang suami" kata Dokter Mila.


"Sebagai seorang suami" tanya Saga heran tentang perkataan Dokter Mila yang tidak dia mengerti.


"Iya sebagai seorang suami" kata Dokter.


"Maksudnya apa Dokter?" tanya Saga. Dokter Mila melihat Angga yang ada diruangan itu dan menghentikan pembicaraannya dengan Saga.


"Gak apa-apa Dokter, dia saudara saya. ngomong aja" kata Saga.


"Maksud Dokter kamu harus melakukan sentuhan badan dengan Juni agar tubuh Juni bisa hangat" kata Angga yang malah jauh lebih mengerti maksud Dokter.


"Anda lebih pintar dan sepertinya lebih berpengalaman" kata Dokter kepada Angga. Angga yang akhirnya tersenyum mendengar seorang Dokter mengatakan hal seperti itu padanya.


"Maksudnya? " tanya Saga lagi.


"Bapak Saga harus melakukan kontak badan dengan istri Bapak agar panas dari tubuh Bapak bisa menghangatkan tubuh istri Bapak dan memancing tubuh istri Bapak agar bisa mengeluarkan panas dari tubuhnya juga" kata Dokter Mila.


Saga terdiam sejenak mencerna perkataan Dokter yang terasa aneh. Pikirannya apakah ada cara pengobatan seperti itu. Saga melihat Juni yang masih terbaring kaku.


"Gak usah terlalu lama berpikir" kata Dokter.


"Diakan istri Bapak jadi sah-sah saja jika berhubungan selayaknya suami istri" lanjut kata Dokter yang sebenarnya tak tahu pernikahan Saga dan Juni seperti apa.


"Apa Bapak tidak pernah melakukannya" kata Dokter lagi.


"Ooohhh,,, sudah sering Dok. Tiap malam malah" kata Saga berbohong. Mendengar perkataan Saga, Angga tertawa seolah mengolok temannya itu kalau Saga tak pandai berbohong didepannya.


"Apalagi seperti itu. Jauh lebih baik lagi" kata Dokter Mila.


"Bapak lakukan sekarang dan kami akan memberikan ruang yang tenang untuk kalian berdua" kata Dokter.


"Harus dokter?" tanya Saga.


"Iya haruslah Pak, agar istri Bapak tidak hipotermia akut lagi" kata Dokter.


"Ayolah dok,, kita langsung pergi saja tinggalin mereka berdua disini" kata Angga.

__ADS_1


Angga dan Dokter berjalan meninggalkan ruangan dengan masih ada Saga dan Juni didalam ruangan kamar pasien.


Sebelum pintu ditutup rapat oleh Dokter Mila, dia berbalik arah lagi menghadap Saga yang masih berdiri ragu dengan berkata "Sekarang atau tidak sama sekali istri Bapak sembuh" pintu ruangan kamar pasien tertutup dan dikunci oleh Dokter Mila sendiri.


"Pintunya udah dikunci sag,, lanjutkan" kata Angga berteriak kearah dalam ruangan kamar pasien.


Saga melihat Juni dengan masih terbaring, dia duduk disebelah Juni sambil mengusap rambut Juni yang sudah basah.


Saga memikirkan lagi perkataan Dokter.


Jika ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan istrinya dia akan lakukan tapi Saga masih ragu.


Terakhir dia berbohong meniduri Juni malah berakibat Juni marah dan malah terbaring diranjang seperti sekarang apalagi nanti kalau Saga benar- benar meniduri Juni mungkin entah apa yang akan Saga dapatkan dari Juni.


Saga kembali memikirkan kalau ini adalah jalan satu-satunnya dia untuk tak kehilangan Juni maka dia akan lakukan walaupun sebenarnya dia takut berbuat sesuatu tanpa kesadaran dari Juni.


Setelah sekian lama terdiam memikirkan apakah dia akan melakukan saran Dokter Mila ataukah tidak.


Saga melihat dalam wajah istrinya dan tak tega kalau tetap melihat Juni kedinginan seperti itu. Saga akhirnya memutuskan untuk berbaring disebelah Juni dengan memeluk tubuh istrinya yang sudah tak berbusana hanya ditutupi beberapa lapis selimut tebal.


"Yank,,,, maaf" kata Saga seolah meminta ijin pada istrinya.


Saga bangun dari tidurnya dan membuka kancing jasnya dan perlahan membuka jas dan kemudian menaruhnya dikursi.


Saga melanjutkan lagi membuka kancing kemeja perlahan demi perlahan dari atas hingga sampai keujung bawah kemejanya.


Sekarang Saga sudah bertelanjang dada. Dia melihat wajah Juni dan mengusap usap wajah istrinya yang masih terbujur kaku tanpa ada pergerakan.


Wajah Juni sangat dingin.


Saga kembali membuka perlahan celana panjangnya dan sekarang Saga hanya menggunakan celana boxsernya.


Saga melihat arah langit sejenak sambil memantapkan diri untuk melakukan suatu hubungan suami istri dengan istrinya.


Saga bergerak dan langsung membuka selimut yang menyelimuti tubuh Juni, Saga sekarang sudah ada diatas Juni.


Saga melihat kulit Juni yang sudah tak tertutup sehelai kainpun.


Kulit Juni yang berwarna putih pucat sangat dingin, Saga mulai membelai wajah dingin Juni dan bibirnya mulai mencium bibir Juni.


Saga terus mencium pelan bibir biru Juni tanpa ada respon dari Juni.


Pertama dengan sangat pelan, ciuman Saga mendarat dibibir Juni.


Pelan-pelan hingga ciuman Saga mulai memanas. Saga menciumi terus bibir Juni.


Dari bibir, Saga berpindah menciumi pipi kiri Juni kemudian pipi kanan Juni.


Kemudian berlanjut ke kening Juni yang tak lolos dari ciuman Saga.


Dari kening turun ke hidung dan turun lagi ke dagu. Setiap ciuaman Saga sudah mulai membuat darahnya bergejolak.


Detak jantung Saga mulai berdetak cepat tak beraturan, darahnya berdesir.


Saga kembali ******* bibir Juni dengan pelan, semakin pelan dan mulai memanas mengeluarkan gairah Saga yang sebenarnya tak terkendali jika harus berhadapan dengan Juni


Saga menghela napas panjang, dia menghentikan semua kegiatannya kepada Juni dan berbaring lagi disebelah tubuh Juni. Dia merasa tak tega.

__ADS_1


to be continue.....


__ADS_2