
Saga memeluk tubuh Juni dengan sangat erat dan dipenuhi syukur.
Saga kembali mengingat perkataan Dokter Mila, yang mengatakan kalau dirinya melakukan hal yang baru tadi dia lakukan dengan Juni, akan membuat Juni sadar.
Sejak melihat wajah Juni tidak kedinginan dan mengeluarkan keringat disekujur tubuhnya.
Saga menjadi sangat percaya pada apa yang Dokter Mila katakan. Cara mentransfer suhu tubuh melalui sebuah kontak fisik sangat berhasil terbukti saat Saga melakukan hal yang disuruh Dokter Mila, bisa membuat Juni tak membeku lagi.
Namun saat itu Saga tak langsung melancarkan aksi keduanya. Saga memilih untuk tetap memeluk tubuh Juni dengan erat sambil terus berbisik ditelinga Juni yang masih tertidur.
"Yank..... bangun" kata pelan ditelinga Juni. Saga kembali merapikan rambut Juni yang menutupi setengah mukanya. Dengan tatapan ketir bercampur rasa bersalahnya Saga terus saja tak mengalihkan pandangannya dari sosok istrinya yang masih berada dipelukannya.
"Aku mau jujur langsung walaupun mungkin kamu sudah tahu, aku mau minta maaf sama kamu" ucap Saga lagi sambil terus membelai pelan pipi Juni yang masih sedikit terasa dingin.
Saga mendekatkan lagi bibirnya dan mendaratkan kecupan tepat dikening Juni. Saga kembali mendaratkan kecupan manis dibibir Juni. Jari tangan Saga memainkan dan mengelus bibir mungil Juni sembari berkata "I love you yank"
Tangan Saga kembali memeluk tubuh Juni yang sudah tertutup lagi oleh selimut tebal yang Saga sendiri pakaikan. Tangan Saga tak sengaja bergerak dan tepat berada didada milik Juni.
"Empuk" kata Saga dalam hati. Mata Saga melirik kanan dan kiri seolah dirinya takut sedang diawasi oleh seseorang. Saga melihat lagi Juni yang masih tertidur dan mengingat apa yang Dokter Mila katakan sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan yang ditempati Saga dan Juni.
"Yank,,, jangan marah sama aku, Dokter Mila yang suruh" ucap Saga lagi.
"Kalau mau marah nanti marah sama Dokter Mila, aku hanya ingin kamu cepat sadar" kata Saga. Saga yang sedari tadi sudah sangat merindukan kenikmatan yang tadi dia rasakan kembali melancarkan aksinya.
Kali ini tanpa terlebih dahulu mencium Juni ataupun melakukan hal yang membuatnya lebih panas.
Saga hanya mengambil tangan Juni dan menuntunnya ke miliknya, Saga menuntun telapak tangan Juni agar memegang miliknya dan memaju mundurkannya berulang kali.
Erangan demi erangan Saga bisikan ditelinga Juni. Setelah merasa sudah panas, Saga yang sudah merasa diujung rasa segera menindih lagi tubuh Juni.
Saga melancarkan semua aksinya lagi. Tempat tidur merekapun berguncang dari pelan hingga kencang. Percintaan dirinya dan Juni yang Saga sebagai subyek dan menjadikan Juni sebagai obyek akhirnya terjadi untuk kedua kalinya. Walaupun Saga merasa miliknya tidak bisa langsung masuk, penuh perjuangan hingga bisa mencapai puncaknya itu berlangsung sekitar 20 menitan tanpa berhenti.
"Ehhhhhhh" erangan lelah Saga terdengar begitu nikmat. Cairan panaspun keluar dan Saga tak berniat membuang ketempat lain dia hanya ingin membuang ke milik Juni lagi seperti percintaan pertama mereka.
Saga berkeringat dan keringatnya terus bercucuran jatuh mendarat ditubuh mulus Juni. Nafasnya terengah-engah tak beraturan.
Saga melihat Juni lagi dengan merasaan cinta yang baru tersalurkan sambil tangannya mengelus-elus perut Juni.
Saga bangun dari atas tubuh Juni dan mengambil tisu.
Saga membersihkan bercak-bercak cairan yang dia tumpahkan.
Saga masih terengah- engah dan memakai lagi pakaiannya yang dia lepaskan.
Setelah lengkap dan tak mau melihat Juni kedinginan karena hawa luar gedung sudah mulai masuk kedalam kamar dan membuat ruangan sangat dingin dia kembali memakaikan Juni baju pasien klinik yang ada diatas kursi karena baju miliknya masih basah.
"Dokter Mila pasti menyiapkan baju ini untuk istriku" kata Saga.
"Dokter Mila memang Dokter favorit ku" kata Saga.
"Kalau bukan karena saran Dokter Mila, Juni mungkin masih akan terus kedinginan" kata Saga.
Setelah memakaikan pakaian pasien klinik kepada Juni, Saga berbaring disebelah Juni dan kemudian ikutan tertidur karena pergulatan yang dia lakukan sendirian dengan Juni yang tetap terlelap tidur membuatnya merasa sangat lelah.
Hujan yang masih terus turun tanpa rasa ingin berhenti, hawa dingin malam yang terus masuk hingga kedalam gedung.
Gedung yang juga sudah sama sekali tak ada suara satupun manusia.
Ruang kamar pasien klinik yang hanya ada dua pasang suami istri menjadi saksi malam yang penuh cinta dari suami kepada istrinya.
____________________________________________
Angga yang masih didalam mobil akan menuju rumahnya setelah mengantarkan Dokter Mila pulang merasa sangat lapar dalam keadaan hujan dan dingin.
__ADS_1
Angga memutuskan untuk berhenti berkendara dan mencari mini market.
Angga menghentikan mobilnya setelah menemukan sebuah mini market yang jaraknya lumayan dekat dengan rumahnya.
Angga keluar dari mobilnya dengan sudah membuka payung yang akan dia gunakan untuk melindungi dirinya dari air hujan.
Angga melipat payungnya dan meletakkannya dipinggir pintu mini market, Angga berjalan memasuki mini market dan terlebih dahulu mencari mie instan cup.
Angga yang sudah melihat letak mie instan segera mengambilnya.
Dia bergegas berjalan menuju tempat air hangat untuk menyeduh mie yang sudah dia bawa.
Tak lupa Angga juga mengambil sebungkus kopi dan menuangkannya juga disebuah cup kosong yang memang disediakan pihak mini market disamping wadah air panas.
Angga kemudian bergegas berjalan menuju kursi yang ada dipinggir dinding kaca yang masih dalam kawasan dalam mini market.
Angga meletakan kopi panas dan mie instan di meja, dia mengusap usap badannya sendiri sebelum duduk dikursi.
Angga yang sudah duduk dikursi tepat didepan makanan yang dia ambil, memakan mie yang masih panas untuk mengurangi rasa dingin ditubuhnya.
Sesekali Angga melihat arah luar jalanan melalui dinding kaca mini market.
Hujan sudah mulai agak reda dan yang masih terlihat hanyalah tetesan tetesan gerimis kecil yang masih turun dari langit.
Dan sudah mulai banyak orang yang tadinya masih meneduh, berhamburan berjalan menerobos gerimis kecil. Setelah beberapa menit menyantap makanan yang ada didepannya, Angga juga bergegas ingin segera membayar dan melanjutkan kembali perjalanan pulang menuju kediamannya karena melihat kondisi hujan yang tak deras lagi.
Angga berjalan menuju kasir dengan tak lupa membawa bekas cup kopi dan mie instan bersamanya kemeja kasir dan meletakkan dua cup bekas diatas meja.
"Berapa mbak...? " tanya Angga kepada kasir saat itu.
"Ini aja ya mas..?" tanya balik kasir kepada Angga yang terlihat sudah kenyang hanya dengan memakan mie instan.
"Iya mbak" jawab Angga.
"Tit tit tit tit" bunyi mesin kasir yang dimainkan mbak kasir.
"Totalnya Rp Xx. xxx" kata mbak kasir.
"Bentar mbak" jawab Angga sambil merogoh saku celananya. Tangannya mencari dompet kantong celana kirinya namun tak dia temukan, dia mencari lagi dompet disaku celana kirinya dan dompetnya juga tak ada disana. Kedua telapak tangannya menepuk kedua kantong celananya dan menyadari sesuatu yang akan membuatnya malu didepan kasir. Dompetnya tak dia temukan.
Angga baru ingat kalau dompetnya masih ada dikantor. Angga kebingungan, dia juga sudah pasti akan malu dengan mbak kasir karena tidak membawa dompet tapi masih bisa belanja makanan didalam mini market.
"Maaf mbak, aku gak bawa dompet" jawab malu Angga kepada penjaga kasir mini market.
"Lah mas,,, terus gimana ini" kata mbak kasir.
"Aku boleh bayar pakai.... " kata Angga terpotong ketika ada seorang perempuan yang ada dibelakang antriannya berkata
"Pakai ini aja mbak" sambil mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan.
Angga berbalik kearah belakang punggungnya dan sangat kaget mendapati seorang perempuan yang dia masih ingat. Perempuan yang dia tahu sudah menikah dan mempunyai banyak anak. Perempuan pemilik toko bunga yang pernah dia dan Saga singgahi untuk mencari bunga buat Juni.
"Iya mbak" jawab mbak kasir sambil mengambil uang yang sudah disodorkan oleh Rose. Betul sekali, perempuan yang membayarkan makanan yang tidak bisa Angga bayar adalah sosok Rose yang ada diantrian belakang Angga.
"Sekalian ini mbak" kata Rose yang menyodorkan beberapa roti dimeja kasir untuk sekalian dihitung mbak kasir.
"Mbak ada payung gak?" tanya Rose.
"Kebetulan habis mbak" kata mbak kasir.
Angga hanya bisa diam tanpa kata karena dia merasa sedikit malu karena pertemuan kedua kalinya dengan perempuan pemilik toko bunga yang banyak anak sangat tak terduga dan bisa dibilang memalukan. Angga hanya bisa berdiri didekat kasir dengan masih menatap kedua perempuan dihadapannya berinteraksi sebagai pelayan dan pembeli.
"Ini mbak kembaliannya" kata mbak kasir dengan juga menyerahkan barang belanjaan Rose.
__ADS_1
"Makasi mbak" kata Rose.
Rose berbalik dan akan menuju pintu mini market setelah terlebih dahulu tersenyum manis kepada Angga yang masih diam seolah masih kaget dengan apa yang dia lihat dan alami.
Angga yang melihat senyum manis dari Rose padanya membuatnya sedikit sadar. Dia lekas mengucapkan makasi kepada mbak kasir dan memita maaf atas keteledorannya yang tak membawa dompet. Angga segera bergegas mengejar langkah Rose.
"Mbak Rose" panggil Angga yang masih ingat nama wanita yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
"Iya mas,, masih ingat nama aku" jawab Rose.
"Masih kok...! Makasi, udah bayarin makanan aku mbak" kata Angga.
"Iya mas gak apa-apa. Panggil Rose aja mas" kata Rose.
"Oooh iya, kenalin nama aku Angga" ucap Angga sambil menyodorkan tangannya.
"Aku Rose" sahut Rose sembari juga meraih tangan yang Angga sodorkan. Mereka berkenalan secara resmi malam itu. Mereka berjalan bersama keluar dari pintu mini market dan tertahan sejenak karena tiba-tiba hujan yang tadinya hanya gerimis kembali lagi turun deras.
"Jiahhh hujan" kata Rose.
"Aku anter pulang yuk! " ajak Angga.
"Gak usah ngga,,, rumah aku deket sini kok" sahut Rose.
"Suami kamu mana? " tanya Angga yang melihat wanita cantik seperti Rose sendirian tanpa didampingi suami.
"Hayhahhahahhaha" Rose tertawa sambil menutup mulutnya. Angga yang melihat Rose tertawa seperti itu membuat dirinya merasa malu dan bertanya-tanya dalam hati apakah ada yang lucu dengan pertanyaan itu.
"Kenapa? kok ketawa" kata Angga.
"Jelas aku tertawa, emang aku udah kelihatan ibu-ibu" kata Rose.
"Emang kamu bukan ibu-ibu?" jawab Angga dengan balik bertanya pada Rose.
"Aku belum nikah bagaimana bisa sudah jadi ibu-ibu" sahut Rose.
Angga kembali menatap Rose yang ada didepannya dengan tatapan berbinar-binar setelah tahu sosok Rose belum menikah.
"Terus anak-anak kamu,,, maksud aku anak yang kemarin dulu ditoko itu siapa" tanya Angga.
"Oohhh itu anak-anak aku juga, maksud aku anak teman-teman aku. Mereka udah biasa manggil aku seperti ibu mereka" jawab Rose.
"Ooo begitu" Angga mengangguk santai padahal dalam hatinya dia merasa sangat senang.
"Aku boleh minta nomer ponselnya gak?" tanya Angga.
Rose segera membacakan nomer ponselnya dan tangan Angga sudah mengetik angka demi angka yang disebutkan Rose. Angga juga tak lupa langsung memiscall nomer Rose agar bisa disimpan. Sambil menunggu hujan reda mereka berbincang bincang sambil berdiri didepan mini market.
"Ohhh gak deres lagi,,," kata Rose
"Aku pulang duluan ya ngga" imbuh Rose lagi.
"Aku anter" kata Angga.
"Gak usah, rumah aku deket kok" kata Rose.
Rose berjalan setelah berpamitan dengan Angga, tas selempangnya berada diatas kepalanya untuk melindungi kepalanya dari air hujan. Rose berjalan dibawah turunan hujan yang masih turun.
Beberapa langkah Rose berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti karena merasa ada sebuah payung yang ada diatas kepalanya. Payung yang dipegang oleh Angga. Angga mengambil tangan Rose dan menuntun tangan itu memegang payung miliknya.
"Pakai ini" kata Angga.
"Terus kamu? " kata Rose.
__ADS_1
"Mobil aku didepan, nanti aku hubungi lagi " kata Angga sambil berlari kearah mobilnya dan melepaskan payungnya ditangan Rose yang tak mau diantar pulang. Rose hanya melihat punggung Angga yang baru saja bersikap manis padanya.