
Isi hati sudah sangat berbanding terbalik dengan isi kepalanya. Logika juni menolak kalau keputusan itu dia ambil tapi perasaan tidak bisa dia abaikan apalagi ini menyangkut dengan kehidupan orang tuanya dan kehidupan banyak orang yang menggantungkan hidup mereka dari perusahaan kecil yang dibangun ayah bram.
Juni memejamkan mata sejenak dan kembali membuka matanya setelah mempersiapkan batinnya dan perasaannya berdamai dengan logikanya. Dia mencoba memencet tombol panggilan dilayar ponsel ayah bram.
Setelah menunggu beberapa detik tak kunjung panggilannya diterima oleh pihak seberang yaitu pak saga. Juni merasa harus sesegera mungkin menghubungi pak saga karena dirinya berlomba dengan waktu yang tak bisa dihentikan.
***
Diujung sana saga yang tidak bekerja seperti biasanya sengaja menunggu panggilan dari pihak bramanto
Dirinya sudah mengetahui dan memprediksi kalau-kalau anak dari bramanto yang bernama juni tidak akan tega melihat ayahnya kesusahan. Saga yang melihat ponselnya berdering sengaja tidak mengangkat panggilan dari bramanto yang saat itu menghubunginya.
Dia sengaja membiarkan pihak pak bram berspekulasi liar dalam benak mereka sambil menunggu tenggat waktu yang diberikan menipis. Dalam duduknya yang santai dengan segelas es cappuccino latte digenggamannya, saga menikmati pemandangan pantai yang ada dibelakang rumahnya dengan terus berdendang karena keinginannya untuk menikahi anak dari rekan kerjanya itu akan terlaksana. Saga tak merasakan panas terik dari matahari yang sedang bersinar dengan pancarannya yang tak sedikitpun dihalangi oleh awan.
Saga yang duduk membaringkan tubuhnya dengan memakai kaca mata hitam yang menutupi matanya agar tak langsung terkena sinar matahari. Saga menggunakan celana pantai pendek yang berwarna biru serta tanpa menggunakan baju atasan sehingga bentuk tubuhnya sangat terlihat jelas. Saga terus saja memainkan jarinya mengikuti irama lagu yang dia dendangkan.
\=\=> CONTOH VISUAL RUMAH SAGA
__ADS_1
Saga memang sangat ingin menikahi juni, dia mengingat lagi saat dirinya berkelahi dengan lisa di hotel Garden City. Saga yang saat itu berada di hotel garden sedang melakukan pertemun penting dengan beberapa penjual tanah dikarenakan saga ingin membeli tanah untuk rencana dirinya membangun lagi cabang Mentari Departemen Store miliknya. Saga yang merasa sedang ada janji dengan pihak lain diberitahukan oleh sekretarisnya bahwa pacarnya sekarang sedang ada ditempat yang sama dengan seseorang pria. Saga yang memang tidak peduli dengan lisa membiarkan saja tingkah lisa yang bermain dengan banyak pria dibelakangnya.
"Saga, si lisa sekarang berada dihotel ini dikamar VIP dengan pria asing" kata angga sekertaris saga yang sudah bekerja sangat lama dengan saga dan menjadi salah satu orang kepercayaan saga sekaligus sahabat saga.
(Eitsssss,,, ingatan saga bukan mulai dari yang ini. Mundur lagi ke 5 bulan yang lalu. Ayo kita sama-sama mulai mundur 1 2 3 go... )
Ingatan saga mulai dari lima bulan yang lalu, saat dirinya berjalan mengitari Mentari departemen store miliknya. Kegiatan memeriksa keadaan toko dan stand yang dia kelola sudah sangat rutin dia lakukan apalagi didampingi oleh para pegawainya yang juga memberikan laporan mingguan tentang kondisi dan situasi di Mentari store.
"Gimana tentang kontrak perpanjangan stand dan toko dari pihak toko yang akan segera berakhir, apa sudah ada yang memperpanjang kontrak atau gimana....? tanya pak saga yang masih berjalan diikuti oleh para supervisor masing masing bidang.
"Sudah selesai pak kalau masalah kontrak, laporannya sudah saya taruh dimeja sekertaris bapak" kata salah satu pegawai yang membawahi bagian administrasi perkontrakan.
"Okey, angga nanti kamu bawa laporan itu kemeja aku" saga melihat angga yang ada disampingnya dengan masih mencoba melihat-lihat agenda apa yang akan dilakukan bosnya itu setelah sudah menuju gedung yang menandakan kalau meeting berjalan yanh dilakuakan saat itu sambil mengecek gedung sudah selesai.
Saga terdiam dan menghentikan langkah mundurnya saat matanya jelas tertuju kearah juni. Sontak pegawainya yang mengikuti saga ikut berhenti melangkah merasa kalau mereka sudah salah membacakan laporan disiang itu.
Para pegawai yang ada tepat dibelakang saga ketakutan karna pikir mereka akan mendapatkan hukuman dari bosnya yang tidak pernah tahu akan namanya kesalahan. Saga yang mempunyai terkenal dengan perpectnya hanya tahu nama sempurna tanpa mentoleransi kesalahan sekecil apapun.
\=\=> CONTOH VISUAL JUNI SAAT MAKAN DISEBUAH RESTAURAN DI MENTARI DEPARTEMEN STORE.
__ADS_1
Saga berbalik arah kebelakang pegawainya yang berjumlah delapan orang dan mengatakan kepada angga untuk membubarkan pegawainya karena laporan hari ini sudah cukup baginya.
"Kalian semua bisa membubarkan diri" kata angga yang meneruskan perkataan pak saga kepada para bawahannya.
Saga langsung melangkah menoleh lagi kearah juni yang masih ada didalam restauran didalam gedung Mentari bersama dua orang lelaki yang satu terlihat sangat lelaki dan yang satu terlihat kemayu.
Saga yang saat itu masih bersama angga bertanya kepada sekertarisnya itu "Ngga udah makan?" pertanyaan itu sontak membuat angga melihat jam tangannya.
Jam tangan angga masih menunjukan pukul 11.11 waktu siang "Kamu laper?aku pesenin makanan buat kamu, kamu tunggu saja didalam kantor" kata angga kepada bosnya, angga bukannya orang yang tidak sopan memanggil bosnya dengan panggilan aku dan kamu tapi mereka mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar pegawai dan bosnya. Mereka adalah teman sewaktu kecil hingga sampai sekarang.
Dimanapun mereka berada, saga tidak mau kalau sahabatnya itu kaku pada dirinya dikarenakan dirinya adalah seorang pemimpin yang memimpin salah satu Departemen Store terbesar dan terkenal. Dan hubungan antara saga dan angga sudah menjadi rahasia umum, yang membuat angga juga sangat disegani dikantor dan diluar kantor.
"Bosen makan didalam kantor, kita makan disana saja bagaimana?" usul saga yang menunjuk kearah restauran tepat dimana gadis yang membuatnya tertarik saat pertama kali melihatnya itu.
"Disana, kamu yakin? bukannya kamu bilang gak suka makan direstauran yang kamu kelola" kata angga sambil jari telujuknya menunjuk kearah restauran thailand yang ada dihadapannya saat ini.
"Gak apa- apa lah sekali-kali. Lagian diisini sepi, aman kok. Ayok!" tangan saga sudah mendorong pundak angga agar angga ikut menemaninya makan direstauran thailand. Mereka melangkah dengan posisi saga tetap mendorong pundak angga yang terlihat agak malas kalau harus makan ditempat seperti itu apalagi makanannya berasal dari thailand.
__ADS_1
Restauran yang saga kunjungi agak sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang makan jadi saga tidak akan terganggu. Yang saga takuti adalah saat dirinya tiba-tiba berada dalam restauran yang ramai dan harus berdesak-desakan. Sudah pasti rasa gangguan cemas dalam dirinya akan muncul.
Saga memiliki kekurangan dalam dirinya, dia akan merasa tidak nyaman kalau tubuhnya terhimpit oleh banyak orang yang tidak dia kenal. Dan angga juga sangat menjaga itu, maka dari itu saga tidak terlalu suka kalau makan direstauran yang dia kelola setiap restauran yang ada dibawah naungannya akan selalu ramai tapi tidak hari ini. Restauran yang dia datangi kebetulan agak sepi.