AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Tertawa


__ADS_3

"Nanti ayah pikirkan bagaimananya, biar itu menjadi tugas ayah" kata Ayah Bram kepada istrinya.


Ayah Bram berusaha untuk menenangkan anaknya yang sedang menangis. Selain anaknya ada istrinya yang juga terlihat tegar tapi pasti dalam hatinya sedang berkecamuk memikirkan Lisa yang selalu bersikap jahat dengan adiknya yaitu Juni.


Ayah Bram menyuruh Juni untuk keatas kamarnya dan tidak lagi memikirkan hal- hal yang kecil seperti gaun pengantin biarlah itu menjadi urusan kedua orang tuanya.


Juni akhirnya naik kelantai atas dan langsung memasuki kamar tidurnya. Didalam kamar tidur Juni menangis lagi sambil berbaring dipembaringannya. Benjol dikeningnya masih terasa, namun luka dihatinya jauh lebih membekas. Dering telepon berbunyi menghentikan tangisnya, segera dia menggapai ponselnya dan seorang Trala menghubunginnya kala itu. Juni memang sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Mungkin Trala sudah sangat kangen dengan dirinyan padahal Juni sempat berkata kepada Trala akan segera masuk namun sampai hati itu Juni tdak terlihat disekolah.


"Halllo, Trala" sapa Juni


"Hey cin! kemana aja kamu? gak pernah sekolah, aku kangen tahu" Trala berbicara seakan sangat senang mendengar suara dari Juni.


"Maaf Trala, aku gak ngabarin kamu akhir-akhir ini" kata Juni mengucapkan kata permintaan maafnya yang memang sudah tak mengabari Trala kondisi terbaru darinya.


"Kamu kenapan habis nangis?" Trala bisa menebak hanya dengan mendengar suara dari Juni bahwa dirinya sedang menangis


"Kenapa cerita sama aku" imbuh Trala lagi


"Gak ada Trala, aku lagi pilek aja" Juni terpaksa berbohong dengan Trala agar Trala tidak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa. Juni segera duduk dipinggir ranjang dan terus bicara menanyakan balik kabar dari Trala hari itu. Trala yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Juni lantas menceritakan khabar dirinya tanpa berbicara dengan jeda titik dan koma


Trala mengatakan kalau dirinya dan teman-teman yang lain sangat rindu Juni yang tak ada disekolah serta ditempat tongkrongan seperti biasa juga Juni tidak ada. Juni mendengar perkataan Trala menjadi sedih, mungkin moment bersama dengan Trala akan menjadi hilang saat dirinya menikah nanti. Dirinya sudah membayangkan kalau tidak akan bisa menggapai kebebasan yang dirinya biasa lakukan. Juni menghela nafas panjang dan berusaha terdengar ceria saat berbicara dengan Trala.


"Juni, besok masuk gak?" tanya Juni yang langsung membuat Juni bersedih karena esok adalah hari pernikahannya dengan Pak Saga sebagai syarat untuk memperpanjang kontrak kerja sama ayahnnya dengan rekan kerja ayahnya itu.


Juni menjauhkan ponselnya dari telingannya dan menangis lagi


"Juni" kata Trala yang terus memanggil nama Juni karena tak mendapati respon dari Juni.


Juni berusaha tegar kembali dan berbicara lagi kepada Trala dengan menjawab kalau besok dirinya tidak masuk karena kondisi badannya masih tidak sehat. Trala menawarkan diri untuk menjenguk Juni dikediamannya namun dengan cepat Juni berteriak menolak Trala menjenguknya.


"Why?" tanya Trala heran untuk pertama kali Juni menolak kalau dirinya datang kerumahnya untuk menjenguk dirinya yang kurang enak badan.


"Gak apa- apa Trala, aku cuman butuh istrihat saja. kalau kamu kesini ntar kamu gangguin aku bukannya biarin aku istirahat" kata Juni kepada Trala.


"Duh segitunya kamu Jun, jahat sama ekeee" jawab sedih Trala setelah mendengar perkataan Juni.


"Becanda Trala, pokoknya jangan kesini. Besok aku juga mau pergi sama keluarga jadi aku gak bakalan ada dirumah" kata Juni.

__ADS_1


"Ya udah aku gak bakalan kesana lagian besok aku juga mau pergi beli boneka sama papi" kata Trala.


"Cihhhhhhhh" desis Juni terdengar saat Trala berbicara seperti itu.


*


*


*


Di kamar kedua orang tua Juni masih duduk Mami Sintia didepan meja rias, Mami Sintia ingin membersihkan wajahnya sebelum berangkat tidur. Dirinya terdiam sejenak memikirkan hal- hal seperti tentang anaknya Lisa yang sudah berubah menjadi brutal, Juni yang rela menikah dengan saga demi menyelamatkan ayahnya dan tentunya ketakutan Juni akan ayahnya yang akan mencoba bunuh diri. Dalam diamnya Mami Sintia memikirkan banyak hal


"Mami " panggil Bram tiba-tiba dari arah belakang punggung istrinya


"Mami" panggil lagi Bram yang menggagetkan Mami Sintia tersadar dari lamunannya.


"Iya ayah, kenapa? " tanya Mami Sintia yang sudah berhadapan dengan suaminya.


"Ada liat botol pembersih lantai diatas kursi meja kerja ayah gak? " Ayah Bram bertanya pada istrinya sontak istrinya kaget bukan kepalang. Mami Sintia berteriak histeris "Kenapa ayah masih cari itu?"


"Maksud mami apa? kok tiba-tiba teriak begini?" tanya Ayah Bram kepada istrinya.


"Sumpah ayah gak ngerti, maksud mami apa? jelasin sama ayah" tanya heran Pak Bram kepada istrinya tentang perkataan istrinya yang tidak dia tahu menjurus kemana.


"Ayah mau bunuh diri kan dengan menenggak pembersih lantai? semua masalah ayah sudah terselesaikan jadi ngapain ayah lagi nyari pembersih lantai itu?" perkataan Mami Sintia tambah membuat ayahnya bingung.


"Bunuh diri?" kata pendek Bram kepada istrinya.


"Iya bunuh diri" sahut Mami Sintia


"Ayah masih bingung coba kamu jelasin dari awal" pinta Bram agar istrinya menjelaskan dari awal hingga dia berpikiran kalau suaminya akan bunuh diri.


Mami Sintia menjelaskan kalau Juni menemukan sepucuk surat yang ditindih oleh botol pembersih lanatai dan Mami Sintia yang masih menyimpan surat itu menyerahkan kepada suaminya surat yang dia tulis tangan sendiri. Ayah Bram mengambil surat yang istrinya sodorkan segera dibukanya surat tersebut dan betul surat tersebut memang tulisan tangannya.


"Oooh iya ini surat ayah" kata Bram kepada istrinya


"Ayah cuman jawab ooohhh iya, ayah ngaku mau bunuh diri sekarang" kata Mimi Sintia.

__ADS_1


"Bukan" Ayah Bram menyangkal tuduhan istrinya itu dan kemudian tertawa keras hingga air mata keluar dari mata tua Pak Bram


Pak Bram sangat menganggap lucu hal ini. Mami Sintia yang marah-marah setelah mendengar tawa terdengar dari Pak Bram langsung merasa aneh dia berpikir apakah dirinya salah berbicara. Ayah Bram terus saja tertawa tanpa henti dan Mami Sintia hanya bisa memperhatikan suaminya tertawa dengan expresi linglung yang terlihat diraut wajahnya.


Melihat expresi istrinya yang terlihat kebingungan akhirnya Pak Bram bertanya kepada istrinya..


"Jadi Juni pikir kalau ayah akan bunuh diri?" tanya Pak Bram


"Iya" jawab pendek istrinya di ikuti dengan suara tawa keras lagi terdengar dari sosok suaminya itu. Ayah berusaha untuk tak tertawa namun perkataan istrinya membuat dirinya terus saja tertawa tanpa henti.


"Oke oke oke" ayah jelaskan sebentar.


Penjelasan Ayah Bramanto kepada istrinya "Sebenarnya ayah tidak mau bunuh diri, dan surat itu memang ayah yang bikin dan itu surat yang ayah tulis 5 tahun lalu. Ayah nemuin surat itu ditumpukan buku- buku lama ayah. Memang sengaja ayah taruh surat itu ditindih sama pembersih lantai agar tak terbang. Dan sekarang ayah kebingungan cari pembersih lantainya, ayah lagi mau pakai bersihin gudang sebelah.


Ayah mau jadikan satu sama ruang kerja ayah karena ayah rasa ruangan kerja ayah yang itu sudah sangat sempit " Istrinya bengong. Masih mendengar penjelasan panjang sang suami.


Sambil tertawa Ayah Bram menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mami Sintia yang mendengar penjelasan suaminya ternyata sudah salah paham dan Junipun sudah salah paham. Mami Sintia lantas berkata kepada Ayah Bram


"Yah brarti semua ini hanya salah paham" kata Mami Sintia.


"Kalian salah paham sama ayah" kata Bram kepada istrinya.


"Berarti junj sudah salah ambil keputusan, dia memutuskan untuk menerima syarat dari Pak Saga karena dia pikir ayah akan bunuh diri jiika tidak mendapatkan kontrak kerjasama" kata Mami Sintia kepada suaminya yang tak henti tertawa menertawakan istrinya yang sudah salah paham dengannya.


"Ayah, aku mau kasih tahu Juni" Mami Sintia berlari hendak ingin memberitahukan Juni tentang semua yang dia pikirkan ternyata salah.


Saat Mami Sintia berlari sudah akan meninggalkan garis pintu kamar.


Tiba-tiba sontak Mami Sintia dikagetkan dengan suara larangan sang suami "Jangan mami!" Mami Sintia berhenti berlari dan segera berbalik arah menghadap Ayah Bram.


Mami Sintia bertanya kenapa Bram melarang dirinya untuk membertitahukan Juni dan Ayah Bram menjawab sesuatu yang tidak terduga.


Ayah Bram memberitahikan agar membiarkan saja kalau memang Juni sudah salah mengartikan semuanya bukan karena apa- apa dirinya menghentikan istrinya namun sejak dirinya berbicara dengan sagaa dikediaman Saga, Ayah Bram percaya Saga akan benar-benar menjaga Juni dan pasti mencintai anaknya itu selama Juni menjadi istrinya.


Saga sudah berhasil membuat Ayah Bram yang tadinya tidak setuju dengan keputusan yang Juni ambil hinggga Pak Bram menjadi setuju sampai tak mau Juni tahu kalau dirinya tidak ingin bunuh diri.


"Ayah yakin! dengan semua ini, kita tidak akan bilang sama Juni kenyantaan yang sebenarnya" tanya tak percaya istrinya kepada suaminya yang tiba-tiba berubah pikiran.

__ADS_1


"Oya mami, biarlah ini sudah menjadi jalannya Juni menikah sengan usia belia. Pak Saga juga sudah berjanji kalau Juni tidak akan diapa-apakan sebelum lulus sekolah" kata suaminya.


Akhirnya Mami Sintia mengalah dengan keputusan yang diambil oleh Ayah Bram. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak setuju akan melanjutkan pernikahan Juni, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


__ADS_2