AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Tamparan Yang Membuat Tertunduk


__ADS_3

*


*


*


Mami Sintia tidak bisa berbuat apa- apa dia sudah berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Lisa dari rambut Juni namun entah apa yang merasuki Lisa sampai Lisa bisa seperti itu terlihat sangat bringas.


Saat Juni melayangkan tangan kirinya tiba- tiba datang ayahnya yang dari arah belakang Lisa berlari dan menghentikan tangan kiri Lisa yang akan menghantam kepala Juni dengan vas pot. Lisa kaget melihat kedatangan sang ayah, tangan kanannya sontak melepaskan rambut Juni dan melihat sosok ayah yang sudah sangat marah dengan tatapan mata merahnya.


"Ayah" kaget Lisa melihat ayahnya sudah memegang tangannya dan berada dibelakangnya dan menghentikan pergerakan tangannya yang akan memukul Juni dengan vas pot.


Ayah Bram mengambil pas pot yang ada ditangan kiri Lisa dan membalik badan Lisa serta tak lama malayangkan telapak tangannya dipipi lis.


"Plakkkkkk" bunyi pipi Lisa yang ditampar sang ayah.


Sontak semua orang yang ada diruangan itu kaget, tidak pernah satu kali Ayah Bram memperlakukan anak- anaknya dengan sangat kasar dan ini untuk pertama kalinya dia lakukan dengan menggunakan kekerasan kepada Lisa.


"Selama ini ayah selalu diam kamu berbuat sesuatu, tapi ini yang kamu lakukan kepada adik kamu tidak pernah ayah ajarkan dan sungguh sangat keterlaluan" kata Ayah Bram yang membuat Lisa dan seluruh orang yang ada disana terdiam.


"Apa ayah pernah ngajarin kamu menggunakan kekerasa menyelesaikan masalah" tanya Ayah Bram kepada Lisa yang masih tertunduk dengan memegang pipinya yang mungkin saja masih terasa sakit karena pukulan seorang lelaki yaitu ayahnya.


Pukulan yang sangat berbeda rasanya apalagi ini sosok ayah yang juga menyayanginya.


"Ayah sudah salah mendidik kamu Lisa" Ayah Bram terduduk dikursi antara dirinya marah dan juga merasa bersalah karena sikap Lisa.


Ayah Bram menjelaskan kepada Lisa bahwa yang terjadi juga bukan keinginan Juni adiknya, namun memang sudah menjadi permintaan Pak Saga yang menginginkan kalau Juni menjadi istrinya.

__ADS_1


Ayah Bram juga menjelaskan kalau Juni juga tidak mau melakukan ini apalagi Juni masih sekolah perjalanan hidupnya masih panjang namun dia bersedia menikahi Pak Saga karena untuk melindungi bisnis ayah dan melindungi banyak orang yang mengantung hidupnya dari bisnis ayah.


Ayah Bram juga mengingatkan kepada Lisa kalau ini juga karena dirinya, jika saja Lisa tidak selingkuh mungkin ceritan akan berbeda yang Saga nikahi mungkin adalah dirinya bukan adiknya. Padahal Saga jelas tidak menginginkan pernikahannya dengan Lisa.


Juni hanya bisa menagis merasakan rasa sakit karena tindak kekerasan seorang Lisa dan juga merasakan hatinya remuk dengan kelakuan kasar seorang kakaknya.


Juni bisa saja melawan kakaknya saat dirinya merasa disakiti namun Juni memilih untuk tidak melawan kakaknya walau bagaimanapun Lisa adalah kakak baginya.


Sebenarnya Juni sudah banyak mendapatkan kekerasan sikis dan fisik yang sering dia peroleh dari Lisa jauh sebelum permasalahan ini terjadi.


Mami Sintia memeluk Juni yang menangis dan kesakitan, Mami Sintia juga ikut merasakan hal yang sama yang dirasakan Juni.


Lisa masih dalam diamnya menunduk dengan masih memegang pipinya. Entah apa yang Lisa rasakan sekarang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu isi hatinya seperti apa.


Ayah Bram terus saja menceramahi dan menasehati Lisa agar dia harusnya lebih bisa menerima kenyataan yang akan terjadi.


Juni juga tak henti menangis dengan masih dipeluk oleh maminya. Mami Sintia tak henti melihat marah Lisa, dia juga merasa kemarahan kepada anaknya itu karena sudah tidak terkendali dan sudah tidak bisa diatur.


Kado yang dibawa oleh Pak Bram hadiah dari Saga untuk Juni yang disuruh Saga untuk dipakai Juni pada hari pernikahan besok malam. Kado yang tergeletak itu ditendang oleh liaa dan semua mata memandang kebrutalan Lisa. Kado itu terbuka dan isi kado itu ternyata gaun pengantian yang Saga sudah siapkan untuk Juni.


Gaun pengantin yang terlihat sangat mewah karena dihiasi oleh butiran diamonds berkilau menghiasi bagian atas gaun. Lisa yang melihat gaun pengantin itu tak lantas diam dirinya mengurungkan langkah kakinya untuk pergi meninggalkan rumah. Lisa memilih utuk pergi mengambil gunting yang ada di laci meja ruangan itu.


"Mau apa kamu Lisa" tanya Mami Sintia kepada Lisa yang melihat kalau gunting sudah ada ditangannya.


"Mami mau tahu kalau aku mau ngapain!" kata Lisa yang menatap marah maminya yang lebih membela Juni daripada anak kandungnya sendiri.


"Ini, mami lihat sendiri aku mau ngapain" imbuh Lisa kepada maminya.

__ADS_1


Lisa menggapai gaun pengantin itu dan tangannya yang satuan sudah membuka lipatan gunting dan dengan cepat menggunting gaun pengantin yang akan digunakan Juni.


Ayah Bram berlari menghampiri Lisa dan menghentikan kelakuannya Lisa, namun gaun pengantin sudah robek tercabik-cabik dan tak ada lagi yang bisa tersisa dari usaha penyelamatan Ayah Bram, hanya gaun pengantin yang sudah rusak saja yang masih tersisa.


"Apa yang kamu lakukan Lisa" murka Ayah Bram kembali lagi muncul tak kala kelakuan Lisa memancing lagi amarahnya.


Lisa tak mendengar dan menghiraukan perkataan ayahnya, dia langsung bergegas melangkah meninggalkan ruangan itu dan orang-orang yang kesal dengan perbuatannya.


"Lisa" panggil Pak Bram yang melihat Lisa melangkah tidak menjawab apapun perkataannya.


"Lisaaaaaaa" sekali lagi Pak Bram memanggil anaknya namun sekali lagi Lisa tidak menggubris panggilan ayahnnya.


Mami Sintia berdiri dan menghampiri suaminya dengan lembut Mami Sintia berkata "Sudahlah yah,, percuma ngomong sama manusia batu macam itu" Mami Sintia mengelus-elus dada suaminya agar Pak Bram tidak lagi marah menghabiskan emosi untuk orang yang tidak peduli.


"Gaul sama siapa anak itu diluar sampai dia seperti itu" kata Pak Bram yang berusaha tenang namun tetap terdengar emosinya sudah memuncak.


Pak Bram menghampiri Juni yang masih terisak duduk dilantai. Ayah Bram membangunkan Juni dari duduknya dan memapah anaknya untuk duduk disoffa.


"Mami, tolong ambilkan Juni air putih" pinta Ayah Bram kepada istrinya.


"Iya yah" sahut Mami Sintia.


"Gak usah mami, aku gak apa-apa kok" kata Juni menghentikan langkah dari maminya.


"Yah bagaimana ini gaun pernikahannya rusak, aku gak mau gara- gara ini Pak Saga membatalkan lagi kontrak kerjasama itu" kata Juni yang merasa cemas lagi.


"Gaklah jun, Pak Saga gak mungkin seperti itu" sahut ayahnya.

__ADS_1


Juni bertanya kepada ayahnya kenapa dirinya begitu yakin akan ucapan yang tadi dikatakan oleh ayahnya. Pak Bram hanya menjelaskan kalau yang ingin menikah dengan Juni adalah Saga sendiri jadi logikanya tidak mungkin dia yang minta terus hanya gara -gara gaun pernikahan dia akan membatalkan pernikahan itu.


"Terus sekarang bagaimana yah? " tanya Mami Sintia yang juga ikut berbicara berharap kalau suaminya juga mencari solusi juga atas semuanya.


__ADS_2