
*
*
*
Air keran terus saja mengalir seakan menemani suara tangisan air mata Juni.
Ingin rasanya dia berteriak namun suara teriakannya sekan ditahan oleh mulutnya sendiri. Juni sungguh sangat membenci dirinya sendiri, tapi saat itu kebenciannya kepada Saga tambah membesar.
Rasa ingin menyalurkannya dengan cara juga menyakiti Saga.
Juni mengambil air lagi dan membasuh wajahnya berulang kali hingga rambutnya juga terkena air. Rambut Juni hingga seragamnya basah karena cipratan air yang Juni lakukan diwajahnya. Juni terlihat sangat berantakan. Dia tak henti-hentinya menangis.
Dia menahan suara tangisnya tak kala mendengar ada langkah dua perempuan memasuki kamar mandi perempuan.
Juni terus saja menunduk tak berani memperlihatkan wajahnya yang kacau.
Dua permpuan yang baru saja datang ke kamar mandi itu adalah teman sekelas Juni.
Dua perempuan yang bernama Eka dan Surti asik berbicara sambil memasuki area toilet
Mereka dikagetkan dengan adanya Juni yang menunduk sambil terus membasuh wajahnya.
"Oppps, ada Juni" Kata Eka kepada temannya yang datang bersamaan saat itu. Juni tak berbicara sedikitpun dia masih saja terus menunduk dengan berpura- pura asik membasuh tangan dan wajahnya.
"Juni, kamu dicariin tadi sama Trala dan Tomi" katanya memberitahukan kalau dua teman Juni sedari tadi mencarinya.
"Iya" kata Juni pendek tanpa menoleh kearah teman sekelasnya.
Surti dan Eka merasa ada keanehan terhadap Juni, mereka saling pandang seakan mata mereka saling bertanya apa yang terjadi dengan Juni hingga hari itu dia sangat menjadi pendiam dan terus saja menunduk.
Juni tidak bertingkah seperti hari-hari sebelumnya yang ceria.
Namun mereka tidak berusaha terus mengganggu Juni, pikir mereka mungkin saja Juni sedang ada hal yang mengganggunya.
__ADS_1
Mereka juga berdiri didepan cermin wastafel tepat berada disamping Juni. Mereka berdua membuka pembicaraan tentang kekaguman mereka terhadap sosok pemberi sumbangan.
"Kamu udah lihat gak pemberi sumbangan terbesar itu?" tanya Eka terhadap Surti.
"Lihat dong! gak hanya kita yang lihat, semua perempuan yang lain juga lihat. Sumpah ganteng banget" kata Surti.
"Iya, aku juga perhatikan, udah ganteng, tajir, baik, tinggi, putih" kata Eka sambil melihat keatas langit toilet membayangkan sosok yang dia kagumi.
"Dia belum nikah kayaknya" kata Surti sambil melihat Eka yang tepat berada disampingnya.
"Aku mau kok di persunting sama dia" ucap Eka dengan tangannya mengambil tisu untuk mengelap tangannya yang basah.
Juni terus saja mendengar pembicaraan dua temannya itu dengan tetap menunduk, dan tangannya juga mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang basah.
"Ngantri dong! tunggu aku nikah dulu sama Pak Saga habis itu baru kamu boleh nikah sama dia" sahut Surti sembari tertawa.
Juni mendengar nama Om yang dia benci disebut-sebut, tapi tetap diam karena belum merasa menyadari sesuatu.
"Emang kamu mau dimadu?" tanya Eka kepada Surti
"Kalau model bentukannya sama kayak Pak Saga, jangankan dimadu dua, lebih dari sepuluh juga aku rela" kata Surti kepada Eka yang bertanya dengan dirinya.
Juni mendengar lagi nama Pak Angga disebut dan itu membuatnya merasa yakin kalau Pak Saga yang dimaksud adalah teman dari Angga asisten sekaligus sahabat Saga yang adalah suaminya sendiri.
Orang yang membuat dirinya terlihat kacau hari ini. Juni baru menyadari darimana Saga tahu kalau Tomi memegang roknya dengan maksud membersihkan tumpahan minuman.
Pikirnya Saga sudah pasti memperhatiakan gerak geriknya dari atas panggung.
Juni harus memastikan sesuatu, dia memegang pundak Eka dan menggeser pundak itu agar menghadap kearahnya.
Eka yang sudah menghadap arahnya melihat Juni dengan matanya yang sembab. Rambutnya basah, seragamnya juga basah.
Bibirnya merah akibat gosokan tangannya sendiri.
"Kamu kenapa Juni?" tanya Eka kepada Juni yang sudah melihat wajah Juni.
__ADS_1
Surti yang juga mendengar pertanyaan Eka kepada juni segera melihat Juni. Dan benar saja Juni dia lihat sangat kacau dan berantakan, tidak seperti gadis yang menjadi icon sekolah dihari -hari sebelumnya.
"Kamu kenapa Jun?" tanya Surti juga kepada Juni.
"Aku mau tanyak sama kalian" kata Juni.
"Apa? " Surti dan Eka serentak menjawab.
"Pak Saga yang kalain maksud itu, apakah pemilik Mentari Departemen Store?" tanya Juni
"Iya" jawab Eka dan Surti berbarengan.
"Kamu kenapa Juni?" tanya Surti lagi melihat Juni membelalakkan matanya seakan sedang kaget.
"Bentar dulu" cegah Juni kepada Surti agar tidak bertanya dulu "Dia itu penyumbang terbesar sekolah ini? " tanya Juni lagi kepada dua temannya itu.
"Iya" serentak lagi Surti dan Eka menjawab.
Mendengar perkataan dan jawaban dua temannya Juni baru benar-benar menyadari, maksud dari perkataan Saga tadi pagi saat dirinya diantar pergi sekolah.
Waktu Juni bilang akan dikeluarkan dari sekolah kalau sekolah tahu dirinya sudah menikah dan Saga menyombongkan dirinya bahwa kalau sampai Juni dikeluarkan dari sekolah akan berhadapan dengannya.
Itu semua karena Saga adalah penyumbang beasiswa terbesar tahun ini.
Dan saat Juni menyadari darimana Saga tahu temannya mengelap roknya, itu juga sudah pasti Saga memperhatikannya dari atas panggung.
Juni menangis lagi merasa dirinya sudah diperlakukan seperti orang bodoh didepan Saga karena dia tidak tahu apa-apa.
Dan merasa selalu diikuti padahal Saga memang sudah sering menyumbang beasiswa untuk sekolah-sekolah dan kali ini giliran sekolah Juni. Tapi Juni sudah terlanjur marah jadi apapun yang terjadi secara kebetulan yang tidak Saga rencanakan selalu disangkut pautkan oleh Juni tentangnya. Juni jadi bertambah merasa kesal dan marah mengetahui hal tersebut.
Eka dan surti merasa heran tiba-tiba Juni menangis, mereka tak tahu harus berbuat apa. Karena ini pertama kali bagi mereka melihat situasi seperti itu dan mereka juga tak mengerti apa yang terjadi dengan Juni.
"Pantes saja" kata Juni sambil melihat arah pintu keluar toilet. Tangannya mengusap air mata, yang jatuh lagi dipipinya.
"Pantesan apa Juni? " tanya Surti memandang Juni.
__ADS_1
Juni bergegas keluar dari pintu kamar mandi dan meninggalkan dua temannya dengan pertanyaan yang mereka tidak tahu apa jawabannya. Melihat Juni pergi begitu saja dalam keadaan sedih, Eka dan Surti saling pandang seolah tak mengerti dengan kondisi yang baru mereka lihat.
Juni berjalan cepat menuju Aula Sekolah. Dia memasuki Aula dengan terus menunduk tidak mau memperlihatkan wajahnya yang kacau kepada yang lain. Dia mencari kursi kosong tempat Trala dan Tomi berada. Saga yang sedang duduk diatas panggung melihat kedatangan Juni, namun ada kejanggalan disana. Ia melihat Juni berjalan terus saja menunduk. Juni yang sudah sampai dikursinya segera mengambil tasnya. Trala dan Tomi melihat Juni tiba- tiba datang dengan keadaan berantakan.