AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Keberhasilan


__ADS_3

Saga memutuskan untuk membatalkan acara olahraga golfnya hari itu, pikirannya yang sudah kacau tidak akan memungkinkan Saga untuk fokus bermain apalagi tujuan dirinya bermain untuk jauh lebih dekat lagi dengan Pak Bram. Saga memutuskan untuk segera kembali kerumahnya dan beristirahat sejenak, saat itu kepala Saga terasa sangat pusing.


"Angga, kita balik saja kerumah" Saga yang saat itu memegang keningnya dan sesekali memijat dahinya dengan tangan sendiri.


"Kamu gak jadi main golf Sag?" tanya Angga yang melihat Saga dispion depan, memang sedang lagi dalam keadaan yang kurang baik.


"Gak jadilah, aku tiba-tiba pusing." kata Saga


"Apa perlu kita kerumah sakit?" usul Angga pada Saga.


"Gak usah lah, istirahat pulang kerumah saja sudah cukup buat aku. Aku minta tolong kamu batalin semua acara hari ini" Saga menyenderkan badannya dikursi belakang mobil dan memejamkan matanya.


"Ooo iya, nanti kalau ngurus kontrak Wijaya loloskan kontraknya selama 5 tahun. Kamu dengar aku tadi bicara diteleponkan Ga?" lanjut lagi Saga yang melihat kearah Angga.


"Siap" sahut Angga pendek berusaha untuk tidak memberatkan beban temannya dengan pertanyaannya sembari menghidupkan kembali mesin mobilnya dan menggerakkan laju mobilnya berbalik arah menuju rumah Saga lagi.


***


Keesokan harinya Saga yang sengaja memanggil Bram ke kantornya melalui Angga dengan alasan membahas pembaharuan kontrak yang sudah sempat mereka bicarakan. Bram datang menemui Saga dengan raut wajah yang masih mengingat kemarin dirinya merasa dipermalukan oleh keluarga Wijaya.


Keluarga Wijaya yang sudah diperintahkan oleh Saga untuk membatalkan perjodohan antara anak Bram dan anak sulung keluarga Wijaya tiba-tiba saja berkata kepada Bram kalau anaknya tidak menyukai anak dari Bram dan telah mempunyai pilihan sendiri.

__ADS_1


Keluarga Wijaya yang diwakili oleh hanya seorang supir keluarga mereka, mendatangi Bram dan Juni yang saat itu berada direstauran tempat dua keluarga itu janjian bertemu. Mereka yang sudah menunggu lama kedatangan keluarga Wijaya disalah satu restauran milik keluarga Wijaya sangat merasa dipermalukan.


Bram tidak merasa marah kalau yang bicara langsung adalah kepala keluarga Wijaya yang sudah sangat kenal dan akrab dengannya tapi karena yang berbicara saat itu adalah hanya supirnya itu yang membuat Bram merasa marah dan agak kecewa.


Namun Bram tidak bisa berbuat apa-apa, kegagalannya kemarin membuat raut wajah Bram sangat sedih sampai pada saat dirinya bertemu dengan saga dikantor Saga. Saga sudah mengetahui alasan dari wajah Bram, segera memulai pembicaraan mengenai pembaharuan kontrak dari stand toko Bram.


Bram yang datang dikantor Bram sudah dipersilahkan duduk terlebih dahulu oleh Saga, Saga menyambut sangat baik Bram saat itu.


"Pak Bram, bagian isi syarat kontrak yang tidak bapak setujui sudah kami perbaharui" jelas Saga memulai percakapannya dengan Pak Bram yang duduk tepat dihadapannya.


Bram tidak merespon apa yang dikatakan Saga karena dirinya masih berpikir tentang kejadian kemarin yang masih tidak dia mengerti. Yang ingin kalau perjodohan itu terjadi adalah dari pihak Wijaya tapi kenapa tiba-tiba dirinya dengan diwakili supir membatalkan perjodohan itu dengan alasan yang sangat klise menurutnya.


"Pak Bram, Pak Bram, Pak Bram" Saga beberapa kali memanggil nama Pak Bram yang ada dihadapannya sedang duduk melihatnya namun dengan entah pikirannya berada dimana. Saga memeluk tangan tepat didepan wajah Pak Bram sehingga Pak Bram bangun dari lamunannya saat itu.


"Ini masalah syarat yang bapak tidak setujui sudah kami perbaiki dan tolong dibaca dan dipelajari terlebih dahulu sebelum bapak bersedia menandatangani kontrak ini" jelaskan lagi Saga yang membuka lembar per lembar kontrak baru dihadapan Pak Bram. Sesekali Saga melihat mata Bram yang melihat Saga membuka per lembar surat kontrak itu.


"Bagaimana menurut bapak?" Saga meminta pendapat dari Bram yang masih menunduk melihat surat kontrak padahal Saga sudah kembali kelembaran awal surat kontrak tersebut.


Saga melihat Bram kembali dalam lamunannya saat itu, Saga mengerti apa yang dipikirkan oleh Bram karena dirinyalah yang menjadi alasan kenapa perjodohan anak dari Bram dan keluarga Wijaya tidak berlanjut.


Saga menyenderkan badannya dikursi sofa yang berwarna hitam. Saga dengan tegas bertanya kepada Pak Bram "Pak bram, anda kenapa hari ini? kalau anda butuh teman curhat atau ada masalah yang bapak alami anda bisa berbagi dengan saya. Siapa tahu saya bisa bantu"

__ADS_1


"Ohh maaf Pak Saga hari ini saya tidak konsen" Bram melihat kearah Saga yang duduk tegak dihadapannya.


"Ada masalah Pak?" tanya Saga


Bram hanya terdiam tanpa kata mendengar pertanyaan dari Saga, dirinya merasa tidak pantas untuk bercerita dengan Pak Saga yang merupakan petinggi tempat stand tokonya bernaung.


"Kalau bapak tidak mau berbagi masalah ya tidak apa-apa itu hak bapak, tapi mungkin saja saya bisa membantu masalah bapak jika bapak berbagi" kata Saga yang terdengar akan membantu Pak Bram.


Pak Bram yang awalnnya ragu untuk bercerita akhirnya menjadi berani untuk mulai bercerita tentang masalah yang dia alami. Pak Bram menceritakan dari awal tentang masalahnya dengan keluarga Wijaya sampai pada hari kemarin dia membatalkan perjodohan yang sudah menjadi rencana awal mereka.


Pak Bram juga menceritakan kalau dirinya tidak mengerti apa yang melatar belakangi keluarga Wijaya hingga sangat mempermalukan dirinya. Saga yang dalam hati sudah merasa senang tapi juga sedih karena cara dari Pak Wijaya membatalkan perjodohan anak mereka sangat keterlaluan. Harusnnya Pak Wijaya bisa lebih sopan membatalkan perjodohan itu.


"Pak, saya sebenarnya ingin mencari istri karena umur saya saat ini sudah bisa dibilang sudah seharusnnya mencari pendamping hidup, kalau bapak tidak keberatan bagaimana kalau kita menjalin hubungan keluarga" kata Saga yang.berbicara pelan sehingga membuat pak bram sontak membelalakkan matanya melihat kearah Saga yang juga menghadap dirinya.


"Maksud bapak apa?" tanya heran dan penasaran dengan perkataan Pak Saga.


"Maksud saya, jika bapak tidak keberatan bagaimana kalau kita menjadi keluarga. Saya yang akan menggatikan posisi anak dari Pak Wijaya untuk menjadi tunangan anak anda" kata Saga yang juga sudah menginginkan hal itu.


"Bapak yakin ini dengan ucapan bapak barusan, bapakkan juga belum melihat anak saya. Apakah saya perlu membawa anak saya terlebih dahulu untuk berkenalan dengan pak saga" kata Pak Bram yang terasa senang dengan perkataan Pak Saga yang terlihat berbicara secara serius.


"Saya yakin, tidak perlu Pak Bram. Saya melihat dari sikap dan sifat bapak yang merupakan orang yang baik jadi saya percaya kalau anak bapak pasti akan mewarisi sifat orang tuanya" ungkap Pak Saga dengan berbicara tegas dan penuh wibawa.

__ADS_1


Pak Saga yang berpikir kalau dirinya sudah mengetahui siapa yang akan menjadi calon tunangannya, siapa lagi kalau bukan juni yang merupakan anak satu-satunya keluarga Bram.


"Suatu anugrah buat saya kalau bisa menjadi satu keluarga dengan anda" senang hati seorang Bram mendengar permintaan Pak Saga untuk menjadi bagian keluarga dari dirinya.


__ADS_2