
"Tidak bisa seperti itu Pak Saga, anda kemarin datang utuk memutuskan pertunangan anda dengan anak kami" kata Mami Sintia yang mencoba berbicara halus dan sopan kepada orang yang adalah rekan kerja suamminya yang adalah Saga mantan pacar Lisa yang sudah diselingkuhi oleh
anaknya.
"Dan sekarang anda kesini dengan mendadak untuk meminta agar bisa menikahi Juni, adik Lisa sebagai syarat kalau anda tidak akan memutuskan kontrak kerja sama anda dengan suami saya"
Mendengar jelas perkataan maminya (menikahi Juni sebagai syarat) kepada tamunya yang sedang duduk diruang tamu dengan didampingi pengawalnya membuat juni seakan sedang didorong ditepi jurang dengan seekor singa yang kelaparan bersiap menunggu tubuh Juni terjatuh dan segera menyantapnya sebagai makanannya.
"Juni itu masih kecil belum genap kepala dua, baru 18 tahun" Ayah Bram terduduk lemas mendengar kemauan Pak Saga yang ingin menjadikan Juni syarat agar bisa membantu krisis yang akan dialami saat kontrak kerjasama dengan Saga bener-benar diakhiri.
"Mohon pak, kami mohon kasih kami syarat yang lain. Kalau bisa akan kami lakukan sekarang juga" Mami Sintia berbicara sambil mencakupkan kedua telapak tangan didadanya seolah memohon dengan sangat untuk mengubah kebijakan yang akan menjadi syarat. Kedua orang tua Juni tidak menginginkan kalau yang harus menanggung semua ini adalah anak bontot mereka si Juni. Mereka berpikir kalau Juni tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini jadi haruskah Juni yang menanggung semua beban dan kesalahan yang tidak pernah dirinya perbuat.
__ADS_1
"Saya tidak memaksa Pak Bramanto atau Ibu Sintia untuk bersedia dengan syarat yang saya ajukan" kata Saga yang berbicara tegas dengan sopan santunnya tapi perkataan itu menjadi luka yang menancap langsung didada Juni yang masih menguping pembicaraan diruang tamu.
Dia akan dijadikan kunci dengan pintu emas yang masih tertutup, tentu saja Juni belum tahu menuju kearah mana pintu itu akan membawanya. Apakan Juni akan menuju pintu kesuksesan ayahnya atau malah mengantarnya kepintu kebangkrutan yang sudah terbayang olehnya.
"Bapak meminta sesuatu yang tidak bisa kami beri" kata Ayah Bram yang sudah terduduk lemas dengan suara yang memelas lemah.
"Bapak bram, belum bertanya kepada anaknya, lalu kenapa bapak sudah menjawab tidak bisa" kata Saga santai dengan menyilangkan kakinya dan menyenderkan duduknya kesoffa seolah sudah seperti rumahnya sendiri.
"Sekali lagi saya mohon dengan sangat bapak keluar dari rumah kami sekarang" lanjut Bramanto yang mengangkat tangannya mengarah ke pintu rumahnya seakan mempersialkan Saga untuk keluar dari rumahnya.
Saga berdiri dari duduknya dan melihat seluruh ruangan yang ada dipenglihatannya, dia menggeser meja kaca dengan lututnya dan melangkah menuju pintu rumah. Sebelum dia mencapai garis pintu rumah, Saga berbalik lagi kearah Bramanto dan istrinnya sembari berkata "Saya hanya beri waktu untuk berpikir sampai besok siang, jika saya tidak mendapatkan kabar sebelum jam 12.00 berarti keputusan hari ini menjadi putusan final menurut saya" kata Saga yang melangkah pergi diikuti dengan dua orang pengawalnnya sudah berjalan dibelakang Saga.
__ADS_1
"Berengsek" setelah Saga menghilang dari pandangannya, Bramanto berteriak dengan sudah membanting gelas yang ada didepannnya. Lantai yang tadinya bersih tanpa debu, sekarang sudah dipenuhi dengan pecahan gelas yang berserakan. Istrinnya hanya bisa berteriak dan menutup dua telinnganya dengan telapak tangan. Mami Sintia melihat untuk pertama kalinya suaminya bersikap seperti itu.
Juni berlari menuju kamarnya dan langkahnya terhenti sejenak saat mendengar suara gelas dibanting. Dia membuka pintu kamarnya dan menanngis sejadi-jadinya didalam kamarnya.
Dalam hatinya bertanya kenapa ada seorang lelaki yang mau menikahi seseorang gadis hanya sebagai syarat untuk membantu orang lain. Dalam tangisnya Juni juga berpikir akankah hidupnya yang dia jalani sebebas yang dia mau akan terkekang oleh pria tua yang seumuran dengan ayahnya yang ingin menikahinya.
Pikirannya juga mungkin ini adalah karma atas perbuatannya yang sudah pernah mengolok-olok Lisa yang akan dinikahi pria tua, dan sekarang pria tua itu ingin menggantikannya menjadi istrinya alih-alih menikahi kakaknya yang lebih siap untuk berumah tangga.
Apalagi kalau dirinya tidak mau menikah maka dirinya akan membuat ayahnya bangkrut dan tentu saja Juni tidak mau dihari tua ayah dan maminya akan merasakan hidup susah.
Pikirannya memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terbayang oleh gadis yang berumur 18 tahun itu.
__ADS_1
Hari itu Juni seakan seperti memakan buah simalakama, hanya ada dua pilihan yang dihadapkan dan kedua pilihan yang diberikan memiliki resiko masing-masing dengan seorang Juni yang tetap harus memilih.