AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Barbar


__ADS_3

Juni menguatkan dirinya, dia menghirup napas panjang dan menghembuskannya sebelum memutuskan untuk melangkah. Setelah sudah merasa tenang Juni keluar dari pintu darurat. Juni hanya membawa dirinya sendiri dan ponsel yang selalu ada dikantong depan rok kodoknya. Juni tak lagi membawa tas makan siang Saga yang Juni jatuhkan didepan pintu kantor Saga.


Juni tak peduli lagi dengan apa yang menjadi tujuan awal dirinya menemui Saga. Dia yang sudah berada dilantai dua, berjalan mencari lift berniat akan langsung pulang ke apartemennya lagi. Juni yang sudah berada di dalam lift kembali memikirkan tentang seharusnya dia berbuat apa setelah mengetahui kebohongan suaminya.


"Ting" bunyi lift yang terbuka. Juni keluar dari lift yang sudah membawanya kelantai satu. Juni kembali melangkahkan kakinya sambil berpikir keras tindakannya selanjutnya.


Langkah Juni terhenti ditengah keramaian orang, banyak orang yang lalu lalang disampingnya tapi dia tetap diam mematung dengan pikirannya yang rancu.


Suara Hati Juni :


"Kenapa aku lari?"


"Aku gak salah"


"Kenapa malah aku yang harus merasakan perasaan bersalah setelah menjadi korban"


"Harusnya dia yang merasakan perasaan bersalah"


"Dia yang membohongiku bukan aku yang membohonginya "


"Aku harus hadapi kenyataan ini"


"Aku harus bertanya semuanya, kenapa dia membohongiku. Bukan malah lari seperti pengecut begini"


"Iya,"


"Iya,,, aku harus menghadapinya. Sekarang atau tak sama sekali bertanya padanya langsung" kata Juni.


Juni akhirnya memutuskan setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, dia memutuskan untuk kembali lagi mencari Saga yang ada dikantornya. Juni harus mempertanyakan semua kebohongan yang sudah Saga lakukan padanya langsung. Setidaknya dia bisa mengeluarkan semua unek-unek dihatinya agar tak mengganggu pikiranya kedepan. Tubuh Juni kembali lagi mencari pintu lift tempat dirinya baru saja keluar.


Juni melangkah terus menuju lift,


"Ehhhhhhhhhh,,,,anak haram disini" tentu saja suara yang terdengar keras tiada lain dan tiada bukan milik Lisa. Juni yang mendengar dirinya dipanggil haram lagi, terus menunduk dan tak mau menoleh arah suara yang memanggilnya. Dia tahu wajah siapa yang akan dia lihat kalau dirinya menoleh kearah belakang punggungnya. Tentu saja wajah Lisa akan dia lihat lagi.


"Cepet,,, cepat kebuka" doa Juni agar pintu lift segera terbuka dan dirinya bisa menghindari Lisa yang sedang memanggilnya.


"Eh haram, mau kemana luu" teriak Lisa sampai semua orang yang ada disekeliling Juni melihat arah Juni karena pandangan Lisa yang berteriak memanggil kata haram tertuju pada Juni yang menunduk.

__ADS_1


"Pliseee kak, jangan sekarang" hati Juni ingin berteriak agar kakaknya tak mencari gara-gara dengannya hari ini karena hari ini sudah terasa sangat berat baginya apalagi dirinya baru tahu akan kebohongan Saga. Lisa yang berteriak memanggil adiknya merasa sangat marah karena Juni tak kunjung menoleh padanya.


Lisa mendekat kearah punggung Juni, dengan tanpa basa basi dan melihat banyak orang yang akan memperhatikannya karena tentu akan melihat kelakuan kasarnya Lisa. Tangan Lisa langsung menarik rambut Juni dari belakang. Dia manarik keras rambut Juni hingga sontak Juni kaget merasakan tarikan rambutnya dari belakangnya.


"Ahhhjjjj ahhh ahhh" Juni mengaduh kesakitan.


"Kak lepas,,, lepas kak" lanjut Juni meminta agar rambutnya dilepas oleh tangan Lisa.


"Makanya kalau gue panggil luu harus dengerin. Jangan kayak orang **** yang pura-pura gak dengar" kata Lisa yang terus menarik rambut adiknya. Lisa menghentikan langkahnya dan melepaskan rambut Juni yang dia tarik.


"Kak,,, jangan jayak gini. Malu dilihatin orang" kata Juni.


"Malu,,, malu,,, malu, harusnya yang malu itu luu bukan gue. Lu kan yang haram bukan gue" kata Lisa marah- marah tanpa sebab.


"Sssssttttttsss" Juni menutup mulutnya dengan jari telunjuknya agar Lisa memelankan nada suaranya. Banyak orang melihat Juni dan Lisa saat itu. Lisa sudah berprilaku tidak seperti orang yang berpendidikan.


"Kak,,, kita bisa ngomong baik-baik ngapain bar bar kayak gini" kata Juni.


"Gue gak level ngomong baik -baik sama luu" kata Lisa.


Lisa melihat sekitarnya dan memang benar dirinya juga melihat kalau pengunjung yang lain ternyata memperhatikan mereka berdua. Lisa kembali menatap tajam Juni dengan perasaan marah.


"Oke,,, gue maafin luu yang udah ngambil semua yang aku inginkan asalkan luu mau ikut sama gue sekarang" kata Lisa.


"Kita mau kemana? " tanya Juni.


"Gak usah banyak bacot, luu ikutin gue sekarang dan gue bakalan lupain semua kesalahan luu" kata Lisa.


"Tapi kak.... " kata Juni.


"Oh,,,, luu memang suka kalau gue kasarin" kata Lisa sembari tangannya sudah akan kembali menarik rambut Juni.


"Ok,, Ok,,,Ok kak. Aku bakalan ikut sama kakak" kata Juni.


"Dari tadi kek luu nurut gini, semua pasti akan berjalan indah pada akhirnya" kata Lisa.


"Ayo" ajak Lisa.

__ADS_1


"Kita mau kemana kak?" tanya Juni.


"Nanyak lagi,,,, udah luu diem dan ikutin gue" kata Lisa lagi.


Lisa sebenarnya sudah melihat Juni saat dia keluar dari dalam lift dilantai satu.


Lisa berani berbuat kasar di lantai satu Gedung Departemen Store karena dia sudah tahu bahwa tidak ada Cctv yang beroperasi dilantai satu.


Itu disebabkan karena semua Cctv yang ada dilantai satu dalam masa perbaikan.


Jadi Lisa berpikir tidak masalah juga baginya berbuat kasar kepada Juni.


Lisa mengajak Juni pergi kebelakang supermarket yang juga ada dilantai paling bawah disebelah kiri gedung.


Juni hanya bisa mengikuti langkah kakaknya tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kak kita mau kemana, kenapa kita lewat lorong sepi seperti ini?" tanya Juni pada Lisa.


"Nanyak mulu luu" jawab Lisa.


Juni yang mendengar jawaban dari kakaknya seperti itu akhirnya tak lagi bertanya lebih banyak. Dia berpikir kalau dia bertanya terus akan membuat Lisa marah dan akan berbuat yang tidak-tidak lagi pada dirinya. Apalagi sekarang mereka hanya berdua melewati lorong sepi tanpa ada satu orangpun yang ada disana.


Juni melihat kiri dan kanan arahnya, dia hanya mendapati sebuah lorong sepi. Lisa sangat kenal lorong sepi itu karena disana adalah tempat dirinya dan Bayu sering bercumbu mesra tanpa ada yang mengganggu. Mereka terus berjalan hingga Lisa menghentikan langkahnya di depan ruangan pendingin. Lisa membuka pintu ruangan pendingin yang memang tidak terkunci.


"Cepet masuk," suruh Lisa.


"Kita ngomong disini aja kak" kata Juni


"Gue mau ngomong sesuatu yang penting dan rahasia. Ini semua tentang suami luu" kata Lisa.


Juni yang memang sedang marah dengan Saga, akhirnya merasa penasaran tentang apa yang akan Lisa katakan kepadanya. Juni bingung antara mau dan tidak dirinya mengikuti suruhan Lisa.


"Dia masih kakak aku, jadi gak mungkin dia jahat sama aku" kata Juni dalam hati. Akhirnya Juni melangkah masuk kedalam ruangan pendingin milik supermarket di gedung Saga. Ruang pendingin yang berisikan stock daging dan aneka sayur mayur serta banyak lagi makanan yang lain.


Juni yang sudah ada didalam ruangan pendingin menoleh kearah kakaknya berdiri sambil memanggil kakaknya "Kak"


Tiba-tiba "Kreaggggggg" suara pintu ruangan pendingin dikunci oleh Lisa dari arah luar ruangan.

__ADS_1


__ADS_2