
"Haloo Ngga" kalimat pertama yang membuka percakapan ponsel antara Saga dan Angga.
"Tadi nelpon? kenapa Saga?" tanya Angga.
"Kamu tadi kemana? ditelponin gak bisa, tumben gak bisa di telepon" ucap Saga sedikit heran dengan Angga yang sekian lama berkawan, untuk pertama kalinya tidak langsung dijawab panggilan ponsel dari dirinya.
"Ohhh,,, aku kelupaan bawa ponsel. Ponselku ketinggalan didalam mobil. Ini aku minta tolong sama karyawan buat ambilin ponsel didalam mobil. Kamu kenapa tadi nelpon?"
"Aku cuman mau bilangin buat urus bentar urusan kantor" kata Saga.
"Lho,,, emang kamu gak ngantor? "
"Ngantorlah... tapi agak siang, aku masih lelah banget"
"Oooooooohhhhh,,,,, (Angga membayangkan lagi kegiatan Saga dan istrinya). Mentang-mentang udah nikah, urusan kantor jadi no 2 dech!!? Gimana sama istrinya, udah baikan kan? " tanya Angga lagi.
"Apaaannnn? boro-boro baikan,,, bikin aku pusing iya"
"Kok gitu! kenapa? " tanya lagi Angga
"Gak bisa diceritain lewat ponsel,,, ntar siang aku ngantor kok. Kalo ada meeting atau pertemuan dengan klain hari ini tolong kamu urus bentar Ngga"
"Siap.... nanti aku urusin semua. Kamu tenang aja! Bisa aku atur"
"Makasiii Nga,,,"
"Kayak sama siapa aja, nyante lah"
"Sekali lagi makasi Ngga,,, aku tutup telepon dulu ya! " kalimat dari bibir Saga yang terucap untuk mengakhiri panggilan telepon yang juga di iyakan oleh Angga.
Setelah menutup panggilan ponselnya Saga langsung bergegas berjalan menuju kamarnya. Menyusul Juni yang terlebih dahulu sudah sedari tadi masuk kedalam kamarnya dilantai atas.
Saga langsung membuka pintu kamarnya namun bukannya pintu langsung terbuka setelah gagang pintu diturunkan oleh genggaman tangan Saga akan tetapi pintu malah tertutup rapat. Juni mengunci pintu kamar mereka berdua agar Saga tak bisa masuk kamar.
"Tok tok tok" bunyi tangan Saga mengetok pintu kamar. Tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Yang...... buka" ucap memelas Saga diluar kamar.
Ucapan Sagapun tak kunjung didengar dan dijawab oleh.
Juni karena Juni didalam kamar sedang berbaring dan sengaja menghidupkan suara TV dengan sangat keras.
Saga mendengar suara televisi menyahuti perkataannya yang tak henti meminta agar Juni membukakan pintu untuknya.
Dengan suara keras dan ketokan keras pintu kamar, Saga sedikit berteriak dengan berkata "Yang,,,,, buka pintunya. Kita bicarakan baik-baik gak harus dengan cara anak kecil seperti ini"
Juni membalas perkataan Saga tapi bukan dengan suara yang terucap dari bibirnya melainkan dengan suara televisi yang tambah dikencangkan oleh Juni sambil menutup telinganya sendiri dengan bantal tidur.
Juni sendiri tak kuat mendengar suara keras dari dalam kamarnya tapi dengan begitu dia tidak akan mendengarkan suara suaminya yang sedari tadi memanggilnya.
"Yank,,,. AKu bisa jelasin semua. Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan tapi aku mohon jangan kayak gini yank" ucap Saga.
"Buka pintu yank" lanjut imbuh Saga.
__ADS_1
"Prankkkkkkk" suara pecahan beling menghantam pintu dan jatuh terdengar berserakkan dilantai. Juni melempar sebuah gelas yang kebetulan ada didalam kamar.
"Pergiiiiiiiiii" teriakkan suara Juni mengiringi pecahan kaca yang berserakan dilantai. Mendengar teriakan Juni, Saga lantas menggedor- gedor lagi pintu kamar yang masih tertutup rapat sambil berkata "Aku minta maaf yank, kita mulai dari nol dan aku gak bakalan bohong lagi sama kamu walaupun itu cuman sekedar hanya bercandaan saja"
"Pergi" ucap Juni lagi. "Aku gak mau denger kamu ngomong lagi" imbuh Juni lagi.
Suara keras dan teriakan dari dua pasang suami istri dipagi itu membuat seorang Bik Tika datang menghampiri Saga yang masih berusaha membujuk dan meminta maaf pada istrinya.
Bik Tika merasa heran, dua orang yang baru kemarin dia lihat sangat romantis tiba-tiba berubah menjadi sepasang suami istri yang sedang ada masalah. Sungguh sangat terlihat jelas oleh mata seorang Bik Tika.
Bik Tika berjalan dari arah belakang Saga, dia mendekat ke arah Saga dan bertanya apa yang sebenarnnya terjadi. Mendengar suara televisi keras dari dalam kamar Saga dan melihat Saga yang mengetuk-ngetuk pintu ingin mencoba masuk kedalam kamar dan suara teriakan Juni sudah pasti membuat Bik Tika penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan suami istri itu.
"Den...... ini ada apa? kok ribut-ribut begini" tanya Bik Tika sambil menepuk pelan pundak Saga yang masih membelakanginya.
Saga berputar berbalik arah menghadap Bik Tika dan sedikit kaget melihat bibiknya itu sudah berada didepannya.
"Ohhhhh.... Bik, Hmmmmmmm ceritanya panjang Bik" ucap Saga menjawab pertanyan yang terasa sulit dia ceritakan kepada Bibiknya itu.
"Sepanjang apa den, bibik siap dengerin siapa tahu bibik bisa bantu" kata Bik Tika sambil memegang lengan Saga.
Saga terdiam tak bisa menjawab, dia bingung mau cerita dari mana masalahnya dan Juni.kepada Bik Tika.
"Ya udah,,, kalau Den Saga belum siap buat cerita, gak apa-apa tapi bibik cuman mau bilang kalau ada masalah apapun dengan Non Juni mbok ya selesaikan baik-baik" Saga terdiam dan menunduk mendengar Bik Tika berbicara "Bibik percaya Den Saga kalau sudah memutuskan untuk menikah dengan Non Juni itu berarti Den Saga sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalah apapun dengan baik" lanjut imbuh Bik Tika kepada Saga.
"Iya Bik,,, aku ngerti" ucap Saga pendek.
"Den Saga kan tahu kalau Non Juni masih sekolah dan itu sudah pasti pemikirannya tidak sedewasa Den Saga, jadi Den Saga harus bisa mengemong Non Juni. Daripada memaksakan diri untuk menyelesaikan masalah dengan Non Juni yang sedang marah mening Den Saga biarin aja dulu agar marah Non Juni reda. Nanti kalau sudah reda bisa dibicarakan lagi baik-baik" dan itu adalah perkataan dari Bik Tika yang paling panjang yang didengar oleh Saga.
"Iya Bik,,, aku ngerti" ucap Saga. Ucapan Saga membuat Bik Tika tersenyum karena perkataannya didengarkan oleh Saga. Saga akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan pintu kamar yang berusaha sedari tadi ingin dia buka.
"Oh ini Bik aku pingin kekamar sebelah, mau mandi ganti baju dan pergi kekantor" kata Saga.
"Den Saga perlu bibik siapkan makanan gak?" tanya Bik Tika.
"Gak usah Bik, aku nanti langsung ke kantor aja. Kalau makan gampang bisa makan dikantor" kata Saga.
"Iya udah kalau gitu Den, kebetulan bibik juga mau ke supermarket soalnya stock bulanan dirumah sudah habis"
"Bibik gak usah ke supermarket, bibik diam aja dirumah jagain Juni biar dia gak keluar rumah kalau aku gak ada dirumah, suruh orang aja buat belanja" kata Saga.
"Ya udah bibik suruh Mang Ujang sama pelayan yang lain aja buat belanja" ucap Bik Tika.
"Uang bulanan masih ada Bik? kalau habis bilang aku aja Bik" kata Saga
"Tenang Den kartu yang Den Saga kasih aja gak habis habis dipakai belanja bulanan" ucap Bik Tika.
Saga hanya tersenyum mendengar Bik Tika berbicara. Setelah perbincangan mereka selesai, mereka masing-masing berjalan bertolak arah.
Saga berjalan menuju kamar cadangan untuk dirinya membersihkan diri dan bersiap siap pergi kekantor.
****Dikediaman Bramanto****
__ADS_1
09.14
Lisa yang memilih tinggal diluar rumah setelah pernikahan adiknya dengan Saga tak pernah pulang kerumah.
Walaupun hanya untuk sekedar menemui kedua orang tuannya. Kunjungan terakhir seorang Lisa ke rumahnya adalah saat Saga dan Juni makan malam dikediaman Bramanto.
Tapi pagi ini Lisa sengaja pulang kerumah kedua orang tuanya dengan menggunakan pakaian dari atas hingga bawah berwarna hitam dan dengan sebuah kacamata hitam besar melingkar menutupi matanya.
Riasannyapun tak seperti biasanya. Make up nya terlihat sangat natural dan terlihat tidak menggunakan riasan.
Namun karena Lisa pada dasarnya memang sangat cantik jadi tak membuat kecantikannya pudar walau tanpa make up.
"Ayahhhhh,,, Mamiiiiii" teriak Lisa yang langsung berlari mencari kedua orang tuanya sambil sedikit tersedu-sedu setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga keluarga Bramanto.
Lisa tak mendapati seorangpun diruang tamu, tak seperti yang dia bayangkan.
Dalam bayangan Lisa pagi itu sudah ada semua pihak keluarga jauh dari keluarganya datang dengan sudah menggunakan busana serba hitam dan berkumpul sambil bersedih karena salah satu keluarganya telah pergi.
Keluarga yang di maksud adalah adiknya sendiri. Tapi bayangan itu terlalu jauh dari kenyataannya yang dia lihat. Tak ada satupun keluarga jauhnya berada diruang tamu.
Lisa tidak mulai kecewa karena pikirannya sempat memikirkan kalau mungkin saja semua keluarganya sudah pergi mengunjungi kediaman Saga yang sudah menjadi duda ditinggal pergi sang istri.
Langkah Lisa bergerak menuju tempat duduk diruang tamu. Lisa duduk sambil terus memanggil ayah dan maminya.
Kakinya dia silang, kaca matanya tak dia lepas masih terpasang melingkar diwajahnya.
Suara yang keluar dari bibirnya sungguh sangat dia buat-buat, terdengar sedih tapi hanya sebuah pencitraan dari seorang Lisa.
"Lisa,,,, kamu pulang nak?" Mami Sintia menghampiri Lisa yang duduk menyilangkan kakinya. Melihat maminya datang Lisa langsung terlihat sedih. Kakinya tak menyilang lagi. Duduknya menyenderkan didada sang ibu sambil menangis.
Mami Sintia kebingungan, Lisa datang dengan tiba-tiba setelah lama tak pulang dan dia sekarang berada didadanya sambil menangis.
"Ada apa nak? kenapa kamu menangis?" tanya Mami Sintia. Pertanyaan dari maminya membuat Lisa malah bertanya-tanya dalam hati kenapa sang mami malah tak tahu apa yang menjadi alasan dia menangis.
"Lho.... mami gak tahu?"
"Tahu apa Lis?" balik tanya Mami Sintia yang memang pada dasarnya tak tahu maksud Lisa.
"Ada kabar duka, Mami gak tahu? " tanya lagi Lisa yang penasaran kenapa maminya gak tahu kabar duka.
"Siapa yang berduka?" Mami Sintia penasaran.
"Oppsss,, belum ada kabar atau memang tidak ada kejadian yang sudah aku tunggu-tunggu. Jangan-jangan si haram itu selamat. Gak mungkin Mami gak dapat kabar kalau beneran terjadi" kata Lisa dalam hati heran dan terus bertanya-tanya.
"Cepetan ngomong Lis,,, siapa yang berduka?" tangan Lisa diguncang keras oleh Mami Sintia yang berhasil dibuat penasaran oleh Lisa.
Lisa tak bisa menjawab perkataan Mami Sintia, dia tak mungkin bilang kenyataan yang hanya ada dalam ilusinya saja. Bahwa hari itu tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Hmmmm,,,,,, itu Mami aaaa anu. Si kety udah gak ada" kata Lisa.
"Kety? maksud kamu kety si kucing kuning peliharaan kamu" ucap Mami sintia.
"Iya Mami,,,, " Lisa hanya menjawab pendek tanpa melihat tatapan wajah Maminya.
__ADS_1
"Ooooooo,,, maka dari itu kamu pakai pakaian kayak gini serba hitam" kata Mami Sintia.