
Disekolah, terlihat rutinitas para siswa dan guru seperti biasa, selayaknya sekolah pada umumnya.
Siang itu masih dikelas seorang Juni yang biasanya ceria, hari itu terlihat sangat diam. Pendiamnya Juni juga sangat dirasakan oleh Trala. Tak seperti Juni yang dia kenal. Trala yang sengaja mengajak Juni bercandapun tak direspon oleh Juni, Ingin rasanya Trala bertanya namun Trala tahu kalau percuma bertanya pada sahabatnya itu karena tak akan mendapatkan jawaban apapun. Trala tahu kalau saatnya tiba Juni akan cerita semua masalahnya yang dia rasakan, maka dari itu Trala hanya menunggu Juni mau bicara tentang apa yang ada dipikirannya.
Sebelum jam istirahat berbunyi, wali kelas, kelas 3, datang ke kelas dimana Juni dan teman temannya berada. Guru wanita itu bernama Ibu Dwi. Beliau berdiri didepan semua murid yang ada dikelas.
Seperti biasa ketua kelas yaitu Tomi yang menyadari kedatangan sang guru membimbing teman temannya untuk menyambut sang guru dengan salamnya yang khas sebagai ketua kelas.
"Baik anak anak, maaf ibu ganggu waktunya sebentar" kata wali kelas.
"Iya buk" jawab serempak seluruh murid.
"Oke untuk mempersingkat waktu, ibu kesini cuman mau mengingatkan kalau ujian nasional untuk kelas 3 tinggal sebulan lagi"
"Aaaaaaaaaaaahh" teriak semua para murid . Ada yang hanya berteriak saja, ada yang dibarengi dengan membuat suara dengan menepuk meja didepan mereka dan ada yang hanya cemberut mendengar kalau sebentar lagi mereka akan ujian.
"Tenang tenang, ijinkan ibu berbicara terlebih dahulu. Dengarkan ibu!!!"
"Ibu harap kalian sudah harus mempersiapkan diri, ini demi masa depan kalian kedepannya" lanjut ibu guru berbicara
"Ibu mau anak didik ibu semuanya sukses," para murid terdiam, mereka mendengarkan tanpa menjawab perkataan sang wali guru.
"Ibu mau kalian belajar, belajar dan belajar untuk sebulan kedepan. Lakukan yang terbaik demi orang tua dan terutama diri kalian sendiri"
__ADS_1
"Apakah kalian sudah ada bayangan mau kuliah dimana? " tanya ibu Dwi
"Sudah bu" jawab serentak anak lainya.
"Trala kamu mau kuliah dimana? " tanya guru pada Trala
"Disekolah dimana banyak lelakinya buk guru" jawab Trala dan seketika jawaban itu terucap dari bibir Trala sontak membuat seluruh anak murid lainnya tertawa dan menyoraki Trala atas jawaban yang berani menjawab seperti itu di depan wali kelasnya.
Ibu dwi juga ikutan tersenyum mendengar jawaban dari Trala, Trala membuat dirinya sendiri salah tingkah dan hanya seorang Juni yang tak merespon apa yang sedang mereka tertawakan.
Juni masih terlena dengan pikirannya yang bercabang. Entah kenapa mengetahui Saga sakit membuatnya sedikit memikirkan suaminya, namun terkadang sebagian pikirannya juga menghalangi dirinya terlihat lemah dan kembali lagi diperlakukan seenaknya oleh Saga.
Apalagi sekarang setelah tahu kebohongan Saga, dirinya marah dan sangat merasa ditipu oleh suaminya sendiri. Juni bisa memaafkan kesalahan setiap orang yang menjahatinya tapi pengecualian kepada orang yang berbohong. Disini dirinya merasa dibohongi oleh orang yang baru membuatnya percaya kalau dia dicintai. Pikirannya mungkin salah, karena kalau Saga mencintainya tidak akan ada dusta dan merasakan sakitnya kata itu.
Walaupun sebenarnya juga, Saga hanya awalnya bercanda ingin menggoda Juni, hingga membuat Juni percaya kalau dirinya sudah tidur dengan Saga. Karena kejahilan itu juga membuat sikap Juni mulai berubah ingin menerima Saga namun baru baru ini dia tahu kalau itu hanyalah kebohongan Saga, yang membuatnya berubah sikap didepan Saga.
"Oke oke. oke, alasan yang sah sah saja buat ibu, buat Tomi ketua kelas kebanggaan kita mau kuliah dimana?" Ibu dwi memalingkah wajahnya melihat Tomi
Tomi melirik Juni yang masih melamun, kemudian menatapnya beberapa detik sambil berkata "Belum ada rencana buk", Tomi melirik Juni bukan tanpa maksud, dia sudah pasti menjawab dalam hatinya kalau dirinya ingin kuliah ditempat Juni kuliah dan kalau bisa satu jurusan lagi dengan gadis yang dia sukai. Tomi memainkan pulpen ditangannya sambil menunduk melihat meja dengan senyum tersipu yang dia tunjukan.
Ibu Dwi menyadari kalau jawaban Tomi itu ada hubungannya dengan Juni, Buk Dwi tahu kalau sebenarnya ketua kelas itu sangat suka dengan Juni, tidak ada wali kelas yang seperhatian itu dengan anak didiknya selain ibu Dwi. bagaimana tidak? Ibu Dwi sudah menjadi wali kelas mereka selama 3 tahun. Dan tatapan Tomi selalu tertuju ke Juni.
"Kalau Juni kedepannya mau kuliah dimana?" tanya guru kepada Juni. Ibu guru sengaja bertanya kepada Juni agar Tomi bisa menentukan pilihan tempat kuliahnya. Tomi melihat Juni yang ditanyai oleh gurunya. Dia berharap Juni bisa menjawab agar dia juga bisa mengikuti jejak Juni nantinya.
__ADS_1
Juni diam tak mendengar pertanyaan yang terlontar untuknya dari wali kelasnya. Juni masih bergelut dalam pikirannya sendiri.
"Juni, juni" panggil guru lagi.
Trala yang melihat Juni tetap tak menjawab panggilan Ibu Dwi menyenggol tangan Juni hingga dia tersadar dari lamunannya.
"Oohhh iya ada apa buk? " tanya balik Juni
Sontak semua orang yang ada diruangan itu tertawa.
"Ibu gangguin Juni melamun ya? ibu tanya kedepannya mau kuliah dimana? udah kepikiran kan bakalan jadi mahasiswa apa dan dimana? "tanya buk guru lagi
"Maaf buk, maaf belum kepikiran buk mau kuliah dimana! " jawab Juni.
"Ooo ya udah,,, harusnya kalian semua sudah memikirkannya jauh jauh hari karena ini adalah masa depan kalian sendiri" ucap Ibu Dwi kepada semua murid yang belum tahu dirinya akan kuliah dimana
"Dan buat anak anak yang lain, ibu cuman mau ngingetin fokus belajar, kurangi main mainnya, dan anak anak yang belum mengambil les tambahan diluar, ibu pribadi akan membuka les tambahan persiapan ujian. Bagi siapa saja yang belum mengambil les tambahan diluar sekolah silahkan bergabung dengan kelas ibu dan itu semua gratis. Dan kedepannya bisa kita bicarakan lagi untuk jadwalnya les" ucap panjang lebar ibu dwi
Sorak soray murid kelas tiga kembali terdengar setelah guru selesai berbicara akan membuka les tambahan. Semua orang senang dengan sosok wali kelas yang menurut mereka sangat baik, wali kelas yang sangat memperhatikan masa depan murid muridnya dan rela memberikan les tambahan gratis pada murid muridnya.
Bunyi bel istirahat terdengar dan Ibu Dwi mengakhiri pula pembicaraan murid dan wali kelas saat itu,
"Oke karena bel sudah berbunyi dan sudah waktunya istirahat, buk guru pamit dan selamat istirahan semua" kata guru
__ADS_1
"Iya buk, Terimakasih buk guru" serempak semua isi kelas berbicara.
Perlahan Ibu dwi berjalan keluar dan menghilang setelah melewati pintu kelas. Seisi kelas yang lain terlihat melakukan aktifitas mereka, ada yang masih sibuk berbicara dengan teman duduknya, ada yang sudah bergegas berlari pergi keluar kelas dan ada pula yang sibuk dengan android mereka.