AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Syarat √


__ADS_3

Juni mencoba menghentikan ayahnya yang memotong pembicaraannya saat dirinya sudah berani bicara dihadapan kedua orang tuanya yang sedang bersama dirinya.


"Sebentar dulu yah, dengerin aku ngomong dulu sebentar saja. Kasih aku waktu buat ngomong.sekarang didepan ayah dan mami" sembari mengepalkan tangan kanannya dan tangan kirinya berada dibawah meja sedang meremas bajunya. Juni tetap melanjutkan perkataan setelah melihat ayahnya menganggukkan kepalaknya sebagai tanda bersedia dalam diamnya sejenak dan mendengarkan anaknya berbicara.


Juni kembali lagi menceritakan bahwa dirinya sudah mengetahui maksud pria tua yang datang tadi malam kerumahnya dengan dikawal oleh dua pengawalnya. Dan Juni akhirnya mengatakan kalau dirinya bersedia untuk dinikahi oleh Pak Saga, rekan kerja Ayah Bram dengan memberikan syarat balik kepada pria tua yang adalah rekan kerja ayahnya.


Beberapa syarat yang diajukan Juni adalah pertama dirinya harus tetap bersekolah selama menjadi istrinya Pak Saga karena kalau dirinya berhenti bersekolah hanya gara-gara menikah nasib kedepan dari Juni sudah dia bayangkan sendiri.


Kedua merahasiakan pernikahan mereka dari semua orang, jadi pernikahan itu hanya diketahui oleh pihak keluarga dan tidak dilakukan secara besar-besaran yang mengundang penasaran orang lain yang akan melihat.


Ketiga pihak dirinya dan pihak pria tua yang bernama Saga itu tidak boleh mencampuri urusan dari pihak masing-masing walaupun sudah menikah serta tidak dikenankan melarang kegiatan yang dilakukan dua belah pihak tanpa izin dari masing masing pihak. Keempat mereka hanya boleh bertemu pada saat hari- H acara pernikahan saja.


Syarat keempat adalah syarat yang paling aneh yang juga Juni rasakan, karena pikir Juni sebelum dirinya akan merasakan bosan melihat calon suaminya maka dirinya lebih baik melihat pria tua yang akan mejadi suaminya itu disaat pernikahan nanti. Juni mencoba untuk memuas-muaskan diri sebelum menjadi istri pria tua yang sebaya dengan ayahnya.


"Kamu yakin nak dengan keputusan kamu hari ini?" kata Mami Sintia mencoba bertanya akan keyakinan dan keputusan yang sudah dibicarakan juni.


"Ayah gak setuju, dengan keputusan yang kamu ambil" Ayah Bram berdiri dan menunjukan rasa ketidak sukaannya akan keputusan yang diambil oleh anak bontotnya itu.


"Pernikahan bukan hal yang main-main, pernikahan adalah dimana seorang pria dan wanita mengikat janji suci karena cinta bukan syarat" lanjut Ayah Bram yang memandang Juni dengan masih terdiam duduk setelah dari tadi dirnya berbicara dan mengajukan beberapa syarat.

__ADS_1


"Iya jun, mami juga gak mau kalau kamu yang akhirnya harus menanggung semua masalah yang Lisa dan kami sebabkan" imbuh Mami Sintia menggapai tangan Juni dan menggengamnya erat.


"Ini sudah jadi keputusan aku yang sudah mendapatkan kartu identitas yang menyatakan kalau aku sudah dewasa artinya aku bisa memutuskan hal yang harus aku lakukan" kata Juni meyakinkan ayah dan maminya yang menentang keputusan yang diambil Juni.


"Demi kalian" imbuh Juni pendek namun berhasil membuat hati ayah dan maminya bergetar.


Anak yang masih berumur 18 tahun sudah bisa memutuskan untuk hidupnya kedepan hanya demi kedua orang tuanya. Anak yang menyerahkan seluruh hidupnya sebagai syarat pertolongan seseorang demi kelancaran usaha ayah bram.


Dalam hati Ayah Bram sangat sedih mendengar perkataan Juni ingin rasanya dia berbuat sesuatu hingga pernikahan dan pengorbanan Juni tidak terjadi tapi apa daya Ayah Bram tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan anaknya dari sebuah pernikahan yang seharusnya tidak terjadi.


Juni melihat Ayah Bram duduk kembali dan tidak bisa berkata apa-apa karena Juni tahu kalau ayahnya saat itu tidak berdaya. Disatu pihak ayahnya ingin menyelamatkan Juni namun dipihak lain saat dirinya menyelamatkan anaknya sudah pasti ada yang dikorbankan dan itu adalah perusahaannya dan ratusan karyawannya serta keluarga dari karyawannya yang menjadikan pekerjaan mereka adalah sumber penghidupan mereka.


"Ini kertas dengan tulisan tangan aku yah, aku berharap ayah menyerahkan surat ini pada Pak Saga" kata Juni yang masih terus mencoba memberanikan diri membuat keputusan seperti itu.


"Aku sudah tanda tangani diujung kertas dengan materai" imbuh lagi Juni.


"Kamu yakin Nak? kamu gak bisa mundur lagi kalau ayah sudah menyerahkan syarat yang kamu ajukan kepada Pak Saga" kata Ayah Bram mencoba menanyakan keyakinan anaknya.


"Kalau aku gak yakin dengan keputusan aku, aku gak bakalan sampai sejauh ini. Ini adalah satu-satunya cara buat menyelesaikan masalah ayah" kata Juni

__ADS_1


Ayah Bram dan Mami Sintia terdiam mendengar perkataan Juni yang terdengar yakin akan keputusannya dan yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


"Aku siap dan ikhlas yah" imbuh Juni menatap kemata ayahnya yang menjadi ujung tombak dalam keluarga Bramanto.


Juni mengingatkan ayahnya untuk segera menghubungi Pak Saga karena waktu terus berjalan dan sudah semakin dekat dengan tenggak waktu yang diberikan Pak Saga. Juni melihat jam dinding yang ada diruang makan dan saat itu hanya kurang 1 jam lagi dari waktu yang diberikan Pak Saga yaitu sampai pukul 12.00 nanti.


Ayah Bram yang masih terdiam, dalam benaknya akhirnya dialah yang akan memutuskan apakah akan menyerahkan Juni ataukah tidak. Dipandangnya lembaran yang sudah ditanda tangani Juni yang berisikan beberapa syarat akan kesetujuannya untuk menikah.


Mami Sintia bertanya lagi kepada Juni "Kamu yakin Nak? kalau kamu maju kamu gak bakalan bisa mundur lagi" kata Mami Sintia kepada anaknya.


Mendengar perkataan maminya, juni menoleh kearah Mami Sintia yang sedari tadi diam dan memegang tangan Juni dengan erat "Mami aku yakin seyakin yakinnya kalau keputusanku ini yang terbaik buat semuanya"


"Tapi Nak!" potong ayahnya yang masih ragu akan hal yang akan terjadi kedepannya.


Juni mengambil ponsel ayahnya dan bertanya kepada ayahnya "Siapa nama Pak Saga disini?" tanya juni


Ayah Bram tetap tidak mau mengatakan nama Pak Saga yang dia simpan dikontak ponselnya. Juni menoleh kemaminya setelah ayahnya tidak mau mengatakan nama Pak Saga dikontak ponselnya.


"Mami, dukung aku dengan keputusan ini" kata Juni kepada Mami Sintia dengan suara yang lemah penuh permohonan.

__ADS_1


Mami Sintia yang menatap arah ayahnya yang tetap diam dalam duduknya berkata "Tuan Saga" sontak jawaban istrinya membuat Ayah Bram menatap Juni yang segera mencari nama Tuan Saga diponsel ayahnya. Matanya berhenti bergerak keatas dan kebawah setelah menemukan dan melihat nama yang dimaksud oleh Mami Sintia. Juni terdiam sejenak sebelum menghubungi nama tersebut.


__ADS_2