AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Senyum Palsu


__ADS_3

Juni yang masih berada satu meja makan bersama orang tuanya merasa kalau kedua orang tuanya memasang expresi yang terlihat bergembira.


Entah apa yang sedang dipikirkan kedua orang tuanya, namun meliat itu Juni sangat senang setidaknya bisa membuat kedua orang tuanya tersenyum.


Juni yang sudah duduk dikursi meja makan membalik piring putih menghadap atas berharap maminya mengisikan piringnya dengan sepotong roti bakar.


Juni bersikap seperti tidak ada apa-apa padahal hatinya sudah memikirkan tentang pernikahannya yang nanti malam akan terjadi.


"Jun, kamu belum mandi Nak?" tanya Mami Sintia yang sudah memberikan roti bakar dengan selai kacang serta menaruh segelas susu disamping piring Juni


Juni tak lantas menjawab pertanyaan maminya karena masih melamun dengan pikirannya sendiri. Mami Sintia memanggil lagi nama Juni untuk sekian kali sembari memukul piring dengan sendok. Perbuatan Mami Sintia itu sontak membuat Juni tersadar dan tanpa sadar tangannya sudah menyenggol gelas yang berisikan air susu.


Sudah bisa ditebak kalau gelas itu jatuh kelantai.


Mereka bertiga sontak kaget dan saling pandang satu dengan yang lainnya. Juni segera bangkit dari kursinya dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya karena tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berisikan susu.


"Udah gak apa-apa Nak, ayah ambilkan sapu buat bersihin" Ayah Bram berdiri dari duduknya dan akan melangkahakan kakinya untuk mencarikan sesuatu untuk membersihkan pecahan gelas dan tumpahan air susu.


"Udah yah, gak usah. Biar aku saja yang ngambil dibelakang" cegah Juni yang menghentikan langkah ayahnya. Juni segera berlari menuju gudang meninggalkan kedua orang tuanya yang berada dimeja makan.


Setelah Juni tidak ada dimeja makan Mami Sintia mencoba berbicara kepada suaminya tentang anaknya itu.


"Yah, ayah yakin bakalan biarin semua ini terjadi" tanya Mami Sintia.


"Sebenarnya ayah juga gak tega mi, tapi kalau ayah bilang yang sebenarnya terjadi kepada Juni bahwa dia sudah salah paham dengan memikirkan ayah akan mencoba bunuh diri mungkin Juni akan tetap meminta untuk dinikahkan karena alasan kerjasama" kata Bramanto


"Lagian menurut ayah si Saga beneran cinta sama Juni" imbuh Bramanto.


"Merekakan gak pernah ketemu yah, bagaimana itu bisa terjadi?" Mami Sintia heran dengan perkataan suaminya.


"Ayah lupa bilang sama kamu, si Saga dari perkataannya kemarin waktu ayah kerumahnya kalau Saga pernah bertemu dengan Juni walaupun dia belum siap bercerita dan ayah liat dia tulus" kata Bramanto


Pembicaran mereka terhenti ketika langkah kaki Juni terdengar dan menghampiri mereka berdua. Juni yang membawa alat pembersih pecahan gelas dan air susu bergegas membersihkan lantai yang berserakan penuh dengan pecahan bling. Dari arah luar rumah sudah terdengar suara bel yang dibunyikan seseorang.


"Ada tamu yah" kata ayah


"Kalian duduk saja disini kita suruh Bik Oyah yang bukain pintu" imbuh Ayah Bramanto.


Ayah bram memanggil pembantunya untuk membukakan pintu rumah dan menemui seseorang yang ada diluar rumah.

__ADS_1


Selang beberapa menit tibalah Oyah pembantu keluarga Bramanto yang baru dipekerjakan hari itu sebagai pengganti Bik Ulik yang sudah tidak lagi bekerja disana, dari arah pintu rumah kediaman Bramanto, Bik Oyah datang dengan membawa sebuah kotak kado besar.


Sebelum ditanya oleh pemilik rumah, Oyah terlebih dulu melapor bahwa ada pengantar membawa paket kiriman kado untuk diberikan kepada Juni.


Juni tercengang karena kotak itu sangat besar sehingga dia ikut penasaran dengan isi kotak tersebut.


Kado itu sudah berada ditangan Juni dan Juni lekas membuka kado itu, sangat terkejut dirinya mendapati gaun pernikahan yang sama dengan gaun pernikahan yang sudah dirusak oleh Lisa.


Gaun itu tidak datang seorang diri, didalam kado sudah ada sepasang sepatu putih cantik yang sudah dibayang bayangkan oleh Juni ketika suatu saat dirinya menikah nanti namun yang membuatnya sedikit sedih adalah pernikahan ini bukan pernikahan impiannya. Juni hanya berpikir kalau pernikahannya nanti malam hanyalah pernikahan kontrak, tidak lebih.


*


*


*


*


*


Jam berputar semakin cepat, dan waktu pernikahanpun sudah mulai mendekat.


Bramanto sudah menyuruh supirnya untuk mempersiapkan mobil yang akan mereka gunakan menuju kekediaman Saga.


Mami Sintia sudah berada dikamar Juni dengan ditemani beberapa perias make up pengantin yang sudah didatangkan Saga untuk merias Juni.


Tak tanggung tanggung perias yang dikirim Saga adalah perias yang sudah sangat terkenal diluar negeri.


Satu asisten perias make up itu merias Mami Sintia dan perias utamanya merias fokus terlebih dahulu merias sang pengantin yaitu Juni.


Juni yang baru selesai keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, bergegas segera menuju meja rias yang sudah tersedia dikamar Juni


Juni duduk didepan perias yang akan merias wajahnya. Perias pengantin Juni mulai membersihkan wajah Juni dari kotoran yang mungkin masih tersisa.


Peria make up : Ini kenapa mbak jun?


Juni : Mana?


Perias make up : Yang ini (menunjuk arah kening yang membiru)

__ADS_1


Juni : Ooo,,, kebentur pintu kamar mandi.


Perias make up : Ooo,,, kirain KDRT


Juni : hehhehe (tersenyum palsu agar obrolan tidak panjang)


Tangan perias berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menyulap Juni menjadi pengantin yang paling cantik sejagad raya.


Didalam kamar Juni sudah sekitar beberapa jam telah berlalu dan Juni masih duduk didepan meja rias dengan raut wajah yang sedih hingga membuat perias lelaki kemayu itu berkata


"Mbak Juni, kenapa pengantinya terlihat sedih? Pamali lho!"


Juni memperlihatkan senyum palsunya kepada perias, namun perias tetap berkata kepada Juni yang melihat dirinya didepan cermin sudah dengan make up setengah jalan "Kamu bakalan nikah sama Saga, tentunya kamu bakalan jadi wanita terberuntung dan terbahagia bisa menikahi Saga"


Juni menatap perias yang berkata seolah-olah dirinya akan menikah dengan pria baik yang menjadi pujaan hati semua orang.


"Maksudnya apa" tanya Juni


"Juni, banyak wanita yang mengantri untuk bisa dilirik oleh Saga hanya dilirik saja (catet ya!!!) harusnya kamu bahagia sudah bisa dinikahi Saga pria ganteng yang baik"


Juni tetawa dalam hati, pikirnya mana ada pria ganteng yang seumuran dengan ayahnya "Gak salah, baik?" kata Juni kepada perias lelaki itu.


"Iya baik, Saga itu pria baik dia sudah banyak memberikan bantuan kepada anak- anak yang terlantar dan memberikan beasiswa kepada para pelajar berprestasi yang tidak mampu" kata perias kemayu itu


"Itu sebagian kecil ya!" imbuhnya lagi


"Tapi tetep saja aku nikahnya sama om-om" kata Juni dalam hati dengan mengalihkan pandangannya ke tempat lain agar tak lagi berusaha diajak berbicara oleh perias.


Setelah wajah Juni selesai dimake up, Juni mengenakan baju pengantin yang sudah diberikan oleh Saga dan tak lupa juga mengenakan sepatu pemberian Saga juga.


Perias itu membenahi belakang gaun pengantin yang dipakai Juni.


"Wahhhhh cantiknya gaunnya secantik orang yang memakainya" kata perias


Juni hanya memberikan senyum kepada perias yang sudah memberikan pujian namun pujian itu tak benar' benar memberikan kebahagian kepada Juni.


Hari itu Juni sudah banyak memperlihatkan raut wajah yang palsu dan itu dia lakukan agar tidak ada yang tahu, apa yang sedang Juni rasakan.


Dirinya hanya berpikir biarlah kesedihan hatinya hanya dirinya yang merasakan tidak akan pernah dia perlihatkan walaupun itu didepan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2