
\=\=> CONTOH VISUAL KEDIAMAN SAGA, TEMPAT SAGA MASIH MENUNGGU TELEPON DARI BRAMANTO
Saga melihat jam tangannya dan menghitung waktu yang hanya kurang dari 15 menit batas yang dirinya diberikan kepada Pak Bramanto dan keluarganya. Apakah dirinya akan berhasil atau tidak menikahi Juni.
Saga sebenarnya tidak tega jika harus menikahi Juni dengan cara seperti ini namun pikir Saga yang sudah tidak tahu dengan cara apalagi dirinya harus perbuat.
Saga sudah membatalkan lagi perjodohannya dengan Lisa tidak mungkin lagi baginya untuk berbicara baik- baik dengan Pak Bramanto untuk meminta Juni yang adalah adik dari Lisa untuk dia nikahi. Jadi cara ini adalah satu satunya cara yang terlintas dalam benak Saga saat ini.
*
*
*
Diseberang sana Juni sangat marah karena pihak Saga tidak mengangkat panggilan yang dia lakukan dengan menggunakan ponsel ayahnya padahal waktu yang diberikan oleh Pak Saga kian menipis.
"Yahhhh, si bapak-bapak itu gak ngangkat telepon?" Juni menantap ayahnya yang masih ragu dengan keputusan yang akan dilakukan Juni. Ayah Bram tidak menjawab perkataan Juni karena masih duduk lemas tidak percaya dengan keputusan yang akan diambil oleh anaknya itu.
Juni mencoba lagi menelepon Saga, namun Saga tetap tak menggangkat panggilan atas nama Bramanto yang dilakukan Juni.
"Ihhhh, sumpah ne bapak-bapak ngeselin. Aku udah bela belain buat ambil keputusan ini malah gak ngangkat panggilan" Juni jengkel dalam hati terus saja meluapkan kekesalannya.
Namun Juni juga merasa khawatir kalau sampai Pak Saga tidak mengangkat panggilan telepon sudah pasti ayahnya akan melakukan hal yang Juni takutkan yaitu mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih. Juni sudah merasa takut memikirkan hal tersebut.
"Ya udah lah nak, mungkin Tuhan gak ijinin ini terjadi" sahut Mami Sintia kapada anaknya yang terus saja berusaha menelepon Pak Saga.
"Oke, aku bakalan hubungin dia sekali lagi, kalau tetap gang angkat berarti ini memang jawaban dari Tuhan" jawab Juni berbicara kepada Mami Sintia namun tangannya sudah sangat cepat mencari lagi nama Saga diponsel ayahnya dan mencoba sekali lagi untuk mennghubungi Pak Saga.
*
__ADS_1
*
*
Saga disana menghitung mundur sebelum mengangkat panggilan dari Pak Bramanto dan Saga memutuskan utuk menggapai ponselnya yang terus sedari tadi dirinya pandangi.
Saga menerima panggilan ponsel dari Pak Bramanto yang memang sudah menghubunginya sedari tadi.
"Haloo, Pak Bramanto" Saga menjawab panggilan yang sudah sedari tadi dirinya ingin jawab karena dirinya juga sudah penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya walaupun sudah Saga perdiksi dan prediksi dari Saga tidak pernah meleset akan hal apapun.
"Halo, ini aku Juni anak dari Bramanto " Juni langsung berbicara memberitahu kalau yang saat itu berbicara dengan Saga adalah dirinya.
Saga sangat kaget sekaligis senang tak kala mendengar suara Juni, setelah sekian lama dirinya bisa mendengar Juni berbicara kepada dirinya walapun hanya dari suara telepon.
"Iya, ada apa yach?" Saga pura-pura tidak tahu maksud dari Juni yang langsung menelpon dirinya.
"Aku, aku, aku" kata Juni terbata-bata masih ragu untuk berbicara.
"Aku mau dinikahi sama kamu Pak" Juni berbicara yang sontak membuat Saga berdiri dari pembaringannya dan terus saja menggerakkan badannya seolah dirinya sudah merasa sangat senang dengan jawaban yang sudah dia tunggu tunggu.
"Tapi aku punya syarat" imbuh Juni yang membuat Saga terdiam sejenak.
"Apa? tanya pendek Saga yang memutuskan untuk duduk lagi dikursi dengan melipat kakinya menyilang.
Juni lalu memberitahukan syarat yang sudah dia pikirkan kepada Saga yang terus mendengar perkataan Juni. Tidak ada kata yang terucap dari Saga saat Juni memberitahukan semua syaratnya. Namun saat Juni memberikan syarat yang keempat yang berbunyi dirinya hanya akan bertemu dengan Saga pada saat nanti dia melangsungkan pernikahan.
Saga tersenyum penuh arti, Saga bertanya kenapa Juni tidak mau bertemu dengan dirinya sebelum acara pernikahan yang padahal sebelumnya mereka pernah beberapa kali bertemu sampai Juni juga pernah menolong Saga
"Kenapa? " tanya Saga sontak membuat Juni berhenti berbicara setelah mengusulkan syarat yang ke empat.
"Gak ada kenapa- kenapa" padahal dalam hati Juni sudah berpikir bahwa sebelum dia benar benar menjadi istri dari seorang bapak- bapak Juni harus benar benar mempersiapkan dirinya.
__ADS_1
"Ada yang lain yang kamu inginkan" tanya Saga lagi kepada Juni.
"Gak ada lagi" kata Juni.
"Oppsss, ada satu lagi, masalah kerjasama dengan ayah bagaimana?" tanya Juni mengingatkan Saga tentang masalah yang sangat penting bagi keluarga Bramanto.
"Oke aku bakalan terus tetap bekerjasama dengan calon mertuaku" jawab Saga
Jawaban Saga membuat juni mendesis sinis, Juni berpikir lelaki yang akan menjadi suaminya nanti adalah lelaki yang paling licik yang dia akan dia temani nanti setelah menikah. Lelaki yang hanya ingin menikahinya hanya untuk syarat kontrak kerjasama. Lelaki yang dia akan nikahi tidak berdasarkan cinta.
"Aku juga punya syarat buat kamu" kata Saga mendadak membuat Juni terdiam.
"Kenapa harus ada syarat dari kamu" Juni tidak terima Saga mengajukan syarat mengikuti apa yang dia ajukan.
"Kamu punya syarat buat aku, terus kenapa aku gak boleh ngasi kamu juga hal yang sama. Lagian disini yang butuh bukan aku tapi kamu" Saga bebicara terdengar sangat tegas dan bernada memberitahukan Juni kalau dirinya tidak mau yang akan rugi adalah keluarganya.
"Oke oke apa?" kata pendek yang terdengar dari Juni. Berharap syarat yang akan diberikan oleh Saga tidak akan terlalu sulit baginya.
"Yang pertama, aku cuman mau kamu jadi istri yang baik buat aku" kata pertama Saga di jawab langsung oleh juni hanya dengan suara kaget yang terdengar "Haaaaaaaaa" Juni tidak berpikir akan menjadi istri yang baik buat bapak -bapak yang sedang berbicara dengannya di telepon dan tidak memikirkan bahwa Saga hanya ingin dirinya jadi istri yang baik untuknya.
"Yang kedua aku mau kita menikah besok dirumah aku" kata Saga sambil terus tersenyum seakan sedang membayangkan dirinya berada dalam satu ikatan janji suci dengan Juni.
"Haaaaaaaaaaaa besok" kaget Juni membuat ayah dan maminya juga sontak bangun dari tempat duduk mereka dan mendekat kearah Juni. Mereka ingin lebih tahu apa yang dikatakan Saga sehingga Juni kaget seperti itu.
"Iya besok, kalau kamu gak mau yach sudah kita lupakan semuanya. Berita buruknya Pak Bramanto akan kehilangan kontrak kerjasama dan berita baiknya kamu tidak akan menikah dengan aku" Saga berbicara panjang lebar.
"Gampang kan? " imbuh Saga kepada Juni.
Juni melihat arah punggungnya dan mendapati wajah dari ayahnya yang sedang terlihat sedih, entah apa yang dipikirkan ayahnya. Juni tidak mau kalau hal yang buruk terjadi kepada keluarganya khususnya seorang ayahnya yang sangat dia cintai.
"Oke, aku bersedia. Kamu tinggal ngomong saja sama Ayah Bram" jawab Juni yang tak bisa menolak permintaan Saga karena ketakutan yang dia pikirkan tentang ayahnya akan terjadi saat ayahnya kehilangan usahanya.
__ADS_1