
"Inget Sag, wajahnya tak sepolos tingkahnya" gumam Saga dalam hatinya
"Dia masih belum ada rasa sayang sama kamu jadi kamu harus jinakkan terlebih dahulu. Buat rasa bencinya jadi sayang kemudian berlanjut ke cinta dan semua akan indah pada waktunya" lanjut sagaa mengingatkan diri sendiri kalau Juni tidak sepolos wajahnya.
Wanita yang punya akal 1001 cara untuk melarikan diri darinya.
Saat Saga lengah, Juni akan menggunakan siasatnya menghindari Saga yang adalah suaminya sendiri. Saga memencet hidung Juni dengan dua jarinya sampai Juni susah bernapas dan tangan junj tanpa dia sadari memukul tangan Saga yang sudah mengganggu hidungnya.
"Tu kan sag, masih tidur aja bisa mukul" Saga berbicara seorang diri sambil tertawa karena berhasil mengerjai Juni.
Saga membenahi posisi kepala Juni saat tertidur dan tak lupa merapikan selimut untuk Juni agar tubuh Juni terlindungi. Dirinya mengecup kening Juni.
Saga berdiri dari duduknya dan merapikan lagi pengering rambut Juni yang baru saja dia gunakan. Saga menaruh kembali pengering rambut Juni dikotak yang dirinya taruh dimeja rias Juni, dirinya tak lupa menaruh lagi kotak merah muda dibawah meja rias seperti sedia kala sewaktu dirinya mengambil kotak tersebut.
Dia memutuskan berbaring lagi disamping Juni,entah kenapa Saga yang terus memandang wajah mungil Juni sambil memegang tangannya merasakan kantuk yang luar biasa. Biasanya Saga kalau tanpa obat tidur, tidak akan bisa tidur hingga sampai hari esoknya. Dan ia kembali menemukan satu lagi keajaiban Juni dalam hidupnya.
Juni dan Saga akhirnya tertidur disatu ranjang yang sama.
Juni yang merasa hawa saat itu begitu panas, merasakan kegerahan dengan masih mata yang tertutup tidak menyadari kalau dirinya di apartemen tidak sedang sendiri, Juni sedang bersama Saga.
Dia tidak mengingat kalau Saga sedang berada dikasur yang sama dengannya.
Juni yang masih dalam keadaan tidur setengah sadar, melepaskan baju kaos yang dia pakai.
Tangannya memeluk sebuah bantal guling dengan kakinya yang menindih bantal guling yang dia peluk. Juni sangat nyaman sudah memeluk bantal guling walaupun dia sempat berpikir sekilas dalam tidur setengah sadarnya kalau dia sama sekali tidak punya bantal guling.
Namun Juni tidak menggubrisnya karena kantuk dan lelah yang dia rasakan, Juni terlelap lagi dalam tidurnya.
Keesokan harinya Juni bangun tidur, matanya berusaha untuk terbuka walau yang dia rasakan masih sangat berat untuk membuka mata.
Juni kaget melihat didepan wajahnya sudah ada wajah Saga yang masih tertidur.
Dirinya tambah dibikin tercengang ketika melihat tangannya sendiri memeluk tubuh Saga yang tanpa menggunakan baju dan kakinya menindih kaki Saga.
Repleks tangan Juni menampar pipi Saga, karena Saga masih sangat ngantuk dia tidak merasakan tamparan tangan Juni dipipinya.
Juni berusaha mengingat kejadian yang terjadi tadi malam dan ingatannya hanya saat dirinya membuka baju dan memeluk bantal guling yang ternyata adalah suaminya sendiri yaitu Saga.
Pantas saja dirinya sempat berpikir kalau guling yang dia peluk tidak dia punyai.
__ADS_1
Juni juga lupa kalau dia tidak sendirian di kamar apartemennya. .
Juni sontak melepaskan pelukannya dan segera duduk diranjangnya.
Betapa terkejutnya dia saat baju yang dia kenakan tidak menempel dibadannya.
"Lhooo, kok bisa begini" kata Juni sambil menarik sedikit selimut untuk menutupi tubuhnya. Sesekali Juni melihat kedalam selimut memastikan kalau tidak terjadi apa-apa dengannya dan Saga. Dirinya masih melihat Saga tertidur pulas.
"Aduh" tangan Juni sudah menepuk dahinya merasa kebodohan sedang datang padanya.
"Kok bisa" gumam Juni yang tidak mau Saga terbangun dan melihat semua yang terjadi pagi itu.
"Salah aku" lanjut lagi kata Juni.
Juni berusaha sangat pelan untuk bergerak agar Saga tidak terbangun, Juni mengambil baju yang tergeletak dilantai dan segera memakainya dengan cepat.
Setelah memakai bajunya dia merasa lega dan mengelus dadanya sambil berkata "Aman"
Juni beranjak menuruni ranjangnya perlahan -lahan.
Juni melihat lagi kearah suaminya dan mendapati pipi Saga memerah bekas tamparan yang dia berikan.
"Untung dech, dia gak ngerasain kalau dia ngerasa bisa-bisa aku dapet ancamana lagi" lanjut imbuh Juni sambil menepuk keningnya
Juni segera bergegas ke kamar mandi setelah melihat jam dinding kamarnya, hari itu sudah sedikit siang kalau dirinya tidak bergegas ke sekolah mungkin akan telat.
*
*
*
*
*
Saga terbangun mendengar suara shower yang dinyalakan Juni dikamar mandinya.
Dia mengusap- usap matanya dan melihat jam yang ada diponselnya.
__ADS_1
Istrinya sudah tidak dia lihat berada disampingnya.
Sesekali Saga mengusap pipinya merasa sakit pada pipinya bekas tamparan Juni yang sudah Juni layangkan tapi Saga malah tidak tahu kalau pipinya ditampar Juni itupun bukan merupakan kesalahannya.
Jika Saga tahu, mungkin dia tidak akan merasa heran kenapa tiba-tiba pipinya terasa sangat sakit.
Sudah hampir siang, Saga ingin membangunkan diri namun badannya terasa berat untuk diajak bergerak.
Saga memutuskan untuk berbaring sejenak hanya untuk beberapa menit saja sambil mengumpulkan semua nyawanya untuk bisa bangun dari tempat tidurnya.
Pintu kamar mandi sudah terbuka dan Juni sudah keluar dengan menggunakan pakaian seragam sekolah lengkap.
Juni sengaja memakai baju di kamar mandi karena melihat masih ada Saga berada dikamarnya dan tak mungkin baginya menggganti baju disana.
Bisa-bisa Saga merasa keenakan sudah melihat gratis lekuk tubuhnya.
\=\=> CONTOH VISUAL SAGA YANG MENOLEH JUNI KELUAR DARI KAMAR MANDI.
Saga melihat Juni sudah menggunakan seragam sekolahnya lengkap, Saga yang masih terasa berat membuka mata segera duduk diranjang.
Saga memperhatikan Juni dengan rambut tergerai dibalut dengan seragam sekolahnya.
Dalam hati saga yang melihat Juni pagi itu begitu sangat terpesona.
Seorang gadis yang masih sekolah benar-benar membuat dirinya tak henti- henti memperhatikan Juni.
Yang Saga ketahui sebelum Juni kenal Saga, istrinya itu sangat baik sampai-sampai pernah membantu dirinya yang tidak dikenalnya sedang pingsan dilift namun setelah Juni menjadi istrinya Juni sangat berubah menjadi pribadi yang jutek dan dingin itupun bisa dimaklumi Saga karena Saga juga yang membuat Juni dingin seperti sekarang.
"Jun mau kemana?" tanya Saga
"Mau ke pasar om. Gak liat aku pakai baju sekolah" jawab Juni ketus.
Juni segera mengambil tas punggungnya dan duduk dimeja riasnya sembari menenteng sepatu yang akan dia pakai nanti ke sekolah. Saga yang menatap terus apa yang junj lakukan sampai Juni merasa agak risih dengan tatapan Saga.
"Ngapain om liat gitu?" tanya jutek Juni.
"Gak boleh liat istri sendiri" Saga berpura-pura mengalihkan pandangannya kearah dimana tidak melihat Juni didalam pandangannya.
__ADS_1
Juni memakai sepatunya dan sesekali melihat jam tangannya, Juni tak mau hari ini dia telat berangkat ke sekolah yang sudah sangat dirinya kangeni.