AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Aku Om-nya!!! (bingung cari judul)


__ADS_3

"Kamu kenapa Juni? tanya Trala


Tomi juga berdiri memegang pundak Juni. Tangannya memegang dagu Juni agar didongakkan keatas memandang wajahnya dan bertanya "Iya kamu kenapa Juni, ada masalah?"


"Gak ada, aku cuman sakit perut saja! " jawan Juni dengan kebohongannya. Juni mengambil tasnya yang ada dikursi.


"Aku duluan ya! aku harus pulang" lanjut kata Juni.


"Aku antar Jun" kata Trala


"Gak usah, biar aku aja yang antar" kata Tomi mencegah Trala yang sudah berdiri ingin mengantar Juni pulang.


"Gak apa-apa aku pulang sendiri" kata Juni menolak


"Pokoknya aku anter kamu pulang, kamu lagi sakit perut gini masak pulang sendiri" kata Tomi.


Juni terdiam mendengar perkataan Tomi, dia bingung bagaimana lagi cara menolak Tomi yang sudah ingin mengantar Juni pulang. Tomi segera memegang lengan Juni dan menariknya pelan agar bisa ikut pulang dengannya. Juni tak bisa menolak lagi walaupun dirinya ingin. Dia mengikuti tarikan tangan Tomi yang menarik lengannya. Trala menatap teman-temannya pergi meninggalkannya sendiri.


"Nanti aku hubungi Jun" teriak Trala, kemudian Trala duduk kembali menghadap atas panggung melihat seseorang yang sudah berdiri diatas panggung. Trala bingung apa yang Pak Saga lihat sampai seperti itu. Dia mendapati tatapan pandangan Pak Saga tertuju kada dua temanya yang baru saja pergi keluar dari Aula Sekolah.


"Hmm, ada apa ini? " kata Trala dalam hati melihat Saga terlihat kesal saat sedang memandang dua temannya.


Saga melihat Juni dipegang Tomi kembali lagi kesal, baru tadi dia merasa senang dengan ingatan tentang ciumannya dengan Juni dan sekarang dirinya berubah kesal lagi. Dia yang sudah berdiri diatas panggung segera membungkuk dan berbisik dengan Angga "Angga, aku keluar. Aku bawa mobil hari ini. kami selesaikan semua acara ini mewakili aku. Kamu bisa pulang naik taksi kan?" perkataan Saga membuat Angga kebingungan. Angga seakan terhipnotis dalam diamnya yang tiba-tiba mendengar Saga berkata dan bertanya terlalu panjang seperti itu. Dia hanya bisa berkata " Iya"


Saga bergegas menuruni panggung dan keluar dari pintu belakang. Dia berusaha mengejar Juni dan teman lelaki Juni yang saat itu memegang lengan Juni dan mengajaknya keluar area aula.


Juni dan Tomi sudah sampai diparkiran. Tomi mencari mobilnya dan membukankan pintu mobil untuk Juni. Juni masuk kedalam mobil Tomi dan saat pintu mobil itu akan ditutup sosok tangan seorang lelaki mencegahnya. Tangan kekar milik Saga.


Tomi hanya kaget melihat Saga. Orang yang tadinya dia lihat di atas panggung tiba-tiba sudah ada didepan matanya dengan mencegah tangannya menutup pintu mobilnya sendiri. Tomi sempat bertanya maksud dari lelaki ini apa hingga berani beraninya mencegah dirinya menutup pintu mobil untuk Juni.

__ADS_1


Saga tanpa kata hanya melihat mata Tomi dan mengalihkan pandangannya lagi menuju Juni yang berada didalam mobil itu. Saga membuka lebar lagi pintu mobil yang akan ditutup Tomi.


"Mohon maaf anda siapa?" tanya tomi yang merasa aneh. Saga tak menjawab pertanyaan Tomi dia hanya terus membuka lebar pintu mobil Tomi dan berkata kepada Juni yang ada didalam mobil dengan terdengar seolah-olah perintah "Turun!"


Juni hanya diam tanpa suara, tak menghiraukan perintah Saga. Tangannya memegang erat tasnya. Duduknya dia geser lebih dalam lagi. Matanya tetap tak menoleh Saga.


"Aku bilang turun" kata Saga dengan intonasi yang sedikit tegas.


"Aku gak mau turun" kata juni berteriak.


"Maaf pak teman saya gak mau turun, lagian anda siapa?" tanya Tomi.


"Kamu gak usah ikut campur" kata Saga memperingati Tomi yang sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi


"Bagaimana saya tidak ikut campur, dia ini teman saya" kata Tomi sambil menunjuk Juni yang masih tetap duduk didalam mobilnya


"Turun Juni" kata Saga pelan.


"Aku gak mau, Om jangan ganggu aku lagi" Juni berteriak kepada Saga. Tomi merasa aneh seorang Juni berteriak kepada Omnya sendiri seperti itu.


Tapi tomi tidak bisa berbuat apa-apa karena Saga mengaku menjadi Om dari Juni. Entah dari keluarga ayah atau ibunya tomi sendiri tidak tahu pastinya.


Walaupun dia melihat ada kejanggalan. Cara mereka berbicara tidak seperti antara ponakan dan Om.


"Aku bilang turun! apa perlu aku terlepon Ayah Bramanto" ancam lagi Saga kepada Juni.


Tomi yang medengar kalau pria didepannya itu menyebut nama ayah dari Juni baru percaya kalau Saga itu adalah Om dari Juni.


"Sudahlah Jun, gak baik marahan dengan Om sendiri. Lebih baik kamu diantar Om Saga saja" kata Tomi menengahi, maksud Tomi juga berbicara seperti itu agar nanti dirinya tidak mendapatkan lampu merah jika mendekati Juni.

__ADS_1


Juni kaget mendengar Tomi berkata seperti itu, dia juga tak mau membantah kalau Saga bukan Om aslinya tapi adalah suaminya sendiri. Pikir Juni lebih baik saat itu dia mengalah dengan Saga agar Tomi juga percaya dengan apa yang dipercayai tanpa merasa curiga tentang hubungan dirinya dan Saga. Dengan rasa malas untuk bergerak Juni akhirnya turun dari mobil Tomi.


"Tom, aku pulang sama Om aku" kata Juni kepada Tomi. Tomi hanya mengiyakan perkatan Juni. Tomi sedikit merasakan kecewa lagi karena harusnya dia bisa menemani Juni dalam keadan Juni sakit perut sampai terlihat menangis. Saga tak berpamitan kepada Tomi dia langsung saja berjalan menuju mobilnya. Saga membukakan pintu untuk Juni sebelum dirinya melangkah lagi masuk kepintu kemudinya..


Tomi menutup lagi pintu mobilnya dan melihat mobil saga pergi meninggalkan area parkiran sekolah membawa Juni. Tomi kembali lagi ke aula sekolah mencari Trala yang masih disana.


"Kok kamu kembali, Juni mana?" tanya Trala


"Pulang" jawab Tomi


"Ohhh, ya udah kamu duduk disamping aku saja" kata Trala kepada tomi.


"Trala" panggil Tomi


"Apa? " jawab Trala


"Hmmmmm, gak jadi dech" kata Tomi yang sebenarnya ingin bertanya tentang sosok Om dari Juni yang baru saja dia temui diparkiran sekolah.


"Aduh kamu itu," Trala fokus lagi menghadap panggung karena disana ada para murid yang menyumbangkan sebuah lagu dalam acara itu.


*


*


*


Dalam mobil saga, Juni hanya terdiam tak berkata apa-apa. Yang hanya terlihat hanya amarah diwajah Juni. Mobil mereka terus saja melaju tanpa ada suara dari dalam mobil. Juni saat itu sedang marah dengan Saga dan sebaliknya Saga juga kesal dengan Juni. Namun tidak ada yang terlebih dahulu mengungkapkan kekesalan yang mereka rasakan.


Mereka hanya diam tanpa kata diperjalan pulang menuju kediaman Saga. Saga yang sudah sampai dikediamannya. Dia membuka. pintu mobilnya dengan cepat agar ingin bisa membukakan pintu mobil untuk Juni, namun Juni terlebih dahulu membuka pintu mobilnya sendiri dan menutup pintu mobil Saga dengan sedikit membanting pintu. Juni segera turun dan langsung masuk kedalam rumah Saga menunju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2